What If I Fallin’ Love (Again)?
05 – Makan Malam Keluarga Irsjad
SATYA
“Apakah kelas 2021 sudah mengirimkan tugas mereka?” Aku bertanya pada Yunita, asisten yang aku pilih sendiri sejak memutuskan untuk kembali ke kampus. Yunita seorang wanita muda yang sangat bertalenta, cakap dalam pekerjaannya, dan yang pasti Yunia sudah menikah. Poin terakhir adalah nilai yang paling besar dalam mempertimbangkannya untuk membantuku di kampus. Sebenarnya aku tidak begitu memerlukan seorang asisten, hanya saja pekerjaanku di Firma cukup menyita waktu sehingga aku harus memiliki orang yang bisa kupercayai untuk membantuku mengatur waktu dan kegiatan.
Berbeda dengan Martha, aku tidak mempertimbangkan status pernikahannya. Karena Martha tidak pernah menganggapku sebagai seorang ‘pria’ sejak pertama kami bertemu. Wanita itu seperti mesin kerja, selain itu Martha sangat mengenaliku dari A hingga dengan Z. Kadang, aku takut jika dia bahkan tahu warna underwear yang aku pakai.
“Belum ada, Pak.” Keningku berkerut cukup dalam mendengarnya. Kelas 2021 itu adalah kelas Aiyana. Aku sudah memberikan tugasnya sekitar dua hari yang lalu, kupikir dengan memberikan deadline maka mereka akan lebih cepat mengumpulkan tugas pertama yang kuberikan. Sejujurnya, aku juga tak terlalu terkejut karena saat melihat wajah Aiyana mendengar perkataanku, ia terlihat sangat tertekan sekali. Tampak frustrasi, mungkin frustrasi karena akan bertemu denganku.
Melihat berbagai ekspresi raut wajah Aiyana itu cukup menyenangkan bagiku, mungkin karena pengaruh rasa rinduku padanya atau karena aku memang menyukai raut wajahnya yang memiliki berbagai macam ekspresi. Ah, ini mengingatkanku pada kejadian tujuh tahun lalu, saat Aiyana masih anak ingusan yang menggunakan seragam sekolah SMA sementara. Itu adalah acara tiga tahun kematian orang tuaku, Aiyana meminta untuk menemaniku pergi ke makam ayah dan ibu.
Kami pergi ke makam orang tuaku, setelah bicara sebentar aku pun mengenalkannya pada kedua orang tuaku dalam percakapan lirihku dengan mereka. Lalu giliran aku memintanya untuk bicara pada orang tuaku, Aiyana terlihat begitu serius waktu itu hingga aku punya sebuah ide untuk meninggalkannya. Bukan benar-benar meninggalkannya, aku hanya mengerjainya saja. Aku bersembunyi di balik sebuah pohon dan membiarkannya masih fokus bicara pada orang tuaku. Entah apa yang dia bicarakan, mungkin keburukan-keburukanku.
Saat telah selesai, aku mengintipnya dari balik pohon. Aiyana celingukan mencari keberadaanku, dia mulai panggil-panggil namaku.
“Mas Satya … kamu dimana? Ih nggak lucu tahu!” gerutunya sembari berjalan dengan kepala masih celingukan.
“Mas Satya … udah sore ini bentar lagi gelap.” Aku tahu dia takut karena siapa memangnya gadis yang tidak takut di area pemakaman saat langit sudah menjelang malam? Aku terkekeh pelan di balik pohon sampai mendengar suara Aiyana mulaih terdengar menjauh.
“Mas Satya … awas aja kalo ketemu ya!” ujarnya geram dan terus berjalan dengan kakinya menyaruk ke tanah kesal. Tidak tega akhirnya aku keluar dari pohon dan berjalan mengendap-endap di belakangnya. Saat sudah lebih dekat dengannya, aku pun mengejutkannya dengan menyentuh bahunya.
Siapa yang sangka jika Aiyana sangat terkejut hingga ia terlompat dan akhirnya terjatuh ke tanah. Wajahnya ketakutan melihatku tapi saat menyadari jika orang yang menyentuhnya adalah aku, wajah takutnya berubah menjadi kesal campur marah, keningnya berkerut hingga alisnya menyatu, sorot matanya kesal tapi berkaca-kaca seperti orang yang ingin menangis, bibirnya dikulum menahan amarah. Sementara aku waktu itu hanya mentertawakannya saja. Apapun raut wajahnya aku suka.
“Nggak lucu.” Aiyana marah membalik tubuhnya kemudian berjalan mendahuluiku.
“Kamu marah, Ay?” tanyaku padanya, aku menyusulnya. Dia tidak menjawabku hanya berjalan dengan langkah yang dihentakkan.
“Nggak.” Dia marah.
“Aku cuma bercanda lho.” Aku menarik lengannya, menghentikan langkahnya saat kami berada di luar area pemakaman. Saat dia menoleh aku lihat wajahnya sudah basah oleh air mata yang tadi sempat kulihat. “Kamu nangis?”
“Enggak.”
“Iya, kamu nangis. Kenapa? Kamu takut aku tinggalin di sini?” Kuraih bahunya agar menghadapku. Aiyana berusaha memalingkan wajahnya. “Beneran kamu takut aku tinggalin?”
“Iya …,” balasnya. “Gimana kalo kamu nyasar?” tanyanya.
“Apa?”
“Yaaa maksudku kamu kan nggak hafal jalanan, aku cuma takut kamu nyasar.”
Aku terdiam seribu bahasa karena apa yang dia katakan ada benarnya. Satya Rezvan Irsjad adalah pria yang bisa dikatakan hampir buta arah dan selalu membutuhkan bantuan Google Maps kemanapun dirinya pergi.
“Pak … Pak Satya.” Suara Yunita mengusikku. Aku memandangnya agak kesal karena mengganggu lamunanku atas Aiyana.
“Ada apa?”
“Hapenya bunyi terus dari tadi pak.” Yunita menatap pada ponsel yang sedari tadi berdering dan aku tidak sadar karena otakku hanya dipenuhi oleh Aiyana saja. Gadis itu, selalu bisa mengalihkan duniaku.
“Terima kasih.” Kuambil ponsel yang berdering tanpa henti, siapapun orangnya aku yakin dia adalah orang yang sangat gigih. Jika bukan Martha pasti … ah benar sekali dugaanku, Kakek! Namanya jelas tertera di layar ponselku, sengaja aku menuliskannya ‘TUAN DEWANGGA IRSJAD’
Jika aku tidak segera menjawab panggilannya yang ada orang yang telah mendukungku selama ini pasti akan menerorku sampai aku mengangkatnya dan mendengarkan semua ceramahnya. Tombol hijau itu akhirnya menjadi pendaratan bagi ibu jariku, setelahnya kuarahkan ponsel itu ke telingaku.
“Hallo, Kakek.”
“Hallo, Satya … apa kabar kamu, nak?” tanyanya berusaha basa-basi, tapi aku malah merasa aneh saat kakek berbasa-basi seperti ini karena seorang Dewangga Irsjad tidak mungkin melakukan hal yang baginya sia-sia, pasti ada sesuatu di balik ini, aku yakin.
“Sehat kakek … kakek gimana?” Tapi aku berusaha untuk mengimbangi permainannya. Ini keahlianku untuk mengikuti permainan setiap orang tapi pada akhirnya akulah yang memenangkan permainan itu. Sama halnya seperti saat Aiyana mendatangiku dengan instingnya yang benar, tapi pada akhirnya aku membalikkannya dan membuat wajahnya memerah menahan malu karena sudah mengira aku memiliki udang di balik rempeyek, padahal memang iya, aku memang memiliki maksud terselubung dengan kembali ke kampus ini, dengan menjadi dosen pengampu di kelasnya, dengan menjadikannya penanggung jawab kelas, aku memang telah merencanakannya tentunya dengan bantuan nama besar Bapak Dewangga Irsjad.
“Kakek sehat, tadi pagi baru check up ke rumah sakit dan semuanya masih normal.” Aku masih menunggu inti dari panggilan ini. “Bagaimana kabar Aiyana?” Bukan Dewangga Irsjad namanya kalau tidak tahu apa tujuanku sebenarnya menggunakan nama besarnya dan kembali ke kampus.
Menurut kakek? Tentu saja gadis itu baik-baik saja, dia masih saja ceroboh, masih lucu, masih cantik seperti biasanya, dan masih membuatku b*******h setiap kali aku melihatnya, kakek. Ingin sekali rasanya aku mengatakan apa yang ada di dalam otakku pada kakek, tapi tentu saja tidak mungkin aku melakukannya. Bisa-bisa yang ada aku akan mendapatkan kultum panjang dari kakek karena membiarkan istriku berkelana sendirian di luar sana.
“Satya?” Suara kakek di seberang saluran menarik kesadaranku kembali.
“Iya, kek? Aiyana ya … dia baik.”
“Masih marah sama kamu?”
Marah? Aku sempat berpikir seperti itu tiga tahun yang lalu saat Aiyana meminta perceraian dariku. Setiap hari, setiap malam, setiap bangun dari tidurku, aku selalu memikirkan kembali semua perbuatanku, mana dari sekian banyak perbuatanku yang membuatnya marah hingga akhirnya dia memilih untuk meminta sebuah perceraian, sesuatu yang tidak berani untuk kuimpikan. Tapi dia … Aiyana, gadis itu berani memintanya padaku dengan tatapan mata yang tegas.
“Aku masih mencari tahu, Kek.”
“Gunakan waktumu sebaik-baiknya, tapi jangan sampai kamu lupa … semua ada batasnya, Satya.”
“Aku tahu.”
“Kalau begitu … datanglah ke rumah nanti malam.”
Sudah kuduga, dari basa-basi yang menyinggung Aiyana akhirnya kakek mengatakan juga tujuan sebenarnya meneleponku kali ini. Jika dihitung sudah sekitar lima belas atau dua puluh kali aku menolak datang ke rumahnya setelah persidanganku dulu. Bukan karena aku tidak menyayanginya, perkembangan kakek selalu kupantau dari Martha, teman Martha adalah sekertaris pribadi kakek. Namun, untuk datang ke rumah besar aku tidak bisa melakukannya. Keluarga Irsjad … tidak seharmonis itu.
Hanya saja karena aku telah menggunakan nama besar kakekku untuk memperlancar rencanaku lagi sepertinya ku harus memberikan kakekku sebuah imbalan. Hanya malam ini, kurasa tidak akan ada masalah.
“Baiklah, Kek.”
“Bawakan buah persik favorit nenekmu.” Pesannya sebelum dia menutup panggilan. Mendengar kakek menyebut nenek membuat darahku berdesir lebih cepat. Terlepas dari apapun konflik keluarga Irsjad, satu hal yang bisa aku jadikan panutan. Kakekku sangat mencintai nenek, meski nenek telah lama tiada. Dan dari semua hal di dunia ini, hanya itu kesamaan kami … kami berdua sama-sama tergila-gila pada seorang wanita.
*
Langkah kaki Satya terhenti seketika saat dirinya sampai pada ruang makan rumah besar keluarga Irsjad. Parsel buah yang ada di tangannya hampir terjatuh, beruntung seorang asisten rumah tangga sigap dan menangkap parsel berisi buah persik itu tak sampai jatuh ke lantai marmer rumah itu.
“Satya … Nak, sudah datang. Mari … Aiyana sudah datang duluan.” Dewangga, alias kakek Satya mengatakannya begitu mudah. Seolah-olah tidak ada yang terjadi di antara Aiyana dan dirinya. Seolah-olah perceraian mereka yang gagal itu bukan hal yang besar baginya.
Satya hampir lupa caranya bernafas saat matanya beradu dengan manik milik Aiyana, perasaan di dalam hatinya saat ini bercampur aduk bahkan Satya sampai bingung apa yang sedang dia rasakan. Apakah itu bahagia karena Aiyana duduk di antara keluarganya—kakeknya, Pamannya, dan bibinya, serta sepupunya yang menjengkelkan. Apakah dia merasa kesal karena mendapatkan kejutan yang sangat luar biasa membuatnya kaget ini. Apakah dia merasa gugup karena di sini juga ada keluarga pamannya yang merupakan adik dari ayahnya, bukan pamannya yang menjadi masalah tapi istrinya yang selalu saja bermulut pedas. Satya hanya tidak ingin Aiyana hanya mendapatkan cemoohan dari bibinya itu.
“Kenapa malah bengong di situ, sini.” Dewangga meminta Satya untuk duduk, jelas sekali dia telah menyiapkan tempat duduk untuk Satya di sisi kanannya dan tentunya tepat di samping Aiyana.
“Melihat istri sendiri kok kaya melihat hantu gitu,” timpal Wulandari, bibi Satya.
Aiyana memang bukan hantu tapi dia sudah menghantui hari-hari Satya sejak gugatan perceraiannya hingga detik ini. Satya berusaha keras untuk melengkungkan senyumannya dan berjalan mendekat menuju meja makan.
“Tadi kamu bilang katanya nggak bisa datang, mau bikin kejutan ya?” tanya Satya dengan suara yang sengaja dia keraskan saat dirinya sudah berada di dekat Aiyana.
Semua anggota keluarga Irsjad tahu jika Satya dan Aiyana pernah hampir bercerai tapi karena perceraian itu digagalkan oleh hakim. Kecuali kakek Satya, semua anggota keluarga mengira jika Satya dan Aiyana telah berhasil untuk rujuk kembali. Tidak ada yang tahu jika keduanya telah berpisah tepat setelah keputusan hakim diumumkan karena Aiyana yang keras kepala.
Aiyana berusaha untuk menyunggingkan senyumannya, bahkan saat Satya menyentuh pundaknya ia ingin menampik tangan itu tapi Aiyana tetap menahan diri untuk tidak mempermalukan Satya di depan keluarganya.
“Tadi toko nggak terlalu ramai, jadi aku langsung ke sini. Maaf yaaa, nggak ngasih tahu kamu dulu.” Bahkan Aiyana pun menyentuh telapak tangan Satya dan meremasnya lembut seolah-olah mereka masih pasangan suami istri.
Aiyana benar-benar tidak memiliki pilihan, ia sendiri sangat terkejut saat mendapatkan panggilan dari Dewangga, sesuatu yang mustahil terjadi. Karena terakhir kali Aiyana bisa berhubungan dengan Dewangga adalah tepat sebelum sidang perceraiannya dengan Satya, setelah itu jangankan ditelepon oleh kakek suaminya, bermimpi saja tidak.
“Toko?”
“Butik, Bi … Aiyana buka usaha butik.” Satya menyahut, sesuatu yang membuat Aiyana cukup terkejut. Bagaimana Satya bahkan tahu usaha yang sedang dirintis olehnya.
“Ohya, kok kamu nggak bilang sih kalau buka butik?” tanya Wulandari.
“Belum sempat, Bi. Kalau bibi senggang mampir ke butik Aiyana ya … nggak jauh kok dari sini.”
“Siapa designernya? Aku nggak bisa pakai sembarangan baju.” Wulandari berujar dengan gaya angkuhnya.
“Dia kan lagi baru buka usaha … ya wajar lah kalo belum pakai designer terkenal. Kamu ini.” Haykal, paman Satya menyentuh tangan istrinya seolah-olah sedang ingin membuat istrinya berhenti bicara.
“Makanannya sudah datang ….” Dewangga yang sedari tadi mengamati interaksi di hadapannya itu menyahut karena memang para asisten rumah tangga sudah membawakan makanan untuk mereka santap.
“Kak, ada Instagramnya nggak butiknya?” Adikara, sepupu lelaki Satya tiba-tiba menyeletuk membuat ibunya melotot ke arahnya.
“Ada kok, nanti kakak share ke kamu ya?”
“Kamu ngapain sih, kan kamu cowok!” Wulandari mengingatkan.
“Buat referensi aja, pacar aku mau ulang tahun bulan depan, Ma.”
“Ya kamu belikan dia barang mewah dong jangan barang murahan.”
“Bibi ….” Satya yang mendengarnya geram, tapi lengannya ditahan oleh Aiyana. Satya menoleh pada gadis itu, Aiyana hanya menggeleng perlahan tapi Satya ingin sekali menyumpal mulut bibinya itu dengan kaviar yang disajikan sebagai makanan pembuka malam ini, tapi tatapan mata memohon Aiyana membuat Satya mengurungkan niatnya untuk memperkeruh suasana.
“Apa?”
“Makanannya akan dingin, sebaiknya bibi makan saja!” geram Satya.
Pada akhirnya mereka kemudian melanjutkan makan mereka dalam diam, ruangan makan itu hanya dipenuhi oleh suara peralatan makan yang beradu. Suasananya begitu canggung dan begitu tegang, seolah-olah mereka dihukum untuk makan malam dan tak seorang pun berani bicara.
Namun ketegangan itu semakin kuat ketika Wulandari tiba-tiba mengatakan, “Tiga tahun kemana saja kalian? Seolah-olah tidak membutuhkan keluarga tapi hidup dari nama keluarga.”
::Bersambung::