01. Kabar Baik

2410 Words
01 – Kabar Baik Tirai putih yang menjuntai ke bawah itu disingkap oleh Aiyana hingga seberkas cahaya masuk dan menyinari ruko kecil tempatnya membuka usaha ini. Aiyana menutup matanya, sedikit mendongakkan kepalanya lalu menghirup udara dalam-dalam. Dia sangat menyukai kehangatan yang merayap ke seluruh tubuhnya setiap pagi itu. Puas menikmati udara pagi dan juga kehangatan matahari, Aiyana kembali membuka matanya lalu berbalik, bersiap untuk merapikan toko kecilnya dan siap menjual semua barang dagangannya. “Selamat pagi, Mbak Ai!” seru dua orang yang berdiri tak jauh dari tempat Aiyana. Seruan itu membuat Aiyana terperanjat, tidak menyangka jika dua pegawainya akan datang sepagi ini. Biasanya juga mereka datang setelah Aiyana selesai merapikan rukonya, entah kena wangsit apa sampai dua pegawainya itu sangat rajin. “Ka-kalian sejak kapan berdiri di situ?” tanya Aiyana sembari mengusap dadanya, menahan gemuruh debaran jantungnya yang berpacu sangat cepat. Dua pegawainya, Upi dan Deni saling pandang. “Belum lama kok, Mbak. Paling sejak Mbak buka gorden,” balas Upi. “Tapi aku tidak dengar kalian datang, lagian tumben sekali datang pagi-pagi,” gumam Aiyana keheranan sambil lalu, memilih mengabaikan hal – hal sepele semacam itu, walau masih membuat dia merasa heran juga. Aiyana kemudian pergi menuju ke mejanya dan meminta pegawainya untuk bersih-bersih menggantikan dirinya sebelum membuka toko. Sejak perceraiannya yang gagal dan tidak ada yang mengetahui tentang kegagalan pernikahannya, Aiyana membuka toko pakaian, lebih tepatnya ini adalah sebuah butik. semua pakaian yang dia jual dengan menggunakan desain kerjasamanya dengan beberapa orang desainer. Selain itu, Aiyana pun membuka toko secara online, dia ingin merambah pasar secara luas. Aiyana sangat mencintai butiknya, karena satu-satunya hal yang dia miliki untuk bertahan hidup—terpaksa bertahan hidup sendiri. Seperti biasanya, Aiyana membuka komputernya untuk melihat adakah pesanan untuk hari ini. Tepat saat dia memeriksa pesanan, Aiyana melihat ada sebuah email yang masuk dengan subjek yang sangat menarik minat Aiyana. Namun, Aiyana ragu untuk membukanya, merasa jika dirinya cenderung dihinggapi sebuah kesialan. “Pi … Upi!” panggilnya pada Upi si pegawainya yang memiliki tubuh kecil dan terlihat seperti anak SMP . “Upi! Deni!” Lalu Aiyana menambahkan nama Deni dalam panggilannya. Tak butuh waktu lama, dua pegawai butiknya itu sudah muncul di depannya, siap menantikan perintah si bos yang terlihat gundah gulana. Aiyana menatap Upi dan Deni cukup intens dan secara bergantian, seolah-olah dia sedang menilai siapa di antara dua orang itu yang paling baik. Pertama, ada Upi yang dipekerjakan oleh Aiyana tanpa pikir panjang karena Upi terlihat sangat melas sekali wajahnya, setiap kali melihat wajah gadis dua puluh tahun itu semua orang Aiyana pasti akan merasa iba, itu adalah alasan pertama Upi diterima kerja oleh Aiyana. Kedua, ada Deni yang terlihat seperti pemuda normal pada umumnya. Alasan Aiyana memperkerjakannya, karena Deni adalah pengangguran yang jujur. Deni pernah mengembalikan tas Aiyana yang berisi uang, dan uang itu sama sekali tak tersentuh. Aiyana menyukai orang yang jujur seperti itu. “Apakah ada yang bisa kami bantu, Mbak?” tanya Upi yang tidak tahan merasa penasaran, sementara Aiyana tidak segera memberitahu mereka alasannya mereka dipanggil. Masih terus memandangi mereka. Para pegawainya itu menjadi was-was, jangan-jangan mereka akan dipecat dari sini. Apalagi mengingat jika mereka diterima bukan karena CV bagus dengan sederet pengalaman tapi hanya karena kebaikan Aiyana. “Mbak Ai bukan mau pecat kami, ‘kan?” tanya Deni yang ketar-ketir merasa karirnya sebagai penjaga toko akan berhenti. “Siapa yang mau pecat kalian … aku cuma mau nanya, siapa di antara kalian yang punya hoki bagus?” tanya Aiyana. Tentu saja dua pegawainya itu saling menatap bingung, tidak mengerti maksud pertanyaan random yang diutarakan oleh bosnya itu. Sementara itu Aiyana sudah berhenti berpikir, dua pegawainya ini tidak bisa membantunya untuk menyelesaikan kegundahan hatinya. “Ah! Sudahlah, lupain, udah-udah kalian boleh balik kerja lagi.” pinta Aiyana lalu dia bergegas pergi dari tokonya, meninggalkan Upi dan Deni yang masih bingung dengan tingkah aneh bosnya itu. Memang ini bukan yang pertama si bos Aiyana itu bertingkah aneh, tapi biasanya tidak sepagi ini. Oleh sebab itu mereka cukup heran, waktu belum melewati pukul sembilan tapi bosnya sudah bertingkah aneh. Aiyana berjalan dengan cepat keluar dari ruko miliknya, dia menyebrang jalan menuju ke sebuah café yang terletak tepat di seberang rukonya. Setelah berhasil menyeberang, dia langsung masuk ke dalam melongokkan kepalanya ke kanan dan ke kiri untuk mencari seseorang. Tidak menemukan orang tersebut, Aiyana mendengus kesal. “Apa dia belum datang ya?” tanyanya dengan suara lirih. Aiyana kembali menutup pintu café itu dan berbalik. “Aaa!” Aiyana dan seorang perempuan lainsama-sama berteriak dengan keras untuk beberapa saat. “Astaga naga! Luna! Kamu bikin kaget aja!” ucap Aiyana, tangannya masih mengusap-usap daddanya, jantungnya masih berdegup kencang karena tidak sengaja menabrak temannya sendiri, Luna. “Lagian, kamu kenapa kaya orang bingung gitu?” “Ya, aku emang bingung … bingung cari kamu.” “Nih, aku udah di sini, nggak ketemu aku yang lucu ini sehari aja kangen ya kamu?” “Aduh, pede banget Ibu Luna yang paling centil. Udah deh, masih pagi juga.” “Bener, ini masih pagi dan kenapa kamu di sini, Aiyana Gantari? Kamu mau minum kopi atau mau ngecengin mas koki?” tanya Luna sambil mencubit lembut perut Aiyana. “Ih, apaan sih, kenapa kok malah jadi mas koki?” “Ya, habis kamu sering flirting ke doi.” “Itu bukan flirting ya Ibu Luna—” “Tapi minta diajarin masak?” Luna sangat hafal sekali dengan kalimat yang akan diucapkan oleh Aiyana. Sejak lama Aiyana memang belajar memasak dari koki di café milik Luna, kira-kira setelah dia membuka butiknya. Sekitar tiga sampai empat tahun. Tapi yakinlah, masakannya tidak ada yang pernah beres rasanya. Aiyana memang sepertinya sangat lemah dalam hal memasak. “Dih serius deh.” “Oke-oke aku serius, jadi kamu ke sini mau minta kopi gratisan apa kopi diskonan?” tanya Luna sambil berjalan masuk ke dalam cafénya setelah menyadari mereka menghalangi pintu masuk. Aiyana pun mengikutinya. “Bukan itu, Aku mau kamu lakukan sesuatu Lun! Kamu ada laptop ‘kan?” tanya Aiyana dengan wajah yang sangat serius. “Ada, buat apa?” Aiyana menyambar tangan Luna, tanpa menjawab pertanyaan dari sahabatnya yang sudah dia kenal lebih dari sepuluh tahun itu. “Mana? Di mana laptopnya?” tanya Aiyana buru-buru. “Ini bocah kesambet apa ya, pagi-pagi sudah bikin ribut,” gerutu Luna tapi dia tetap mencari laptop miliknya. Setelah menggeledah tasnya bersama dengan Aiyana yang berdiri memperhatikan seperti seorang pengawas ujian, Luna mengeluarkan laptop dari dalam tasnya dan meletakkan laptop tersebut di atas meja. “Ini … terus kamu mau aku apakan laptop ini?” “Lun, kamu kan selalu hoki … jadi tolong kamu buka emailku, ya?” “Hah?” Luna menatap bingung pada sahabatnya yang super aneh ini. Ada saja kelakuannya setiap hari yang membuatnya hanya bisa mengusap d**a saja. “Udah, aku minta tolong kamu buka emailku, ya? please?” “Iya, iya, baiklah, aku akan bukain. Nggak usah ngerengek kaya bayi begitu.” Luna kemudian mulai membuka laptopnya dan membuka laman website untuk email. Setelah Aiyana mengetik password emailnya, dia berjalan agak menjauh dari tempat Luna berada. Membiarkan Luna untuk membuka emailnya dan melihat sebuah pesan yang baru masuk. “Ai …,” Luna tampak tertegun untuk sesaat setelah membuka sebuah email dengan subjek ‘Beasiswa’ itu. Matanya tidak berkedip walau hanya sekali. “Aiyana…” Luna kembali memanggil, kali ini wajahnya terlihat sangat serius. “Kenapa?” Aiyana merasa jika usahanya setelah tiga tahun berusaha untuk mendapatkan beasiswa itu gagal lagi. “Pasti gagal ya? pasti nggak diterima,” desahnya dengan nada suara yang lesu sambil menyandarkan punggungnya pada sebuah tiang yang terletak tak jauh di belakangnya. “Ai, kamu harus lihat ini.” Luna menjulurkan tangannya untuk menarik Aiayana mendekat padanya. Walau Aiyana mendekat dia tetap menutup mata dengan telapak tangannya, tidak ingin melihat kegagalannya yang kesekian kali. “Buka mata, Ai! Kamu harus lihat!” Luna menari tangan Aiyana yang menutupi matanya. Walau tangan itu sudah disingkirkan Aiyana tetap memejamkan matanya dengan erat. “Dih, ni bocah bebal banget sih, dibilangin juga suruh buka matanya masih aja merem.” “Aku tahu kalau aku pasti gagal lagi, jadi ya sudah … kan kamu sudah lihat.” Aiyana sangat pesimis. Luna menepuk kening sahabatnya itu dengan keras. “Ini … kepalamu ini keras sekali kaya batu, lihat ini!!” Luna mencoba untuk membuka kelopak mata Aiyana dan mengarahkan kepala gadis itu ke monitor supaya dia bisa melihat tulisan yang tertera di layar laptop Luna. Aiyana tertegun, tubuhnya membeku seketika saat melihat tulisan di layar monitor. Bahkan Aiyana enggan menutup matanya kembali, takut-takut jika dia mengedipkan mata maka tulisan itu akan hilang bersama dengan harapannya. “Luna … apa ini nyata? Coba cubit aku!” Luna tidak segan-segang mencubit lengan Aiyana keras-keras hingga gadis itu meringis kesakitan lalu menatapnya dengan dahi berkerut. “Tidak sekeras itu juga!” lirihnya sambil mengusap-usap bekas cubitan Luna. “Ini nyata! INI NYATA!!!” Aiyana berseru setelah sekali lagi melihat tulisan di monitor. Dia dinyatakan lolos seleksi akhir pengajuan beasiswa untuk program magisternya. “Luna aku diterima!” tambahnya dengan lebih keras. Aiyana berbalik, menarik tangan Luna ke atas dan melompat-lompat kegirangan. “AKU LOLOS! AKU LOLOS!!” “YEAH!!” Luna ikut bahagia temannya lolos seleksi itu. Mereka masih melompat-lompat dengan berpelukan sampai merasa lelah. Sekali lagi keduanya melihat ke layar laptop, dan tulisan itu masih di sana. Aiyana tersenyum sangat lebar, impiannya … cita-citanya sedikit lagi akan menjadi nyata. “Kita harus merayakan ini, bagaimana kalau kita berpesta malam ini? Aku akan menutup café lebih awal dan meminta mas koki masak. Gimana?” “Ide bagus! Aku akan kasih tahu Upi dan Deni!” “Oke deh, cepet kasih tahu mereka!” Aiyana pun bergegas untuk kembali ke tokonya, tepat saat dia membuka pintu café, Luna memanggilnya dan membuatnya berhenti di ambang pintu. “Aiyana … selamat ya! Kamu berhasil, aku tahu kamu pasti berhasil.” Senyum Aiyana begitu lebar. “Terima kasih, Luna. Kamu selalu percaya padaku dan mimpiku.” * “Aku ingin kita bercerai!” “Hah-hah-hah-hah-hah.” Nafas milik Satya berembus tidak teratur setelah dia mendengar kalimat itu meluncur dari bibir isterinya, walau ucapan itu hanya ada dalam mimpinya dan ketika dirinya membuka mata sang istri tidak ada lagi di depan matanya. Beruntung dering alarm yang begitu keras membangunkannya dari mimpi buruk yang acap kali masuk ke dalam tidur nyenyaknya tanpa permisi itu. Satya mengatur jalan nafasnya dan mengusap peluh yang membanjiri keningnya itu lalu mengambil ponselnya untuk memeriksa barang kali ada telepon darurat. Ketika layar ponselnya menyala, terlihat dirinya sedang memeluk pinggang seorang gadis bergaun putih sebagai wallpaper ponsel pintarnya, dalam foto itu dua pasang mata itu menunjukkan kebahagiaan yang luar biasa, sayangnya kebahagiaan itu sudah sirna. Satya menghela nafasnya, mengabaikan kenangan indah yang kembali menusuk ingatannya dan menimbulkan rasa rindu di dalam hatinya itu. Terdapat beberapa pesan masuk, dan ratusan pesan di aplikasi whatsappnya yang selalu diabaikan oleh Satya karena dia tahu, ratusan pesan di whatsappnya pasti hanya obrolan di grup chat saja, tidak ada yang terlalu penting. Tak berapa lama kemudian, sebuah ada panggilan masuk. Tertera nama Martha di layar ponsel Satya, segera pada deringan ketiga Satya mengangkat panggilan itu. Jika Martha yang meneleponnya, pasti ada sesuatu yang bersifat mendesak. “Ya, Martha.” Satya berusaha untuk membuat suaranya tidak terdengar seperti baru saja bangun tidur. “Bapak baru bangun tidur, ya?” “Jangan sembarangan nuduh, ada apa telepon saya?” Martha tahu jelas-jelas bosnya itu sedang berbohong, menjadi sekertaris Satya selama empat tahun terakhir membuat Martha memiliki skill khusus, dia tahu betul bagaimana suara Satya di setiap situasi yang berbeda akan menjadi berbeda, contohnya pagi ini saat menjawab panggilan darinya terdengar walau samar jika ada nada malas dari suaranya. Martha tidak ambil pusing karena ada hal lain yang perlu dia bicarakan dengan Satya mengenai sesuatu yang sangat mendesak. “Tuan Wiryaguna datang ke kantor, Pak. dia sedang menunggu di ruang meeting.” Kening Satya berkerut cukup dalam, dia tidak merasa ada janji dengan orang yang disebutkan oleh Martha. Mereka memang sedang bekerja sama, Wiryaguna meminta bantuan Satya mengenai harta warisan yang ditinggalkan oleh kepala keluarga mereka yang belum sempat membagi warisan pada keturunan dan keluarga yang ditinggalkan. “Hari ini jadwal saya untuk mengajar, Martha ….” Satya memijit celah antara alisnya sembari mengingatkan sekertarisnya itu barangkali wanita berusia tiga puluh empat tahun itu lupa jadwal harian Satya. “Dia lebih keras kepala dari anda, Pak.” Martha mengatakannya dengan setengah berbisik. “Baiklah, aku akan menanganinya. Kamu tolong hubungi asisten saya di kampus, bilang padanya untuk memberikan tugas di kelas sebagai pengganti saya.” “Siap laksanakan, Bos!” seru Martha seraya menutup panggilan teleponnya. Satya pun mulai beranjak dari ranjang King sizenya itu, duduk di tepian ranjang sambil meregangkan otot-otot tangan, leher, dan punggungnya. Tak sengaja dia melihat sebuah bingkai foto yang terletak di atas nakas. Di dalam foto tersebut ada seorang gadis yang sedang tersenyum dengan ceria dengan matanya begitu berbinar. Satya ingat saat dirinya memotret wajah istrinya itu. Mereka sedang berpiknik waktu itu, cuacanya sangat cerah, dan istrinya sangat semangat sekali. Banyak hal yang mereka lakukan, bermain layang-layang walau layangan itu tidak pernah terbang tinggi, lalu bermain tangkap bola, saling menceritakan hal-hal lucu, sampai akhirnya Satya membacakan sebuah buku, sementara istrinya duduk di pangkuannya sambil mendengarkannya membaca. Kadang-kadang jika terlalu lama membaca buku, istrinya akan tertidur seperti anak kecil. “Sudah tiga tahun, Ay … Apa kamu tidak ingin kembali?” tanya Satya sambil memandangi foto istrinya yang terlihat begitu bahagia itu. Sekali lagi Satya menghela nafasnya, mimpi buruk yang seringkali datang itu selalu berhasil mengacaukan paginya. Ting! Terdengar dering ponsel Satya menandakan sebuah pesan masuk. Satya mengalihkan perhatiannya kemudian melihat pesan yang baru saja masuk itu. Setelah membaca pesan tersebut, senyum Satya melebar, matanya berbinar sangat cerah. Kontras dengan keadaannya beberapa waktu yang lalu. “Akan kupastikan kamu akan kembali padaku, Ay.” Satya bergumam, lalu dia bersiul-siul karena suasana hatinya membaik begitu cepat. Satya meletakkan ponselnya kemudian beranjak pergi untuk bersiap-siap pergi ke kantornya dan menemui kliennya. Dalam ponsel yang ditinggalkan oleh Satya di atas nakasnya itu terlihat sebuah dokumen. Tertera tulisan [ Daftar Mahasiswa Baru Program Pascasarjana Program Studi Magister Ilmu Hukum T.A 2021 ] 1. Anita Lirawan 2. Aiyana Gantari 3. … dst Salah satu nama dari dua puluh satu daftar mahasiswa baru itulah yang membuat Satya tersenyum begitu lebar dan kabut mendung yang menyelimuti hatinya lenyap digantikan oleh cerahnya sang mentari. =Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD