07.

1017 Words
Mobil putih Mika melintasi jalanan pulang dari Sonora. Alih-alih berbelok ke arah kiri untuk sampai di apartemen, ia justru mengambil arah lurus. Melewati jalanan yang padat merayap saat jam pulang kantor seperti ini. Kepala Mika masih saja berisik seperti terakhir kali. Dan ini mungkin waktu yang tepat untuk Mika melepaskan beban yang bernaung di dalam kepalanya. Mika harus segera melakukan healing. Kemanapun, asalkan dirinya tidak terganggu atas keberadaan siapapun yang ia kenal. Bersama orang asing yang tidak saling mengenal justru lebih baik. Mereka tidak akan peduli apa yang akan Mika lakukan. Begitupun Mika yang tak peduli pada omongan mereka di belakangnya. Gadis itu mendenguskan hidung. Kini mulai menyorot tempat-tempat yang ingin ia datangi. Sampai dirinya memilih berbelok dan masuk ke parkiran yang sepi di bagian dalam. Mika memeriksa pakaiannya. Rok A line putih dengan blouse hitam. Mungkin cocok saja jika dirinya masuk ke tempat ini. Gadis itu berdeham sekilas. Sebelum mulai melangkah menjauh dari mobilnya. Mika tidak tahu kapan terakhir kali ia menginjakkan kaki di tempat ini. Rasanya, sudah terlalu lama Mika tidak berteman dengan dunia malam yang sering ia tinggalkan karena kesibukannya. Sonora menyita hampir enam puluh persen hidupnya. Atau mungkin, memang Mika yang tengah berusaha untuk tetap mengabdi pada perusahaan itu. Gadis itu berjalan angkuh memasuki tempat yang sebenarnya tidak terlalu ia sukai. Tapi mau bagaimana lagi? Ini adalah tempat paling nyaman untuk membuang penat selain dengan berbelanja. Kakinya yang jenjang menapaki lantai tempat itu. Jujur. Mika kesulitan beradaptasi dengan stiletto yang mungkin membuat telapak kakinya lebih nyeri dari sebelum ini. Ia melewati kerumunan orang. Melirik sinis pada seorang pria yang mendekat dengan senyum lebar jumawa. Yang bahkan Mika tak tertarik sedikitpun. "Hai, butuh teman?" pria itu menyapa dengan ramah. Membuat Mika justru melengos. "I needn't," katanya menolak dengan nada datar. Si pria itu berdecih. Menatap Mika tajam, yang mana--ia hanya mencari musuh jika begini. Untung saja Mika tidak berminat untuk ribut di tempat ini. Jadi, ia tidak peduli dan mengeloyor pergi. Gadis itu duduk di depan meja bartender. Memperhatikan dance floor yang sudah ramai akan lautan manusia. Lalu, bau menyengat itu sudah merasuki orang-orang itu dan membuat mereka tak sadarkan diri. Mika terkekeh. Tak akan pernah sekalipun ia bergabung di tengah kerumunan itu. Tidak akan pernah. Mika akan stay cool di tempatnya. Memesan ruangan privat ataupun duduk sendiri menjauh dari orang-orang ini. Hari ini ia tidak bisa mengajak Michelle. Karena hari senin begini si boss sibuk sampai malam. Mengurus perusahaan dengan penuh cinta. Lalu, Mika yang sama ambisiusnya justru berakhir di tempat ini. Menikmati cocktail sendirian di depan meja bartender. Masih saja ingin melihat orang-orang sudah gila di tengah sana. Membuatnya agak menarik bibir. Lalu, seseorang datang dan duduk tepat di sisi Mika. Gadis itu tidak peduli, tempat ini jelas ramai orang yang berdatangan. Jadi, seperti argumennya yang lebih memilih orang asing dan tak peduli padanya. "Sendiri?" pria itu bertanya tanpa subjek. Jadi, Mika tidak akan mau repot-repot menjawabnya. Hal itu membuat si laki-laki menghela napas kasar. "Hey, Miss. Sendirian aja?" Mika melirik sekilas. Hanya sekedar itu, karena setelahnya Mika kembali fokus meneguk cocktail miliknya. Si pria langsung menggeram marah karena diabaikan. Sungguh. Mikayla merasa dirinya amat lelah menghadapi orang-orang sok kenal begini. Jadi, ia tidak ingin menambah beban penat dengan meladeni orang ini. "I need wishky," katanya membuat bartender di depan langsung mengangguk membuat pesanan untuknya. "I do," orang itu juga membuat bartender segera mengangguk. Yang justru Mika menghela napas lelah. Mungkin dirinya akan pergi sebentar lagi setelah meneguk habis pesanan terakhirnya. Tempat ini justru terasa menyebalkan kali ini. "Hey," laki-laki tak dikenal itu menyentuh lutut Mika. Membuat gadis itu mendelik menjauhkan diri. "Play with me," "Sorry i can't," Mika menolak dengan ketus. Siapa yang akan bermain dengan pria sepertinya? Mungkin Mika sudah gila jika menerimanya. Perjodohan yang papa ajukan saja ia tolak mentah-mentah. Apalagi pria ini yang--ewh. Bukan tipe Mika sekali. Bartender meletakkan pesanan Mika di atas meja. Membuat gadis itu segera meneguknya dengan bringas. Bermaksud untuk cepat-cepat pergi dan mencari sopir sewaan untuk mengantarnya pulang. Tepat setelah dirinya menandaskan segelas wishky. Gadis itu segera berdiri setelah mengulurkan sejumlah uang pada bartender. Mengabaikan panggilan pria itu yang seolah enggan membuat Mika pergi secepat ini. "Hey," pria itu kembali berusaha menarik perhatian Mika. Sampai akhirnya bisa membuat gadis itu berhenti memandangi lengannya yang ditahan dari belakang. "Kamu menarik. Let's play with me, miss," Mika berdecak. Benar-benar muak dengan orang ini yang berusaha begitu keras. Gadis itu menghempaskan tangan pria itu dari lengannya. Segera berlari meski kakinya terasa sebentar lagi akan patah. Di saat Mika ingin pergi segera, ia justru menabrak seseorang yang baru datang. Membuat katanya agak melebar melihat wajah tegas itu yang tersorot cahaya remang di tempat ini. Gadis itu menahan napas sejenak. Agak menoleh karena pria tadi masih mengejarnya dan berusaha untuk menggapai Mika. Mika menoleh sekali lagi pada sosok itu. Pikirannya benar-benar kalut saat ini. Jadi, ketika Jevano melebarkan mata membenarkan di depannya a dalam Mikayla. Gadis itu lebih dulu berjinjit mengalungkan kedua lengan pada Jevano. "I'm sorry. But--" gadis itu bungkam. Ketik Jevano memagut bibirnya tanpa kata. Membuat Mika agak melebarkan mata. Namun tak lama, ia justru memejam merasakan bibir Jevano semakin menekannya dengan lembut. Apalagi, Jevano kini meraih tubuhnya menahan agar tak terjatuh. Memeluk Mika makin erat seraya permainan mereka yang enggan berhenti begitu saja. Membuat pria yang mengejarnya diam-diam merasa kecewa. Meninggalkan keduanya dengan perasaan marah. Gadis yang ia incar justru sudah memiliki kekasih. Mika merasa sesak begitu saja. Jadi setelah agak lama bibirnya bersatu dengan Jevano, ia mendorong laki-laki itu. Membuat Jevano menatapnya dengan mata kecilnya yang tajam. Keduanya diam tanpa kata. Mika masih berusaha untuk mengembalikan kesadarannya yang melayang di udara. Menggapainya kemudian merutuk, mengumpat pada diri sendiri yang seenaknya mencium laki-laki yang ia hindari selama ini. Mika memang bodoh. Menghindar dari laki-laki asing itu justru berakhir bertemu Jevano dan-- menciumnya tanpa permisi. Bukan. Lebih tepatnya Jevano yang menciumnya lebih dulu. "Sorry--" Mika lagi-lagi bungkam. Karena setelah ia meminta maaf-- Jevano justru menariknya kembali. Memeluk pinggangnya lebih erat dari sebelumnya. Malam sudah semakin larut. Begitu pula dengan Jevano dan Mika yang larut dalam permainan mereka sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD