BAB. 11 - 12

567 Words
BAB 11 Kesepakatan yang Terucap Suara dari ruang tengah makin jelas, namun tetap terasa jauh. Seolah ada dinding tak terlihat yang memisahkan Nayla dari segala hal yang sedang diputuskan. Di dalam kamarnya, ia masih duduk di tepi tempat tidur. Sepatu tua itu masih di pangkuannya. Air matanya sudah berhenti jatuh, hanya menyisakan bekas basah yang perlahan mengering di kulit sepatu itu. Ia mendengar suara ayahnya yang terdengar berat namun pasti. "Kami setuju. Semoga menjadi awal yang baik untuk kedua keluarga." Lalu disusul suara Rosa yang ceria. "Terima kasih. Kami akan segera menentukan hari yang baik." Terdengar suara kursi yang digeser, langkah kaki yang bergerak, ucapan perpisahan yang sopan. Semua berjalan lancar, teratur, seolah tidak ada yang salah. Seolah tidak ada hati yang terluka di balik pintu yang tertutup rapat. Nayla menghela napas panjang. Napas yang terasa berat, seolah membawa semua beban yang menumpuk hari ini. Sudah selesai. Semua sudah diputuskan. Tidak ada yang bertanya padaku. Tidak ada yang perlu tahu apa yang aku rasakan. Ia meletakkan sepatu itu perlahan di atas meja, lalu berjalan ke jendela. Melihat dari celah tirai, ia melihat rombongan tamu berjalan keluar. Di belakang mereka, terlihat Satrio. Ia berjalan paling belakang, langkahnya lambat, kepalanya sedikit menunduk. Sekilas, sebelum ia menghilang di balik pagar, matanya melirik ke arah jendela kamar Nayla. Tatapan itu singkat, penuh keraguan, namun segera dialihkan. Nayla mundur perlahan. Ia tidak ingin dilihat. Ia tidak ingin menjadi gangguan dalam kesepakatan yang sudah dibuat. Ia kembali duduk. Menatap sepatu tuanya yang terbaring tenang. "Kau juga diam saja ya?" bisiknya pelan. "Sama seperti aku." Di luar, matahari mulai condong ke barat. Bayangan makin memanjang. Waktu terus berjalan, meski terasa sangat lambat. Sangat lambat. BAB 12 Kata Penutup Hari Sore mulai berubah menjadi senja. Warna langit berubah menjadi jingga redup, lalu perlahan memudar menjadi kelabu. Suasana di rumah kini terasa lebih tenang. Tamu sudah pulang. Rosa dan Miranda ada di ruang tengah, sesekali terdengar suara mereka yang berbicara dengan nada puas. Ayah Nayla terlihat masuk ke kamarnya sendiri, tidak banyak bicara. Nayla keluar dari kamarnya. Ia berjalan pelan menuju dapur, menyiapkan air minum dan sisa makanan untuk disimpan. Gerakannya lambat, teratur, seolah berjalan dalam mimpi. Saat ia sedang menata piring di lemari, Rosa datang berdiri di ambang pintu dapur. Ia menatap Nayla dengan pandangan yang sulit diartikan campuran antara perintah dan ketidakpedulian. "Semua sudah selesai," ucap Rosa singkat. Nayla tidak menoleh. "Iya, Bu." "Mulai sekarang, jangan ada lagi hal yang tidak perlu. Kau tahu tempatmu." Nayla berhenti sejenak, lalu melanjutkan kegiatannya. "Saya tahu." "Bagus. Lanjutkan pekerjaanmu. Besok akan ada banyak hal yang harus disiapkan." Rosa berbalik pergi, meninggalkan Nayla sendirian di dapur yang mulai redup cahayanya. Nayla mematikan kompor, menutup pintu lemari, lalu mencuci tangannya perlahan. Air dingin mengalir, membasahi kulitnya yang terasa dingin juga. Ia berjalan kembali ke kamarnya. Mengunci pintu. Ruangan itu kembali sunyi, hanya diterangi cahaya senja yang masuk samar. Ia mengambil sepatu tua itu lagi. Duduk di lantai, bersandar pada dinding. Memeluknya erat di d**a. Tempatku. Selalu di sudut. Selalu diam. Sama seperti sepatu ini. Diletakkan di tempat yang tidak terlihat, tapi tetap ada. Ia menutup matanya. Merasakan setiap detik yang berjalan lambat. Sangat lambat. Setiap detik terasa nyata, terasa berat, terasa seperti bagian dari dirinya yang perlahan tumbuh dan belajar menerima. Di luar, malam mulai turun. Bintang mulai muncul satu per satu. Dan di dalam kamar kecil itu, Nayla tetap duduk, ditemani sepatu tuanya, menunggu malam berlalu dengan pelan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD