Gerimis yang turun sejak bermenit-menit yang lalu membuat Mika yang duduk di balkon kamarnya menghela napas panjang. Memang, kelakuannya tiap minggu adalah recharge untuk tubuhnya sendiri. Mendekam di dalam kamar seharian tanpa melakukan hal lain.
Masa yang hampir 24/7 ia habiskan di Sonora. Selebihnya Mika hanya begini saja. Atau jika ingin, gadis itu akan hangout sendiri maupun bersama Michelle.
Ia tidak punya teman selain si CEO Sonora itu. Dan hanya Michelle satu-satunya orang yang mau berteman dengannya. Atau, memang Mika sendiri yang terlalu menutup diri.
Sejak wisudanya lima tahun yang lalu--Mika betul-betul menghilang dari jangkauan semua orang. Teman-teman seperjuangannya di himpunan maupun sekedar kenalan biasa tidak pernah menemukan Mika lagi.
Acara besar himpunan yang mengundang alumni tidak pernah Mika datangi. Ia hanya mendapat laporan dari Security rumah bahwa ada undangan masuk untuk nona Mikayla.
Tapi kemarin itu, Mika memang sudah gila. Pikirannya konslet, bermodal secuil rasa rindu dalam ingatan pada masa-masa kuliahnya dulu. Mika bahkan rela keluar sebelum jam kerja usai. Hanya untuk mengobati kata rindu itu.
Yang justru berakibat pertemuan dengan Jevano si adik tingkatnya.
Jika Mika bisa menahan diri dan stay cool seperti sebelumnya, tidak akan mungkin pertemuan itu terjadi. Memori tentang masa lalu dengan Jevano kembali mengisi sebagian kepala Mika. Rasa bersalah yang bersarang juga tak akan makin besar begini.
"Gara-gara himpunan, gue jadi ketemu Jevano. Kalau gue bisa abai sekali lagi, pasti semuanya nggak akan pernah terjadi," Mika kembali bermonolog. "Kenapa sih gue sampe bego begini. Why?"
Gadis itu menghela napas kasar. Masih memandangi langit yang kelabu dengan rintik-rintik hujan yang perlahan menetes dan digantikan dengan yang lainnya. Mika menarik napas panjang, kembali menyeruput vanila latte yang ia pesan beberapa saat lalu pada Cafe bawah.
Matanya yang bulat namun tajam itu menerawang jauh. Dengan isi kepala kembali bercengkrama mengajaknya untuk berdiskusi. Yang nyatanya ini lebih berisik dari suara Elang.
Gelasnya masih ia genggam. Menjalankan rasa hangat yang perlahan membuat Mika agak bisa berpikir lebih jernih. Meski, hanya sesaat. Benar-benar sesaat dan sekelebat.
Karena setelahnya Mika justru mengumpat lirih pada diri sendiri. Ia mengacak rambutnya agak frustrasi dengan tiap hari yang dijalani.
Mika yakin, doa Jevano untuk membuatnya sengsara tengah tuhan kabulkan saat ini. Sejak bertemu laki-laki itu, Mika yang anti sial kini justru menghadapi kesialan hampir tiap hari.
Bertemu Jevano jelas satu kesialan yang paling pasti. Laki-laki itu yang mengantarnya pulang karena Mika melupakan mobilnya di Sonora. Ray yang batal menikah dan melimpahkan semua padanya. Padahal Mika tidak punya kekasih--lalu berujung dirinya dijodohkan dengan seseorang yang entahlah siapa itu.
Pada akhirnya, Mika harus melewati malam dengan kaki nyeri dan lagi-lagi tentang Jevano. Apakah pria itu tidak bisa kembali hilang dari depan matanya?
Seolah kemanapun ia pergi, Jevano akan ada di tempat yang sama. Termasuk tadi siang itu. Ketika Mika menemukan Jevano bersama kekasihnya di depan gereja.
Yang untungnya Mika bisa langsung pergi tanpa si perempuan tahu. Jika gadis berambut panjang itu tahu Mika ada di tempat yang sama--apa tidak akan menimbulkan kerusuhan yang membuat kesialan Mika tambah berkali-kali lipat?
Lantas gadis itu kembali menghela napas lelah. Kepalanya ia sandarkan pada kursi sementara kopi yang ada di genggaman kini berpindah pada meja mungil di sisinya. Mika butuh healing, ia perlu refreshing, pergi dari hiruk pikuk kota yang membuat pikirannya makin semrawut.
"Gimana bisa Vano know all tentang gue?" matanya tetap tertutup sementara bibirnya bergerak. "Apartemen ini jelas tidak akan semudah itu ditemukan,"
Mika memang hobi mengumpulkan bahan untuk overthingking. Alih-alih berkutat dengan laptop mengecek proposal tentang pengembangan produk baru--ia justru membuka sosial media. Hanya untuk menemukan akun privasi milik Jevano.
"Sialan!" gadis itu kembali mengumpat. Meski tadi siang baru saja meminta ampunan kepada tuhan atas umpatannya yang lancar setelah bertemu Jevano.
Ia tatap tab miliknya dengan kening berkerut. Membuka sosial media jelas akan memperburuk keadaan. Jadi, gadis itu memilih membuka email miliknya.
Menilik pekerjaan yang belum usai. Lalu, ia kembali teringat pada project miliknya yang belum diunggah ke drive. Ini artinya, Mika tidak bisa berlama-lama ada di apartemen miliknya.
"Tck. Sialan. Kenapa kesiapan gue berkali-kali lipat begini sih?!"
Lalu, ia kembali berpikir keras untuk masuk ke rumah papa dan mengambil semua miliknya dari sana. Ia tidak bisa langsung pulang-- atau papa akan mengurungnya tanpa bisa berkutik sedikitpun.
Gadis itu melengos. Merasakan tah miliknya bergetar memunculkan sebuah panggilan dari aplikasi. Membuatnya benar-benar merasa papa panjang umur karena sekarang dirinya jelas merutuki laki-laki itu.
Tapi alih-alih mengangkatnya, Mika justru membiarkan tetap berbunyi. Hingga tab itu kembali diam setelah beberapa detik lamanya berdering nyaring. Sebelum mulai berdering kembali.
Tab Mika berakhir mencium permukaan ambal bulu di bawah ranjangnya. Sengaja Mika lempar setelah mematikan sambungan wireless. Ia perlu membersihkan diri dari semua beban hidup yang enggan pergi ini.
Tapi setelah berlama-lama membersihkan diri. Ia justru menemukan Michelle yang segera mengeluh akan banyak hal.
"Bokap lo neror gue. Cepet angkat teleponnya," kata gadis berponi tipis itu. Dirinya hampir meledak jika tak ingat harus menjaga nama baik Sonora di sambungan telepon dengan laki-laki itu.
Mika berdecih. Berusaha untuk masa bodoh, meski pada akhirnya terpaksa meraih tab miliknya untuk membuka dirrect massage dari papa yang bertumpuk banyaknya.
"Lo nggak bilang gue di sini kan?" Mika bertanya sembari berkutat dengan layar datarnya.
Yang justru Michelle tertawa setelah mendengar itu. "Hello. Miss Mikayla! Emang lo mau lari kemana selain tempat ini?"
Dan begitu saja, Mika mengumpat lirih. Karena merasa penuturan Michelle seratus persen tidak salah. Memang mau kemana dia selain tempat ini?
Mika tak punya saudara, kalaupun ada, ia pasti lebih memilih merecoki hidup Michelle seperti sekarang ini. Kadang orang lain lebih baik daripada saudara, seperti halnya Michelle yang lebih baik timbang Ray yang jelas-jelas kakaknya.
Dengan malas Mika mendial panggilan masuk untuk menerimanya. Mengangkat tab miliknya sejajar dengan wajah. Lalu, sebuah suara mulai terdengar setelah hela napas cukup panjang.
"Kay, pulang," itu adalah kata pertama yang papa ucapkan. "Kita harus bicara langsung. Papa sudah memutuskan apa yang terbaik untuk kamu dan Ray,"
Mika tersenyum sinis dan mendengus kasar. "Papa cuma memikirkan Ray tanpa Kay. Solusi itu jelas bikin Ray bersenang-senang karena tidak perlu mengganti endorsment,"
Di ujung panggilan, ia mendengar papa mendesah berat. "Namanya Satya. Anak teman Papa. Dia sebaya dengan kamu,"
"Mika nggak peduli Pa. Mika akan tetap di sini dan nggak akan peduli apa yang harus Ray lakukan setelah ini,"
Mika melengos. Napasnya tiba-tiba memburu dan sesak. Ia tidak perlu bertanggung jawab atas kegagalan pernikahan Ray bukan?
"Aset kamu ada sama papa. Termasuk sertifikat apartemen itu. Papa sudah menemukannya, dan tidak akan banyak waktu sampai papa bisa menjualnya,"
Mika melempar tab miliknya. Mengumpat kasar dan mengutuk Raynand--si kakaknya yang k*****t itu.