Sebenarnya Mika benci kalah. Mika benci mengakui bahwa ia tidak bisa. Mikayla selalu ingin terlihat kuat dan hebat. Mikayla selalu ingin jadi perempuan mandiri yang tak butuh bantuan siapapun, termasuk Papa.
Gadis itu akan pergi sampai berbulan-bulan lamanya tak menginjak rumah Papa. Definisi menghilang menurut Mika. Menghindar ketika Ray mengunjunginya ke kantor ataupun apartemen. Mengabaikan Papa yang berbicara panjang lebar sementara dirinya membiarkan ponsel tergeletak begitu saja.
Namun kali ini ada yang berbeda. Gadis dengan watak keras dan pendirian yang kokoh itu kini berdiri di depan gerbang rumah Papa. Dengan helaan napas panjang gadis itu mengibaskan sekilas rambut panjangnya. Melangkah dengan dagu terangkat.
Membiarkan si security membuka gerbang dan memersilakan gadis itu masuk. Tanpa bertanya apa kabar untuk sang anak majikan. Karena pria paruh baya itu tahu akan diabaikan.
kakinya sedikit tertatih dengan nyeri yang menjalar. Meski sudah periksa ke rumah sakit, Mika rasa ini cukup lama untuk mengering. Dan sebelum luka ini kering, Mika akan membuat sebuah lompatan besar untuk menghindar dari luka yang lain.
Begitu masuk melalui pintu utama, Mika disambut wajah sang ibu sambung yang kali ini terlihat sumringah.
"Akhirnya kamu pulang. Are you okey my lovely?"
"Hm." Mika kemudian berlalu. Menaiki tangga menuju kamarnya di lantai atas. Tak memedulikan bagaimana si ibu sambung merapatkan bibir kecewa.
"Papa benar-benar akan menjodohkan kamu, Kay." Mika berhenti. Tanpa menoleh sedikitpun, dengan helaan napas panjang yang melelahkan.
"I know," jawabnya.
"Anaknya baik. Dia anak temen Mama," kata perempuan yang lebih tua. Menarik perhatian si anak yang kini memilih berbalik dengan wajah kecewa.
"Jadi ini saran Mama?" Perempuan paruh baya dengan blouse navy itu mengangguk kecil berusaha menggapai kedua tangan Mika. "Udah Mika duga,"
"I'm Sorry. Kamu tahu, itu jalan terbaik menurut Papa. Mama tidak bisa menghentikannya. Kamu tahu sendiri bagaimana wataknya,"
Kalimat terakhir jelas Mika paham. Bagaimana laki-laki paruh baya itu adalah orang yang paling banyak mewariskan gen keras kepadanya. Mika sadar, bahwa watak Papa dengannya sama-sama keras. Jika diibaratkan batu, keduanya tak akan bisa disatukan. Karena dua benda padat akan sulit untuk melunak.
"Nanti malam pertemuannya. Dandan yang cantik ya. Mama bangga sama kamu," tepukan pelan di pundaknya mengakhiri kontak antara Mika dengan ibu sambungnya.
Melihat bagaimana perempuan itu merawatnya juga dengan perhatian yang begitu besar. Mika ragu apakah wanita itu benar-benar ibu tirinya?
Mika kembali dipukul realita. Bahwa dirinya bukanlah darah daging wanita itu. Tapi seorang wanita yang sampai saat ini belum pernah Mika temui dan ketahui keberadaannya.
Mama akan selalu jadi Mamanya. Tapi itu hanya Mama Ray. Bukan dirinya.
Melepas heels yang ia kenakan, Mika kemudian memijat kakinya dengan gerakan lembut. Gadis itu kembali menghela napas lelah.
Memilih untuk membaringkan tubuhnya, Mika memejamkan mata untuk waktu yang cukup lama. Dalam pikirannya sekelebat bayangan Papa terus saja merangsak masuk. Bercampur dengan masalah yang lain.
Kemudian, satu kata terus terlintas tanpa bisa ia alihkan kepada hal yang lebih Mika sukai. Menikah. Kata itu terus berkelebat dan bergumul di otaknya.
Sebagai perempuan, Mika berpikir akan menikah saat umurnya 30 tahun. Masa bodoh dengan anggapan orang lain mengenai perawan tua dan kutukan yang lainnya. Mika masih suka bekerja. Ia masih suka menghabiskan uang yang ia miliki untuk semua keinginannya.
Menikah akan menghambat kariernya. Belum lagi jika nantinya suami Mika ingin dirinya tak bekerja. Alih-alih menurut, mungkin Mika akan mengakhiri pernikahannya tepat setelah pendeta mengesahkan pernikahannya.
Mika tak pernah main-main.
Ponsel yang baru ia sambung ke charger bergetar. Menampilkan panggilan dari Papa yang beberapa kali Mika biarkan masih saja mengulangi kegiatan yang sama. Gerah. Mika meraih ponselnya. Mengangkat agak jauh dari telinga, karena bisa saja, laki-laki paruh baya itu akan membuat telinganya berdenging.
"Udah siap? Tiga puluh menit Papa tunggu di bawah. Jangan permalukan Papa. Sudah cukup Ray membuat Papa malu. Kamu jangan,"
Mika memutar bola matanya. Keinginan untuk memberontak sangat besar dalam benaknya. Mika pernah melakukan hal yang sama. Dan berakhir di rumah sakit karena membiarkan dirinya tak makan selama hampir satu bulan. Hanya untuk membuat Papa menyerah. Dan itu tak akan pernah Mika lakukan lagi. Bodoh jika melakukan hal itu kembali.
Itulah alasan mengapa kali ini Mika menurut. Berjalan tegak dengan dagu sedikit terangkat. Bersebelahan dengan Ray, dipimpin Papa dan Mama yang terus tersenyum cerah.
Mereka tidak pernah melihat bagaimana ekspresi Mika saat ini. Alih-alih anggun dan cerah seperti calon pengantin bertemu pasangannya. Mika lebih mirip malaikat pencabut nyawa dengan death note yang tertutup wajah ayunya.
"Senyum," Papa menoleh. Hanya untuk memerintahkan Mika agar berekspresi yang lebih baik.
Mika sedikit melirik pada Kakaknya. Terpaksa memakai topeng terbaiknya kali ini. Menunjukkan senyum khas Mikayla yang anggun. Ia sedikit mengibaskan rambut panjangnya. Menatap pada tujuan Papa saat ini.
Berjalan di balik tubuh Papa, Mika melihat satu keluarga yang terlihat sangat harmonis. Menyambut keluarganya dengan senyum lebar yang entahlah apa artinya.
Satu pria muda jelas menarik perhatian Mika. Tubuh tegap dengan kulit pucat. Kedua pipinya seolah bolong ketika tersenyum. Saking fokusnya Mika pada laki-laki itu, Mika menjadi lupa dan tersentak ketika Ray dengan sengaja menyentuh sikunya.
Kali ini, senyum Mika tidak palsu seperti tadi. Berjabat dengan semua orang yang ada di meja. Termasuk pada gadis kecil yang duduk tepat di sisi laki-laki berpipi bolong itu.
Hal itu sukses membuat Mika dibuat terpana. Karena si laki-laki kembali tersenyum dan mengelus pipi cubby gadis yang sekarang ada di pangkuannya. Sampai ada seorang perempuan berseragam baby sitter mengambil alih gadis itu.
Jadi, Mika akan dijodohkan dengan pria yang sudah mempunyai anak?
Lantas, gadis itu dibuat kecewa begitu saja. Apa yang akan ia lakukan jika betul-betul menikah dengan pria ini?
Ia mungkin pernah dikecewakan perempuan lain. Membangun sebuah rumah baru jelas terasa asing. Terlebih untuk gadis kecil itu. Dan Mika bukan orang yang ramah terhadap orang baru. Mungkin posisinya akan sama seperti Mama sambung yang duduk di sisinya.
"Kayla, perkenalkan. Ini Jeffrey anak sulung kami, yang tadi itu Shanin cucu kami," Mika lantas tersenyum. Sedikit menganggukkan kepala dengan sorot teduhnya. "Maaf jika kami membuat nak Kayla merasa diburu-buru,"
Gadis itu kembali tersenyum. "Tidak tante," jawabnya maklum. Sangat berbanding terbalik dengan Mika satu jam yang lalu. Entahlah gadis itu memakai topeng atau betulan merasa tidak apa.
"Mungkin kita bisa membahas setelah Kayla bertemu Satya. Maafkan anak tante ya Kay, tidak biasanya dia terlambat seperti ini,"
"Jakarta itu tempatnya macet. Tidak apa, kita bisa mengobrol lebih santai dulu," lantas, obrolan tentang investasi dan hal lain terus dibahas dalam meja berisi banyak makanan itu.
Mika mencuri pandang pada laki-laki di depannya yang ikut bergabung dalam obrolan para orang tua juga Ray. Berbagai macam persepsi Mika terhadap keluarga yang baru ia temui ini semakin banyak.
Tentang siapa laki-laki di depannya, tentang gadis kecil yang tadi bersama mereka. Tentang senyuman semua orang. Juga tentang laki-laki bernama Satya.
Rasanya Mika ingin pergi lagi. Acara pertemuan ini membuatnya semakin gila dengan anggapan yang ada dalam benaknya. Terus bergumul tak memersilakan Mika untuk istirahat sejenak.
Bahkan sampai seorang pemuda berpakaian rapi dengan jas dan turttle neck mengalihkan atensi semua orang dalam meja itu, Mika masih diam melamun. Sampai suara tante Ira, membuatnya mengerjap tersadar dan berdiri dari duduknya.
"Kayla, ini Satya putra bungsu kami. Satya, ini Kayla putri pak Hendra," tante Ira mengenalkan keduanya.
Mika berdiri terpaku. Menatap laki-laki di depannya yang sama sekali tidak terkejut. Dengan mata tajam dan senyum tipis, laki-laki itu mengulurkan tangan lebih dulu.
"Satya,"