Benji ini makhluk jenis apa? Selalu tahu apa yang sedang Cessa kerjakan. Seperti saat ini, saat Cessa sedang kerepotan mempersiapkan kepulangannya ke Jakarta setelah satu minggu berada di Paris menghadiri seminar menulis internasional.
“Pelan-pelan aja packing nya. Semua pasti masuk kedalam kopermu,” Itulah kalimat pembuka dari Benji setelah Cessa memutuskan untuk menerima teleponnya. “Jangan stress gitu, ah. Ini Cuma packing, bukan mau menikah.”
Cessa menepuk keningnya dan berusaha rileks, meskipun satu tangannya tetap berusaha memasukkan semua barang ke dalam tasnya. “Kok kamu—”
“Bisa tahu? Please, Cess, aku ini kakakmu. Masa kebiasaan adiknya sendiri aku nggak tahu? Tarik napas Cess, rileekksss... dan, bagaimana keadaanmu? Sudah kemana saja selama di Paris? Museum Louvre? Pont Des Arts? Arc De Triumphe? Notre Dame? Montmartre? Atau jangan-jangan ke menara Eiffel pun kamu belum kesana? Gimana oleh-oleh buat aku? Suatu barang di Champs-Élysées?” Benji benar-benar membuat Cessa tersenyum berhenti mempersiapkan kepulangannya ke Jakarta.
“Aku kesini untuk ikut seminar menulis Ben, bukan untuk jalan-jalan. Oleh-olehmu... menyusul, ya? Aku lupa ke Champs-Élysées tadi,” Cessa berdiri di hadapan jendela kamarnya dan memandang keluar, sedari tadi hujan turun membasahi Paris. Membuat orang-orang malas untuk beraktivitas. “Jam berapa di sana sekarang? Kok kamu belum tidur?”
“Nggak penting sekarang jam berapa. Cess, aku rela beliin kamu tiket pulang ke Jakarta dua hari setelah acara seminar selesai itu alasannya agar kamu bisa jalan-jalan, nikmati hidupmu, Cess!”
“Oke... oke...” Cessa selalu memilih mengalah apabila Benji sudah rela melakukan sesuatu untuk dirinya.
“Kamu pesawat jam berapa nanti?”
“11.30 malam. Ide yang bagus sekali kamu beliin aku tiket pulang tengah malam. Nggak direct, lagi. Harus ke Dubai dulu dan pindah maskapai,” kata Cessa sambil kembali duduk di hadapan tasnya.
“Ide yang bagus, kan? Kamu masih punya waktu untuk beliin pesananku.” terdengar suara berharap dari ujung telepon sana.
“Kedengerannya kamu berharap banget sih?” goda Cessa.
“You know everything, Cess.”
“Oke, aku bakalan jalan-jalan sebentar setelah check out dari hotel nanti. Cuma ingin memastikan apakah kota ini cukup pas denganmu atau tidak.”
“CESSA ROBERTS!”
Buru-buru Cessa mematikan panggilan itu sebelum terjadi perang dunia ke tiga. Cessa kembali tertawa saat membayangi wajah kakaknya yang kesal karena ulahnya. Sebaiknya ia bersegera membereskan seluruh barang dan bersiap-siap kalau tidak mau hal buruk yang biasa terjadi pada dirinya, terjadi saat ini. Ya, ketinggalan pesawat.
***
Cessa Roberts, perempuan yang—tidak terlalu—tinggi, berwajah manis namun garis-garis wajahnya tegas. Ia keturunan Jakarta dan California. Masa kecilnya ia habiskan di Los Angeles sampai saat ia menamatkan sekolah dasar, ia dan keluarganya harus pindah ke Jakarta karena papa Cessa dipindah tugaskan ke sana. Saat ia masuk kelas 2 sekolah menengah pertama, ia mulai menjauhi semua sosial media, bahkan TV sekalipun. Ia hanya berteman dengan novel, dan melakukan kebiasaannya—menulis. Setelah papa Cessa memutuskan untuk pensiun dini dan kembali ke Los Angeles, Cessa dan kakaknya, Benji, memutuskan untuk menetap di Jakarta sampai sekarang.
***
Benji meletakkan ponselnya sesaat setelah Cessa memutuskan panggilan darinya. Lelaki di hadapannya kini tersenyum dan terlihat sedikit lebih lega dibandingkan saat ia datang ke rumah Benji tadi.
“Lo kenapa sih, Ken?”
Ken. Kendeka Allen. Lelaki di hadapan Benji ini adalah sahabat Cessa dalam 6 tahun belakangan ini. Ken dan Cessa memiliki pola pikir yang sama, oleh karenanya mereka tidak meneruskan ke universitas setelah lulus sekolah menengah atas. Melainkan langsung mengejar mimpi mereka. “Biarin aja Cessa menikmati Paris. Lagian lusa dia udah disini lagi.”
“Makasih, Ben. Gue cuma mau memastikan dia baik-baik aja selama disana.”
Benji berdecak, “Dia udah besar, Ken. Lo gak perlu terlalu khawatir tentang Cessa. Dia pasti tahu apa yang perlu dilakukan dan apa yang nggak. Lebih baik sekarang lo balik, udah jam satu malam ini.”
***
Gerimis masih turun, namun lelaki itu telah kembali berjalan menuju hotel setelah langkahnya tadi sempat terhambat oleh hujan yang tiba-tiba turun membasahi Paris. Ternyata setengah jam hujan turun sukses membuat seluruh Paris basah kuyup. Jalan bebatuan di sepanjang jalan dapat memantulkan bayangan para pejalan kaki. Orang-orang yang berteduh bersama dengan dia pun satu per satu keluar dari cafe tempat berteduhnya tadi.
Lelaki itu membiarkan mantelnya basah dengan titik-titik air yang turun membasahinya. Ia tidak tergesa-gesa, namun ingin memaksimalkan detik-detik terakhirnya ia di Paris. Ya, pekerjaannya disini sudah selesai, dan besok pagi ia harus kembali ke negaranya.
Langkah kakinya membawanya ke hadapan menara Eiffel. Ia terus memperhatikan menara itu dengan segelas kopi yang mulai dingin di tangannya. Satu tahun ia tinggal di Paris telah menciptakan ratusan pengalaman yang akan jadi kenangan. Baik, buruk, semuanya. Termasuk kehidupan percintaannya.
***
“Thank you.”
Cessa langsung duduk di kursinya. Perjalanan selama limabelas jam ke Jakarta akan ditempuhnya malam ini. Setelah mengabari Benji dan mengganti celana jeansnya dengan celana yang lebih nyaman digunakan, sesegera mungkin Cessa memejamkan matanya.
“Excuse me, miss,” Cessa membuka matanya, ia mendapati seorang lelaki jangkung berwajah bule sedang berdiri disebelahnya sambil memegang boarding pass. “You sit on my seat.”
“What?” Cessa segera mencari boarding pass nya untuk melihat apakah ia salah tempat duduk. Nyatanya, ia duduk di kursi yang benar. “I’m sorry, sir. But this is my seat.”
Sang pramugari yang melihat perdebatan antara Cessa dan lelaki itu segera menghampiri dan mencoba untuk menyelesaikan masalah yang ada. Ia segera menghubungi pihak darat untuk mengonfirmasi tentang kesalahan pencetakan nomor kursi di boarding pass.
“I’m sorry, mister. There’s something wrong when our officer print your boarding pass. Now you can sit on 21C,” pramugari itu mempersilahkan lelaki itu duduk di kursi tepat di depan Cessa.
Tak ingin terlibat adu mulut lebih jauh, Cessa memilih diam dan memainkan ponselnya. Meskipun sesekali ia tersenyum melihat lawan debatnya kalah.
***
Setelah sampai di Dubai dan telah pindah pesawat, Cessa mulai merasa bosan. Ya, saat orang lain bisa bermain dengan gadget-nya di kala bosan atau menonton TV, tidah begitu dengan Cessa. Cessa adalah seorang perempuan yang malas dengan semua sosial media. Baginya, sosial media dan televisi tidak ada dampak baik bagi kehidupannya. Naif memang, tapi itulah yang ada di pikiran Cessa saat ini. Bahkan smartphone yang kini ada di genggamannya pun hasil pemberian Ken—itupun dengan setengah memaksa dari Ken agar Cessa mau menerimanya.
***
Setelah mendapatkan dua tas koper yang berjalan di atas conveyor, Cessa segera menuju ke pintu keluar bandara yang diiringi dengan gerimis yang turun. Total delapanbelas jam—termasuk tiga jam transit di Dubai—yang dihabiskan hanya dengan duduk cukup membuat badan terasa tidak karuan. Dengan mata yang setengah terbuka, Cessa berusaha mencari Benji yang bersedia menjemputnya.
“Taxi, miss.”
Suara yang sangat dekat dengan telinga Cessa itu sontak membuatnya segera menengok. Ia terkejut, namun senang saat ia melihat orang yang dikenalnya, bukan orang asing.
“Ken!” Cessa langsung melepas trolley dan memeluk Ken erat. “Kok jadi elo yang jemput?”
“Benji lagi ada meeting, makanya dia menyuruh gue untuk jemput lo di bandara. Gimana Paris?”
“Lebih baik kalau sekarang lo anterin gue balik dulu, kalau gue udah enakan baru gue mulai cerita.”
Ken langsung mengambil alih trolley dan mendorongnya. “Baiklah. Ayo, tuan putri.”
“Kenapa pas gue balik malah hujan begini.”
“Jangan ngeluh tuan putri, hujan kali ini kan nggak bawa sial buatmu.”
Cessa tersenyum dan mulai mengikuti langkah kaki Ken menuju parkiran yang tidak jauh dari terminal kedatangan itu.
Gerimis yang dilanjutkan dengan hujan sedang siang itu mengiringi kepulangan Cessa ke apartment nya. Sepanjang perjalanan juga ia tak banyak bicara. Hanya memejamkan matanya dan berusaha untuk tidak peduli dengan hujan. Namun ada yang mengganggu pikirannya.
“Ken, bisa berhenti sebentar? Ada yang mau gue ambil di koper.”
Ken ngangguk dan mencari tempat agar mobil bisa berhenti di tepi jalan. Setelah memarkirkan mobil, mereka berdua turun dari mobil dan membuka bagasi.
“Koper lo gak di gembok, Cess?” tanya Ken saat melihat Cessa langsung membuka kopernya.
“Nggak. Lagian koper gue nggak ada isi apa-apa selain pakaian dalam dan baju kotor.”
Ken tidak menjawabnya dan ia hanya memperhatikan Cessa sambil menyenderkan badannya di mobil.
“Oh my,” Cessa dengan segera membuka koper satunya lagi. “Ken, kita harus balik ke bandara lagi!” kata Cessa sambil melindungi kepalanya dari hujan yang mulai deras itu.
“Kenapa? Pakaian dalam elo dicuri?”
Cessa segera menjitak kepala Ken. “Bukan, koper gue yang satu tertukar! Ayo cepat!”