Bab 12 - Earl Serasa Gila Dibuat Jovanka

1015 Words
Sepulangnya dari kelab malam, Jovanka duduk di kursi taman. Memandangi langit yang sangat indah. Seindah perasaannya karena bisa bertemu dengan Nuke. Jovanka terpikat pada pesona pria itu yang terlihat semakin tampan. "Aku harus mengetahui perasaan sebenarnya pada Jovanka. Dia tidak mengenalku dengan wajah Ayana. Lumayan aneh juga, mungkin itu semua terjadi karena saat ini aku menempati tubuh Ayana yang malang ini." Jovanka menerima panggilan dan membuat lamunannya terhenti. "Earl? Dia terlalu posesif! Aku bukan anak kecil yang bisa hilang jika tidak ditemani olehmu," ocehnya sambil menatap layar ponsel kemudian menjawabnya. "Mmh?" "Di mana kau, Ayana?" "Aku di taman." "Sedang apa?" "Mau tau aja, aku di mana, ke mana, sama siapa, kurasa kau tak perlu tau," jawabnya dengan nada rendah. "Hahaha." Earl cengengesan. "Kau senang tadi ke kelab?" lanjutnya. "Ya, aku suka sekali!" "Mau yang lebih seru lagi?" "Maksudmu?" "Aku bawa kau ke tempat rahasiaku." Jovanka tersenyum. "Aku tidak percaya ada tempat seperti itu." “Ayo lah, kau pasti akan suka.” “Oke!” Tanpa aba-aba, Earl sudah ada di belakangnya dengan posisi tubuh condong ke sisi kanan wajah wanita itu. Jovanka kaget sekali sampai terdengar jeritan kecil yang membuat Earl tersenyum manis. “Kau, kenapa bisa tiba-tiba ada di sini?” “Itu karena jawaban ‘oke’ darimu, aku langsung pakai pintu Doraemon untuk menghampirimu,” jawab Earl bercanda. Sebenarnya dia juga sedang berada di taman tadi. Jovanka saja yang tidak menyadari Earl yang sedang duduk di ayunan. “Yang benar saja, seperti dalam cerita fantasy.” Earl tersenyum. “Dirimu juga sedang berfantasi menjadi Jovanka, apa salahnya aku ikut melakukan itu?” “Hei, aku tidak bercanda.” “Aku juga,” sambar Earl kemudian mengajaknya pergi. Jovanka ditarik dan harus mengikutinya agar tidak terjatuh. Mereka berjalan menuju parkiran dan naik ke mobil. Earl meluncur dengan hati-hati ke suatu tempat yang ada di dekat jembatan sungai yang sangat indah jika dilihat saat malam hari. Jovanka terpukau pada keindahan Pont des arts, wilayah disekitarnya juga sangat memanjakan mata. “Ini yang ada di film-film itu kan? Yang pasangan mengikat gembok mereka dengan harapan bisa bersama selamanya?” tanya Jovanka. “Ya benar.” “Waaah!” Earl memperhatikan dirinya. Dia tidak ingat bahwa dirinya tenggelam di sini? Aneh, benar-benar lupa ingatan yang sangat akut, gumamnya dalam hati. Jovanka keluar dari mobil dan mengajak Earl untuk mendekati tempat tersebut. Earl mengambil fotonya tanpa diminta. “Hei, kenapa mengambilnya diam-diam?” tanya Jovanka. “Karena saat kau tidak mengarah ke kamera, ekspresimu jauh lebih bagus.” “Haha, kalau gitu potret aku dengan posisi seperti ini,” pintanya sambil bersandar di jembatan dan melihat ke langit. Rambutnya beterbangan dan membuat hasilnya lebih estetik. Cekrek! Jovanka sangat gembira, tadinya dia tidak mau ke sini, tetapi, begitu sampai dan melihat pemandangan serta merasakan makanan yang ada di kafe perahu, mengubah isi pemikiran Jovanka. Wanita itu sangat senang. “Kau tidak pernah diajak jalan seperti ini?” tanya Earl. “Sering, tapi aku yang tidak mau ikut bersamanya.” “Dia suamimu?” Jovanka menaikkan alisnya. “Aku tidak mencintainya.” Earl tertawa renyah. “Kapan kau menikah?” “Aku dan dia sudah jalan 4 tahun.” “Sudah punya anak?” Earl menganggap pembicaraan ini seperti tidak serius. Hanya ingin membuat sahabatnya berbicara. “Belum, aku tidak mau punya anak dari dia.” Earl tersenyum. “Kau mencintai pria lain?” “Ya benar, aku pikir saat aku di sini, aku bisa mencarinya.” “Lalu, apa kau bertemu dengannya?” “Ya! aku bertemu di bar tadi. Walau dia tidak mengenalku sebagai Jovanka, tidak masalah.” Earl mengerutkan keningnya. “Dia tidak mengenalmu sebagai Jovanka? Jelas lah, kau ini Ayana.” “Earl, cobalanya percaya padaku. Aku ini Jovanka, bukan Ayana.” “Hah, kau buat aku gila!” Jovanka tersenyum. “Oya, aku menemukan foto seorang pria di meja kerja Ayana.” Dia mengeluarkannya dari dompet dan memberikan foto itu pada Earl. Sontak Earl menghela kesal dan bibirnya mengerut muak. “Buang saja.” “Eh, tunggu-tunggu, itu siapa?” tanya Jovanka. “Hanya seorang pria yang tidak menghargaimu,” jawabnya. “Dia kekasih Ayana?” “Bukan lagi.” “Ah, mantannya.” “Sudah, kalau kau bertemu dengan pria ini suatu saat nanti, ingat, kau harus cuek dan tidak peduli padanya.” “Oke, aku juga tidak suka melihat wajahnya. Dia itu seperti tidak bisa dipercaya.” “Tepat sekali! kau lebih cerdas dari Ayana.” Jovanka tersenyum. “Ayana termakan cinta buta ya?” “Ya, aku sudah tahu kebusukan si Damian. Hanya saja, aku takut Ayana kecewa dan akhirnya terjadilah kasus seperti kemarin,” ceplos Earl. “Kasus seperti kemarin? Apa itu?” “Kau bunuh diri di sungai ini,” jawab Earl. Jovanka langsung melihat ke arah sungai. “Jadi aku dan dia sama-sama-“ ucapannya terhenti dilanjut dalam hati agar Earl tidak mendengarnya. Kecewa dan bunuh diri di dalam air. Tuhan menghukum kami karena mengakhiri hidup secara paksa. “Hei, apa yang kau bilang?” tanya Earl. “Ah, tidak ada. Aku hanya merasa kasihan pada Ayana.” “Justru aku gembira karena sahabatku tidak jadi bertunangan dengan pria tersebut.” Jovanka tersenyum. “Kau mulai percaya bahwa aku adalah Jovanka,” katanya. “Haha, aku harus mengikuti peranmu. Kalau kau bilang kau adalah Jovanka, ya sudah, aku akan panggil kau dengan sebutan itu.” Earl tidak keberatan. “Oke, tapi di depan Nuke, kau jangan panggil aku dengan sebutan Jovanka.” “Mengapa? Bukankah kau harusnya jujur pada pria itu?” Jovanka menggeleng lemar, sambil tersenyum tipis. “Mumpung dia tidak mengenalku, aku ingin tahu perasaan dia terhadap Jovanka.” “Kau sangat mencintai Nuke?” “Ya, dia cinta pertamaku.” Earl hampir gila dibuat sahabatnya. Lepas dari Damian, malah datang pria bernama Nuke. Memperkecil peluangnya untuk merebut hati wanita yang tengah duduk di hadapannya sambil menikmati spaghetti bolognese dengan lahap serta makanan lain yang dipesan oleh Earl untuk Jovanka. Earl hanya bisa geleng kepala. "Seseorang bisa berubah, hati-hati bisabjadi dia tidak lagi baik seperti dulu," ujar Earl m mengingatkan. "Maksudmu?" "Aku hanya mengingatkan saja." Earl tersenyum.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD