Marry Hilang

4429 Words
"Ini konyol! Yang benar saja? Aku harus terkurung seharian di rumah, hanya gara-gara orang tuaku takut sesuatu yang tidak akan pernah terjadi padaku akan terjadi?" Bibi Jane terkekeh geli mendengar gerutuan Marry. Gadis itu tampak begitu kesal saat orang tuanya melarangnya keluar rumah dan malah menyuruh Jane Calebaout datang untuk mengawasi anak mereka. Dan yang membuat Marry makin kesal adalah saat orang tuanya melarang dia pergi menjenguk Jeb yang masih sakit. "Kalimat akhirmu terlalu berbelut Nak," komentar Bibi Jane geli. Wanita enerjik itu terlihat sedang asik merajut sesuatu, dari benang wol berwarna biru. "Tapi ini menyebalkan Bi. Kasus penculikan yang merebak membuatku tidak bisa keluar rumah.. Aku bahkan tidak bisa pergi menengok Jeb yang sedang sakit." Marry mengomel sembari berjalan mondar-mandir di ruang tamu, di depan televisi kecil hitam putih yang masih menyala--memperlihatkan film bisu antara seorang penjahat berkumis dan gadis pirang cantik. "Jangan seperti itu. Orang tuamu hanya mengkhawatirkanmu, Marry." "Kekhawatiran mereka terlalu berlebihan Bi, aku bisa jaga diri," kata Marry keras kepala. "Kau ini bandel sekali. Turuti saja perkataan orang tuamu dengan tetap berada di rumah dan jangan protes!" Marry berhenti mondar-mandir, dia cemberut menatap Bibi Jane. "Tapi aku ingin menjenguk Jeb," keluhnya sembari menghenyakan diri di samping Sang Bibi. Menghentikan kegiatan menyulamnya, Bibi Jane menoleh ke arah Marry, dia lalu menepuk pelan kepala keponakannya. "Bibi tahu kau menghawatirkan Jeb, tapi percayalah, dia baik-baik saja, orang tuanya ada bersama dia. Mereka akan melakukan apapun untuk membuatnya kembali sembuh dan sadar." Keduanya saling bertatapan mata selama sepersekian detik, lalu Marry mengangguk pasrah. "Bi," ucap Marry setelah keduanya terdiam selama beberapa menit. "Ya?" "Menurut Bibi, apa Jeb benar-benar kerasukan arwah?" tanya Marry sembari menoleh dan menatap Bibi Jane penasaran. Menghentikan kegiatan menyulamnya, Bibi Jane tersenyum pada Marry. "Kalau menurutmu?" "Bibi selalu bilang padaku kalau semua yang tidak masuk akal di dunia ini selalu memiliki penjelasan yang masuk akal (ilmiah)." Bibi Jane terdiam sejenak, dahinya berkerut dalam seperti sedang memikirkan sesuatu. "Pemuda itu seperti apa?" tanyanya tiba-tiba. Sebelah alis Marry terangkat bingung. "Pemuda?" "Pemuda yang menyuruh Jebadiah memanggil arwah kedua orang tuanya," jelas Bibi Jane. Marry mendesah. Pemuda itu tidak menyuruh Jeb memanggil arwah orang tuanya, justru Jeb-lah yang memaksa pemuda itu agar mau menyetujui upacara pemanggilan arwah itu, pikir Marry. "Marry, bagaimana ciri pemuda itu?" Bibi Jane mengulang pertanyaannya saat melihat Marry melamun. "Dia ... aku tidak pernah melihatnya di sekitar Circlewoods. Dia tampan, berusia diatas sekitar dua puluh tahunan, berpenampilan konvensional seperti pemuda dari kalangan atas, dan ... dia tampak angkuh." "Angkuh?" Bibi Jane mengulang potongan perkataan Marry. Marry mengangguk. "Memangnya Bibi berharap penampilannya seperti apa?" "Seperti seorang pesulap sirkus," jawab Bibi Jane tanpa ragu. Sepasang alis Marry menukik tak mengerti. "Menurut Bibi, Jeb dihipnotis." "Hipnotis?" "Ya. Seperti bahasa awamnya orang pedesaan dia diguna-guna, biasanya orang-orang yang menganggap diri mereka penyihir selalu menggunakan ilmu hipnotis (baik itu dengan sentuhan atau dengan psikotropika yang terbuat dari tumbuhan) untuk melaksanakan niat buruk mereka. Contohnya beberapa perempuan dari sebuah suku terpencil di India, memberikan suaminya minuman sejenis tumbuhan beracun yang bisa membuat kaum laki-laki berhalusinasi, mereka menganggap itu sebagai guna-guna, dan mereka melakukannya agar si suami tidak melirik wanita lain," jelas Bibi Jane panjang lebar. Kerutan di dahi Marry makin dalam. "Jadi menurut Bibi. Penjelasan yang masuk akal dari kondisi Jeb, adalah karena dia dihipnotis oleh pemuda itu?" Bibi Jane mengangkat bahu. "Entahlah, itu hanya sekedar pendapat dari pecinta ilmu pengetahuan sepertiku," sahutnya sambil tersenyum. "Kalau benar Jeb dihipnotis, kenapa Bibi tidak segera memberitahu keluarga Charmichael?" kata Marry bersemangat ketika mengetahui bahwa temannya memiliki peluang untuk sembuh dalam waktu dekat. Jika Jebadiah benar-benar dihipnotis, mereka pasti bisa menghilangkan pengaruhnya kan? "Henry orang yang cerdas, dia pasti bisa mengetahui apa yang terjadi pada puteranya," jawab Bibi Jane bijak. *** Beberapa hari setelah kejadian menghilangnya dua remaja dan juga Jebadiah Charmichael yang kesurupan, hari ini Circlewoods kembali heboh. Orang-orang ramai berkumpul memadati halaman sebuah rumah jagal hewan yang tidak terpakai, dan letaknya tak jauh dari pasar. Pagi tadi, sekelompok anak kecil yang biasa bermain petak umpat di properti milik adik walikota itu, menemukan sesosok mayat perempuan di halaman rumah jagal tersebut. Mayat perempuan itu memiliki ciri-ciri ; berkulit putih, rambut pirang panjang, memakai gaun katun sederhana berwarna biru, usianya sekitar enam belas tahun, dan dia tidak memakai sepatu. Orang-orang mengenali mayat itu sebagai Irina Saintclair, gadis remaja yang menghilang minggu lalu. Polisi dan dokter forensik dari Scotland Yard, yang datang satu jam setelah penemuan mayat, menyatakan bahwa Irina Saintclair meninggal akibat luka tusukan pisau yang dihujamkan tepat ke jantungnya. Mr. dan Mrs. Saintclair yang diberitahu oleh warga mengenai penemuan mayat anak mereka langsung menuju ke Rumah Jagal itu. Dan setibanya di sana, Mrs. Saintclair langsung menangis histeris dan berkali-kali jatuh pingsan saat melihat tubuh tak bernyawa puterinya. Kematian Irina membuat desas-desus tak baik dan rumor buruk kembali merebak. Mereka menganggap bahwa Irina Saintclair telah dijadikan tumbal oleh pemuja setan, pasalnya mayat gadis malang itu diletakan di tanah--ditengah gambar besar sebuah simbol berbentuk pentagram yang digambar menggunakan kayu. "Ini seperti empat belas tahun lalu." Mrs. Smith yang dikenal sebagi tukang jahit keliling berbisik pada temannya, seorang perempuan tua berbadan kurus dengan pakaian berjumbai yang aneh. "Maksudmu Matilda?" Teman Mrs. Smith bergidik saat menyebutkan nama itu. "Iya. Siapa lagi kalau bukan dia? Matilda Fergusson, wanita gila yang membunuh puluhan gadis dan pelayannya untuk dijadikan tumbal iblis," dia berkata dengan suara parau yang rendah dan serak sehingga membuat temannya merasa tak nyaman. "Menurutmu ... Matilda yang membunuhnya?" si teman bertanya pada Mrs. Smith, dari nada suaranya dia terdengar ngeri. Matanya memandang perihatin pada jasad dingin gadis malang yang tengah dipeluk sang ibu. *** Jane Callebaout tergopoh memasuki rumah saudaranya. Wajah perempuan paruh baya itu terlihat pucat pasi, sorot matanya menampakan kesedihan yang mendalam. Jane mendapati Mr. dan Mrs. Hermsworth sedang duduk di ruang tamu dengan dua anak mereka. "Bibi Jane, apa yang terjadi?" tanya Marry heran melihat kelakuan Sang Bibi. Dia seperti hendak menyampaikan sebuah berita gawat. "Jane, ada apa?" Mrs. Hermsworth bangun dari kursi lalu menghampiri adik iparnya, cemas. "Irina Saintclair ..." "Irina?" Ayah dan Ibu Marry saling berpandangan. "Apa yang terjadi dengan Irina? apa dia sudah ditemukan?" tanya Mr. Hermsworth penuh harap. Walau Irina bukan anaknya, dia berharap gadis itu bisa ditemukan. Dia juga memiliki seorang anak perempuan, jadi dia mengerti perasaan Mr. Saintclair. Bibi Jane menggeleng. "Irina mati." Mr. Hermsworth tersentak. Suara pekikan tertahan terdengar dari arah Sang Istri. Sementara Marry dan Josiah hanya bisa saling berpandangan, kedua anak itu tertegun dan tidak tahu harus bereaksi seperti apa. "Orang-orang menemukan mayatnya di depan sebuah rumah jagal tak terpakai di dekat pasar," jelas Bibi Jane. "Apa polisi sudah ada di sana?" Mr. Hermsworth segera bangkit dari duduknya, kemudian bergegas masuk ke dalam kamar untuk mengambil mantelnya. "Iya. Mereka sudah mengumumkan bahwa kematian Irina karena pembunuhan." Alis Marry berkerut dalam saat melihat Bibi Jane memandangnya dengan sorot khawatir yang berlebihan. Ada apa ini? pikirnya bingung. "Ya Tuhan. Kasihan Charlotte," lirih Mrs. Hermswoth, nada suaranya terdengar tulus dan perihatin. Tak lama kemudian, Mr. Hermsworth keluar dari kamar sambil mengenakan sebuah mantel cokelat besar yang biasa dia pakai untuk mengambil kayu di hutan. "Aku akan ke sana untuk memastikan apa yang terjadi," katanya sambil berjalan menuju pintu keluar. "Jacob ..." Mr. Hermswoth berhenti lalu menoleh ketika mendengar panggilan saudarinya. Tidak biasanya Jane memanggilnya menggunakan nama kecil. Dan Mr. Hermsworth langsung tahu bahwa ada sesuatu yang salah dengan kasus Irina, saat melihat ekspresi wajah Jane. "Mereka menemukan mayat Irina di letakan di tengah sebuah gambar pentagram raksasa yang diukir di tanah." Mrs. Hermsworth menarik napas keras mendengar informasi dari Bibi Jane, dengan segera dia menyambar dan menggenggam tangan Marry erat. Hal itu membuat Marry kebingungan, dan firasatnya bertambah buruk ketika mendapati sorot ketakutan dari mata Sang Ayah saat menatapnya. *** Kasus kegilaan Matilda memang sudah lama berakhir, namun penduduk Circlewoods masih belum bisa melupakannya. Empat belas tahun yang lalu, anak-anak gadis dari Circlewoods satu-persatu diculik dan dibunuh untuk dijadikan tumbal iblis. Salah satu ciri khas Matilda dalam penculikannya adalah, adanya sobekan kertas kecil yang bergambar simbol-simbola aneh (seperti pentagram, hexagram, eye horus, atau scarab beetle egyptian) di TKP awal penculikan para gadis malang itu. Dan kasus penculikan Irina Saintclair, disertai pembunuhan yang dibumbui dengan jenis simbol setan seperti pentagram, membuat penduduk Circlewoods resah. Mereka khawatir tragedy empat belas tahun lalu terjadi kembali. Para gadis remaja akan diculik dan dibunuh untuk pemujaan setan. Oleh karena itu para orang tua sepakat menjaga anak-anak gadisnya dengan ketat. Termasuk orang tua Marry. *** Marry berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya. Dia kesal. Ayah, Ibu, dan Josiah, sudah pergi ke TKP pembunuhan Irina, rumah jagal tak terpakai yang ada di dekat pasar. Sementara dia dilarang keluar, Bibi Jane disuruh menemaninya diRumah, karena--entah dalam rangka apa--keluarganya tiba-tiba menghawatirkan keselamatan Marry. Padahal selama ini mereka percaya bahwa Marry yang tomboy bisa menjaga diri, orang tuanya bahkan tidak mempermasalahkan mengenai kesukaan Marry yang sering pergi ke hutan sendirian untuk berburu. "Apa-apaan ini? Aku mengerti kasus Irina dan Louise membuat para orang tua jadi kebakaran jenggot soal anak gadis mereka. Tapi mereka tidak perlu sampai bertingkah seperti ... Seolah dunia akan kiamat!" Marry mengoceh kesal. Dia tidak habis pikir, kenapa penculikan Louise dan pembunuhan Irina malah berimbas terhadap kebebasannya. Sementara itu ribuan meter dari kamar tempat Marry mengomel sendirian. Allistair Fergusson, tampak bergabung dengan keramaian yang terjadi di dekat pasar--yang menjadi TKP penemuan mayat Irina. Mata birunya memancarkan sorot kesedihan saat melihat Ibu gadis malang itu menangis sambil memeluk jasad puterinya. Sekelebat perasaan bersalah sesaat muncul di hati Allistair. Dia sadar, perbuatannya sudah membuat seorang Ibu kehilangan anak gadisnya. Tapi dia tidak memiliki pilihan lain. Hati kecilnya mengasihani dan iba pada para gadis malang yang dia culik dan dia eksekusi. Tiap malam dia selalu mendapatkan mimpi buruk yang sama, suara isakan gadis-gadis itu saat dia menahan mereka di penjara bawah tanah The Castle. Dan juga suara ratapan mereka sesaat sebelum upacara eksekusi berlangsung, selalu terdengar jelas di telinganya. "Semua ini antara mengorbankan dan dikorbankan. Lakukan apapun untuk menyelamatkan adikmu dan mempertahankan garis keturunan Fergusson dan Cartman. Kau harus tetap hidup, agar kau bisa melakukan apa yang sudah Ibu lakukan untuk mempertahankan keluarga kita." Nasihat terakhir dari mendiang Ibunya--sebelumdibawa ke Rumah Sakit Jiwa, selalu diingat oleh Allistair. Dia berpikir nasihat itu menguatkan hatinya untuk bersikap tega terhadap para gadis remaja yang menjadi korbannya. Ketika beberapa perempuan menyebalkan yang ada di TKP pembunuhan Irina, mulai bergosip tentang kasus empat belas tahun yang lalu--yang melibatkan Matilda Cartman, Allistair buru-buru pergi dari sana. Dia tidak tahan mendengar orang-orang Circlewoods yang jahat masih menggunjingkan mendiang Ibunya. Allistair tidak mau mendengar perkataan-perkataan jelek mereka tentang Matilda. Kalau dia tetap berada di sana, Allistair takut akan lepas kendali dan menyerang perempuan-perempuan gila tukang gunjing itu. Apalagi di sana ada banyak polisi. Tapi ... Tidak ada seorang anakpun di dunia ini, yang tidak akan marah dan sedih mendengar orang tuanya dijelek-jelekan dan dihina. Terlepas dari orang tua itu sudah meninggalkan anaknya sejak masih kecil, dan mewariskan banyak masalah yang sulit untuk diselesaikan. Bukankah di dunia ini tidak ada yang namanya mantan orang tua? Saat berjalan keluar meninggalkan halaman Rumah jagal yang menjadi tempat TKP, Allistair berpapasan dengan sebuah keluarga. Seorang lelaki tegap berambut cokelat ikal, yang memiliki raut wajah dan aura kebapakan, mengenakan mantel cokelat dan celana abu-abu, menggandeng seorang wanita berambut gelap yang seumuran dengan Ibu dari Irina. Wanita itu memakai gaun berwarna putih dengan motif bordir cantik berwarna cokelat pada ujung kedua lengan baju dan roknya. Rambut gelapnya disanggul rapi. "Ya Tuhan, Charllote!" Dia menjerit perihatin sambil berlari kecil menghampiri Ibu Irina yang histeris, kemudian pingsan sambil memeluk jasad anaknya. Mereka teman dari keluarga gadis itu, pikirnya. Namun dahi Allistair berkerut dalam saat berpapasan dengan seorang bocah lelaki kecil berusia sembilan tahun. Bocah laki-laki itu menatap Allistair dengan seksama, alis kecilnya bertaut. Dia seperti sedang mencoba mengingat sesuatu. Sementara Allistair merasa familliar dengan anak kecil itu. Dia pikir mereka pernah bertemu, atau dia pernah melihatnya di suatu tempat? Tak mau ambil pusing akhirnya Allistair berjalan menjauhi keramaian itu. "Diakan ..." Josiah bergumam pelan, "--orang yang membuat Jeb sakit?" *** Marry sedang duduk melamun di depan pintu rumahnya, sambil mendengarkan nasihat dari Bibi Jane--yang entah kenapa hari itu membuatnya merasa bosan. Bibi Jane menguliahi Marry, tentang bagaimana menjadi perempuan yang mandiri, sambil membuat sedikit adonan roti untuk dipanggang dan di makan berdua dengan Marry. Sementara Marry hanya menjawab malas-malasan nasihat Bibi Jane dengan kata 'iya'. Saat sedang asik mendengar 'kuliah' dari Bibi Jane, tiba-tiba pandangan Marry tertumbuk pada seorang lelaki berambut pirang yang mengenakan mantel gelap dan celana kain berwarna cokelat yang berjalan di depan rumahnya. Marry mengerutkan kening, dia merasa familiar dengan laki-laki itu--dia pikir pernah melihatnya di suatu tempat. Tapi dimana? Pikir Marry mengabaikan nasihat Bibi Jane. Dia berusaha keras untuk mengingatnya, lalu dia tersentak saat menyadari bahwa laki-laki pirang itu adalah laki-laki asing di malam festival yang sudah membuat Jebadiah kerasukan dan tak sadarkan diri. Dan seolah menyadari bahwa Marry memperhatikannya, lelaki pirang itu berhenti, dia menoleh ke arah Marry. Mata biru misterius laki-laki itu bertemu pandang dengan mata cokelat Marry, hingga membuat Marry terkejut dan salah tingkah. Laki-laki itu mengamati Marry selama beberapa menit, kemudian dia berbalik dan pergi. "Dia ..." Marry tidak mengerti kenapa dia merasa tertàrik untuk mengikuti laki-laki asing berbahaya itu. Dengan buru-buru dia melompat bangun dari duduknya, berlari ke dalam kamar untuk mengambil kantong busur dan panahnya, lalu keluar. "Marry! Marry, kamu mau kemana?!" Teriak Bibi Jane panik melihat keponakannya yang tiba-tiba kabur. "Saya hanya pergi sebentar Bi!" Jawab Marry sembari berlari menjauh. "Ya Tuhan, Marry, diluar berbahaya! MARRY!" Namun Marry tidak mengindahkan peringatan Bibi Jane, dia terus berlari mengikuti lelaki asing berbahaya, yang tiba-tiba menarik perhatiannya. Marry berlari kecil dan mengendap-endap mengikuti Allistair masuk ke dalam hutan. Sesekali dia bersembunyi di belakang semak atau pepohonan, ketika Allistair berhenti dan berbalik untuk melihat sesuatu--sepertinya pemuda tampan itu menyadari kalau dia sedang diikuti. Marry keluar dari persembunyiannya saat Allistair kembali melanjutkan perjalanannya karena tidak menemukan orang yang menguntitnya. Dalam hati Marry menggerutu karena tidak sempat mengganti gaun hijau muda panjangnya dengan pakaian yang biasa dia gunakan untuk berburu. Marry mengalami sedikit kesulitan berjalan melewati semak-semak dan akar pepohonan rimbun yang besar, menggunakan gaun panjangnya. "Sial," Marry menggerutu pelan ketika bagian bawah belakang gaunnya tersangkut pada sebuah rimbunan semak berduri, hal itu memperlambatnya, Marry mendengus kesal melihat Allistair makin menjauh lalu menghilang diantara pepohonan dan semak belukar. "Seharusnya tadi aku mengganti dulu pakaianku!" Ketusnya sembari menarik paksa bagian bawah gaunnya yang tersangkut hingga sobek. Begitu gaunnya sudah tidak tersangkut lagi, Marry mendongak, dia lalu mendesah kecewa saat tidak melihat kemana Allistair pergi. "Dia pergi kemana?" Gumamnya sembari melangkah maju, melongokan kepalanya ke kanan dan ke kiri untuk melihat jejak kemana Allistair pergi, namun hasilnya nihil. "Sial!" Makinya kemudian menunduk. Marry meringis saat melihat sobekan pada bagian belakang gaunnya. "Ibu bisa membunuhku," katanya mengingat gaun yang dipakainya sekarang adalah gaun yang dijahitkan oleh sang Ibu. "Aku akan meminta Bibi Jane untuk menjahit ..." Dhuak! Sebuah pukulan keras pada bagian belakang kepalanya membuat Marry jatuh tersungkur. Dia pingsan--tak sadarkan diri. *** Allistair terdiam. Selama beberapa saat dia hanya berdiri tegak dan menatap kosong pada sosok gadis muda berambut cokelat yang jatuh pingsan karena perbuatannya--dia menghantam tengkuk gadis itu dengan keras menggunakan tinjunya. Dahi Allistair berkerut dalam. Gadis yang pingsan ini tampak familiar baginya--seperti halnya anak laki-laki kecil di TKP rumah jagal tadi. Dia merasa mengenal mereka berdua. Mungkin aku pernah bertemu dengannya di suatu tempat, pikir Allistair skeptis. Tapi dimana? Beberapa detik kemudian kesadaran menghantam Allistair. Dia ingat tentang gadis berambut cokelat yang diam-diam mengikutinya ini, dan juga bocah laki-laki di TKP. Gadis yang pingsan ini adalah 'gadis penjual roti' di malam festival. Teman dari pemuda cenayang bodoh yang telah dia buat tak sadarkan diri. Sementara anak kecil itu adalah adik laki-laki dari gadis penjual roti ini. Allistair menatap Marry selama beberapa saat, bibir atasnya berkerut, ekspresinya tampak serius seperti sedang mencoba mempertimbangkan sesuatu. Dan kemudian dia mengambil dan mengeluarkan suatu benda dari balik saku mantelnya, sebuah belati pendek tajam dengan ukiran seperti sesuatu berbentuk mata pada bagian gagangnya. Dia berjongkok, tangannya yang memegang belati diangkatnya tinggi untuk dihujamkan pada leher Marry. Allistair beranggapan bahwa Marry adalah orang jahat, berbahaya--yang ingin mencelakainya dan Alma, dia diam-diam mengikutinya ke hutan, membawa senjata berupa busur dan anak panah. Dan ketika Allistair hendak menusukan belati itu ke leher Marry, sebuah suara tanpa wujud menggema di telinganya. "Allistair Sayang ..." Allistair mengenali suara itu sebagai suara Ibunya. Dia kembali mengalami delusi. Satu sosok wanita cantik berambut pirang dan bermata kuning--hampir serupa dengan Alma, hanya saja yang satu ini terlihat lebih dewasa--berjalan keluar diantara rimbunan semak. Dia. Matilda memakai gaun hitam berenda yang panjang, kaus tangan, serta sebuah topi bulat besar yang biasa dipakai oleh para puteri kerajaan. Dia berjalan menghampiri Allistair, sebuah senyuman manis yang ganjil tersungging di wajah pucatnya. "Ibu?" Allistair mendongak. Ekspresinya berubah kosong. "Sebelum kau membunuhnya, kenapa kau tidak memeriksanya dulu? Siapa tahu dia orang yang kita cari?" Suara Matilda mengalun lembut bagai dentingan lonceng dari surga. Allistair terdiam. "Mungkin gadis ini yang diinginkan Iblis." Bayangan Matilda, yang nyata dalam pikiran Allistair, ikut berjongkok di samping tubuh Marry. Tangan dinginnya membelai lembut wajah cantik gadis remaja yang sedang pingsan itu. "Allistair Sayang, Ibu punya firasat kalau gadis ini bisa membebaskanmu dan Alma dari kutukan. Jangan bunuh dia sekarang. Eksekusi dia di altar pengorbanan!" Sebelah alis Allistair terangkat bingung. "Maksud Ibu, gadis ini keturunan dari seorang penyihir Salem dan salah satu pemuja setia iblis?" "Iya! Iya! Itulah yang Ibu rasakan!" Suara delusi Matilda berubah mengerikan, melengking tinggi seperti seorang anak kecil manja yang mendapat banyak permen di malam Hallowen. "Kalau begitu aku harus menahannya." Kata Allistair pelan. Saat dia mendongak, Ibunya sudah tidak ada. Yeah, karena memang sejak awal Matilda memang tidak ada. Allistair hanya berbicara dengan bayangan Sang Ibu dalam pikirannya. Memasukan kembali belatinya ke dalam saku mantel, Allistair lalu bangkit dan mengangkat tubuh Marry bersamanya. Mungkin ada benarnya aku membiarkan gadis ini hidup. Si pirang manja yang aku culik di malam festival itu, seharusnya akan dieksekusi di Altar pengorbanan malam ini. Dia bisa menjadi pengganti untuk korban berikutnya. Allistair menggendong Marry menuju The Castle. *** Alma yang sedang duduk di bingkai jendela The Castle sambil menyisir rambut panjangnya, terkejut saat melihat Sang Kakak pulang sambil menggendong sesosok perempuan bergaun biru dan berambut cokelat di lengannya yang kuat. Ini bukan bulan dan tanggalnya untuk upacara di altar pengorbanan. Dan kakaknya tidak suka berburu gadis, sebelum gadis korban yang diculik sebelumnya mati. Seingat Alma, gadis pirang korban penculikan Allistair sebelumnya belum mati. Dia masih dirantai di penjara bawah tanah The Castle, tadi pagi Alma yang mengantarkan sarapan gadis itu--yang disambut dengan rintihan permohonan yang membuat Alma tak tega. Gadis pirang, yang mengaku bernama Louise itu, menangis dan memohon pada Alma untuk melepaskannya. Tapi Alma tidak berani melakukannya, dia takut Allistair marah. Saat Allistair masuk ke dalam The Castle, Alma buru-buru turun dari kamarnya, dia berlari ke ruang tamu untuk menyambut Kakaknya. Dan betapa terkejutnya dia saat mengenali gadis yang digendong Allistair. Rambut cokelat, kulit putih, busur dan anak panah, yah ... Kecuali gaunnya ... "Marry!" Alma memekik tertahan di bawah tangga. Allistair menoleh. Dia menatap adiknya datar. "Kau mengenalnya?" Alma diam tak menjawab. Dia takut Allistair murka kalau tahu bahwa dia pernah berbicara dengan orang dari Circlewoods, karena dia tahu bahwa Allistair beranggapan semua orang yang berasal dari kota kecil itu adalah orang jahat. Kediaman Alma diartikan Allistair sebagai jawaban iya. Dia menganggap Alma mengenal gadis dalam gendongannya ini. "Kita akan membicarakan ini nanti," katanya kemudian berbalik memunggungi Alma. Dia lalu berjalan menyusuri koridor--menuju ruang bawah tanah untuk memenjarakan gadis ini. Langkah Allistair terhenti saat tubuh gadis dalam gendongannya bergerak pelan, dengan mata terpejam dia mengeluarkan suara rintihan sedih. "Bibi ..." "Marry ..." Gumam Allistair pelan. Untuk sesaat dia memperhatikan wajah Marry dengan seksama. Setelah itu dia melanjutkan langkahnya ke ruang bawah tanah The Castle. *** "MARRY HILANG!" "Maafkan aku Jacob. Aku tidak bisa menjaganya dengan baik," sesal Jane Callebaout sambil mengusap wajahnya frustrasi. Hari sudah larut malam. Marry yang tadi pagi kabur--entah karena apa, keluarganya tidak tahu--sampai sekarang belum pulang. Mr. dan Mrs. Hermsworth panik. Kematian Irina, dan hilangnya Louise, membuat mereka sangat khawatir. Mrs. Hermsworth menangis sesengukan di kursi goyang sudut ruangan, dengan Josiah yang mencoba menenangkan. Bibi Jane tampak tertunduk lesu di sofa depan televisi. Sementara Mr. Hermsworth berjalan mondar-mandir tak sabar di depan mereka. "Bagaimana kau bisa seceroboh ini, Jane?!" Bentak Mr. Hermsworth. "Ya Tuhan, Marry, sebenarnya apa yang anak itu pikirkan sampai dia kabur begitu!" "Aku sendiri tidak tahu, Jacob. Dia tiba-tiba berlari masuk ke kamar, mengambil busur dan anak panahnya lalu berlari keluar ... Aku tidak tahu apa yang dia kejar," jelas Bibi Jane. Ayah Marry dan Bibi Jane menoleh saat mendengar suara sedu-sedan pilu Mrs. Hermsworth. Jacob Hermsworth terdiam sejenak. Dia lalu mendesah putus ada, mengambil mantel dan topinya yang dia gantung di dekat pint, Mr. Hermsworh kemudian membuka pintu rumah, dia hendak keluar. "Kau mau kemana?" Tanya Mrs. Hermsworth parau saat melihat suaminya yang hendak pergi. "Aku akan ke Balai Kota, mengumpulkan orang-orang untuk membantu kita mencari Marry. Semoga saja dia tidak diculik oleh penculik Louise ataupun pembunuh Irina." Mr. Hermsworth harap-harap cemas. "Jane. Jaga mereka." "Baiklah. Tolong temukan Marry." "Hmm." *** Marry terbangun dalam posisi yang tidak nyaman. Dia merasa kepalanya sakit, kedua tangannya terangkat ngilu, dan kedua kakinya seperti ditarik dan diikat menggunakan sesuatu yang keras dan dingin. Hal pertama yang Marry lihat ketika membuka mata adalah cahaya api dari sebuah obor tiki menyala, menerangi ruangan gelap lembab berjeruji yang berbau aneh dan minim pencahayaan. Marry mengerutkan kening. Untuk beberapa saat dia tampak bingung dan kehilangan orientasi, lalu matanya melebar ketika menyadari bahwa ... Dia berada di penjara. kedua tangan dirantai menggunakan rantai besi yang direkatkan kuat di dinding belakang tempat Marry bersandar. "A-apa-apaan ini?" Kata Marry panik sembari berusaha melepaskan borgol rantai yang melekat di tangannya, namun dia tidak bisa, hal itu hanya menimbulkan rasa sakit. "Ya Tuhan, apa-apaan ini?!" "Kau sudah bangun?" Suara lembut nan parau dari seorang gadis, mengagetkan Marry. Dia menoleh dan terkejut mendapati Louise King ada di sana. Keadaan gadis itu sama seperti Marry, tangan dan kakinya terborgol oleh rantai besar yang direkatkan di dinding belakang mereka. "L-Louise?" Marry ternganga, sorot matanya menyiratkan keprihatinan melihat kondisi Louise yang ... Bukan seperti Louise King yang biasanya. Marry mengenali gaun yang dikenakan Louise sebagai pakaian yang dia pakai dimalam festival lalu, namun sekarang gaun biru mahal itu tampak seperti pakaian gelandangan, kusam dan berbau apek. Rambut Louise yang biasa disanggul rapi, kini berantakan, dan wajahnya pun tampak kotor. "Kau mengenaliku?" Tanya Louise pelan. Dia mengerjap menatap Marry. "Kau Louise King, puteri tunggal pemilik hotel King." Louise mendengus mendengar penjelasan Marry mengenai identitasnya. "Kau juga dari Circlewoods?" Tebak Louise. Marry mengangguk. Keduanya terdiam sejenak. "Bagaimana kau bisa berada disini?" Tanya Marry lagi. Louise diam. Sesaat kemudian dia menjawab, "Karena kebodohanku," katanya pahit. "Seharusnya aku tidak mempercayai orang asing." Marry mendesah. Enggan mendesak Louise untuk mengungkap lebih banyak, karena pasti Louise sudah mengalami suatu hal yang begitu buruk, sampai keperibadian Louise yang biasanya angkuh dan banyak bicara, kini berubah lembut dan ... Yah ... Gadis King itu tampak terguncang. "Kau sediri, bagaimana kau bisa berada di sini?" Louise balik bertanya pada Marry. Marry terdiam. Ingatannya melayang pada sosok pemuda asing di malam festival yang membuat Jeb kesurupan. Tadi pagi, dia melihat pemuda itu dan mengikutinya masuk ke dalam hutan. Dan kemudian ... Dia tidak ingat apapun lagi karena semua menjadi samar dan gelap saat dia pingsan. "Hei ..." "Sama sepertimu," Marry menoleh ke arah Louise, "aku berada di sini juga karena kebodohanku." Louise terkekeh sedih. "Kita para gadis memang selalu menjadi bodoh jika berhadapan dengan pemuda tampan ..." "Hmmm." Marry bergumam, membiarkan Louise berpikir bahwa Marry berada disini karena jatuh cinta pada ketampanan si penculik. "Oh ya, maaf jika aku menanyakan hal ini. Kau mengenalku tapi aku tidak mengenalmu. Boleh aku tahu siapa namamu?" "Miriam Hermsworth. Tapi panggil saja aku Marry." "Hermsworth? Toko Roti Hermsworh?" Marry mengangguk. Senyuman manis tersungging di bibirnya saat mendengar gadis kaya seperti Louise tahu tentang toko roti kecil milik keluarganya. Marry berusaha untuk tetap tenang dan tidak takut pada keadaan yang terjadi sekarang. Dia tahu dia harus tetap berpikiran jernih agar bisa lolos dari tempat ini. Marry curiga, lelaki pirang tampan yang waktu itu memperkenalkan dirinya dengan nama Allistair, adalah penculik dan pembunuh Irina. Dia ingin bertanya pada Louise, apakah Irina juga dikurung di tempat ini sebelum dibunuh? Tapi dia mengurungkan niatnya karena takut Louise histeris. Lagipula, kelihatannya teman pertama Louise di sel ini adalah Marry--tidak ada tanda-tanda dua gadis dirantai pada saat bersamaan di tempat ini. Marry mengamati perbedaan borgol rantai yang dipakai Louise dengan yang dia pakai, satu masih agak baru dan yang satu lagi sudah berkarat. Itu berarti si penculik tidak berencana menculik dan membunuhku, dia melakukan ini karena aku diam-diam mengikutinya. *** Marry sedang terkantuk-kantuk ketika dia mendengar suara tangisan Louise dan permohonan pilunya. Dia terbangun lalu menoleh, matanya membelalak melihat Allistair, yang tampak seperti seorang malaikat pencabut nyawa dalam balutan jubah hitam panjangnya. Dia melepaskan borgol tangan dan kaki Louise, lalu menjambak dan menyeret gadis itu kasar menuju pintu keluar penjara. "HEI! APA-APAAN KAU?! LEPASKAN DIA!" Teriak Marry merasa begitu berani karena kasihan dan marah melihat Louise diperlakukan sedemikian rupa. Louise menatap Marry dengan pandangan memohon, air matanya berlinang. "Marry tolong ..." Pintanya, walau tahu bahwa teman barunya itu tidak akan bisa menolong. "HEI! LEPASKAN DIA b******k!" Maki Marry murka. Laki-laki itu berhenti menyeret Louise. Tangan Allistair masih berada di rambut Louise, dia menoleh menatap Marry datar. Sekelebat perasaan asing menyusup di hati Allistair saat mata birunya bertemu pandang dengan mata cokelat Marry yang marah. Dia menatap Marry bingung. "LEPASKAN DIA PENCULIK HINA!" Bentakan Marry membuat Allistair sadar dari lamunan. Tak menjawab, dia kemudian kembali menyeret Louise pergi dari penjara bawah tanah itu. "Marryyyy. Tolooong ..." Tangisan terakhir Louise terdengar sebelum dia keluar dari pintu penjara untuk dieksekusi. "Louise ..." *** Mr. Hermsworth mendesah sedih. Sudah berjam-jam dia dan para lelaki dari Circlewoods mencari keberadaan Marry di seluruh penjuru kota, namun hasilnya nihil. Seperti halnya Louise dan Irina (sebelum meninggal), puteri sulung keluarga Hermsworth itu hilang seperti ditelan bumi. Mereka mencari Marry dari malam hingga subuh. Mr. Hersworth mulai putus asa. Dia berdiri di perbatasan kota sambil menunduk sedih. Kepalanya hampir meledak saat memikirkan segala sesuatu tentang Marry. Bagaimana keadaan putriku? Apa yang terjadi padanya? Apa dia baik-baik saja? Dan ... Semoga dia tidak berakhir seperti Irina. Mr. Hermsworth berbalik saat merasakan tepukan pada punggungnya. Mr. Saintclair menatapnya perihatin. Sebagai seorang Ayah yang baru saja kehilangan anaknya, dia mengerti perasaan Mr. Hermsworth. "Kita hanya bisa berdoa semoga Marry baik-baik saja dan ... Tidak berakhir seperti anakku," katanya pahit. Mr. Hermsworth mengangguk lesu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD