5

1273 Words
Hari ini adalah hari yang panjang untuk Ken. Tiga meeting berurutan dengan selang waktu yang sempit cukup buat tubuhnya sedikit drop. Bagaimana tidak, makan sesuap pun belum sama sekali. Pemberhentian terakhirnya adalah apartment Hujan untuk memberikan hasil tiga pertemuan hari itu. Ken terpaksa melakukannya karena Hujan bilang dia ada wawancara hari itu dengan sebuah majalah. Setelah tiga kali ketukan, pintu unit apartment Hujan dibuka. Mata Ken membesar setelah melihat seseorang yang ia kenal ada disana. “Hi, Ke—“ Ken segera membekap mulut Hujan dan menariknya keluar. “Ada apa?” “Itu... Cessa?” tanya Ken ragu. “Iya, itu Cessa. Reporter yang mewawancarai gue tadi siang. Lo kenal dengan dia?” “Lo kenal dengan dia?” “Kenapa lo nanya balik ke gue? Iya, gue mengenalnya. Cessa teman TK gue. Dan... lo kenal dengan dia?” Ken mengangguk perlahan. Ia khawatir kalau ada sesuatu yang menunjukkan bahwa dirinya dan Hujan saling tahu satu dengan yang lain. Dan yang lebih mengkhawatirkan adalah, Cessa tahu bahwa dirinya adalah seorang social media star. “Ayo masuk, let’s hang together. Nanti lo bisa balik dengan Cessa.” “Ini hasil dari meeting hari ini, passport dan tiket lo udah di Budi.” kata Ken yang tidak menjawab pertanyaan Hujan sambil menyerahkan beberapa lembar kertas. “Hujan, gue boleh minta tolong sesuatu?” “Minta tolong apa?” “Tolong, lo jangan katakan kalau kita saling kenal dan apa pekerjaan gue dengan Cessa. Gue nggak mau dia tahu dan akhirnya dia menjauhi gue, dan bahkan menjauhi lo.” “Tapi pasti dia bakal tahu, Ken. Hampir semua berita televisi dan media sosial memuat tentang WARM.” “Dia nggak bakal tahu, karena dia sangat menjauhi dua hal itu. Jadi, bisa lo bantu gue?” “Baiklah.” “Gue pulang dulu, see ya on tour.” Kata Ken lalu berlalu dari hadapan Hujan. Ken memutuskan untuk tidak langsung pulang, melainkan menunggu Cessa di warung kecil tepat dihadapan bangunan apartment Hujan. Ken memesan segelas kopi hitam untuk menemaninya membaca berkas di tangannya. Namun itu tak berlangsung lama, pandangan Ken hanya tertuju pada pintu apartment itu. Pikirannya melayang kemana-mana sambil menunggu Cessa keluar dari sana. Tak lama kemudian hujan pun reda, semua orang yang tadinya berteduh satu per satu mulai meninggalkan tempatnya tadi dengan kendaraan masing-masing. Tidak lama kemudian, sosok yang ditunggu Ken terlihat berjalan keluar dari apartment Hujan. “Cessa!” Ken berlari kecil untuk menghampiri Cessa di seberang sana. “Sudah selesai wawancaranya?” “Sebenarnya sudah selesai dari tadi siang, tapi gue bertemu sama teman lama di apartmentnya. Kemudian hujan, jadi baru jam segini gue pulang. Lo abis darimana?” tanya Cessa. Mereka berjalan menyusuri bahu jalan sambil menikmati suasana sore kota Jakarta. “Oh, gue habis meeting di tiga tempat untuk pekerjaan gue selanjutnya. Lo mau langsung pulang?” “Terserah bagaimana lo aja, Ken.” Kata Cessa sambil tersenyum. “Wah, ada apa ini? Cessa yang gue tahu adalah Cessa yang selalu kumal sepulang bekerja. Pasti ada sesuatu, jelasin ke gue.” kata Ken sambil merangkul Cessa. “Nggak ada, Ken. Gue hanya habis bertemu teman lama, namanya Hujan.” “Hujan? Lucu banget namanya. Lalu?” “Nggak ada, I swear, Ken.” Kata Cessa sambil mencubit pinggang Ken. “Hari Minggu lo ada jadwal nggak? Bisa temani gue buat selesain artikel?” Ken berhenti berjalan yang membuat Cessa melakukan hal yang sama. Ia menatap Cessa lekat-lekat. “Keeeeeenn?” Cessa balik menatap Ken sambil memiringkan kepalanya. “Maaf, Cess, gue nggak bisa. Gue ada pekerjaan selama dua minggu, dan gue berangkat besok.” Cessa kembali tersenyum. Memang, Cessa adalah perempuan yang paling bisa mengerti Ken dalam keadaan apapun. “Do you wanna grab some ice cream?” “Ayo! Gue kan masih ada hutang es krim sama lo. Yuk!” Cessa menarik tangan Ken menuju halte yang tidak jauh dari tempat mereka berada sekarang, namun dengan cepat Ken melepaskannya dan berbalik sambil menarik tangan Cessa, “Gue bawa mobil.” *** Setelah mendapatkan es krim masing-masing, mereka langsung duduk di kursi yang dekat dengan pintu keluar. Hal tersebut karena sudah tidak ada kursi kosong yang tersedia lagi. Ken mengeluarkan ponsel dari sakunya. Ia membuka kameranya dan mengambil foto candid Cessa yang sedang menyuapkan cotton candy ke mulutnya. Setelah Ken merasa puas dengan fotonya, ia bagikan di Snapchat. Sebagai social media star, hal kecil seperti makan es krim saja merupakan hal yang penting untuk dibagikan ke semua followers-nya. “Jejaring sosial itu penting banget di hidup lo ya, Ken? Sampai gue selalu jadi objeknya.” Kata Cessa. Tidak, ia tidak marah. Ia hanya ingin tahu. Pertanyaan yang selalu ia ajukan setiap kali Ken memainkan ponselnya. “Selfie, yuk. Mau gue upload di instagram.” Tanpa menjawab, Cessa mendekatkan dirinya yang sedang memegang es krim ke Ken dan mereka pun tersenyum ke arah kamera. Dengan angle yang tepat, hanya dengan sekali jepretan Ken sudah mendapatkan foto yang bagus dan segera diunggahnya di i********:. ‘Ice cream date with my bestie♥’ tulis Ken sebagai caption-nya. “Apa lo terganggu dengan gue yang selalu asik dengan social media, Cess?” tanya Ken hati-hati. “Tentu tidak, Ken. Selama hal itu memberi lo kebahagiaan, nggak ada masalahnya dengan gue.” Cessa lalu menyuapkan sesendok es krim ke dalam mulutnya. “Kenapa tiba-tiba lo bertanya begitu?” “Gue hanya takut lo merasa terganggu, Cess. Yang gue tahu selama ini kan lo sangat menjauhi apa yang setiap hari gue akses, apa yang setiap ha—“ “Lucu. Apa selama ini gue menjauhi diri lo? Nggak, kan. Seharusnya lo nggak perlu menanyakan hal itu ke gue, karena lo sudah tahu jawabannya.” Ken tidak mau melanjutkan perdebatannya dengan Cessa, karena ia tahu pada akhirnya ia akan kalah. Untuk saat ini Ken bisa bernapas lega, tapi tidak tahu dengan besok, lusa, dan hari selanjutnya. Kini Ken dihadapkan oleh dua pilihan, mencari waktu yang tepat dan menjelaskan semua ke Cessa, atau tetap bungkam dan membiarkan Cessa tidak mengetahui segalanya. “Mau gue antar ke bandara besok?” “Nggak usah, gue dijemput sama orang kantor kok. Lo istirahat saja, kalau gue sudah sampai Houston pasti akan gue kabari.” Ken lalu menyelesaikan memakan es krimnya. “Sudah beres? Sepertinya jalanan sudah nggak macet lagi.” *** Sepanjang perjalanan pulang setelah mengantar Cessa kembali ke apartment nya, Ken kembali memikirkan hal tersebut. Ken ingin Cessa mengetahui semua tentangnya, tapi ia begitu takut Cessa akan meninggalkannya. Meskipun sudah banyak orang yang mengatakan kepadanya kalau Cessa tidak akan meninggalkannya, namun ia masih tidak yakin akan perkataan itu. “Tas lo udah siap.” Kenzo langsung berbicara seperti itu saat melihat Ken datang. “Thanks,” Ken merebahkan tubuhnya di kasur, bersebelahan dengan Kenzo yang sedang asik bermain game di laptopnya. “Paspor dan tiket gue ada di lo, kan?” “Iya,” Kenzo mem-pause game nya. “Lo kenapa? Biasanya semangat kalau mau tour?” Ken memutar badannya membelakangi Kenzo. Ken tidak mau menjawabnya karena malas, dan ia merasa sudah cukup sore ini berpikir tentang kenapa ia tak bersemangat. “Siapa lagi yang mampu membuat seorang Kendeka Allen uring-uringan selain seorang Cessa Roberts.” kata Kenzo meledek sambil melanjutkan permainannya. “Shut up, Kenzo Allen.” Jawab Ken sambil melempar bantal pada kembarannya itu. Ken kembali berpikir akibat omongan Kenzo barusan. Sekarang ia mulai memikirkan efek yang ia dapat apabila terus menyembunyikan hal ini, bisa jadi lebih buruk dari yang selama ini ia bayangkan. Ditambah lagi Cessa sudah mengatakan bukan masalah apabila ia selalu memainkan jejaring sosialnya. Pandangannya menerawang, seluruh kemungkinan yang akan terjadi sudah memenuhi pikiran Ken. “Kenzo, gimana kalau gue keluar dari WARM?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD