What If I Fallin’ Love (Again)?
07 – Nggak Ada Hubungan Istimewa
AIYANA
Apa itu tadi? Kenapa aku harus memalingkan wajahku? Kenapa aku jadi salah tingkah?! Kurasa ini karena suara debaran jantungku yang tidak tahu tempat, kenapa dia harus mengeluarkan suara sekencang itu, di depan Satya pula. Mengapa pula harus berdebar saat Satya tepat berada di dekatku, saat jarak kami hanya tidak lebih dari satu inci?
Sepertinya saat ini wajahku menjadi merah, setelah masuk ke dalam ruko—oh iya, aku tinggal di lantai dua ruko tempatku membuka butik, tentu saja untuk mengurangi pengeluaran. Aku menepuk-nepuk wajahku berulang kali. Berusaha untuk menyadarkan diriku jika semua yang terjadi di dalam mobil tadi bukan sesuatu yang istimewa. Benar … tidak ada yang istimewa.
Mana yang harus kusebut istimewa, saat kami pulang dari rumah besar keluarga Irsjad dan aku terpaksa masuk ke dalam mobil Satya agar keluarga bibinya yang super julid itu tidak curiga dengan perpisahan kami? Atau saat Satya menirukan ucapan Bibi Wulandari di jalan dengan gaya konyolnya dan kami tertawa bersama seperti hari-hari di masa lalu? Atau saat Satya mendadak mengangkat tubuhku dengan mudahnya dan memasukkanku ke dalam mobilnya dengan paksa? Atau saat jantungku berdebar untuknya dengan sangat cepat?
Semua masih istimewa, Ai … kamu saja yang denial. Hatiku mulai berulah lagi. Mulai memberontak untuk mengeluarkan semua emosi yang sudah lama coba aku kubur rapat-rapat agar tidak lagi muncul dan mengacau. Meski rasanya akan semakin sakit jika aku mencoba untuk menyangkal semuanya, tidak apa-apa … aku akan baik-baik saja. Aku yakin.
Tapi bohong. Semua itu istimewa bagiku, seandainya saja urat maluku sudah putus aku pasti melompat kegirangan, jingkrak-jingkrak di depan Satya saat dia memintaku masuk ke dalam mobilnya. Keberadaannya saja begitu istimewa bagiku.
“Aiyana … Aiyana bagaimana bisa kamu melupakannya kalau setiap kali berusaha melupakannya yang ada kamu malah buka galeri dan melihat lagi foto-fotomu bersama Satya?” Aku masih ingat betul Luna mengatakan itu setelah memergokiku sedang memandangi foto-foto pernikahan kami yang sederhana dulu. Seperti yang kulakukan saat ini, bersandar di kepala ranjangku, kemudian membuka galeri di ponsel, menggulirkan layar untuk melihat kembali foto lama kami.
Pernikahanku dan Satya dilakukan dengans sangat sederhana, itu adalah permintaanku karena waktu itu aku baru saja lulur dari sekolah menengah atas. Pernikahan digelar hanya sebatas akad nikah dan resepsi sederhana yang dihadiri oleh keluarga intiku dan keluarga inti Satya. Pihak luar tidak ada yang mengetahui pernikahan kami. Aku masih ingat sebab dari senyuman konyol Satya di foto ini, waktu itu ada lebah yang mengejar Adikara kecil saat kami akan berfoto, Satya yang begitu jahil pun mentertawakan penderitaan Adikara karena dikejar lebah, alhasil beginilah jadinya foto kami.
Saat ini aku pasti tersenyum konyol. Aku memang sekonyol itu … sudahlah.
Setelah menikah, Satya menggunakan uang peninggalan orang tuanya untuk membeli sebuah apartemen di tengah kota. Apartemen yang cukup mewah dan sangat luas untuk ditempati hanya kami berdua. Apartemen itu dekat dengan kampus tempatnya berkuliah dulu, ya, kami memang menikah saat Satya pun masih kuliah semester akhir. Lalu setengah tahun kamudian, aku pun mendapatkan kabar baik dan diterima di universitas yang sama dengan Satya.
Saat ini senyumanku pasti semakin lebar saat mengingat masa-masa itu, aku pernah menjadi gadis pencemburu saat itu karena jujur saja, Satya adalah pria tampan yang tubuhnya atletis, di kampus banyak yang suka dengannya, banyak gadis-gadis yang terang-terangan berusaha untuk mendekatinya sampai-sampai aku pernah marah dan mendiamkannya.
“Ada apa sih, cantiknya Satya?” Satya yang waktu itu menyadari tingkahku pun berusaha untuk membujuk. “Kenapa dari tadi diem terus, aku kirim bbm nggak di bales, aku telepon nggak diangkat, di rumah kamu diem aja, kamu lagi pms ya?” Satya waktu itu membujukku, mendekatiku di ranjang dan dengan manjanya bergelendotan di bahuku.
“Ay … kenapa sih … cerita dong, aku salah apa sampai kamu diem begini?”
“Kamu mending ngomong sama mbak-mbak yang kasih kamu hadiah itu … siapa namanya?”
“Siapa memangnya?” Gemas sekali aku pada Satya, dia pura-pura tidak tahu padahal aku yakin dia sangat suka hadiah-hadiah kecil dari fansnya itu. “Nggak ada yang kasih ….” Satya jeda sejenak, dia menegakkan tubuhnya kemudian menatapku penuh tanda tanya, lebih tepatnya bertanya kepada dirinya sendiri, menggali ingatan tentang siapa gadis yang memberinya hadiah. Hingga akhirnya aku lihat raut wajahnya setelah mengingatnya, terlihat ada perasaan bersalah di sana waktu itu dan juga ada raut wajah yang sedih.
“Hadiahnya aku kembalikan … kamu cemburu, ya?” tapi secepat kilat Satya bisa mengubah raut sedihnya menjadi sesuatu yang penuh canda. “Akhirnya aku tahu bagaimana istriku yang cantik ini kalau lagi cemburu.”
“Dih, aku nggak cemburu!”
“Bilang aja kamu cemburu, sayang.” Satya semakin usil, ia melingkarkan tangannya ke pinggangku, kemudian menarikku ke dalam pelukannya. “Aku suka kok kamu cemburu begini, itu tandanya kamu sayang setengah mati sama aku,” ujarnya sambil menciumi pipiku berkali-kali. Sebenarnya aku selalu terheran jika Satya berbicara cukup banyak, sepanjang aku mengenalnya Satya adalah sosok yang irit sekali saat berbicara dengan orang lain. Keluar lima kata dari mulutnya itu seperti keajaiban, tapi entah mengapa setelah kami menikah dia berubah seperti anak kecil.
“Mas Satya lepasin … geli lho.”
“Nggak, aku nggak akan lepasin kamu.”
“Lepasin ih! Kamu bau belum mandi!”
“Siapa bilang?”
“Emang kamu sudah mandi?” Satya hanya tertawa saja tapi terus saja tidak melepaskanku.
Rrrr
Rrrr
Rrrr
Getar ponsel di tanganku merusak semua lamunan masa laluku, tertera nama Satya di layar monitor ponselku. Seketika itu juga keningku berkerut, mengapa dia meneleponku malam-malam begini. Maksudku mengapa dia harus meneleponku setelah pertemuan kami yang tidak disengaja? Apa yang diinginkannya?
“Hallo.” Kuputuskan untuk mengangkat panggilan tersebut. Namun untuk beberapa saat tidak ada jawaban dari saluran di seberang sana. “Hallo, Satya?”
“Hmm.”
Kerutan di keningku tampaknya semakin dalam, aku menatap layar ponselku lekat-lekat. Satya tidak mungkin segila ini menelepon hanya untuk mengatakan ‘Hmm’, sungguh bukan dirinya.
“Satya … Hallo? Jika tidak ada perlu apapun, aku akan mematikan teleponnya.”
“Aku kangen kamu, Ay.”
Deg.
Perutku seperti digelitiki, ada perasaan antusias di dalam diriku yang tidak bisa dijelaskan, yang jelas untuk sepersekian detik bibirku melengkung ke atas, tersenyum kegirangan karena kalimat yang singkat, padat, dan sangat jelas. Namun, sebuah realita kembali menamparku, menarikku dari imajinasiku yang indah, menyadarkanku jika aku harus mendorong Satya jauh-jauh dari hidupku.
“Kamu tidak boleh melakukan ini padaku, Satya.” Jika kamu terus memaksa, bagaimana jika aku jatuh cinta padamu lagi dan lagi?
“Maaf.”
Dan tiba-tiba ponsel ditutup, aku sungguh tidak mengerti mengapa dia melakukan ini. Kupikir ucapannya saat di kampus itu sungguh-sungguh, jika hubungan kami adalah sekedar mahasiswa dan dosen, tapi apa ini? Apa maksudnya ini, Satya!
*
AIYANA
“Ayolah, Ai … masa kamu nggak tahu nomernya sih?” Agnes adalah salah satu teman sekelasku. Gadis cantik—sangat cantik—rambutnya terawat, terlihat shining, shimering, splending, intinya dia sangat cantik dan imut. Belakangan aku tahu jika dia naksir pada Satya. Agnes akan duduk di paling depan, mengangkat tangan paling sering di kelas, dan berusaha paling aktif di kelas karena ingin menarik perhatian Satya.
“Ada … tapi mana mungkin aku ngasih sembarangan. Emang buat apa sih, Nes?” tanyaku pura-pura tidak tahu sambil menyeruput jus tomatku yang terasa agak asam.
“Dia ganteng banget loh, masa kamu nggak tertarik sama dia sih, Ai?”
“Orangnya aja dingin kaya kulkas tujuh pintu gitu, walau ganteng siapa yang bakalan tertarik?” tanya temanku yang lain, Julien namanya, anak baru lulus sarjana yang mendapatkan nilai terbaik di kampusnya. Jika aku perhatikan, Julien ini suka dengan Agnes karena jika ada kesempatan Julien akan menatap Agnes dengan tatapan yang tidak biasa, ada percikan cinta dalam tatapannya.
Jangan tanya darimana aku mengetahuinya, setelah berpisah dari Satya aku memiliki kebiasaan melihat-lihat lagi foto kenangan kami. Dari sana aku bisa mengetahui jika tatapan Satya padaku di beberapa foto itu terlihat penuh cinta, mirip dengan tatapan mata Julien pada Agnes.
“Yaaa itu dia daya tariknya, karena orangnya kalem, nggak banyak bicara, kelihatan nggak mudah di deketin … dan tatapan matanya itu lho … duh, bikin jantungku rasanya kaya mau copot tiap kali dia lihat.” Tampaknya Agnes bukan sekedar naksir biasa tapi naksir berat. Aku kembali menyedot jus tomatku yang rasanya masih sedikit asam ini.
“Astaga … panjang umur banget,” Agnes berdecak dengan mata penuh binar ke arah pintu masuk kantin. “Ya ampun … ganteng banget sih anak orang,” Agnes memujinya terus menerus.
“Lebay banget, gimana kalau ternyata Pak Satya itu sudah punya istri, aku lihat ada cincin di jarinya.”
“Uhhuk-Uhhuk.” Jus tomat yang asam ini membuatku tersedak hingga ada cairannya yang masuk ke hidungku. Aku terus terbatuk sampai Julien dan Agnes mengalihkan perhatian mereka dari Satya yang memasuki kantin.
“Kamu nggak apa-apa, Ai?” Julien terlihat cemas, ia membantuku dengan menepuk punggungku perlahan.
“Ini minum dulu deh biar batuknya reda.” Agnes menyodorkan segelas air putih, aku menerimanya dan meminumnya perlahan-lahan. “Hati-hati minumnya, nanti tersedak lagi.” Agnes memperingatkanku, jadi aku pun minum dengan pelan-pelan.
“Pak Satya kayanya benar-benar ‘steal the show’, dia cuma lewat aja banyak yang noleh ke dia.”
“Bisa nggak sih, kita nggak ngomongin dia?” tanyaku gelisah. Setiap kali mendengar nama Satya, hatiku rasanya ingin memberontak saja.
“Ya bisa-bisa aja sih.” Agnes mengatakannya tapi dengan tatapan yang tetap mengarah pada Satya.
“Boleh saya bergabung di sini?” tanya sebuah suara yang sangat akrab dengan pendengaranku. Sebuah suara yang dulu pernah membuatku begitu tenang dan menjadi pengantar tidurku setiap malam. Tapi suara itu kini menjadi idola semua orang.
“Kenapa bapak harus duduk di sini? Kan banyak kursi yang kosong?” tanyaku asal saja. Jika bisa aku ingin mengusir Satya keluar dari planet Bumi sekalian, agar aku tidak perlu bertemu lagi dan lagi dengannya. Agnes menatapku dengan tajam sementara Julien terlihat sangat mendukung aksiku.
“Rasanya kalau makan sendiri itu tidak nyaman.” Tapi anehnya dia tidak membawa makanan apapun ke meja kami, lantas kenapa di harus mengatakan hal konyol itu?
Satya! Kenapa kamu harus mengatakan itu dan lagi-lagi membuatku mengingat masa-masa saat kita bersama. Sepertinya Satya sengaja mengatakannya, sepertinya dia ingin aku mengingat masa-masa kebersamaan kami dulu.
“Aku nggak pernah melupakannya, Satya.” Hatiku ini lama-lama ngelunjak, dia selalu dapat celah untuk memberontak.
“Maksud saya, rasanya kurang pas jika dosen dan mahasiswa terlihat bersama seperti ini. Nanti dipikir kita cari muka ke bapak, padahal kan kita nggak ada hubungan apa-apa hanya sebatas dosen dan mahasiswa.” Satya terlihat menyimak dengan khidmat setiap kata yang keluar dari mulutku.
“Nggak apa-apa lagi, Ai … kamu kaku banget sih, lagian siapa yang akan bikin gosip murahan begitu. Kita cuma makan kok dan kita bertiga.”
“Tapi … saya pernah dengar kalau dulu Pak Satya nggak mau lho makan bareng mahasiswa, kenapa sekarang berubah?” Julien menyahut.
“Nggak ada yang berubah,” ujar Satya sembari mencuri pandang ke arahku. Apa coba maksudnya itu? Kenapa harus melirik ke arahku? “Ada hal yang harus saya sampaikan pada Nona Aiyana.”
Apa ini? Apa yang akan dia katakan padaku? Tidak mungkin dia akan mengungkapkan hubungan kami di depan umum kan? Aku menatap Satya penuh tanda tanya, tidak hanya aku tapi Julien dan Agnes pun menatap Satya penuh rasa ingin tahu.
“Jangan-jangan bapak mau mengungkapkan perasaan pada Aiyana?” Entah Julien mendapat ide dari mana, sampai-sampai Agnes menatapku dan Julien bergantian dengan tatapan tajam.
“Ya kan bisa jadi, Pak Satya dan Aiyana punya hubungan istimewa? Jadi nanti judul sinetronnya adalah Dosenku adalah Suamiku, Gitu!”
“Nggak!” jawabku dan Agnes kompak. Kami berdua, tepatnya bertiga—Aku, Agnes, dan Satya—melemparkan pandangan satu dengan lainnya.
“Nggak, kamu jangan sembarangan Julien! Aku dan Pak Satya nggak memiliki hubungan istimewa!” balasku dengan tegas.
“Tenang … saya punya istri.” Satya bicara dengan suara yang sangat pelan mirip dengan sebuah bisikan. Meski begitu aku yakin jika ucapan Satya layaknya sebuah bom bagi Agnes, karena raut wajah Agnes seketika itu berubah merah penuh rasa kecewa dan patah hati. Aku hanya bisa menatap Satya dengan tajam, mengapa dia harus mengatakan hal demikian di sini?
“Tapi saya tidak ingin bicara masalah itu … setelah makan siang, ke ruangan saya untuk ambil bantu saya bawa beberapa dokumen, Nona Aiyana.”
“Ha? Ah … iya, Pak.” Aku membalas seadanya karena jujur saja, ucapan Satya sebelumnya membuatku sangat terkejut dan takut, aku takut dia akan menunjukku dan mengatakan pada semua orang jika kami masih suami istri yang sah. Aku bisa gila jika seperti itu.
“Baiklah kalau begitu saya pamit dulu.”
::Bersambung::