Trip to the Antah-Berantah

1263 Words
To: Alien Kal, lusa ikut gue ya From: Alien Ke mana? To: Alien Cirebon From: Alien Nyalon? Shopping? Kejauhan To: Alien Acara club sejarah. From: Alien WHAT? Ogah! To: Alien Ayo laaaah From : Alien Bagaimana caranya sebuah tali dapat menghasilkan gelombang suara supersoni? Teraza mengerutkan dahi. Pertanyaan yang dilontarkan Kaliya bukan tentang pada tahun berapa kerajaan Mataram runtuh. Tirta tersenyum dan menyenggol Teraza. "SMS-an sama siapa?" "Kaliya..." "Cie... makin lengket. Jadi bener tuh cewek ngalahin lo pas di latihan taekwondo?" "Bener, Ta. Bahkan dia jadi pelatih gue." Teraza terkekeh. Tirta tertawa. Teraza menjawab pesan Kaliya. To: Alien Maksud lo? From: Alien Gue lagi ulangan, Dodol. Sejak kapan saat ulangan diperbolehan SMS-an, pikir Teraza. Dia akhirnya tertawa menyadari Kaliya yang semakin aneh. "Lo kenapa, man? Ketawa sendiri," tanya Tirta. Teraza menyerahkan handphone-nya pada Tirta dan meminta sahabatnya itu untuk membaca pesan dari Kaliya. Tentang gelombang dan tentang fakta bahwa dia sedang ulangan. Tirta ikut tertawa. Bahkan lebih kencang. "Dia aneh, bro," ucap Teraza "Aneh atau menarik?" tanya Tirta. Teraza tersentak. Ya, sebenarnya Kaliya itu aneh atau menarik? Pertanyaan Tirta terus bergaung di pikiran Teraza. Tapi Teraza masih menyimpan satu hal. Cinta yang belum sempat mekar. Dan belum bisa tergantikan oleh siapa pun. Meski oleh Kaliya. "Dia temen yang baik, Ta. Gue nggak ada apa-apa sama dia." "Ada apa-apa juga nggak masalah." Tirta tersenyum kemudian bangkit dan meninggalkan Teraza. (*) "Kal, gimana reverse book kick gue tadi?" Teraza bertanya dan duduk di samping Kaliya yang sedang menenggak habis minuman botolnya. "Hmmm, lumayan. Cuma kayaknya gerakan putar lo kurang tenaga. Jadi kurang kuat pas lo nendang," Kaliya menjawab pertanyaan Teraza setelah berhasil menghabiskan minuman. "Oh, gitu. Gue privat sama lo aja ya, Kal?" Teraza bersandar dan meluruskan kakinya yang kelelahan sehabis latihan. "Hah? Privat? Berani bayar berapa lo, Za?" Kaliya melakukan hal yang sama dengan Teraza. "Makan sepuasnya!" Teraza mencoba memberikan tawaran. "Oke, nanti gue pertimbangkan deh." Kaliya terkekeh geli membayangkan akan melatih Teraza secara privat. "Oh, ya. Gimana soal Cirebon? Lo mau kan ikut nemenin gue? "Mmm, nggak deh, Za. Gue kan anak IPA. Dan gue pasti asing nanti di sana." "Ayolah, Kal! Gue janji deh nggak bakalan bikin lo boring. Ikut, ya?" Teraza bersikeras membujuk Kaliya untuk ikut dengannya ke Cirebon. "Kal, lo balik sama siapa? Bareng gue, yuk?" Belum sempat Kaliya menjawab pertanyaan Teraza tiba-tiba Bang Indra sudah muncul dan bertanya pada Kaliya. "Eh, Bang. Wah, sorry banget. Gue balik sama Teraza nanti." Kaliya menoleh pada Teraza yang memandang Bang Indra. Mendengar jawaban Kaliya, wajah Bang Indra terlihat begitu kecewa. "Oh, ya udah. Lain kali mungkin. Duluan ya, Kal, Za." Bang Indra mencoba menyembunyikan wajah kecewanya lalu segera beranjak pulang. "Lo udah kenal lama sama Bang Indra, Kal?" Entah apa yang membuat Teraza tiba-tiba memiliki keingintahuan yang besar tentang seberapa dekat hubungan Kaliya dengan Bang Indra. Kaliya hanya mengangguk tanpa menghiraukan wajah kecewa Teraza yang keingintahuannya tidak terjawab. (*) "Mi, handuk aku yang pink mana?" Kaliya berteriak memanggil Mami. Setelah bujukan Teraza yang melibatkan Mami, akhirnya Kaliya siap berangkat ke Cirebon. Mami sangat senang begitu mendengar Teraza mengajak Kaliya berlibur atau lebih tepatnya study tour bersama. Kaliya yang merasa kalah suara akhirnya memenuhi keinginan Teraza menemaninya ke sana. "Ini baru si Mbok cuci." Mami datang sambil membawa handuk pink Kaliya dengan sekantung penuh barang lain di tangannya. "Apa tuh, Mi?" Kaliya menunjuk plastik yang ditenteng Mami. "Ini makanan buat kamu sama Teraza selama perjalanan. Di sini juga ada obat-obatan, obat nyamuk, sabun, sampo, dan lain sebagainya. Kamu harus bawa." Mami mengeluarkan isi plastik besar yang sangat banyak. "Mamiii, aku cuma tiga hari ke Cirebon. Bukan mau sebulan atau setahun. Lagian kan bisa beli di sana. Repot, Mi." Kaliya merajuk melihat semua barang yang disiapkan Mami. "Kaliya, kamu itu baru pertama kali jauh dari Mami. Nanti kalau ada apa-apa gimana? Walaupun ada Teraza, tetap saja kamu harus bawa ini semua buat jaga-jaga." Mami bersikeras sambil memasukkan semua itu ke dalam ransel pink Kaliya. "Ya udah deh. Terserah Mami aja." Kaliya akhirnya pasrah melihat satu ransel dan kopernya penuh dengan barang yang harus dibawa sesuai perintah Mami. (*) "Kal, lo mau pindahan?" Teraza tertawa ketika sampai untuk menjemput Kaliya dan melihat barang bawaan Kaliya. "Ah, udah diem! Mami nih kerjaannya." Kaliya menyikut perut Teraza yang masih berusaha menahan tawa. "Teraza, jagain Kaliya, ya. Kaliya itu nggak pernah pergi jauh-jauh tanpa Mami. Nanti kalau ada apa-apa, kamu juga jangan segan menelepon Tante jam berapa pun. Biar nanti Tante susul." Teraza menyalami Mami yang setelah itu langsung mengeluarkan semua jurus wejangannya. "Iya, Tante. Serahin sama saya. Kaliya pasti aman tentram kok." Teraza mengedipkan mata pada Kaliya yang masih merengut membayangkan harus membawa semua barang yang disuruh Mami. "Kalian naik apa ke sekolah?" "Diantar mobil, Tante. Itu ada sopirnya Papa," Teraza menjawab sambil mengangkat barang bawaan Kaliya dan memasukkannya ke dalam bagasi. "Pamit ya, Mi." Kaliya menyalami Mami yang langsung memeluk erat Kaliya. Seakan-akan putrinya itu akan pergi sangat lama. "Hati-hati ya, Sayang. Kalau ada apa-apa, langsung kabarin Mami." Kaliya menyalami Mami lalu menyusul Teraza yang telah terlebih dulu masuk ke dalam mobil. (*) "Oh, itu yang namanya Kaliya." Intan yang begitu mengidolakan Teraza menatap sinis Kaliya yang baru saja turun dari mobil bersama Teraza. "Cantik, ya?" Tirta menyahuti Intan tanpa memperdulikan Intan yang berubah semakin kesal mendengar perkataannya. Setelah berkenalan, Kaliya yang mudah bergaul dan supel sudah dapat berbaur dengan teman-teman cowok Teraza dalam klub sejarah. Kedatangan Kaliya dalam klub sejarah itu. Berbeda dengan para cewek yang merasa tersaingi dengan kedatangan Kaliya. Apalagi Kaliya terlihat dekat dengan Teraza. Kaliya berhasil menarik perhatian seluruh teman Teraza. "Kal, gimana ceritanya lo bisa ngalahin Si Tengik itu?" canda Dion sembari melirik Teraza. Kaliya tertawa mendengar nada keanehan dalam kata-kata cowok kurus dan wajah khas keturunan Arab yang kental itu. "Sebenarnya bukan karena gue hebat. Cuma Teraza langsung terpesona lihat kecantikan gue. Itulah yang bikin dia nggak konsen saat gue tendang," jawab Kaliya asal. Teraza refleks menoyor kepala Kaliya dan disambut iringan tawa oleh seluruh teman cowok Teraza. Berbeda dengan jajaran cewek yang sangat mengharapkan Teraza. "Nggak cantik-cantik amat," desis Intan. Kaliya sedikit mendengar desisan Intan di tengah tawa yang lain. "Kalian jadian?" tanya Tirta. "Nggak!" Kaliya dan Teraza menjawab spontan secara bersamaan. Tirta tertawa kencang. "Ya udah, Kal. Lo mending jadi cewek gue aja deh!" sahut Andi dari kejauhan. "Boleh... tapi lo harus bisa ngalahin gue dulu," tantang Kaliya sembari menahan tawanya. "Jangan salah. Bokap gue itu jago silat. Gue bisa berguru sama dia biar bisa ngalahin lo." "Alaaah, lihat preman terminal aja lari lo!" timpal cowok berambut gimbal yang baru selesai merapikan barangnya. Andi menonjok temannya itu pelan. Semua sangat terhibur dengan adanya Kaliya. Meski Kaliya mulai merasa tak enak hati kepada para cewek yang terlihat sangat membencinya. Hampir seluruh siswa dan siswi yang tergabung dalam klub sejarah sudah naik ke dalam bus dan merapikan barangnya masing-masing. Yang terakhir masuk ke dalam bus adalah Andre dan Pak Ahmad. "Lima menit lagi, bus kalian akan berangkat menuju Cirebon. Tugas yang sudah kalian kerjakan di sana sudah dipegang oleh Andre," ucap Pak Ahmad dengan lantang. Sejurus kemudian, perhatian siswa dan siswi langsung tertuju pada Pak Ahmad dan Andre. Andre tersenyum buat mendengar Pak Ahmad menyebut namanya. "Bapak tidak ikut serta bersama kami?" tanya Tirta. Pak Ahmad tersenyum. "Di sana, kalian juga akan bertemu dengan pembina klub sejarah. Bapak sudah menitipkan kalian kepada beliau." "Yah, masa nggak ada guru pendamping sama sekali, Pak?" keluh Intan. "Lho... Bapak kan tidak berbicara seperti itu. Kalian jelas akan didampingi oleh Ibu Riska. Hanya saja Bapak tidak dapat ikut serta," jelas Pak Ahmad dengan tenang Dan disambut senyum sumringah oleh para siswa dan siswi nya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD