Bab 18 - Sarapan Untuk Calvin

1011 Words
Keesokan harinya. Ketika wanita itu membuka lemari pakaiannya, tubuhnya yang ingin segera mendekati salah satu pakaian di dalam lemari terlihat sedikit mundur dan tercengang menatap isinya. Semua koleksi di dalam berubah menjadi tumpukan celana panjang serta kaus oblong. Ayana mengecek semua isinya tanpa membuatnya berantakan. “Dia benar-benar mengubahnya?” Ayana hanya melihat beberapa dress saja di lemari gantung dan itu sudah cukup mewah. Mungkin akan dipakainya jika ada acara saja. Ayana tersenyum sambil melipat tangannya, dengan cepat dia mengambil satu pasang baju yang warnanya cerah. Celana jins hitam dan kaus lengan pendek berwarna merah berleher v akan melekat di tubuhnya pagi ini. Para pelayan kerjanya sangat cepat. Semalam sebelum tidur, dia masih melihat lemari itu berisi pakaian Jovanka, tetapi dalam durasi singkat selama dirinya mandi semua isinya telah tertukar. Sepuluh menit kemudian Ayana keluar dari kamarnya, dia tidak melihat siapa pun di sana dan segera turun. Rosita sedang berada di dapur untuk membuatkan sarapan, Ayana memintanya untuk memberi ruang agar dirinya juga bisa memasak. “Nyonya mau masak sendiri?” tanya Rosita. “Iya, Mas Calvin sudah pergi kerja?” tanya Ayana. Rosita bingung sendiri karena kata ‘Mas’ yang biasanya keluar dari bibir Ayana kini sudah hilang. “Be-belum, Nyonya. Masih di kamar sepertinya.” “Ah, baiklah! Aku akan membuatkannya sarapan, tapi jangan katakan bahwa itu dariku.” Rosita mengangguk, tentu dia senang karena bisa dijadikannya jembatan agar mereka kembali rukun. Rosita hanya membantu Ayana menyiapkan piring dan menyiapkan teh untuknya. Pagi ini Ayana menyediakan sarapan ringan seperti Arancini dan lasagna serta teh lemon dengan kelopak mawar merah di atasnya untuk menambah aroma menyenangkan pagi ini. “Apa Nyonya dan Tuan sudah berbaikan?” tanya Rosita. Ayana tersenyum. “Tidak ada alasan kami bertengkar, tapi ada sesuatu yang tidak bisa aku katakan padamu, yang penting aku ingin selama aku di sini, bisa meninggalkan momen indah yang mungkin belum pernah dirasakannya.” Rosita tersenyum, “Nyonya yang dulu memang tidak pernah melakukan apa pun, bahkan ketika Tuan menginginkan berdansa saja, Nyonya menolaknya.” “Oya?” “Mmh, saya selalu berdoa agar Nyonya bisa sedikit saja lebih hangat agar sikap Tuan tidak menjadi sia-sia.” Ayana tersenyum dan mengangguk. Dia mencintai istrinya, itu sudah sangat benar. Harusnya memang seperti itu dan selamanya seperti itu. Semoga kelak ketika Jovanka kembali dan bisa memberikan cintanya untuk Calvin, pria penyayang yang sangat menderita dalam percintaannya. Semua makanannya sudah siap. Ayana segera pergi dari sana dan tidak mau membuat selera makan Calvin hilang hanya karena melihat dirinya. Ayana menuju halaman belakang, melakukan kegiatan lain yang bisa membuatnya moodnya membaik. Ayana mengambil selang air kemudian menghidupkannya. Wanita itu menyiram bunga-bunga yang ada di sana. Sambil bernyanyi dengan merdu alunan lagu Calum Scott, wanita itu memberikan air pada semua tanaman agar mereka dapat memperoleh bahan untuk kehidupan. Melihat makhluk lain bisa hidup dengan bahagia, sudah cukup membuatnya ikut gembira walau dirinya juga sangat ingin sekali merasakan kebahagiaan itu sendiri. Ayana mengikat rambutnya ke atas dan melanjutkan kegiatannya sambil tersenyum, sesekali dia mencium aroma bunga yang wanginya semerbak. Calvin memandanginya sejak tadi, dia melihat Ayana sangat nyaman berada di balik baju simpel itu. Calvin masuk ke dalam kamar dan menghubungi temannya yang bekerja sebagai seorang psikologi. Calvin mencoba meminta bantuan padanya dengan kondisi sang istri yang menurutnya semakin memprihatinkan. Setelah menceritakan mengenai keadaan wanita itu menurut kacamata pengamatannya, akhirnya Calvin diminta datang ke rumahnya sekitar pukul 2 siang. Calvin setuju. Langkahnya menuruni anak tangga dan segera menuju meja makan. Rosita memberikan sarapan untuknya dan mencicipinya mulutnya yang sedang mengunyah langsung berhenti, merasa bahwa makanan di hadapannya ini bukan buatan Rosita. “Rosita!” panggilnya. Wanita itu segera datang. "Ya, Tuan?” “Siapa yang membuat sarapanku pagi ini?” tanyanya. “Mmh-“ Rosita jadi takut mengatakannya, tapi dia harus menjawabnya. “Nyonya, Tuan.” “Pergilah,” perintahnya dengan hela nafas berat. Meski merasa marah serta kecewa, tapi Calvin tetap memakannya. Perlahan air matanya menetes karena masih bisa merasakan masakan dari tangan sang istri yang tidak lagi disapanya sampai saat ini, tapi masih membuatkannya makanan. Calvin menghabiskan semuanya tanpa sisa kemudian pergi bekerja. “Freed, jam 2 siang nanti, bawa Nyonya ke rumah Nona Clarasita. Kau masih ingat kan dengan alamatnya?” tanya Calvin. “Ya, Tuan. Saya ingat.” “Jangan telat kalau bisa hadir lebih cepat,” pinta Calvin. “Iya, Tuan!” sahutnya. Sesaat sebelum pergi, dia melihat ke arah taman dan menemukan sosok yang sudah memasakkannya sarapan pagi ini, Calvin menatapnya saja kemudian masuk ke mobil. * Seperti biasa, setiap hari sejak kejadian di danau. Calvin pergi begitu saja tanpa pamit. Ayana benar-benar merasa memang seperti orang asing. Setidaknya dia ingin berteman saja dengan pria yang selalu menemaninya tidur. Ketika Ayana duduk di ruang baca, Rosita datang menghampiri dirinya dan mengatakan pesan dari Calvin untuk bersiap-siap ke rumah Clarasita. “Siapa itu?” “Setahu saya dia teman Tuan yang bekerja sebagai psikolog.” Ayana tertawa kecil. Dia ingin melakukan perbaikan pada jiwaku. Dia pasti menganggap aku sakit jiwa. Calvin, kumohon mengertilah! Ayana tersenyum dan segera bersiap. Berganti pakaian kemudian membawa tasnya turun menuju halaman depan. Freed menunggunya dengan senyuman. “Hai, Freed!” sapanya. “Hai, Nyonya!” sahut pria itu tersenyum lebar. “Kita mau ke mana?” “Rumah teman Tuan Calvin.” “Oh, oke, ayo, kita pergi!” “Iya, Nyonya!” Freed menutup pintunya setelah Ayana naik. Pria itu segera melajukan mobil dengan kecepatan sedang. “Bagaimana dengan toko bukunya, Nyonya?” tanya Freed. “Ah, kurang lengkap yang kemarin. Aku harus ke perpustakaan umum untuk menemukan buku yang sesuai.” “Oh, maaf karena rekomendasiku tidak baik.” “Haha, tidak masalah. Aku mengerti sebab yang kucari juga sesuatu yang umum.” “Oya, tampaknya rasa penasaran itu membuat Nyonya harus berkelana dan banyak membaca untuk menemukan jawabannya.” Ayana mengangguk. “Benar.” Freed tersenyum, tidak lagi menyambung dengan percakapan lain dan membiarkan perjalanan ini berlalu dengan tenang. Mereka tiba 15 menit sebelum pukul 2. Mereka tiba di depan pintunya. Freed membunyikan bel kemudian keluar seorang wanita cantik yang menyambut mereka dengan senyuman.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD