BAB. 21 - 22

589 Words
BAB 21 Kesunyian yang Menenangkan Sore berjalan sangat lambat. Sinar matahari yang tadinya terang kini mulai miring, mewarnai langit dengan nuansa jingga yang perlahan memudar menjadi kelabu. Rumah masih sepi. Hanya ada suara angin yang berdesir melewati celah dinding, dan sesekali suara burung yang pulang ke sarangnya. Nayla duduk bersila di lantai kamarnya. Di hadapannya, sepatu tua itu tergeletak di atas kain bersih. Ia membersihkannya dengan hati-hati, mengusap bagian demi bagian dengan kain halus. Gerakannya lambat, berulang, seolah sedang menyusun kembali potongan kenangan yang mulai samar. Tidak ada tergesa-gesa. Tidak ada perintah yang harus segera dipenuhi. Untuk sesaat, rumah ini terasa miliknya sepenuhnya. Ia mengangkat sepatu itu sedikit, memandangi jahitan yang mulai longgar di bagian tumit. Jari-jarinya menyentuhnya dengan lembut. Dulu, Ibu yang menjahitnya kembali. Katanya, selama benang masih bisa diikat, masih ada jalan untuk bertahan. Ia tersenyum tipis, senyum yang jarang muncul di wajahnya. Senyum yang hanya terlihat ketika ia sendirian, ditemani benda yang menjadi satu-satunya penghubungnya dengan masa lalu. "Kau masih kuat ya?" bisiknya pelan. "Sama seperti aku." Ia meletakkan sepatu itu kembali, lalu berjalan perlahan menuju jendela. Memandang ke luar, melihat pohon-pohon yang bergerak pelan tertiup angin. Mereka tidak perlu berjalan ke mana-mana. Mereka hanya berdiri, tumbuh, dan memberi tempat berteduh. Dan itu sudah cukup. Ia kembali duduk, memeluk lututnya. Waktu berjalan begitu lambat, seolah setiap detik ingin dinikmati sepenuhnya. Tidak ada tatapan tajam, tidak ada kata-kata yang menyakitkan. Hanya dirinya, sepatu tuanya, dan kesunyian yang justru terasa menenangkan. BAB 22 Kembalinya Suasana Biasa Malam mulai turun perlahan. Langit menjadi gelap, hanya diterangi cahaya bulan yang samar dan bintang-bintang yang mulai berkelap-kelip. Suara langkah kaki dari arah jalan depan memecah keheningan. Semakin lama semakin jelas, disusul suara pintu gerbang yang dibuka dan tertutup. Nayla mendongak. Ia segera berdiri, merapikan pakaiannya, dan meletakkan sepatu tua itu dengan rapi di sudut meja. Pintu rumah terbuka. Rosa, Miranda, dan ayahnya masuk satu per satu. Membawa barang-barang yang dibungkus rapi, dan suara obrolan yang segera memenuhi ruangan. "Perjalanan cukup melelahkan," kata Rosa sambil meletakkan bawaannya. "Tapi semua barang sudah didapatkan." "Lihat kain ini, Yah. Warnanya sangat indah," tambah Miranda sambil membuka salah satu bungkusan. Ayahnya hanya mengangguk pelan, tampak lelah. Nayla berdiri di ambang pintu kamarnya, menunduk sedikit. "Kau sudah menyiapkan air minum?" tanya Rosa menoleh padanya. "Sudah, Bu. Di dapur." "Baik. Bantu kami menata barang-barang ini. Nanti kau yang menyimpannya di lemari." "Baik." Nayla berjalan mendekat, membantu mengangkat bungkusan satu per satu. Gerakannya lambat dan hati-hati. Ia tidak melihat isi bungkusan itu, hanya meletakkannya di tempat yang ditunjuk. Miranda memegang sepasang sepatu baru yang berkilau, terbuat dari kulit halus berwarna cokelat muda. Ia memutarnya di tangannya, tersenyum puas. "Sepatu ini sangat bagus. Cocok untuk dipakai saat hari pertunangan nanti," katanya lantang. Ia melirik sekilas ke arah kamar Nayla, seolah tahu apa yang disimpan di sana. "Tidak seperti sepatu tua yang hanya bisa disimpan di sudut, ini bisa dipakai dan dilihat semua orang." Nayla tidak menjawab. Ia terus menata barang tanpa mengangkat wajah. Setelah semuanya selesai, ia kembali ke kamarnya dan mengunci pintu. Di dalam sana, ia kembali mengambil sepatu tuanya. Menatapnya dalam-dalam. Sepatu baru itu mengkilap, terlihat indah. Tapi ia belum pernah berjalan jauh. Belum pernah merasakan hujan, belum pernah menginjak tanah yang berat. Sepatu ini mungkin sudah lapuk, tapi ia punya cerita. Ia punya jejak yang tak terhapus. Ia memeluknya erat, duduk di dekat jendela yang mulai dingin. Di luar, suara mereka masih terdengar membicarakan hal-hal yang menyenangkan. Namun di dalam kamar kecil itu, Nayla merasa kembali menemukan tempatnya diam, bertahan, dan menyimpan kenangan yang tak ternilai harganya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD