What If I Fallin’ Love (Again)?
08 – Cincin Kawin
“Selamat pagi, Bapak Kulkas Tujuh Pintu.” Kalimat itu adalah hal pertama yang di dengar oleh Satya ketika dia hendak memasuki ruangannya dan disambut oleh Martha—sekertarisnya di firma. Satya berhenti sesaat, menatap ke arah Martha dengan alis yang terangkat. Baru pertama kali dia mendengar sebuah ejekan yang murahan seperti itu keluar dari bibir Martha yang telah bekerja dengannya beberapa tahun.
“Apakah itu sebuah trend atau apa?” tanya Satya dengan nada datar.
“Ya, itu trend baru di kampus bapak.”
“Martha ….”
“Memangnya Pak Satya nggak tahu, nih lihat.” Martha berdiri, berjalan memutari mejanya untuk menjangkau tempat Satya sedang berdiri saat ini. Setelahnya dia menyerahkan sebuah tablet pada Satya.
“Apa ini?”
“Lihat saja, pak.”
Mau tidak mau Satya pun melihat apa yang ada di dalam tablet tersebut, itu adalah sebuah tangkapan layar percakapan di dalam grup w******p, mata Satya tertuju pada sebuah gambar yang kelihatannya mirip dengan wajahnya, ia pun menggunakan jarinya untuk memperbesar gambar tersebut, memastikan jika itu memang dirinya.
“Ini aku?” tanya Satya dengan polosnya. Martha hanya mengangguk saja. Satya kemudian melihat isi percakapan setelah gambar itu.
‘Si Bapak Dosen Ganteng tapi dinginnya kaya kulkas tujuh pintu nih.’
‘Aduuuh, gantengnya jodoh orang.’
‘Emang bener ya, kalo doi udah menikah?’
‘Kabarnya sih bener.’
‘Yang jadi istrinya antara beruntung dan ngeri nggak sih? Orangnya cakeeeep bener kaya Song Joong Ki, tapi kok dingiiiin banget, mana orangnya cuek banget lagi.’
‘Masa iya sama istrinya cuek?’
‘Emang siapa sih istrinya, pengen tahu nih.’
‘Jangan-jangan itu Cuma gosip, sebenarnya dia belum nikah’
‘Bisa jadi … bisa jadi’
Satya menghela nafasnya dalam-dalam setelah melihat isi percakapan itu, tidak habis dengan orang-orang yang membicarakannya, sebenarnya mereka itu mengidolakannya atau sebaliknya. Kenapa memuji tapi juga menjatuhkannya sekaligus seperti itu. Satya tidak mengerti pola pikir perempuan saat ini. Jangankan pola pikir perempuan pada umumnya, pola pikir istrinya saja susah untuk dipahami.
“Bapak nikah kok nggak bilang-bilang saya?”
“Kamu lagi … hal receh begitu dipercaya .” Satya mendorong tablet ke dekapan Martha.
“Seru lagi pak, selama ini di kantor kan Pak Satya nggak ada gosip apapun kecuali ….”
“Kecuali apa?” sahut Satya dengan cepat.
“Ya ini nih … Pak Satya tahu nggak sih kalau di kantor bapak itu dikenal sebagai orang yang jutek, dingin, cuek, tapi baik.”
“Baik itu general … kalian para pembuat gosip ini benar-benar.” Satya menggelengkan kepalanya pelan kemudian melangkah menuju ke ruangannya. Martha masih mengekor di belakangnya, hingga sebelum Satya duduk di kursinya ia berbalik untuk melihat Martha.
“Kenapa mengikutiku?”
“Sekalian saja, Pak … ini ada beberapa hal yang harus Pak Satya lihat.”
“Saya bisa lihat di komputer saya sendiri, ‘kan?” tanya Satya dengan terus menatap Martha, ia tahu pasti ada udang di balik rempeyek jika Martha berbuat tidak masuk akal seperti ini. Alasan pertama Satya memilih Martha adalah, Martha sangat rasional dan Martha yang paling mengerti dirinya. Meski begitu, Martha tidak pernah mengetahui tentang pernikahan Satya dengan Aiyana.
“Ehehehe … saya cuma ingin memastikan, cincin yang selalu Pak Satya pakai itu cincin kawin atau bukan?”
Ditanya seperti itu mau tak mau Satya melirik ke arah jari manis tangan kanannya, di sana tersemat sebuah cincin berbahan dasar paladium dengan nama Aiyana terukir di bagian dalam cincinnya, itu memang cincin pernikahannya dengan Aiyana, cincin yang tidak pernah dia lepas kecuali saat mandi. Dulu sempat sekali, hampir saja dia kehilangan cincinnya karena melepaskannya saat berolahraga. Satya frustrasi mencari keberadaan cincin tersebut, karena itu dia tidak pernah melepaskannya kecuali hanya saat mandi.
“Ini maksud kamu?” Satya meregangkan ke-lima jarinya di depan wajah Martha supaya perempuan itu bisa melihatnya dengan jelas. Martha mengamati cincin tersebut dengan teliti, cincin tersebut jika dilihat sekilas akan terlihat polos akan tetapi jika diteliti lagi ada garis-garis yang membuat cincin tersebut seperti ukiran kayu yang melingkar di jari Satya.
“Jadi?” tanya Martha, seperti halnya Satya dirinya juga tidak suka menebak-nebak.
“Cincin ini adalah urusan saya, urusan kamu sekarang adalah melihat lagi jadwal saya hari ini dan kirimkan semua berkas yang harus saya pelajari.” Dengan cepat Satya menarik kembali jari-jarinya membuat Martha terkesiap lalu ia pun hanya bisa keluar dengan pasrah dari ruangan Satya.
Satya duduk di kursinya, ia membuka laptop miliknya untuk melihat berkas-berkas klien yang harus dia tangani. Beberapa saat mempelajari berkas tersebut rupanya tidak lantas membuat Satya melupakan perihal pertanyaan Martha sebelumnya, karena cincin pernikahan itu juga selalu tersemat di jarinya. Sebelum hari ini, mudah saja bagi Satya untuk mengabaikan keberadaan cincin yang sudah seperti bagian tubuhnya itu, tapi sekarang kilau cincin itu cukup menarik perhatiannya.
Kenangan demi kenangan mulai bermunculan di dalam benak Satya, ia teringat detik-detik pernikahannya dengan Aiyana dulu. Dirinya masih sangat muda begitu juga dengan Aiyana, meski begitu perempuan yang telah menjadi tumpuan hatinya itu terlihat sangat cantik dalam balutan kebaya putih yang sederhana. Acara pernikahan itu bagaikan acara komedi, karena Satya yang salah saat penghulu mengucapkan ijab qabul bukannya mengikuti Satya malah mengatakan ‘sah’ terlebih dahulu hingga mengundang gelak tawa.
Namun, setelah itu Satya tidak bisa membendung air matanya ketika semua saksi pernikahannya mengatakan kata ‘sah’ dengan lantang dan akhirnya dia bisa menyematkan cincin pernikahan mereka di jari Aiyana. Itu adalah momen paling membahagiakan sekaligus momen paling mengharukan bagi Satya. Sedetik pun, Satya tidak akan pernah melupakan kenangan itu.
“Apapun caranya … aku bakalan buat kamu kembali, Ay.” Satya bergumam sembari mengusap perlahan cincin di jarinya.
“Pak … Pak Satya.” Panggilan Martha menarik perhatian Satya, ia mendongak melihat Martha sudah berada di ambang pintu.
“Ada apa?”
“Sudah waktunya pergi ke pengadilan untuk sidang sengketa Pak Prasmatara.”
“Thanks.”
Martha tersenyum samar pada Satya, sebelumnya dia melihat bagaimana Satya memandangi cincin yang selalu dipakai itu. Martha sangat yakin jika Satya pasti menyimpan sebuah rahasia.
*
Ruang persidangan itu terlihat masih sangat sepi, hanya ada beberapa orang yang duduk di sebelah, sementara Aiyana dan teman sekelasnya duduk di deretan kursi yang lain. Mereka sama-sama menunggu pejabat pengadilan dan persidangan dimulai.
“Kok aku deg-degan ya?” Agnes berujar, ia duduk di samping Aiyana. Suasana ruang persidangan memang cukup menyeramkan karena terkesan sepi.
“Kenapa sih, kita kan cuma lagi nonton persidangan aja. lebay banget.” Julien menyahut.
“Bukan lebay ya! Cuma ya kamu lihat aja … suasananya mencekam.”
“Ini bukan film horor ya Maemunah.” Julien menoyor kening kepala Agnes hingga membuat perempuan itu memanyunkan bibirnya kesal pada Julien yang selalu menjahilinya.
“Iya, harusnya ruang sidang tuh jangan dibikin sunyi senyap kaya begini,” timpal Aiyana sekenanya, hingga beberapa teman sekelasnya menoleh padanya. Sebenarnya mereka tidak terkejut dengan tingkah random Aiyana, tapi heran saja kenapa kalimat itu bisa keluar dari bibirnya begitu saja.
“Terus kamu maunya mereka mengadakan konser gitu di sini?” tanya Julien.
“Ehehe bukan gitu konsepnya, yaa dibuat gimana gitu biar nggak serem gini.” Teman-teman Aiyana menatapnya dengan tatapan yang menyayangkan jika mereka punya teman sekelas tapi otaknya sedikit tidak befungsi dengan baik. Di mana-mana namanya ruang persidangan pasti dibuat dengan situasi yang khidmat agar persidangan tetap terkesan sakral.
“Ada yang datang!” Agnes berseru antusias, semua orang pun menghadang ke arah pintu masuk. Beberapa orang mulai memasuki ruang persidangan hingga sosok tampan yang gagah dibalik balutan suit berwarna abu-abu gelap itu menyita perhatian hampir semua mata.
Penampilannya yang cukup memukau karena di antara semua orang itu sosoknya lebih menonjol, ia terlihat sangat berkharisma, menjadikan Satya sosok yang menjadi bahan bisik-bisik tetangga para mahasiswi dan peserta sidang lainnya.
“Itu Pak Satya, ‘kan?” tanya salah seorang mahasiswi yang tempat duduknya tak jauh dari pintu masuk.
“Ai, Ai, Ai … Pak Satya ganteng banget ya … duh, jantungku rasanya semakin nggak karuan-karuan,” ungkap Agnes sambil menatap Satya penuh kagum.
“Kelihatan misterius banget ya tapi tetep keren … ganteng banget asli.” Seorang mahasiswi lainnya berujar pelan tapi Aiyana masih mendengarkannya. Sejak awal Aiyana juga memperhatikan bagaimana Satya terlihat sangat profesional dan gagah. Tidak heran melihat Satya mampu menarik perhatian semua orang seperti ini, dirinya sendiri juga mengagumi Satya meski hanya bisa dia pendam dalam hatinya.
“Eh… Pak Satya nengok ke kita … dia lagi ngelihatin kita!” Agnes berseru. “Aku kelihatan oke nggak?” Agnes menunjukkan wajahnya pada Aiyana, meminta temannya itu untuk melihat apakah dandanannya masih baik-baik saja. Bagi Aiyana, temannya itu masih terlihat sama—cantik seperti biasanya.
Beberapa saat Aiyana menoleh ke arah Satya, pria itu terlihat menyunggingkan senyumannya hingga beberapa mahasiswa berseru dengan suara yang lirih. Bagi mereka senyuman Satya itu sudah seperti senyuman oppa-oppa Korea yang manis dan imut. Namun, berbeda bagi Aiyana … senyuman itu seolah-olah sedang mengejeknya, seolah-olah Satya mengatakan padanya jika tanpa Aiyana yang mengaguminya masih banyak lagi orang yang mengaguminya.
“Ya ampun, senyumannya bikin hati aku meleleh.” Agnes berdecak pelan. Julien hanya bisa menggeleng pasrah melihat kelakuan teman-temannya yang tergila-gila dengan Satya.
“Orang udah punya bini juga, masih aja disukai,” seloroh Julien kesal.
“Siapa tahu sebenarnya Pak Satya itu bohong.” Agnes menyangkal.
“Nes … kamu harus sadar, di tangannya sudah ada cincin! Dia juga sudah bilang kalau dia sudah menikah.”
“Hakim memasuki ruangan, peserta dimohon berdiri.” Protokel sidang memberikan pengumuman, menginterupsi perdebatan antara Agnes dan Julien yang membuat hati Aiyana merasa tak nyaman. Namun, Aiyana berusaha untuk mengacuhkannya, tidak ada yang tahu jika dirinyalah istri Satya sebenarnya. Setiap orang kemudian berdiri, dan seorang hakim yang terlihat sangat bugar meski usianya tak lagi muda masuk disusul dengan beberapa pejabat persidangan lainnya.
Persidangan hari ini mengenai kasus perdata, sebuah sengketa antara sebuah perusahaan besar dengan serikat buruh perusahaan tersebut. Diduga jika perusahaan tersebut beroperasi dengan mengeksploitasi para pekerjanya, mereka juga melanggar beberapa peraturan yang sudah tertulis di dalam undang-undang tenaga kerja. Persidangan berjalan cukup menarik karena pengacara dari dua belah pihak sangat agresif sehingga membuat peserta sidang semakin antusias.
Hanya saja … Aiyana sangat menyayangkan karena dalam persidangan ini Satya adalah pengacara dari perusahaan tersebut. Dalam setiap argumen yang dilontarkan oleh Satya selalu saja memojokkan pihak pekerja dengan memberika bukti-bukti jika para pekerja itulah yang sebenarnya bersalah. Persidangan itu membuat Aiyana merasa jika dia tidak lagi mengenal sosok Satya yang dulu, seolah-olah Satya di hadapannya itu sangat berbeda. Karena saat ini, Satya yang ada di hadapannya berhati dingin dan acuh tidak acuh.
Setelah berjalan selama tiga jam sidang berakhir dengan skorsing hingga minggu depan untuk pembacaan keputusan hakim. Para mahasiswa dan semua peserta sidang pun keluar dari ruangan persidangan tersebut. Entah ada keberanian dari mana, Aiyana sengaja untuk tinggal lebih lama di dalam ruang persidangan karena Satya dan kliennya juga belum keluar dari sana. Aiyana memperhatikan setiap gerak gerik Satya, pria itu memang sedikit berbeda dengan pria yang sangat dia cintai.
“Pak Satya ….” Aiyana memanggil Satya yang hendak melangkah ke luar ruangan. Tentu saja Satya pun langsung berhenti, ia meminta kliennya untuk pergi terlebih dahulu sehingga tidak akan ada yang mengganggu mereka.
Satya menoleh ke kanan dan ke kiri melihat keadaan ruangan persidangan yang ternyata sudah sepi hanya tinggal Aiyana saja.
“Ada apa, tidak biasanya kamu memanggilku?” tanya Satya heran.
“Kenapa kamu melakukannya?”
Satya semakin tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Aiyana. Langkahnya dibuat semakin dekat pada Aiyana karena Satya ingin memahami dengan baik ucapan istrinya yang keras kepala itu.
“Katakan dengan jelas, Aiyana … aku sungguh tidak mengerti.”
“Semua itu … di persidangan, kenapa kamu sangat menyudutkan pihak pekerja?” protes Aiyana. Alis Satya pun terangkat dua-duanya. “Bukti-bukti yang disampaikan oleh para pekerja itu sudah jelas jika perusahaan tersebut bersalah.”
“ ….” Satya masih terdiam dengan menatap Aiyana dengan tatapan sendunya.
“Kenapa kamu membela orang yang menindas rakyat kecil seperti itu? Apa yang kamu inginkan, ketenaran, popularitas?”
“ ….”
“Kenapa diam saja?”
“Sudah selesai bicaranya?” tanya Satya.
“Ha?”
“Sudah selesai kamu bicara?”
“Ya!”
“Pertama … dia adalah klien firma kami. Kedua, sebagai seorang pengacara aku harus profesional. Ketiga, selama hakim belum memutuskan apakah seseorang bersalah atau tidak mereka dianggap tidak bersalah. Apa kau masih belum mengerti juga?” tanya Satya sembari melangkah lebih dekat pada Aiyana. Kini mereka berjarak kurang dari lima puluh sentimeter, Satya mencondongkan tubuhnya hingga kepalanya kini berada di sisi wajah Aiyana.
“Apa kau perlu private class denganku, Aiyana?” bisik Satya dengan suara dalamnya. Sedetik kemudian Satya memundurkan kepalanya dan kini menempatkannya tepat di wajah Aiyana hingga membuat gadis itu tersipu.
Aiyana memalingkan wajahnya ia berusaha untuk mundur selangkah memberi jarak antara dirinya dan Satya, namun yang terjadi adalah kakinya salah menumpu hingga akhirnya tubuh Aiyana melayang dan hampir jatuh ke belakang. Satya mengulurkan tangannya menangkap tangan Aiyana dan menarik gadis itu hingga jatuh ke dalam dekapannya.
“Hati-hati, Ay.”
Seketika itu Aiyana segera mendorong Satya untuk menjauh darinya. “Tetap saja … aku pikir ini bukan kamu. Sepertinya aku tidak mengenalmu, tidak pernah, Satya.” Aiyana berujar lirih, setelahnya ia beranjak untuk pergi. Sekali lagi, Satya menarik tangan Aiyana hingg gadis itu menghentikan langkahnya.
“Aku akan membuatmu mengenaliku, Ay.”
Tanpa di sadari oleh ke dua orang itu, ada seseorang yang mengintip percakapan mereka dari sebuah celah pintu yang kecil. Perempuan itu terlihat tidak suka dengan kebersamaan Aiyana dengan Satya, terlebih lagi setelah mendengar percakapan mereka berdua tampak jelas di matanya jika dia sangat membenci situasi tersebut.
.
.
.
::Bersambung::