Prolog

1699 Words
Prolog   Aiyana   Situasi ini telah aku antisipasi sebelumnya. Aku sudah mempersiapkan diriku baik secara fisik ataupun mental. Siap! Aku pasti siap. Tenang, Aiyana. Kau harus tenang supaya bisa menjawab pertanyaan ini dengan lancar dan semuanya akan segera berakhir. Kuambil udara yang tersisa di ruangan ini dengan menghirupnya dalam-dalam. Perlahan-lahan aku menghembuskannya, lalu menatap seorang wanita yang menjadi mediator kami.   “Jadi Nyonya Irsyad … apa yang membuat anda ingin bercerai dari suami anda.”   Pertanyaan yang sangat sederhana sekali, bahkan aku tidak perlu berlatih atau belajar untuk menjawabnya. Tentu saja aku tersenyum kepada mediator itu, lalu aku mulai membuka bibirku yang sudah gatal sekali ingin mengungkapkan semua alasan mengapa aku menggugat suamiku yang tercinta itu.   “Dia terlalu baik.” Singkatnya seperti itu. Pria yang aku nikahi sejak usiaku dua puluh tahun adalah pria paling baik yang pernah aku temui. Dia adalah Budha! BUDHA! Aku menikah dengan Budha! Bukankah ini menggelikan?   Kalian pasti tidak percaya padaku, sama halnya dengan Ibu mediator yang saat ini sedang menatapku geli, ingin tertawa tapi takut itu akan menyinggungku. Tidak tertawa tapi rasanya menggelikan. Seperti yang kalian lakukan saat ini. Sebagian akan berpikir jika aku pasti sudah gila, karena mengapa menceraikan suami yang sangat baik bagaikan Budha ini. Apa yang sebenarnya aku cari, apa kurangnya suamiku sehingga aku menceraikannya.   “Boleh anda menjelaskan, mengapa suami anda terlalu baik? Dan mengapa itu menjadi masalah?”   “Tentu saja itu sebuah masalah!” Sepertinya aku menjawab terlalu lantang. Apakah hanya aku yang sangat bersemangat untuk bercerai? Baiklah, aku akan mengatur kembali nada bicaraku supaya tidak terdengar terlalu antusias. Tidak lupa aku melihat ke sekeliling, siapa tahu ada yang merekam adegan mediasiku ini diam-diam lalu mengirimkannya ke akun gosip. Aku tidak akan membiarkan kebahagiaan atas perceraian ini dinikmati oleh netijen julid di negara +62 ini.   Baiklah kembali lagi pada Ibu mediator yang sedang menunggu jawabanku. Saat ini aku sedang merangkai kalimat yang cukup panjang dan mungkin bisa menjadi sebuah kitab suci saking terlalu panjangnya. Begitu memang adanya, kebaikan yang dilakukan oleh suamiku—calon mantan suamiku—memang sangat banyak sekali. Mari kita urai satu persatu.   Pertama, astaga! Jantungku berdebar dengan kencang sekarang. Sepertinya aku terlalu gugup. Aku mengambil tangan suamiku yang duduk tepat di sampingku saat ini. Dia menggenggam lembut kembali tanganku, ini caranya untuk menenangkanku saat aku sedang gugup seperti ini. Lihat! Ini adalah kebaikan pertama suamiku, dia selalu pengertian dan perhatian dan peka. Apa yang dilakukannya ini masih sepele, mari kita flashback sejenak.   Suamiku, adalah pria paling pengertian. Dia sama sekali tidak pernah menaruh handuk basah di atas kasur, setiap kali mandi dia selalu membersihkan lubang air dari rambut-rambut rontok yang mayoritas adalah PUNYAKU, jika aku kelelahan belajar dia akan bangun lebih pagi keesokan harinya dan membuat makanan favoritku—dia selalu memasak setiap hari, yang paling penting adalah saat aku mengalami PMS, dia akan membuatku merasa nyaman dengan membuatkan kompres hangat, membantuku mengompres perutku, lalu membelikan semua snack atau camilan kesukaanku, dia akan mengusap rambutku dan membuatku tertidur dengan nyaman. Dia … apa dia adalah malaikat? Masih banyak hal yang jika aku ceritakan pasti akan membuat proses mediasi ini semakin lama.   Terlalu gugup aku menoleh padanya—suamiku—dia mengangguk pelan padaku sambil mengucapkan sesuatu dengan suara yang lirih. “Tenanglah, Ay. Ada aku di sini … katakan saja apa yang ingin kamu katakan,” ujarnya dengan lembut. Lihat! Ini adalah kebaikannya yang KEDUA!   Hampir empat tahun pernikahan kami, ya, kami baru saja menikah dan belum genap empat tahun. Satu bulan lagi seharusnya Anniversary kami yang ke-empat. Baiklah, kembali ke laptop. Selama pernikahan kami, dia tidak pernah mengeluh, tidak pernah marah padaku, tidak pernah protes, tidak pernah mengomel, bahkan sama sekali tidak pernah meninggikan suaranya padaku. Sebesar apapun kesalahanku, dia tidak akan pernah marah. Suamiku hanya akan bicara dengan lembut seperti ini, “Tidak apa-apa, asalkan kau baik-baik saja, semuanya tidak masalah.” Mengatakannya sambil mengusap rambutku. Apa yang salah dengan otaknya sebenarnya, apa dia itu reinkarnasi biksu?   Bahkan saat aku menyodorkan kertas gugatan cerai ke wajahnya, dia hanya menatapku lalu mengatakan hal yang paling konyol di dunia ini. “Maafkan aku ya, Ay … aku tidak akan mengulangi kesalahanku, jadi batalkan saja gugatannya.” Bukan ucapannya yang membuatku kesal, tapi nada bicaranya yang datar itu membuatku gemas. Seolah-olah dia dilahirkan tanpa emosi. Di saat pernikahan kami berada di ambang kehancuran dia tidak marah. Aku yakin sekali pasti ada yang salah dengan otak suamiku ini.   Baiklah, kita akan melanjutkan ke kebaikannya yang ketiga. Lihat ini baik-baik, ya!   “Bagaimana penampilanku hari ini?” aku bertanya padanya, tidak mempedulikan siapapun di sekitar kami. Hanya dengan ini aku bisa membuktikan jika pria yang telah mengisi hari-hariku selama kurang lebih empat tahun ini adalah pria super baik.   “Kau sangat cantik, sempurna.”   Lihat! Kalian LIHAT! Dia itu selalu mengatakan apa yang ingin aku dengar saja. Tidak pernah mengatakan yang sebenarnya. Hari ini aku sengaja menggunakan pakaian yang dia benci, gaun dengan lengan terbuka dan berwarna hijau neon yang sama sekali tidak cocok di kulitku dan warnanya sama sekali tidak sehat untuk penglihatan siapapun. Hampir setiap jam, setiap harinya selama kami tinggal bersama, dia selalu memujiku. Padahal aku jelas-jelas tidak secantik itu dan tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini.   Bagaimana? Apakah semua kebaikannya ini cukup untuk membuat kami bercerai? Jika tidak, aku akan menambahkan lagi daftar kebaikanya yang masih seabrek itu. Tidak masalah, aku akan memberi tahu si Ibu mediator ini kebaikan suamiku yang lainnya. Selama kami menikah, aku merasa seperti memiliki dua ayah. Kenapa? Karena dia begitu menjagaku. Aku tidak diperbolehkan menyetir sendiri ke mana pun, dia akan selalu menjadi sopir pribadiku walau jadwal kerjanya sendiri sangat padat. Suamiku tercinta akan selalu meluangkan waktunya untuk mengantarku ke mana saja. Selain itu, dia tidak pernah membiarkanku menyentuh pisau di dapur, itu sebabnya aku tidak pernah masak. Ada lagi yang tidak boleh kusentuh, mesin cuci, penyedot debu, piring kotor, kantong sampah dan lain sebagainya. Aku benar-benar diperlakukan seperti anak kecil yang tidak tahu cara menggunakan semua barang-barang itu dengan baik. Jadi, dia membuatku seperti isteri yang tidak berguna.   Perlahan-lahan aku menarik tanganku dari genggamannya yang menghanyutkan itu dan bicara sejelas mungkin. “Itu sebabnya, aku tidak ingin menjadi isterinya lagi! Dia membuatku menjadi tidak berguna.” Aku berusaha mengatakannya dengan seketus mungkin supaya suamiku itu menyadari kesalahannya.   Ibu mediator yang terlihat sangat cantik itu menghela nafas begitu berat, seolah-olah di dadanya itu terdapat beban yang sangat berat. Pasti dia juga berpikir jika masalah rumah tanggaku ini sangat pelik dan susah untuk dimediasi. Aku yakin itu!   “Bagaimana pendapat Tuan Irsyad tentang semua keluhan dari isteri anda?”   * Satya   Kata demi kata yang meluncur indah dari bibir Aiyana, isteriku yang paling cantik itu aku dengarkan dengan seksama. Aku suka mendengarkan suaranya ketika bicara, aku suka saat keningnya berkerut-kerut, atau telinganya yang naik turun saat dia bicara. Biar kuberi tahu, kecantikannya bahkan tidak berkurang walau dia memasang raut wajah yang paling buruk sekalipun. Aiyana tetap wanita paling cantik yang pernah aku temui dan satu-satunya yang menjerat hatiku. Bisa dikatakan aku sudah cinta mati pada isteriku ini.   Dan … perceraian ini membuatku sangat sedih dan terluka. Aku sangat bingung ketika pertama kali Aiyana menyerahkan dokumen gugatan cerai itu saat aku sedang di ruang kerjaku. Waktu itu, aku melihatnya lekat-lekat, isteriku terlihat sangat lelah. Kupikir dia pasti mengalami hari yang berat waktu itu, dan aku tidak ada di sampingnya untuk menghibur dia. Jadi aku tidak menanyakan, apa alasannya sampai surat gugatan itu bisa menyelinap masuk ke rumah kami.   Hanya permintaan maaf yang bisa aku berikan padanya, karena aku yakin jika aku telah melakukan kesalahan fatal sampai Aiyana repot-repot pergi ke pengadilan untuk mengajukan gugatan cerai padaku. Ugh, aku bahkan tidak bisa membayangkan betapa lelahnya isteriku mengurus semua dokumen-dokumen itu sendirian. Aku benar-benar merasa bersalah padanya, karena kesalahan yang tidak aku sadari membuatnya kesusahan dan menderita.   “Bagaimana pendapat Tuan Irsyad tentang semua keluhan dari isteri anda?”   Suara Ibu moderator itu menarikku kembali pada kenyataan, saat ini kami sedang menjalani mediasi. Aku menatap ibu moderator itu dengan seksama, dia sedang menungguku untuk menjawab pertanyaanku terkait dengan semua yang dikatakan oleh Aiyana sebelumnya. Lantas apa yang bisa aku katakan? Semua yang dikatakan oleh Aiyana itu benar adanya, itulah aku.   Bukan. Bukan begitu, aku tidak berpikir jika aku adalah manusia super baik seperti yang dipikirkan oleh Aiyana. Apa yang aku lakukan adalah sebagai bentuk tanggung jawabku dan bentuk kasih sayangku terhadap Aiyana. Aku tidak ingin jika isteriku merasa tidak nyaman di rumah kami, aku tidak ingin dia merasa lelah dengan pekerjaan rumah sementara dia sudah lelah untuk belajar, aku tidak ingin melihat dia meneteskan air mata karena diriku atau takut karena amarahku, aku tidak ingin kekasihku terluka walau hanya tergores saja. Aiyana adalah Ratu di hatiku, dan dia adalah Ratu di rumahku, aku akan memperlakukannya selayaknya Ratu.   Namun … jika Aiyana merasa jika semua itu adalah kesalahan maka jadilah itu kesalahan. Karena isteriku itu, dia selalu mengatakan segala sesuatu dengan apa adanya, tidak pernah menutupi apapun. Jika dia merasa harus menyembunyikan sesuatu, maka akan sangat terlihat, karena dia bagaikan sebuah buku yang terbuka—sangat mudah dibaca. Selain itu, aku tidak akan pernah membela diriku dan mendebat ucapan Aiyana, aku hanya tidak ingin pernikahan kami berakhir sampai di sini. Sungguh.   “Tuan Irsyad?”   “Apa yang dikatakan oleh isteriku ….” Kukatakan itu sambil menatap mata indahnya yang selalu berhasil membuatku terhipnotis. Kadang aku berpikir, mungkinkah Aiyana itu seorang penyihir?    “Aku tidak akan membantah apapun, jika isteriku menganggap semua yang kulakukan adalah kesalahan, maka biarlah begitu.”   Mulut Ibu moderator dan beberapa orang yang menjadi saksi mediasi kami terbuka lebar karena mereka tercengang dengan jawabanku. Apa yang aneh dengan jawabanku? Kurasa tidak ada. Aku sangat menghargai keputusan Aiyana dan juga semua ucapannya. Dengan begitu aku bisa melihatnya tersenyum lebar penuh kebahagiaan seperti saat ini. Dia terlihat seperti seseorang yang baru saja memenangkan lotere setelah mendengar ucapan Ibu mediator jika mediasi ini dianggap gagal dan akan diteruskan dengan sidang putusan perceraian. Kebahagiaannya menular padaku dan aku pun turut tersenyum melihatnya dipenuhi kebahagiaan.   Eits. Tapi jangan dipikir aku akan menyerah pada pernikahan kami. Sampai dunia direstart berulang kali pun aku tidak akan pernah menyerah untuk mempertahankan pernikahan kami ini. Aku hanya mencintainya dan akan membuatnya terus menjadi isteriku.   *          
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD