08.

1011 Words
Angin berembus cukup sejuk sejak beberapa menit yang lalu. Menerbangkan dedaunan yang terlepas dari dahannya. Membawa dedaunan itu pergi berkelana pada luasnya dunia. Setelah sekian lama terikat pada satu dahan yang tak mengizinkannya pergi. Surai hitam panjang itu juga ikut diterbangkan angin. Bedanya, ia tak seperti daun yang memilih melepaskan diri. Jika itu betulan terjadi, mungkin si pemilik hanya akan memarahi angin alih-alih menikmatinya seperti sekarang ini. Mika menghela napas panjang. Pikirannya dibawa berkelana oleh angin. Raganya memang masih berdiri tegak di balkon perusahaan yang beberapa tahun ia kelola bersama Michelle. Sejak mengenal perempuan itu, Mika jadi semakin berani mengambil resiko. Menentang permintaan Papa menjadi salah satu bagian dari perusahaan yang sudah digeluti sang Papa bahkan sebelum Mika lahir. Gadis itu bertekad membuat sebuah perusahaan rintisan dalam bidang kecantikan. Bersama Michelle si penanam modal paling besar. Karena harta gadis itu sudah turun temurun mengalir deras seperti air terjun. Memilih bersandar membelakangi pembatas, Mika menarik napas panjang. Hari sudah semakin sore sementara dirinya masih enggan beranjak. Mungkin Michelle akan mengomel panjang lebar jika tahu Mika tak segera pulang setelah jam operasional kantor berakhir sejak satu jam yang lalu. Memorinya kembali mengingat apapun yang terjadi malam tadi. Sekelebat itu semakin lama menguasai isi kepala Mika yang semakin memberat. Gadis itu mendengus seraya mengetuk kepala agar apa yang terus bergumul segera keluar. Lalu, tiba-tiba ingatan tentang ciuman tadi malam berhasil mendominasi. Menambah daftar penyesalan Mika atas semua hal yang telah ia lakukan. Termasuk pada bagaimana dirinya membalas perlakuan lembut Jevano yang nyatanya membuainya. Melupakan bahwa mungkin seorang Jevano begitu kepada setiap perempuan. Jevano itu b******k. Disaat dirinya mempunyai Almira, ia terus saja gencar menarik perhatian Mika. Waktu kemarin seperti berjalan sangat lambat. Bahkan setiap detik Mika tak melupakan apapun. Meski dalam benaknya ia tetap berkeinginan untuk amnesia. Jevano memagut habis bibirnya. Bahkan setelah Mika mendorong tubuh besarnya, laki-laki itu kembali berhasil menguasai permainan. Harusnya Mika menendang laki-laki itu sampai berdarah, sampai Jevano tak bisa merasakan sebuah kebahagiaan. Harusnya Mika jadi wanita yang kejam seperti dulu. Tapi kenapa rasanya agak aneh? Kemana hilangnya Mika si perempuan kejam itu? Mika menggeram. "Sialan!" umpatnya lirih. Mengacak rambut panjangnya dengan frustrasi. Membalikkan tubuh menghadap luar balkon, tatap nanar pada hamparan rumput juga pepohonan yang terawat baik di selasar perusahaan. Mencengkram pembatas, Mika menarik napas panjang. Mungkin tidak sampai hilang nyawa, tapi bisa membuat tulangnya remuk seketika. Dan Mika bukan orang bodoh yang akan melompat dari balkon perusahaan yang ia dirikan susah payah bersama Michelle. Mungkin, sebuah jembatan yang melintasi laut akan lebih baik dan layak untuk seseorang seperti Mika menghilang. Tidak etis jika ia harus mati mengenaskan dan masuk berita di televisi. Akan ia tarus dimana wajah cantiknya ini? Melihat bayangan seseorang dari ketinggian beberapa lantai, Mika mengernyit. Menatap pada samar yang ditimbulkan karena jarak juga cahaya matahari yang langsung menyoroti netranya. Bayangan itu terlihat familier, sampai akhirnya panggilan Michelle mengalihkan fokus Mika kepada sahabatnya itu. "Ayo pulang." kata Michelle seraya menyugar rambut panjangnya. Gadis dengan kacamata bulat itu kemudian mendengus. "Jangan harap bisa mati di perusahaan gue," Mika hanya tertawa menanggapi itu. Berjalan santai beriringan dengan Michelle yang kali ini tak banyak bicara. Keduanya tak terlibat dalam percakapan. Menambah kesan tegas dari wajah-wajah menawan dengan kharisma yang kuat. Sampai akhirnya Mika berhenti di lobi. Melihat seseorang yang ia amati dari balkon ternyata adalah gadis yang sudah lama tidak ia temui. Mika bergeming untuk waktu yang cukup lama. Sampai Michelle menyadari ada yang tidak beres dengan sahabatnya. "Why?" "Nope," balas Mika. Berlalu begitu saja ketika si gadis yang berdiri di depan lobi jelas melihatnya pergi. Tanpa sebuah sapaan. Bahkan wajah Mika sudah cukup membuat siapa saja mundur dan mengurungkan niat untuk berbicara pada gadis itu. Aura angker sudah terpancar, meski Michelle yang tak begitu peduli tetap tak mengindahkan perubahan itu. Mika masih tetap terlihat sama. "Dua minggu lagi ada peluncuran produk baru. Pastikan enggak absen. Lo udah terlalu sering mangkir saat ada acara begini," ucap Michelle seraya mengetuk kap depan mobil Mika. Mika hanya mengedikan bahu. Memang, ia tak pernah datang saat peluncuran produk baru, ketika kuliah yang diadakan perusahaan, pesta relasi dan sebagainya. Mika hanya tak mau wajahnya kembali dikenal oleh orang-orang yang pernah ia temui di masa lalu. Mika tidak mau, ada yang mengetahui keberadaannya selain Jevano. "Eh, tadi yang di depan kantor lo kenal Ka?" Mika menoleh dengan kedua alis terangkat. Ingatannya kembali pada perempuan berambut panjang yang berdiri di depan kantor bahkan sejak Mika mengetahui keberadaannya dari balkon. Sejenak, Mika meneguk ludah. Dengan gelengan tegas ia menjawab. "I don't know," "But she glanced at you a few time," Mika kembali bergeming. Apakah benar jika gadis itu meliriknya? Padahal, tujuh tahun adalah waktu yang lama untuk seseorang melupakan orang lain di masa lalu. Terlebih ini Mika, seseorang yang bahkan membuat hubungan gadis di depan kantor itu renggang dengan kekasihnya. "Gak habis thinking," kata Michelle selanjutnya. "Dia kayak menyimpan dendam Ka, hati-hati ya. Gak semua orang baik di dunia ini. Termasuk lo," "I know. Mungkin dia salah satu korban kekejaman gue di masa lalu," berikutnya Mika mengedik. Meninggalkan Michelle yang masih berdiri di sisi mobil. Sementara dirinya sudah duduk di balik kemudi. "Apa kamu tidak bisa profesional? Kami antar ke rumah sakit," "Jevano sudah datang Kak ," gadis berambut sepunggung itu menggeleng. Menolak tawaran panitia yang mendatanginya di transit peserta. Mika mengetuk kepalanya beberapa kali. Bahkan rambut panjang yang diikat ekor kuda rasanya membuat kepalanya makin pening saja. "Kami yang bertanggung jawab. Jadi Kakak mohon kamu mau diantar kami, ya?" sepelan mungkin Sandra--rekan Mika membujuk gadis bernama Almira itu. Tapi melihat Jevano datang rasanya Mika sudah terlampau muak. Menarik lengan Sandra, Mika menatap datar pada ketua himpunan yang baru. "Silakan, Saya tidak pernah menghalangi kamu. Lakukan apapun semaumu tapi jangan pernah bawa Saya dalam masalah kalian, permisi," Mika bergeming dengan kedua tangan berpegang erat pada kemudi. Menggeleng kecil. Pada akhirnya gadis itu memilih kembali melajukan mobilnya membelah jalanan yang sudah mulai padat. Meninggalkan gadis di depan kantornya dengan perasaan tak beraturan. Satu per satu orang-orang dari masa lalu terus datang tanpa diduga. Mika jelas ingat pada perempuan itu. Almira Maharani.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD