Trip To The Antah-Berantah II

1338 Words
Pak Ahmad sepertinya tidak melihat ada penyusup yang masuk ke dalam klub binaannya. Saat sopir bus masuk, Pak Ahmad langsung turun dan berdiri di samping Pak Togar untuk melihat bus keluar dari gerbang sekolah. Dan memastikan seluruh anak didik mereka baik-baik saja. Ibu Riska duduk di depan. Andre berjalan ke belakang untuk mencari gerombolannya. Saat melewati kursi Teraza, dia sengaja menengok untuk sekedar menatap Teraza dengan sinis. Namun gagal. Dia malah terbelalak melihat sosok yang ada di samping Teraza. "Kaliya... Lo ada di sini?" pekik Andre. Kaliya nyengir dan mengangguk. "Suka sejarah juga? Kok gue nggak tahu kalau lo udah masuk klub ini. Gue kan ketuanya." terlihat sekali Andre sedang mencari perhatian di depan Kaliya. Teraza hanya diam dan seolah tak melihat ada Andre disampingnya. "Nanti gue hubungin lo kalau kita udah pulang dari Cirebon." ucap kaliya ragu. Andre tersenyum. "Kalau gitu sekarang lo duduk sama gue aja," ajak Andre membuat Teraza refleks menengok dan menatap kupret itu dengan sangat sinis. Kaliya menggeleng. Tak ingin memicu pertengkaran. Meski sedikit berniat untuk duduk dengan Andre. "Gue butuh data lo," desak Andre. Teraza langsung berdiri dan langsung mencengkeram baju Andre. Tirta ikut bangkit untuk melerai. Kaliya jadi ikut panik. "Lo cari tempat duduk lo sekarang. Atau bonyok lo!" ancam Teraza. "Za, udah deh. Lo nggak usah sok jagoan," bisik Kaliya kesal. "Andreee. Ada apa? Cepat duduk. Bus akan berangkat," tegur Ibu Riska yang tidak mengetahui keadaan yang sebenarnya. Andre mendengus kesal. Dia mencoba menepis tangan Teraza dan Tirta dengan kuat. Intan dan teman-teman cewek yang lain merasa tambah kesal akan reaksi teraza yang berlebihan dalam membela Kaliya. Kaliya menarik Teraza untuk duduk dan Andre berlalu untuk mencari tempat duduknya. "Za... gue kan bukan anak kecil. Lagian dia nggak ngapa-ngapain gue," omel Kaliya. Reraza masih diam. Mencoba mengatur ritme nafasnya. Tak lama kemudian sopir menginjak pedal gas. Bus pun perlahan meninggalkan pelataran parkir sekolah. Kaliya membuang pandangannya keluar dan manyun semanyun- manyunnya. (*) Kaliya mengerjapkan mata. Perlahan matanya terbuka dan kaget menyadari dirinya yang tertidur di bahu Teraza. Dia mengangkat kepalanya perlahan dan menatap keluar jendela sekaligus mencoba untuk mengusir kantuknya. Di luar jendela terlihat hamparan sawah yang padinya mulai menguning. Pemandangan yang sangat luar biasa. Kaliya dari kecil hingga sekarang menetap di Jakarta dan tak pernah mengetahui daerah lain. Terlebih dia hanya sesekali pergi ke luar kota. Itu pun ketika dia masih SMP sekolahnya mengadakan study tour ke Yogyakarta. Tentunya, Kaliya sudah lupa bagaimana keindahan kota selain Jakarta. Apalagi saat itu perjalanan malam berbeda dengan sekarang. Cewek bermanik coklat itu pun mulai menerawang. Mengingat kejadian kemarin yang mana kedua sahabatnya merengek ingin ikut. "Kal, lo tega ninggalin kita?" rengek Gensi setelah Kaliya selesai menyampaikan bahwa dia akan pergi bersama Teraza. Tiny ikut cemberut. Kaliya menghela napas panjang. "Gue juga nggak mau pergi. Sumpah! Cuma Mami maksa gue buat nemenin Teraza," jelas Kaliya dengan frustasi. "Kalau gitu, ajak kita aja, Kal. Kata Mama gue, kalau sahabat itu harus selalu bersama," usul Tiny. Kaliya menggigit bibir bawahnya. Pertanda dia sangat bingung. "Gini deh. Gue pergi cuma tiga hari. Itu pun hari ketiganya adalah perjalanan pulang ke sini. Jadi, kalian yang sabar, ya. Gue nggak lama kok." "Tapi, gue takut sama the geng of abal-bal itu."Tiny mulai berkaca-kaca. Gensi ikut mengangguk-angguk. Kaliya semakin bingung. "Angel itu nggak berani sama Gensi . Jadi, lo harus selalu bareng Gensi, Tin. Oke?" Gensi menatap Kaliya "Angel nggak berani sama gue?" tanya Gensi heran. Kaliya mengangguk mantap. "Inget-inget deh. Di antara kita bertiga, yang sering dijahilin Angel kan Tiny. Itu karena bokap lu tentara. Dan Angel nggak berani sama lo. Jadi, Gen, selama gue pergi lo yang harus jagain Tiny," jelas Kaliya. Gensi mengangguk-angguk. Suasana kantin belakang yang biasa menjadi tongkrongan anak IPA mulai legang. Sekitar tiga puluh menit lagi bel tanda masuk akan berdering lantang. Tiny buru-buru menghabiskan siomaynya. Tiba-tiba Angel datang beserta gengnya dan mengambil piring siomay Tiny.Tiny kaget setengah mati. "Balikin!" teriak Kaliya. Angel tersenyum puas. Dia kini sudah tahu bahwa Kaliya tidak akan pernah berani menonjok di area sekolah. Itu dianggap sebagai kelemahan Kakiya oleh Angel. "Lo masih laper, Tin?" ledek meva. Gensi menjadi sangat emosi. "Balikin piringnya atau abis lo!" ancam Gensi. Kaliya menghela napas panjang dan bangkit. Kemudian menarik Tiny dan Gensi. "Yuk, balik ke kelas," ucap Kaliya tegas. Gensi dan Tiny menurut dan berjalan beriringan bersama Kaliya untuk meninggalkan Angel. "Penakut lo!" teriak Angel. Dan tentu saja ditunjukan kepada Kaliya. Kaliya menghentikan langkahnya. "Kalian berdua masuk kelas duluan, ya. Biar gue beliin minuman buat Tiny," ucap Kaliya sembari tersenyum dan membalik badan. Gensi dan Tiny menggangguk. Kemudian kembali ke kelas. Bel sekolah berdering lantang. Kaliya tetap berjalan lurus menuju Angel. "Kalau sampai gue denger lo ngerjain Tiny lagi, gue nggak akan pernah segan untuk bikin hidung mancung lo bengkok! Ngerti lo?!" Mendengar kata-kata tajam Kaliya, Angel sedikit gemetar. Meski dia belum sepenuhnya percaya bahwa Kaliya akan berani melakukannya. Kaliya meninggalkan Angel dan gengnya yang masih mencoba mencerna kata-kata Kaliya. "Kal... lo kenapa?" Kaliya tersentak dari lamunannya. Dia jadi semakin rindu kepada Gensi dan Tiny. "Lu udah bangun, Za?" "Udah dari tadi. Dan gue lihat lo lagi asyik lihatin pemandangan. Jadi, gue nggak mau ganggu." "Sebenernya sih lagi inget Gensi sama Tiny." "SMS dong...' "Nanti aja kalau udah sampe Cirebon." Kaliya sedikit sendu. Tidak seperti Kaliya biasanya. Teraza merasa ada yang aneh. "Ada lagi?" tanya Teraza. "Gue khawatir Angel ngerjain Tiny lagi." "Tenang. Kalau Angel berani kayak gitu lagi, biar gue yang negur Angel," hibur Teraza. Kaliya terawa. "Kal, sorry ya soal Andre tadi." "Nggak apa-apa." Teraza dan Kaliya kembali terdiam. Sedangkan deru mobil semakin terdengar keras membelah jalanan yang tidak samacet Jakarta. (*) "Jagoan kalian nggak berangkat?" teriak Angel. Gensibdan Tiny hanya diam dan melanjutkan menulis penjelasan yang ada di papan tulis. BRAK! Angel menggebrak meja. Meva dan Ratih Mengambil buku Gensi dan Tiny dengan paksa. Sedangkan Deni mengambil posisi duduk di meja. Seluruh teman sekelas Gensi dan Tiny yang belum keluar untuk istirahat mulai merasa risi. "Balikin buku gue!" bentak Gensi "Uuuh... takuuut," ucap Meva, Ratih, Dan Deni berbarengan. "Mana Kaliya?" "Aduh,Angel. Lo jangan cari ribut di sini deh. Kaliya lagi pergi sama kkub sejarah anak IPS. Dia nggak ada disini. Sekarang lo mending pergi deh!" timpal Tiara sang ketua kelas. "Iya," sahut Sapto. Black Angel menjadi sangat kesal terlebih Angel mengingat ternyata gosip yang beredar tentang Kaliya dan Teraza adalah benar. Angel merebut buku milik Gensi dan Tiny dari tangan Meva. Lalu, dia mulai menyobeknya. Hal itu membuat mata Gensi dan Tiny membelalak sempurna. "Apa-apaan lo?!" Gensi berdiri dan mendorong Angel dengan Garang. Angel menghamburkan sobekan buku milik Gensi dan Tiny. Kemudian berlalu begitu saja. Mata Tiny berkaca-kaca. Begitu juga dengan Gensi mereka sangat kesal pada Angel. "Awas lo! Ceeek sialan!" teriak Gensi dengan gemetar. (*) Setelah perjalanan yang cukup melelahkan, bus yang membawa Teraza dan Kaliya menuju Kota Cirebon akhirnya merapat di parkiran sebuah bangunan berbentuk keraton. Setelah mesin bus benar-benar berhenti, Bu Riska memberikan instruksi kepada anak didiknya untuk segera turun. Kaliya yang kelelahan dan tertidur dibangunkan dengan lembut oleh Teraza. "Kal, udah sampai nih. Bangun." Teraza mengusap kepala Kaliya yang bersandar di bahunya. "Hmmm, sampe ya, Za?" Kaliya mengerang dan membuka matanya malas. "Iya. Ayo, turun" Teraza menggamit lengan Kaliya yang masih mengantuk untuk ikut turun bersama rombongan yang lain. Setelah turun dan benar-benar sadar dari rasa kantuknya, Kaliya membelalakan mata di samping Teraza. Sebuah bangunan berarsitektur kuno berdiri kokoh di hadapan Kaliya. "Kita di mana, Za?" Kaliya berbisik pada Teraza yang tengah serius mendengarkan instruksi Bu Riska dan seorang guru lain bernama Pak Ilham, pembina klub sejarah yang akan mendampingi mereka. "Kasepuhan," jawab Teraza singkat tanpa melepaskan pandangannya dari Bu Riska dan Pak Ilham. "Hah? Apaan, Za? Kesepuhan?" Kaliya bertanya agak keras yang langsung disikut Teraza . "Ssst, diem dulu, Kal." Kaliya yang merasa tidak puas karena pertanyaannya tidak terjawab dan Teraza yang tidak menghiraukan akhirnya diam dan kembali menatap dengan takjub bangunan yang ada di hadapan. Karena bosan dan tak terlalu menikmati ceramah panjang Pak Ilham mengenai sejarah Keraton kesepuhan, Kaliya berjalan sendirian menuju gerbang yang menjulang tinggi dan menandakan kemegahan Keraton itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD