What If I Fallin’ Love (Again)?
06 – Program Hamil
“Tiga tahun kemana saja kalian? Seolah-olah tidak membutuhkan keluarga tapi hidup dari nama keluarga.”
Tangan Satya berhenti seketika saat hendak menyendokkan makanan ke dalam mulutnya. Nafsu makannya yang tidak seberapa itu pun menguap, ia kenyang akibat ucapan bibinya. Perlahan-lahan Satya menegakkan kepalanya, menatap bibinya yang ada di seberang mejanya. Dewangga memperhatikan cucunya itu, ia menghela nafasnya dan seketika itu juga melemparkan sendok ke piring hingga membuat suara gaduh.
“Apakah tidak ada topik pembicaraan yang lain?” tanya Dewangga kesal.
“Wulan, kamu ini kenapa? Tidak perlu memperbesar masalah.” Haykal yang selalu patuh pada ayahnya tidak ingin membuat keadaan semakin kacau. Beruntung dirinya masih dianggap anak oleh ayahnya setelah apa yang terjadi, jika istrinya mengacaukan semuanya maka habislah riwayatnya. Bisa dipastikan dirinya tidak akan pernah dianggap sebagai anak oleh ayahnya dan benar-benar dibuang dari nama pewaris.
“Aku? Memperbesar masalah. Dengar … tujuh tahun kamu usaha keras untuk melindungi perusahaan keluarga dan menjadikannya sebesar sekarang tapi orang lain yang menikmati hasilnya.” Wulandari melirik ke arah Satya tidak suka. Semua orang terdiam, seolah-olah diamnya mereka itu adalah kedamaian sebelum datangnya badai.
Dewangga diam, memperhatikan menantunya dengan seksama, mengambil nafas dalam-dalam berusaha untuk menahan emosinya. Dewangga ingin tahu sampai sejauh mana Wulandari akan melewati batasannya. Di sisi lainnya, Aiyana terus menggenggam tangan Satya tidak ingin pria itu turut hanyut dalam permainan Wulandari untuk mengacaukan makan malam keluarga yang susah payah diadakan oleh Dewangga.
“Apa kontribusimu untuk perusahaan keluarga ini, Satya? Kutanya padamu sekarang?”
Genggaman tangan Aiyana di tangan Satya semakin kuat, ia pun menatap Satya dengan sungguh-sungguh saat pria itu hendak membuka mulutnya menjawab ucapan Wulandari. Satya tahu arti tatapan itu, Aiyana memintanya untuk tetap bersikap tenang dalam menghadapi mulut bibinya yang tidak memiliki filter itu.
“Perusahaan keluarga mana yang kamu maksud?” tanya Dewangga tiba-tiba sesaat sebelum Satya angkat bicara. Pertanyaan Dewangga itu terdengar sangat pelan tapi akan terdengar penuh ancaman bagi telinga-telinga yang memiliki niat busuk.
“Tentu saja perusahaan yang ayah dirikan.” Wulandari menjawab.
“Dan sejak kapan perusahaan itu menjadi perusahaan keluarga?”
“Bukankah itu adalah perusahaan keluarga Irsjad?”
“Sejak kapan perusahaan itu menjadi perusahaan keluarga. Sudah kamu lihat akta notarisnya?” Pertanyaan Dewangga layaknya sebuah pisau yang ditancapkan berkali-kali pada d**a musuh, menyerang tanpa ampun dan sangat menyakitkan. Wulandari terdiam, merasa kesal karena kalah telak.
“Kuminta Haykal untuk mengelolanya bukan berarti perusahaan itu menjadi milik keluarga … aku adalah seorang pelayan publik, kamu harus camkan itu.” Dewangga kembali mengambil sendoknya, mengambil makanan dan meletakkannya ke piringnya. “Lalu apa masalahnya jika salah satu cucuku menggunakan namaku untuk kepentingannya? Jika Adikara yang melakukannya aku pun tidak akan keberatan.” Sekilas Dewangga melirik ke arah Wulandari, memastikan jika serangannya tepat sasaran. Bahkan Haykal pun tidak mampu untuk membela sang istri di hadapan ayahnya.
Haykal seringkali mengingatkan Wulandari untuk tidak mengungkit perihal harta di depan ayahnya karena itu adalah topik yang paling dibenci oleh ayahnya. Tapi memang dasar istrinya saja yang keras kepala sehingga enggan mendengarkannya dan berulah.
“Oh ya … siapa informanmu, Wulan?” tanya Dewangga lagi.
“In-Informan? Apa maksud ayah?” tanya Wulandari.
“Kamu mengatakan jika Satya dan Aiyana tidak muncul selama tiga tahun tahu dari mana kamu?”
Seketika itu juga semua orang menatap Wulandari penuh tanda tanya, sementara tepat di sampingnya Adikara merasa malu dengan apa yang dilakukan oleh ibunya. Mengapa ibunya sangat memusuhi Satya, padahal kakak sepupunya itu tidak melakukan hal yang salah. Hanya karena Ibunya takut jika semua warisan akan jatuh pada Satya membuatnya begitu membencinya.
“Dia tidak pernah datang ke rumah besar saat makan malam keluarga.”
“Meski begitu hanya mereka yang begitu perhatian denganku.” Dewangga membalasnya sembari mengelap bibirnya. “Meski mereka tidak pernah berkunjung, hanya mereka yang peduli denganku.” Dewangga kemudian menatap ke arah Aiyana, sambil mengedipkan sebelah matanya.
“Sepertinya cukup perdebatan ini, aku sangat senang kita bisa berkumpul bersama malam ini. Selain itu kalian harus mendoakan Satya dan Aiyana, mereka sedang melakukan program hamil. Jadi kalian sebagai paman dan bibinya harus mendukung mereka.” Dewangga mengatakannya dengan tatapan mata jahil ke arah Satya dan Aiyana. Sementara dua sejoli itu tercengang hingga mulut mereka terbuka lebar mendengar perkataan kakeknya.
Dari mana datangnya ide program hamil itu? Bahkan Satya saja tidak kepikiran untuk memiliki seorang anak, jangankan memiliki anak untuk memilik ibunya saja dia masih harus berjuang ekstra keras. Kakeknya ini memang ada-ada saja. Satya menoleh pada Aiyana yang masih menggenggam tangannya tanpa sadar. Gadis itu terlihat sangat-sangat-sangat terkejut dengan ucapan Dewangga, tentu saja siapa yang mengira jika ide gila itu akan muncul di tengah-tengah drama keluarga yang panas seperti tadi.
“Kalau kamu nggak tutup mulut akan ada lalat yang masuk ke mulutmu nanti.” Satya berbisik. Seketika itu kesadaran Aiyana pun kembali, seketika itu juga dia menarik tangannya dan menutup mulutnya.
“Aku akan menantikan cicit dari kalian, jadi kalian harus lebih berhati-hati mulai sekarang. Aiyana … nak, kamu jangan lelah-lelah. Satya kamu juga, jangan kerja terus bagai kuda tapi istri nggak diperhatikan.”
“Satya sudah berusaha.”
Aiyana menatap Satya tidak percaya, bagaikan gayung bersambut Satya menyahut ucapan kakeknya, mengikuti drama keluarga dengan genre horor komedi ini. Horor karena bibinya yang julid dan komedi karena kakeknya berhasil mengubah genre horor itu dan membawa mereka masuk ke dalam komedi kehidupan yang tidak akan ada endingnya.
“Kalau sama-sama sibuk yaa nggak bakalan jadi.” Lagi-lagi Wulandari kembali dengan kejulidannya.
“Betul itu apa kata bibimu,” ujar Dewangga tampaknya sangat menyetujui ucapan Wulandari.
“Ta-tapi kek ….” Aiyana hendak memprotes kalau semua ini tidak benar, semua yang mereka kira itu salah besar. Hanya saja tiba-tiba tangan Satya berada di atas pahanya, meremasnya pelan seolah meminta Aiyana untuk tidak melanjutkan apa yang ingin dia katakan itu.
“Aku juga udah usaha ….” Aiyana menyerah, akhirnya ia hanya bisa mengatakan kebohongan. “Mas Satya itu sibuk banget, kek. Pulang dari kantor selalu malem … mana ada waktu buat ….” Aiyana berhenti bicara sambil melirik ke arah Adikara.
“Ehh ada bocil di sini, kamu jangan dengerin, Di.”
“Siapa yang bocil sih! Aku udah gede tahu, udah delapan belas tahun.”
“Tetep aja kamu masih bocil, Adikara.” Aiyana menyahut, dia rindu menjahili Adikara seperti dulu.
“Mbak Ai, aku udah punya pacar jadi aku udah bukan bocil lagi!” Adikara mengerutkan keningnya, cemberut seperti anak kecil yang tidak dibelikan mainan.
Sementara itu Dewangga masih memperhatikan interaksi antara Satya dan Aiyana, ia tahu sandiwara yang dilakukan oleh cucu dan cucu menantunya itu, walau begitu Dewangga melihat jika sandiwara itu berjalan secara alami, seolah-olah tidak melakukannya dengan terpaksa.
*
Tawa Aiyana begitu renyah memenuhi seluruh mobil Satya, menggantikan suara deru yang berisik. Di balik kemudia mobilnya, Satya seringkali melirik ke arah Aiyana yang sedang tertawa karena gurauannya menirukan cara bicara Wulandari saat berusaha untuk menjatuhkan dirinya saat makan malam. Hal-hal yang sering mereka lakukan dulu untuk melupakan kejulidan Wulandari dan tidak menganggapnya serius.
Satya harus berterimakasih kepada kakeknya karena telah turut serta mengundang Aiyana pada acara makan malam keluarga ini. Ya, walaupun makan malam mereka terlalu seru karena ada angin semilir yang dihempaskan oleh Wulandari di meja makan. Namun, pada akhirnya Satya menikmati kerja keras kakeknya itu hingga dirinya bisa berada di dalam satu mobil dengan Aiyana. Bahkan bisa mendengar tawanya lagi.
“Kenapa ya bibi nggak berubah sama sekali, yang di pikirannya harta terus.”
“Mana aku tahu, kamu nggak coba tanya dia?” tanyaku usil.
“Nggak lucu tahu, Mas.”
Mas. Mas. Mas.
Panggilan itu terus terngiang-ngiang di kepala Satya, dia sangat menyukai cara Aiyana memanggilnya seperti itu. Panggilan itu membuat Satya merasa spesial, merasa menjadi satu-satunya pria yang bisa diandalkan, dan juga satu-satunya yang disayangi oleh Aiyana.
“Coba aja kamu tanya … siapa tahu dia akan kasih kamu jawaban yang jujur.” Satya berusaha untuk menjaga percakapan ini tetap berjalan dengan baik, dirinya juga sengaja memelankan laju mobil agar tidak segera sampai di tempat tinggal Aiyana.
“Yang ada aku bakalan kena omel bibi,” balas Aiyana sembari bergidik ngeri membayangkan jika dirinya akan kena marah oleh Wulandari. Itu sebabnya, Aiyana lebih memilih untuk mengalah di depan wanita paruh baya itu daripada dirinya harus berdebat kusir dengan wanita yang memiliki ego tinggi seperti Wulandari.
“Kalau aku yang tanya apa aku juga bakalan kena omel?” tanya Satya dengan suara pelan, sesekali ia menoleh ke arah Aiyana melihat bagaimana reaksi gadis itu.
“Coba aja kamu tanya.”
“Bagaimana menurutmu tentang program hamil tadi?”
Aiyana tiba-tiba tertawa terbahak-bahak, hingga tanpa sadar airmatanya mengalir melalui ujung matanya. Sementara Satya hanya bisa tersenyum menahan getir, saat ini dia sedang sangat serius tapi ternyata Aiyana menganggapnya hanya lelucon konyol.
“Iya tuh, kakek kenapa lagi bilang kalau kita sedang program hamil … padahal kita aja nggak satu rumah dan bibi juga percaya lagi.” Menyadari apa yang baru saja terlontar dari bibirnya dan menyadari jika Satya sama sekali tidak tertawa, Aiyana tahu jika ini bukanlah lelucon yang harus dia tertawakan. Saat itu juga Aiyana menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya, diam-diam juga melirik ke arah Satya yang kini sedang fokus menyetir.
“Satya … aku ….” Aiyana sungguh tidak tahu apa yang harus dia katakan karena Satya terlihat begitu tenang.
“Aku hanya bertanya.”
“Maafkan aku.”
“Kamu nggak perlu meminta maaf begitu.” Satya terus saja memperhatikan jalan.
Aiyana menggigit bibirnya gelisah, ia tahu jika sikapnya selama perjalanan pulang pasti membuat Satya sangat tidak nyaman. Mereka sudah berpisah tidak seharusnya dia berlaku selayaknya saat mereka masih bersama dulu. Di dalam otaknya, Aiyana terus menyusun kata-kata yang ingin dia katakan pada Satya untuk membuat pria itu tidak salah paham padanya. Hanya saja setelah memilah kata dan menyusun kalimatnya, semua itu hanya berhenti di ujung lidahnya, sulit sekali mengeluarkannya dari bibirnya.
“Seharusnya aku yang meminta maaf.” Setelah keheningan di dalam mobil yang membuat suasana menjadi canggung, tiba-tiba saja Satya membuka mulutnya. “Kamu pasti merasa sangat nggak nyaman ya? Lain kali aku akan bilang ke kakek untuk tidak mengundangmu.”
“Aku juga bersalah … aku juga berbohong di depan keluargamu. Tapi kamu tidak perlu khawatir, aku akan melupakan apa yang terjadi jadi kamu bisa tenang. Aku jamin jika hubungan kita akan benar-benar berakhir jadi kamu dan pasangan barumu bisa tenang.”
“Ke … Kekasih?” Satya mendadak meminggirkan mobilnya, ia takut jika konsentrasinya tak bisa sepenuhnya dia curahkan pada kemudi. Aiyana pun merasa bingung mengapa Satya mendadak meminggirkan mobilnya, apa dia mengatakan sesuatu yang salah?
“Ada apa, Sat? kenapa kamu minggir?”
“Kamu tadi bilang apa?” Bukan menjawab pertanyaan Aiyana, Satya malah melemparkan pertanyaan lain pada Aiyana.
“Kamu nggak perlu khawatir?”
“Setelahnya?” desak Satya.
“Hubungan kita akan benar-benar berakhir?” Aiyana berusaha.
“Lagi!”
“Kamu dan pasangan barumu bisa tenang?”
“Siapa yang kamu maksud punya pasangan baru?” tanya Satya sambil menatap Aiyana dengan lekat. Mata Aiyana berkedip dua kali, tidak mengerti maksud pertanyaan Satya dan mengapa Satya terlihat tidak suka dengan penyataannya tadi. Bukankah benar? Sudah tiga tahun, tidak mungkin jika Satya hidup menyendiri selama itu ‘kan?
“Kamu.”
“Bagaimana bisa kamu berasumsi seperti itu, Ay? Apa semudah itu bagimu … atau jangan-jangan kamu yang punya pacar baru dan kamu ingin segera benar-benar mengakhiri hubungan rumit kita ini?”
Mata Aiyana melebar, bukan hanya karena panggilan sayang yang terucap dari bibir pria itu mampu membuat jantungnya berdetak lebih cepat tapi karena Satya yang biasanya tenang dan tidak mudah tersulut emosi menjadi sosok pria yang memiliki berbagai macam emosi. Aiyana cukup takjub dengan perubahan dalam diri Satya, pertama pada jamuan makan malam keluarga mereka karena Satya terlihat berusaha keras menahan emosinya, padahal dulu Satya adalah pria yang terlihat tidak peduli dengan semua ucapan bibinya. Kedua, saat ini, tepat di depannya saat ini, pria itu menatapnya dengan gejolak emosi yang tak bisa ditafsirkan oleh Aiyana.
“Hu-hubungan rumit? Kamu pikir siapa yang membuat hubungan kita menjadi rumit seperti ini?” Aiyana pun tidak bisa menahan diri pada akhirnya. “Jelas aku sudah meminta cerai denganmu, Satya. Bukankah kamu yang membuatnya rumit?”
“Bukan itu intinya, Aiyana.” Satya pun tidak tahu kenapa Aiyana malah memperlebar inti permasalahan atas pertikaian kecil mereka malam ini.
“Baik … jadi apa intinya?” Aiyana merasa lelah, dia tidak ingin bertengkar dengan orang yang sangat ingin dia lupakan.
Satya menghela nafasnya, ia bersandar pada jok kemudinya. “Aku juga tidak tahu … aku tidak tahu mengapa kita bisa jadi begini. Aku tidak menemukan jawabannya, Ay.”
“Tidak semua tanya dalam pikiranmu itu membutuhkan jawaban, ada kalanya kamu hanya perlu menghilangkan pertanyaan itu dan melupakannya.” Aiyana mengatakannya dengan tegas tanpa keraguan sedikitpun.
“Aku turun di sini saja … aku anggap tidak ada yang terjadi di antara kita.” Aiyana melepaskan seat beltnya kemudian membuka pintu mobil dan turun dengan cepat. Satya yang terkejut pun langsung keluar dari mobilnya dan menyusul Aiyana.
Tanpa mengatakan apapun Satya melangkah mendekati Aiyana kemudian ia mengangkat tubuh Aiyana dan membopong gadis itu di atas pundaknya seolah-olah Aiyana adalah kantong beras biasa.
“Satya … apa yang kamu lakukan? Turunkan aku!” pinta Aiyana.
“Hanya bertanggung jawab.” Satya membalas singkat, ia memasukkan Aiyana kembali ke dalam mobilnya, memakaikan lagi seat beltnya, memastikan jika Aiyana tidak akan lagi keluar dari mobilnya.
Wajah Aiyana memerah saat wajah Satya berada begitu dekat dengannya seakan dia hendak mendaratkan bibirnya pada bibir Aiyana. Jantung Aiyana berdebar sangat kencang, ia merasa malu karena suara debaran jantungnya yang keras dan khawatir jika Satya akan mendengarnya.
“Diam saja, jangan berulah,” bisiknya.
::Bersambung::