BAB. 29 - 30

713 Words
BAB 29 Persiapan yang Tak Berujung Hari berjalan sangat lambat. Seolah waktu sengaja melambatkan langkahnya, membiarkan setiap detik terasa jelas dan nyata. Di ruang tengah, aktivitas tak berhenti. Rosa dan Miranda sibuk memeriksa satu per satu barang yang sudah disiapkan. Kain, hiasan, peralatan makan, semuanya ditata ulang, diperiksa ulang, seolah tak pernah cukup sempurna. Nayla bergerak di antara mereka, membantu mengangkat, membersihkan, atau menata kembali sesuai perintah. Gerakannya lambat, hati-hati, tak pernah tergesa. Ia tidak banyak bertanya, tidak banyak bicara. Hanya melakukan apa yang diminta, lalu menunggu perintah berikutnya. "Kain ini harus dilipat lebih rapi," ujar Rosa singkat sambil menunjuk tumpukan kain di atas meja. "Baik." Nayla melipatnya perlahan, memastikan setiap sudutnya lurus. Tangannya terbiasa dengan pekerjaan seperti ini, namun pikirannya melayang jauh. Ia teringat sepatu tua di kamarnya terlipat rapi di atas kain, disimpan di tempat yang aman, tak perlu diperiksa berulang kali untuk membuktikan nilainya. Miranda duduk di kursi, memegang sepasang sepatu barunya yang berkilau. Ia mengelapnya dengan kain lembut, lalu memandangnya dengan puas. "Lihatlah, La. Semakin dirawat, semakin indah ia terlihat. Berbeda dengan barang tua yang semakin disimpan justru semakin terlihat usang." Nayla tidak berhenti melipat. "Setiap benda punya cara perawatannya sendiri." Miranda tertawa kecil. "Tentu saja. Barang tua hanya perlu dibiarkan di sudut sampai debu menutupinya." Nayla tidak menjawab. Ia hanya melipat kain terakhir, lalu meletakkannya di tempat yang ditunjuk. Di dalam hatinya, ia tahu sepatu tua itu tidak tertutup debu karena ia selalu dibersihkan dengan hati-hati. Ia tidak terlihat indah karena ia tidak dibuat untuk dipamerkan, tapi untuk dihargai. Siang berganti sore. Matahari mulai condong ke barat, memancarkan cahaya keemasan yang menerangi ruangan yang penuh hiasan berwarna-warni. Suasana terasa riang, namun bagi Nayla, itu hanyalah riang yang dibuat-buat, seperti hiasan kertas yang nantinya akan lemas dan robek. Ia mundur perlahan dari ruang tengah, membiarkan mereka menyelesaikan urusannya. Kakinya membawanya menuju halaman belakang, menuju tempat yang selalu menjadi tempatnya menemukan ketenangan. BAB 30 Suara Angin yang Berbisik Di bawah pohon mangga tua, angin sore berhembus pelan. Membawa bau tanah yang kering dan daun-daun yang mulai menguning. Nayla duduk di bangku kayu yang sudah lapuk. Tangannya tergenggam di pangkuan, matanya menatap ke arah sawah yang terbentang luas di kejauhan. Di sini, tidak ada perintah. Tidak ada tatapan tajam. Tidak ada kata-kata yang menyakitkan. Hanya suara angin yang berdesir, suara burung yang pulang ke sarangnya, dan suara detak jantungnya sendiri yang berirama tenang. Ia memejamkan mata sejenak. Terbayang kembali wajah ibunya, suara lembutnya yang dulu sering terdengar di tempat ini. "Jangan menilai sesuatu dari seberapa sering ia dilihat, Nak. Nilailah dari seberapa kuat ia bertahan meski tak dipedulikan." Nayla menghela napas panjang. Udara sejuk masuk ke paru-parunya, menenangkan beban yang terasa menumpuk di dadanya. Ia teringat Satrio. Terbayang wajahnya yang tampak kaku, tatapannya yang penuh keraguan saat mereka bertemu di jalan tempo hari. Ia tidak marah padanya. Ia mengerti, banyak hal di dunia ini yang tidak bisa dipilih oleh keinginan hati semata. Sama seperti aku. Aku tidak bisa memilih siapa yang tinggal serumah denganku. Tidak bisa memilih apa yang akan terjadi pada hidupku. Tapi aku bisa memilih bagaimana aku menyikapinya. Aku bisa memilih untuk tetap menjaga hatiku, tetap menjaga apa yang berharga bagiku. Langkah kaki pelan terdengar mendekat. Nayla membuka matanya perlahan, melihat ayahnya berdiri di pinggir halaman, memandangnya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Masih di sini?" tanya ayahnya pelan. "Iya, Yah." Ayahnya berjalan mendekat sedikit, lalu berdiri di samping bangku. Ia menatap ke arah yang sama dengan Nayla. "Besok penata hias datang. Lusa... hari pertunangan." "Saya tahu." Ayahnya terdiam sejenak. Tangannya menggosok pelan telapak tangannya sendiri. "Ayah harap... kau tidak membuat keributan. Semua harus berjalan lancar." "Saya tidak akan mengganggu." Ayahnya mengangguk pelan. Ia ingin berkata lebih banyak, namun akhirnya hanya menghela napas panjang. "Baiklah. Masuklah. Udara mulai dingin." Ia berbalik dan berjalan kembali ke dalam rumah. Langkahnya terasa berat, seolah ia juga memikul sesuatu yang tak bisa diucapkan. Nayla tetap duduk sebentar lagi. Ia menatap langit yang perlahan berubah warna menjadi jingga pudar. Lusa. Hari itu akan tiba. Dan hidup akan berjalan seperti biasa. Lambat. Diam. Dan aku akan tetap di tempatku, seperti sepatu tua itu utuh, bertahan, dan menyimpan ceritanya sendiri. Akhirnya ia berdiri perlahan, membersihkan debu di pakaiannya, lalu berjalan kembali menuju kamar. Di sana, menunggunya sepatu tua yang menjadi cerminan hatinya lapuk, terlupakan, namun tetap berharga.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD