11 – Jokes Bapak-Bapak

1720 Words
What If I Fallin’ Love (Again)? 11 – Jokes Bapak-Bapak Mata sayu Abraham begitu lekat memperhatikan dua sejoli yang saat ini sedang ada di depannya, beruntung dirinya sudah bisa dipindahkan ke ruang perawatan biasa setelah harus dirawat di ruang ICU. Senyum samar terlihat di wajah Abraham ketika melihat putrinya sedang mengupas apel untuknya, sementara Satya memijat pelan betisnya. Abraham tidak menyangka ada orang yang berani membuat gosip murahan tentang putrinya, padahal jelas sekali keduanya baik-baik saja. “Mikirin apa sih, Pa, sampe bengong begitu?” tanya Aiyana dengan suara lembut sembari menyodorkan sepotong apel yang sudah dikupas olehnya. Abraham mengambil garpu dengan potongan apel tersebut dan mengunyahnya. “Rasanya kenapa beda ya?” tanya Abraham sembari terus mengunyah. Padahal sebenarnya Abraham hanya mengalihkan topik pembicaraan, ia tidak ingin putrinya tahu apa yang sedang terjadi di dalam pikirannya. Betapa cemasnya dia ketika ibu-ibu komplek mulai membicarakan tentang putrinya yang terindikasi selingkuh. “Beda gimana, Pa?” tanya Aiyana, ia mengambil satu potong dan memakannya sendiri, mencoba dengan lidahnya bagaimana perbedaan rasa yang dimaksud oleh ayahnya itu. “Gimana rasanya?” tanya Abraham lagi. “Rasanya sama aja, Pa ….” “Emang rasa apa?” “Rasa apel?” Mendengar jawaban polos Aiyana membuat Satya tergelak pelan. Hal itu pun menarik perhatian Abraham kemudian mengalihkan pertanyaannya pada sang menantu. “Coba kamu tebak, Satya … apakah rasanya beda? Aiyana tuh nggak jago kalau main ginian.” “Main apaan sih, Pa … kan cuma makan apel doang.” “Coba kamu kasih Satya, biar dia merasakan apa bedanya.” “Ha?” Aiyana tidak mengerti apa yang dimaksud oleh ayahnya. “Cepat kamu kasih dia kaya kamu kasih papa.” “Apaan sih, Pa ….” “Sini, Aaaa -aaaa ….” Satya pun tampaknya sangat mendukung aksi ayah Aiyana itu, ia membuka mulutnya bersiap menerima sebuah suapan dari Aiyana. Merasa kesal, Aiyana menatap ayahnya dan Satya secara bergantian, tak lama setelahnya ia mengambil potongan apel yang paling besar dan memasukkannya ke mulut Satya dengan gerakan yang tidak bisa dikatakan pelan. “Uhhuk-Uhhuk.” Satya terbatuk karena hampir saja tersedak oleh apel yang disuapkan padanya. Aiyana menatap geli pria itu, bisa-bisanya dia mengikuti permainan aneh ayah dan memanfaatkan keadaan tersebut. “Astaga, Ai … jahat banget sih.” Mayang menyahut, wanita itu saja kembali untuk berbelanja keperluan mereka. Melihat Satya yang terbatuk-batuk jiwa keibuan Mayang pun langsung timbul, ia mengambilkan segelas minuman dan menepuk-nepuk punggung Satya. “Satya nggak apa-apa kok, Ma … Apalagi kalau dapet apel yang rasanya beda dari apel yang lain, iya nggak, Pa?” Satya kembali melemparkannya pada Abraham. “Emang yang kamu rasain itu rasa apa?” tanya Abraham. “Apel rasa cinta, Pa.” Satya membalas dengan senyum lebar terukir di wajahnya. Membuat Aiyana semakin merasa geli dengan tingkah Satya yang semakin tidak masuk akal. Mayang menepuk punggung Satya sedikit lebih keras, merasa geram dengan perilaku Satya yang mirip dengan suaminya. “Kamu sama Papa sama saja … kamu sama Aiyana istirahat aja dulu gih biar mama yang jagain, papa.” Aiyana merasa enggan untuk meninggalkan ayahnya, namun sepertinya sang ayah terlihat senang sekali saat istrinya kembali. Akhirnya, Aiyana pun memberikan isyarat pada Satya untuk melangkah keluar dari ruang rawat tersebut. Keduanya berhenti di depan pintu kamar rawat. “Pengen makan apa, Ay?” tanya Satya. Sedari pagi Aiyana belum memasukkan apapun ke dalam perutnya, saat Satya menawarinya beberapa makanan pengganjal perut hanya ditolak mentah-mentah oleh Aiyana. “Lihat aja di cafetaria ada apa,” balasnya datar. Aiyana melangkah lebih dulu meninggalkan Satya yang telah siap untuk menggandeng tangan Aiyana tapi diabaikan begitu saja oleh perempuan itu. Satya tidak mengerti mengapa sikap Aiyana kembali seperti saat pertama kali mereka bertemu di kampus dulu, padahal Satya yakin apa yang terjadi di antara mereka kemarin bukannya tak bermakna. Satya menghela nafasnya, ia kemudian menyusul Aiyana dan berjalan di sampingnya. Tak apa jika Aiyana mengabaikan dirinya saat ini, Satya tidak akan pernah menyerah begitu saja. “Ay … kamu tahu nggak kenapa buah sebelum dimakan harus dikupas dulu?” tanya Satya berusaha untuk memecahkan gunung es yang membekukan keadaan antara dirinya dan Aiyana. “Strawberry nggak perlu dikupas dulu kok.” Meski terkesan enggan, Aiyana tetap menjawabnya. “Nggak gitu konsepnya, Ay.” “Jadi apa jawabannya?” “Ya kalau dipeluk nanti jadinya Buahper ….” Aiyana sempat terkekeh pelan dan singkat tapi kemudian wajahnya kembali datar. “Baper maksudnya?” tanya Aiyana dengan sudut bibir yang menahan tawa. Tampaknya pertahanannya akan segera runtuh jika Satya meniru ayahnya dalam bertingkah aneh seperti ini, hanya saja entah kenapa itu bisa menghibur Aiyana meski sebenarnya tidak lucu sama sekali.   Padahal Aiyana ingin memasang kembali benteng pertahanannya yang sempat runtuh saat dirinya secara tidak sadar mencium bibir Satya. Bayang-bayang kejadian itu terus menghantui Aiyana, tidak melepaskannya begitu saja, tidak membiarkan Aiyana bernafas dengan tenang. Itu sebabnya mengapa dia berusaha untuk selalu ketus pada Satya. Di balik ketusnya Aiyana ada jantung yang selalu bergemuruh karena ciuman itu benar-benar menjungkirbalikkan perasaan Aiyana saat ini. “Ada lagi Ay ….” “Apa lagi?” balas Aiyana berusaha terlihat semalas mungkin menanggapi Satya. “Eh, tapi kita pesan makan dulu deh. Kamu mau apa?” tanya Satya setelah akhirnya mereka sampai di cafetaria rumah sakit. “Kayanya nggak banyak pilihan,” ujar Aiyana sembari terus berjalan hingga akhirnya dia berhasil berhenti pada sebuah stan yang cukup ramai. “Ay … pesenin ya, sama kaya kamu aja.” Aiyana pun kemudian memesan makanan pada stan tersebut dan mencari tempat duduk. Keduanya memilih untuk duduk di tempat yang paling dekat dengan stan tempat mereka memesan makanan. “Kamu jadi mau dengar—” “Sebelum kamu buat jokes bapak-bapak garing kaya gitu lagi, boleh aku tanya sesuatu?” sela Aiyana dengan cepat. Satya sempat terkejut sesaat, ia pikir Aiyana tidak tertarik untuk bicara dengannya hingga dirinyalah yang harus pintar-pintar untuk membuat sebuah topik. “Tentu saja boleh, apa sih yang nggak buat kamu, Ay.” “Satya … bisa nggak kamu nggak gombal kaya gitu?” “Kenapa? Dulu kamu suka kok, Ay.” Aiyana menghela nafasnya dalam-dalam. Dulu dirinya memang suka dengan semua sikap Satya, bahkan sekarang pun sebenarnya dia masih akan tersanjung jika Satya yang sedingin kulkas tujuh pintu menjadi raja gombal yang suka melontarkan gombalan-gombalan anehnya. “Yaudah oke, aku nggak akan gombalin kamu kalau nggak kamu ijinin, I swear!” kata Satya sembari mengangkat telapak tangannya untuk bersumpah, seketika itu Aiyana meraih tangan Satya dan menurunkannya. Saat Aiyana akan menarik tangannya, Satya menggenggamnya dengan erat, tak membiarkan tangan itu lepas darinya. “Sat … lepasin tanganku, banyak orang yang lihat.” Satya hanya menggelengkan kepalanya perlahan memberi isyarat jika dirinya tidak akan melepaskan telapak tangan yang telah berada di genggamannya. “Apa yang mau kamu tanyakan?” Akhirnya, dengan terpaksa Aiyana membiarkan tangannya digenggam oleh Satya. Padahal dalam hatinya sedang melompat kegirangan karena bisa menyentuh tangan hangat Satya yang dulu selalu mengusap rambutnya. Aiyana menghela nafasnya, kemudian ia pun menatap Satya lekat. “Pertama—” belum sempat Aiyana menyelesaikan perkataannya, Satya memotongnya dengan sangat cepat. “Ini bukan soal ujian kan? Kok kayanya banyak banget pertanyaannya?” protes Satya. “Biarin aku ngomong dulu!” geram Aiyana. “Baiklah, baiklah ….” “Pertama … kamu tahu kenapa Papa kasih pesan begitu ke kita kemarin malam?” tanya Aiyana. Mendengar pertanyaan dari Aiyana membuat genggaman tangan Satya semakin kuat, Satya sangat tahu pasti apa yang menjadi alasan Abraham memberikan pesan tersebut kepada dirinya dan Aiyana. “Kalian … jangan sampai berpisah, papa tahu memilih untuk tetap mencintai pasangan itu sangat berat, tapi jangan sampai kesulitan itu membuat kalian menyerah.” Kalimat itu masih terngiang dalam benak Satya dan ia pun tahu makna dari kata-kata itu. “Satya ….” “Bisa nggak kamu nggak panggil aku begitu?” tanya Satya entah kenapa suaranya menjadi tegas. “Jangan mengalihkan topik pembicaraan.” Dan Aiyana tahu jika Satya sudah mulai bertingkah sedikit menyimpang maka pria itu sedang berusaha untuk menyembunyikan sesuatu darinya. “Ada gosip, tapi kamu nggak perlu khawatir aku sudah bilang mama kalau gosip itu nggak benar.” “Memangnya gosip apa?!” desak Aiyana. “Mbak, Mas, ini makanannya.” Penjual makanan itu mengantarkan makanan ke atas meja mereka. Itu adalah nasi uduk dengan lauk telur balado kesukaan Aiyana. “Terima kasih ya, Bu,” ujar Aiyana dan Satya bersamaan. Tanpa mengatakan apapun, Satya mengiris telur baladonya dan memisahkan kuning telur dari putihnyanya dan memberikan bagian putih telurnya pada Aiyana, kemudian mengambil kuning telur milik Aiyana. Sudah kebiasaannya sejak dulu karena mengetahui jika Aiyana tidak suka pada kuning telur. Hal itu tak luput dari perhatian Aiyana, tidak menduga jika Satya masih mengingat kebiasaan kecilnya. Untuk sesaat Aiyana terpesona oleh perhatian Satya itu, hanya sesaat saja kemudian ia kembali memasang topengnya yang keras kepala. “Kamu belum jawab pertanyaanku, Satya.” “Gosipnya kamu selingkuh, puas?” Satya sebenarnya tidak berniat untuk memberitahu Aiyana persoalan ini, baginya ini sama sekali tidak penting karena berita itu tidak benar. “Oohh.” “Oohh? Hanya itu reaksi kamu?” “Memangnya aku harus apa? Salto? Breakdance di sini?” “Ya, kalau kamu mau sih boleh-boleh aja. Biar viral.” “Jadi ayah kepikiran karena itu?” Tidak memberikan jawaban, Satya hanya mengangguk pelan sembari mulai memakan makan siangnya. “Satu lagi ….” “Apa lagi, Ay?” “Aku harap kamu melupakan apa yang terjadi kemarin.” “Kemarin … kamu nyuruh aku melupakan ucapan papa?” “Satya!” “Lalu yang mana?” tanya Satya yang sebenarnya tahu arah pembicaraan Aiyana. Pasti Aiyana ingin meminta Satya untuk melupakan persoalan ciuman mereka dua hari lalu. “Soal …. Ummm … soal ….” “Aku tidak akan melupakannya. Kamu tidak perlu menyangkalnya juga, kita sudah dewasa … dan kamu masih istriku, apa yang terjadi kemarin … aku tidak akan melupakannya. Kamu boleh marah … tapi aku tidak akan melupakannya.” “Satya … jangan membuat semuanya jadi sulit.” “Sebaiknya kamu habiskan makanan kamu, aku tunggu di luar.” Satya sudah menghabiskan makanannya, sebelum beranjak pergi ia mencium puncak kepala Aiyana terlebih dahulu kemudian melangkah pergi meninggalkan Aiyana yang tercengan dengan perkataan dan tindakan Satya. “Kan jadi bau …,” gerutu Aiyana sembari menyentuh puncak kepalanya bekas dicium Satya yang baru saja menyantap makanannya tadi.     ::Bersambung::
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD