BAB III
“Aku punya firasat buruk tentang stand gabungan ini,” komentar Josiah Hermsworth sambil melirik sinis ke arah pemuda berambut cokelat sebahu yang seumuran dengan kakaknya. Bocah tampan berumur Sembilan tahun dengan rambut gelap-belah tengah itu tidak setuju jika stand roti dan kue mereka digabung dengan stand mistery—medium konyol milik Jebadiah Charmichael, anak tukang daging, yang juga sahabat sang kakak.
“Anak kecil diam saja, kau tidak perlu tahu urusan orang besar,” timpal Jebadiah sembari memasang senyum lebar nan menawan pada para pengunjung yang mulai ramai berdatangan di festival hari ulang tahun kota, di alun-alun balai kota malam itu.
Banyak stand makanan, stand pakaian, dan stand mainan yang berjejer di sepanjang pinggir lapangan alun-alun balaikota. Sementara di tengah lapangan di pasang sebuah layar tancap besar. Sesuai tradisi, pada pukul Sembilan malam di hari ulang tahun kota, orang-orang Circlewoods akan berpesta, makan dan membelanjakan uang mereka di stand-stand yang tersedia, dan menonton film-film bagus yang ‘mendidik’ hingga pukul dua belas tengah malam—sebelum kembang api raksasa yang indah diluncurkan. Di sana juga disediakan wahana bermain untuk anak-anak, seperti komidi putar dan kincir angin.
Suasana di festival memang tampak seperti pasar malam, hanya saja suasana keakraban dan kekerabatan diacara ini terasa lebih kental.
“Urusan orang besar?” geram Josiah menepis keras tangan Jeb yang hendak mencomot roti selai kacang yang ada di stand-nya. “Bilang saja kau bergabung dengan stand kami agar bisa merampok roti dan kue serta berdekatan dengan kakakku.” Mata gelap Josiah melotot galak pada Jebadiah.
Jeb terkekeh. Menghenyakan diri pada kursi kayu kecil yang tersedia di stand milik mereka, dia mengacak pelan rambut Josiah, membuat anak tampan itu makin cemberut.
“Anak pintar, kau menyebutkan dua dari antara sekian banyak alasanku untuk bergabung dengan stand ini. Dan biar kutambahkan satu lagi ; aku ingin menunjukan kemampuanku sebagai seorang medium handal kepada kalian semua.”
Josiah mendengus sinis.
“Medium handal? Cenayang maksudmu? Kalau Paman Henry yang cenayang aku percaya. Tapi kalau kau …” Josiah menggeleng dengan sikap sok dewasa.
Keluarga Charmichael memang dikenal sebagai keluarga yang memiliki kemampuan okultisne dan supranatural. Mereka mempercayai mitos dan takhayul. Henry Charmichael, Ayah Jebadiah, selain sebagai tukang daging dia juga dikenal sebagai seorang pemanggil roh. Dia menerima jasa ‘pemanggilan roh’ dari keluarga-keluarga yang berduka untuk memanggil arwah salah satu anggota keluarga mereka yang meninggal tak wajar. Jebadiah. Remaja itu ingin membuktikan pada orang-orang bahwa dia juga hebat dalam urusan supranatural, seperti Ayahnya.
"Asik sekali. Apa kalian sedang membicarakan sesuatu yang seru?" Keduanya menoleh. Jebadiah tersenyum hangat mendapati Marry yang tampak cantik dengan gaun biru panjangnya--berjalan menghampiri mereka sambil membawa sekeranjang penuh roti kacang merah yang tampaknya masih hangat. Rambut gelap panjang gadis itu yang biasanya dikepang satu, kini disanggul rapi seperti seorang gadis bangsawan Eropa.
"Josh tidak mempercayai kemampuanku sebagai seorang medium," jelas Jeb sembari mengambil keranjang dari tangan Marry lalu membantunya menyusun roti-roti kacang merah lezat itu di atas meja tempat penyimpanan roti.
"Setidaknya satu hari saja. Cobalah untuk akur, Jeb, Josh," nasihat Marry. Dia bosan setiap saat mendapati Josh dan Jeb yang selalu bertengkar.
Josiah kecil mendecih. "Aku bisa akur dengan siapa saja. Tapi bukan dengan orang seperti dia ... Eh! Hei! Taruh roti itu, itu untuk dijual bukan untuk kau makan!" geram Josiah sembari menyambar roti hangat yang hendak meluncur masuk ke dalam mulut Jeb.
"Adikmu masih kecil, tapi dia benar-benar pelit dan cerewet seperti seorang perempuan." Jeb berbisik dengan nada penuh konspirasi di telinga Marry. Dia sengaja membiarkan Josiah mendengar jelas perkataannya.
Josh mencibir. "Aku bisa mendengarmu, Bodoh!"
Marry dan Jeb tertawa melihat reaksi Josh.
***
Hari makin malam. Orang-orang kian ramai berdatangan. Marry, Josiah, dan Jebadiah sibuk melayani para pembeli yang berdatangan ke stand mereka. Sesekali Mrs. Hermsworth datang dengan membawa sebakul roti untuk memeriksa apakah anak-anaknya bisa menjual semua roti dan kue-kue yang sudah mereka siapkan sejak subuh tadi. Mrs. Hermsworth dan Mr. Hermsworth berjualan di stand dekat pintu masuk alun-alun balaikota, letaknya lumayan berjauhan dengan stand milik Marry, Josiah, dan Jebadiah.
Sekitar dua atau tiga kali Jeb memamerkan seringai kemenangan pada Josiah saat ada beberapa gadis yang datang ke stand-nya, meminta Josiah untuk memanggil/berinteraksi dengan roh teman atau mantan pacar mereka yang sudah meninggal, untuk menanyakan bagaimana kehidupan para arwah itu setelah kematian mereka.
"Konyol!" Komentar Josiah skeptis sambil memperhatikan Jebadiah yang sedang melayani pelanggan--seorang gadis pirang muda berpenampilan konvensional dan angkuh. Mereka mengenalnya sebagai Louise King, gadis kaya, puteri seorang pemilik hotel di kota mereka. "Apa Jeb serius orang-orang itu benar-benar mempercayainya? Di sekolahku, maksudku menurut guru, hantu atau roh itu tidak nyata karena mereka bertentangan dengan ilmu pengetahuan."
Marry tersenyum mendengar perkataan Josiah. Ada nada protes dalam suaranya. Walau masih kecil Josiah terbilang cerdas, dia bercita-cita untuk menjadi seorang Dokter atau Ilmuan.
"Semua tergantung kepercayaan masing-masing manusia, Josh. Ya. Dalam konteks tertentu ilmu pengetahuan bisa dikatakan sebagai ilmu pasti yang nyata dan bisa dipertanggungjawabkan. Tapi ... kita juga tidak bisa mengabaikan kepercayaan masyarakat terhadap hal-hal yang berbau okultisme, takhayul, dan hal-hal yang berbau supranatural. Kadang hal-hal yang tidak masuk akal bisa terjadi di sekitar kita."
Josiah menatap Marry serius. Dahi mungilnya berkerut. "Kau terdengar seperti Bibi Jane." Marry memang sering pergi ke Rumah Jane Calebaout (adik ayahnya) dan dia mendapatkan banyak pengetahuan dari Beliau yang merupakan seorang guru di sekolah khusus perempuan di Circlewoods. "Tapi aku bersumpah, aku tidak mengerti yang kau katakan tadi. Aku bisa menangkap sedikit maksudnya, tapi ... aku benar-benar tidak mengerti." Josiah menggeleng bingung.
Marry terbahak. Sepertinya tadi dia terlalu bersemangat menjelaskan, sehingga dia tidak menyadari bahwa lawan bicaranya hanya seorang anak kecil--terlepas dari betapa sok dewasanya seorang Josiah Hermsworth.
"Kalau begitu jangan dipikirkan. Suatu saat kau akan mengerti sendiri."
Josiah mengangkat bahu. Dia kemudian melirik Jebadiah yang telah selesai dengan Louise King. Gadis itu tampak sedikit berbasa-basi dengan Jeb. Dia memamerkan muka sedih yang berlebihan.
"Aku berani bertaruh dia tidak percaya pada hantu," bisik Josh pada Sang Kakak, "Dia datang ke stand ini karena naksir pada Jeb."
Marry terkikik.
Jebadiah mendesah lega setelah Louise King pergi. "Aku senang dia pergi," katanya sambil memutar mata.
Marry tertawa, sementara Josh sedang melayani pembeli. "Memangnya dia memintamu untuk memanggil arwah siapa?"
"Arwah mantan pacarnya--yang katanya kuliah di Oxford," sahut Jeb sambil menatap punggung Louise yang menjauh lalu hilang ditelan keramaian.
"Wow," gumam Marry kagum. "Kau berhasil memanggilnya?"
Jeb menggeleng. "Tidak."
"Kau tidak bisa memanggil arwah pacarnya Louise karena jarak yang terlalu jauh?"
"Bukan begitu. Louise mengatakan bahwa pacarnya itu meninggal dalam kecelakaan pesawat dan dikubur di daerah asalnya, Kingston Bishop--kota tetangga Circlewoods. Seharusnya aku bisa memanggil arwah itu kalau dia memang sudah mati."
Mata gelap Marry melebar. "Itu berarti pacarnya Louise masih hidup?" tebaknya.
"Atau dia hanya sekedar fiksi yang tidak pernah ada," tambah Jeb.
Josiah menyikut Kakaknya. "Sudah kubilang. Dia datang ke stand ini karena naksir pada Jeb." Dua beradik Hermsworth itu kembali tertawa.
"Berarti dia bohong padamu?" tanya Marry.
Jebadiah mengangkat bahu. "Entahlah. Hanya Tuhan dan dia yang tahu kenyataannya."
"Lalu apa yang kau katakan padanya soal mantan pacarnya yang 'mati dalam kecelakaan pesawat' itu?" Marry kembali bertanya. Dia mengutip separuh kalimatnya dengan menggunakan gerakan tangan ala telinga kelinci.
"Aku bilang arwah pacarnya tidak bisa kemari. Mungkin dia masih terjebak dalam reruntuhan bangkai pesawat."
Marry mendengus geli. "Dasar kau," gumamnya sambil memukul pundak Jebadiah main-main.
***
Sudah dua jam pemutaran film dilaksanakan. Marry, Josiah, dan Jebadiah lebih memilih untuk duduk di stand mereka daripada duduk di kursi yang dijejerkan berbaris di tanah lapang. Mereka melayani beberapa orang yang membeli roti dan kue sebagai cemilan untuk menemani acara menonton.
"Kau masih belum menunjukan kamampuan cenayangmu pada kami," gurau Josh sambil menuding Jeb main-main.
Jeb mendengus. "Bukankah tadi kau sudah lihat sendiri kalau aku mendapatkan beberapa pelanggan?"
"Para gadis itu?" Cibir Josh sinis. "Aku berani bertaruh kalau mereka datang kemari karena mereka naksir padamu, bukannya percaya pada kemampuan supranaturalmu."
"Aku merasa terhina," Jeb menoleh ke arah Marry. "Bagaimana menurutmu?"
"Cari satu orang yang menurutmu memiliki masalah supranatural, dikelilingi arwah penasaran, ajak dia kemari tanyakan masalahnya dan dengan arwah siapa dia ingin bicara," usul Marry tak acuh.
"Ide bagus," komentar Jeb antusias.
"Dan biar adil kali ini jangan perempuan. Harus seorang laki-laki," tambah Josiah.
"Baiklah."
Ketiganya lalu mengamati para pengunjung yang darang ke festival ulang tahun kota dengan seksama.
"Laki-laki itu?" Marry menunjuk seorang laki-laki gondrong brewokan dengan rambut berwarna gelap keriting yang kelihatannua seumuran dengan Ayahnya. Laki-laki mengenakan celana lusuh berwarna cokelat, kemeja abu-abu, dan sepatu boot hitam.
Jebadiah menggeleng. "Tidak."
"Dia terlihat seperti seorang pembunuh seperti yang di film-film. Jadi aku pikir banyak arwah penasaran yang mengelilinginya."
Jeb mendengus. "Konyol. Jangan menilai buku dari sampulnya. Itu Mr. Meek, dia buruh pekerja kasar. Dia sering membantu orang tuaku di kios di pasar. Dia lelaki baik-baik."
"Maaf," ucap Marry menyesal.
Setelah melewati beberapa kali perdebatan dengan dua beradik Hermsworth mengenai pelanggan yang akan mereka seret ke stand, Jebadiah kemudian menatap satu sosok laki-laki dengan ekspresi tertarik. Dia berdiri di pinggir Lapangan. Tidak seperti orang-orang lain yang tampak bergembira datang ke festival, dia justru terlihat begitu muram. Dia tidak menonton film yang sedang di putar di layar tancap, dia justru memperhatikan orang-orang yang menonton.
Jeb tidak mengerti kenapa dia tiba-tiba tertarik untuk menjadikan laki-laki itu sebagai pelanggannya. Dia merasa berdebar-debar, dan minatnya semakin terpacu saat indera penglihatannya yang begitu tajam dan sensitive menangkap bayangan gelap seperti awan hitam samar di sekitar lelaki itu. Jeb pikir lelaki itu tidak berasal dari kota ini. Dia tidak pernah melihatnya. Dia tampak seperti laki-laki dari kalangan atas, mengenakan kemeja putih lengan panjang dipadu rompi berwarna abu-abu, celana denim hitam panjang, dan sepatu gelap yang mengkilap dan tampak mahal. Lelaki itu memiliki ciri fisik yang terbilang cukup tampan yang berkesan bangsawan untuk para wanita. Kulit putih, hidung mancung, garis wajah tegas, serta rambut pirang berantakan. Jeb pikir laki-laki itu lebih tua beberapa tahun darinya dan Marry.
"Jangan bilang kalau kau jatuh cinta pada pemuda itu?" Ejek Marry pada Jeb. Dia dan Josiah memajukan tubuh mereka untuk mengapit Jeb, keduanya mengikuti arah pandang Jeb dan melongo saat mengetahui bahwa Jebadiah tiba-tiba diam karena dia memperharikan seorang laki-laki tampan.
"Wah, Jeb suka pada laki-laki," ledek Josh jahil.
"Hush. Diam kalian berdua." Dia mendorong pelan wajah kakak-beradik Hermsworth agar menjauh darinya. "Aku memilih dia sebagai objek untuk membuktikan kemampuan supranaturalku," kata Jeb penuh percaya diri sambil menunjuk si laki-laki pirang bangsawan.
"Kau serius? Kau melakukan ini bukan karena kau jatuh cinta padanya kan?" Kata Marry lagi.
Jeb mendengus. "Ya ampun Marry, jangan konyol. Menurut 'penglihatan'ku dia dikelilingi oleh arwah penasaran. Dia seperti seorang medium yang memiliki kemampuan okultisme yang kuat. Dia seperti magnet yang membuat para roh penasaran mengelilinginya."
"Berarti disekitarnya hantu semua," kata Marry skeptis. Ekspresinya berubah datar.
"Sudahlah, ayo kita temui dia."
"Josh! Kau jaga stand!" Perintah Marry pada adiknya, sementara dia berlari kecil menyusul Jeb yang berjalan menghampiri laki-laki muda itu.
***
Alistair mengerutkan kening menatap sepasang remaja laki-laki dan perempuan yang berdiri di hadapannya. Dia tidak mengerti kenapa kedua anak ini menghampirinya--disaat dia hendak melakukan suatu pekerjaan yang penting.
"Apa?" tanyanya sembari memperhatikan si gadis bermata gelap yang memperhatikannya dengan ekspresi penasaran yang polos. Sementara pemuda berambut cokelat sebahu yang berdiri disamping itu memandangnya seolah dia memiliki tanduk di atas kepala.
"Hai!" Sapa gadis itu riang dengan senyum lebar yang manis. "Aku Miriam Hermsworth. Kau bisa memanggillku Marry. Dan ini temanku Jebadiah Charmichael," Marry memperkenalkan Jeb dengan gaya seperti seorang penjual binatang peliharaan di pasar. Alistair mendengus geli. "Kami berdua berasal dari Stand 'Roti-Kue Cenayang' di sana."
Alistair melirik sekilas ke arah stand makanan dengan tenda berwarna merah yang dijaga oleh seorang anak laki-laki kecil. Ada tulisan 'Roti-Kue Cenayang' di papan nama stand itu. Sebelah alisnya terangkat tinggi. "Lalu?"
"Kami ingin memberikan 'pelayanan' gratis padamu. Seperti memanggilkan arwah orang yang kau sayangi yang sudah meninggal ... Aku tidak berharap orang-orang yang kau sayangi meninggal," Marry buru-buru menambahkan saat melihat ekspresi tersinggung melintas di wajah Alistair. "Tapi tentunya ada satu atau dua yang sudah menghadap Tuhan dan ..."
"Ayah dan Ibuku sudah meninggal," gumam Alistair, ekspresinya datar dan kosong.
Marry tersentak. "M-Maaf. A-aku ..."
"Kalau begitu apa kau ingin aku memanggil arwah mereka?" potong Jeb yang sejak tadi diam. "Aku juga seorang medium, dan aku bisa memanggil arwah orang yang sudah mati."
Alistair memperhatikan Jeb dengan seksama. Wajahnya serius. Dia kemudian mendengus.
"Kau tak akan bisa," katanya sambil lalu sambil beranjak pergi.
"Aku bisa melakukannya! Jangan meremehkanku," geram Jebadiah tersinggung.
Alistair menoleh dia menatap Jeb dan Marry dengan raut dingin yang menusuk. "Aku tidak meremehkanmu. Aku hanya mengatakan yang sebenarnya. Kau tidak akan bisa, ah ... lebih tepatnya tidak akan sanggup."
Jeb tampak emosi. "Kau tidak akan tahu kalau kau tidak mencobanya!"
Marry mengerutkan kening. "J-Jeb. Kalau dia tidak mau ya sudah. Ayo kita pergi," ajak Marry, namun Jeb tak menggubrisnya.
"Bebahaya bagimu," kata Alistair lagi.
"Sudah kubilang, kita tidak akan tahu sebelum mencoba!" Dia bersikeras.
Alistair terdiam sejenak. Dia menatap Jeb dengan ekspresi menilai, setelah beberapa menit dia kemudian mengangguk."
***
Marry tiba-tiba mendapat firasat buruk, persetujuan pemuda yang memperkenalkan dirinya dengan nama Alistair untuk menjadi pelanggan Jebadiah, membuatnya gelisah. Dia tidak mengerti dengan perasaannya sekarang, tapi seperti ada sesuatu dalam diri pemuda itu yang membuat alarm tanda bahaya dalam diri Marry menyala. Menurut Marry, Alistair cukup tampan. Dia terlihat dingin, pendiam, dan tenang, saat Jeb menyeretnya ke stand untuk memulai ritual pemanggilan roh. Alistair telah setuju pada ide pemanggilan arwah kedua orang tuanya oleh Jeb.
Josh dan Marry saling berpandangan penasaran saat melihat Jeb dan Alistair duduk berhadapan dengan sebatang lilin menyala di atas meja di tengah mereka. Jeb memejamkan mata, dahinya berkerut dalam seperti sedang berkonsentrasi pada sesuatu. Sementara Alistair? Dia tampak tenang dan kalem memandangi lilin yang menyala di depannya.
Selama sepersekian menit mereka terdiam. Marry dan Josh mendadak merasa tak nyaman, dengan udara dingin yang tiba-tiba hadir menusuk tulang. Bulu kuduk meremang, dan ketakutan tanpa alasan tiba-tiba menguasai perasaan mereka.
"Apa dia akan berhasil?" Josh bertanya pada Marry dengan suara pelan.
"Entahlah," jawab Marry sambil mengangkat bahu.
Dan keduanya tersentak ngeri saat mendengar suara erangan penuh penderitaan keluar dari mulut Jeb. Mata pemuda itu membelalak, dan kemudian dia terbatuk dengan darah menyembur keluar dari mulutnya.
"JEB!!!" Seru Marry dan Josh panik sembari berlari menghampiri Jebadiah yang kejang-kejang, tersungkur dari kursi, dia tampak seperti orang yang memiliki penyakit ayan. Mata Jebadiah telah sepenuhnya memutih.
"Ya Tuhan, Jeb! Apa yang terjadi?"
"Sudah kubilang kan?" gumam Alistair menatap Jeb datar. Dia bangun dari kursinya lalu melangkah pergi, tidak peduli pada Jeb yang tak sadarkan diri, Josiah kecil yang panik, dan juga Marry yang histeris.
Kondisi Jeb membuat Marry dan Josiah tidak menyadari bahwa pelanggan terakhir mereka telah pergi.
"Marry. Apa yang harus kita lakukan?" tanya Josh cemas.
"PANGGIL AYAH DAN IBU ... CEPAT!!!"
"B-baik."
***
Festival ulang tahun kota tadi malam berlangsung tak seperti yang diharapkan penduduk Circlewoods. Terjadi kekacauan di tengah festival. Jebadiah Charmichael, entah bagaimana pemuda itu tiba-tiba kejang-kejang dan tak sadarkan diri, membuat keluarga dan orang-orang disekitarnya panik. Menurut Ayahnya, dia kerasukan. Jeb telah mencoba menjadi medium dan berusaha memanivestasikan wujud sesuatu hal yang berbahaya. Beliau bertanya pada Marry dan Josiah, arwah siapa yang hendak dipanggil anaknya? Dengan raut wajah bingung, Marry menjelaskan bahwa Jeb hendak membuktikan kemampuan supranaturalnya dengan memanggil arwah orang tua seorang pemuda asing yang sama sekali tidak mereka kenal.
Terlepas dari kehebohan Jebadiah yang kerasukan dan sampai sekarang masih tak sadarkan diri--terbaring tak berdaya di atas tempat tidur dengan wajah yang sepucat mayat, seluruh tubuhnya mendingin. Kehebohan lain terjadi di Circlewoods, seorang gadis remaja kembali menghilang. Kali ini Louise King, Puteri tunggal pemilik hotel King itu dikhabarkan telah tidak pulang sejak semalam. Ayahnya panik dan Ibunya histeris. Menurut kesaksian teman-temannya--sesama gadis dari kalangan atas, Louise terakhir kali terlihat berduaan di bianglala bersama seorang lelaki pirang tampan, yang mereka tidak tahu siapa dia.
Para orang tua yang memiliki anak gadis turut perihatin dengan masalah yang menimpa Louise, mereka pikir penculik yang menculik Louise King dan Irina Saintclair adalah orang yang sama. Mereka berniat mengawasi anak gadis mereka dengan ketat agar tidak diculik.
***
"Baiklah. Jeb masih tak sadarkan diri karena kesurupan dan Louise menghilang karena diculik pemuda tampan. Tapi bukan berarti aku tidak boleh keluar rumah, Bu!" gerutu Marry tak suka dengan peraturan baru kedua orang tuanya yang melarangnya untuk keluar rumah, pergi ke toko, ke rumah Bibi Jane dan juga berburu.
"Suasana di luar berbahaya untuk anak gadis sepertimu Marry," nasihat Ayah. "Bukankah kau sudah lihat sendiri buktinya? Louise hilang, dan sampai sekarang Irina masih belum ditemukan. Jadi bersabarlah, tetap di dalam rumah sampai ketahuan siapa yang menculik para gadis itu."
Marry mendengus bandel. "Tapi, yah. Aku kuat, aku bisa jaga diri dan aku mahir dalam menggunakan pa--"
"Itulah yang dikatakan Irina pada Ayahnya," gumam Mr. Hermsworth muram saat mengingat kesedihan sang sahabat, Antonio Saintclair yang kehilangan puterinya. "Aku kuat, dan aku bisa jaga diri, itulah yang dikatakan Irina pada Ayahnya sebelum anak malang itu hilang."
Marry terdiam tak tahu harus menjawab apa. Saat ini kekhawatiran yang berlebihan membuat Ayahnya sensitive tentang topik orang tua yang kehilangan anak perempuannya.
"Aku berbeda dengan Irina, Yah. Aku ... "
"Tidak ada protes Marry, kau harus tetap di rumah sampai situasi aman!" tegas Mr. Hermsworth.
"Tapi ...."
"Tidak ada kata 'tapi' lagi. Kau harus menurut. Tetap di rumah!" Mr. Hermsworth memberi penekanan pada tiap suku katanya agar Marry menurut.
Rengekan pelan bernada protes keluar dari mulut Marry. "Bu ..." Dia menoleh ke arah Mrs. Hermsworth yang sedang membaca buku resep kue di meja kopi, untuk mencari dukungan.
"Turuti saja perkataan Ayahmu."
"Tidaaak," rengek Marry.
Josiah tiba-tiba berjalan melewati lorong sambil bersiul riang. "Beruntung aku bukan anak gadis." Dia melemparkan senyum penuh kemenangan pada Marry.
"Diam kau bocah tengik," balas Marry meringsut tak suka.