Tereza tidak bercanda dengan kata-katanya dia memang datang ke rumah Kaliya untuk mengajaknya nonton. Mami mengajak Teraza berbincang Sementara menunggu Kaliya berdandan.
"Kemarin Tante nggak bisa ikut sama kalian. Pasti seru. Makan di mana?"
"Lain kali Tante harus ikut." Teraza tersenyum lebar. Dia seperti menemukan sosok Bunda dalam diri Mami Kaliya Meski Bunda tak semodis dan tak secerewet Mami.
"Pasti direstoran atau di cafe gitu, ya?"
"Salah Tan. Kita makan di foodcount. Itu kan tempat favorit saya dan Kaliya, Tan."
"Tante juga dulu senang ke foodcount. Tapi, sekarang sangat sibuk," mami berbohong. Mencoba menyembunyikan kesenduan masa lalu. Teraza mengangguk-angguk." Itu sebabnya nama Kaliya diambil dari salah satu nama counter favorit Tante, bukan?"
Mami terperanjat. "Kok kamu tahu?"
"Saya bahkan yang membuat Kaliya sadar bahwa namanya diambil dari nama itu. Nama yang indah, Tan." Mendengar pujian Teraza, mata Mami langsung berkaca-kaca. Kaliya sudah rapi dan kini sudah berdiri dihadapan Mami dan Teraza.
"Ayo berangkat! Keburu gue berubah pikiran!"
Teraza bangkit dan menyalami Mami. Mami mencoba untuk tersenyum. Meski Teraza menyadari perubahan wajah Mami.
"Mari, Tante. Putrinya saya culik dulu."
"Nggak usah dibalikin juga nggak apa-apa, Za," canda Mami. Teraza tertawa. Tapi, Kaliya justru semakin cemberut.
"Gue mau nonton film horor, Za."
"Horor luar negeri?"
"Ih horor Indonesia. Kan lagi ada film seru tuh. Film Pocong Kesetanan."
"Kaliyaaa...nonton yang mutu dong," bantah Teraza.
"Ya udah, kita pisah di sini lo nonton pilihan lo. Gie nontin film Pocong Kesetanan."
"Fine... lo tunggu di sini. Gue yang beli tiket."
Kaliya tersenyum puas. Dia akan melampiaskan kekesalannya di dalam bioskop nanti. Beberapa menit kemudian Teraza kembali sembari membawa dua tiket nonton.
"Masih setengah jam lagi. Ke foodcourt dulu yuk," ajak Teraza. Kaliya mengangguk dan mengikuti langkah Teraza. Pakaian Kaliya malam ini cukup santai. Terusan pink dengan motif polkadot yang berwarna ungu lembut. Begitu pun dengan teraza. Wajah tampan dan tubuh atletisnya semakin mempesona dengan dibalut polo shirt berwarna putih dan jeans yang sedikit ketat di bagian lutut. Hampir seluruh mata yang mereka
lewati menatap iri atas keserasian mereka.
"Minum aja atau mau makan?"tanya Teraza saat mereka sudah duduk.
"Minum aja deh. Gue kalau makan lama."
"Iyalah lama. Lo kan kalau makan, nggak kenyang-kenyang. Rakus!"
"Biarin! Gusme mau jus aja. Jus melon."
"Gue pesen dulu, ya," ucap Teraza kemudian bangkit untuk memesan jus. Teraza kembali dengan membawa nomor pesanan.
"Jadi, Tiny ketemu di mana?"
"Di gudang kelas sepuluh. Si Angel sama gengnya yang ngumpetin.
"Angel?"
"Iya."
"Setahu gue, dia manis anaknya," bela Teraza. Mendengar kata-kata itu, Kaliya kembali manyun.
"Manis kalau di depan lo. Mungkin dianya suka sama lo." Teraza tertawa dan mengacak rambut Kaliya.
"Terusin ceritanya."
"Iya... dia emang nggak pernah bisa bikin hidup gue tenang. Dia nggak bisa ngerjain gue, jadi, Tiny yang kena kasihan Tiny.
Bahkan pas istirahat gue nemuin dia. Dia udah dalam keadaan lemes gitu. Badan dia kan gemuk dan diumpetin di gudang yang pengap. Angel sialan!"
"Lo tonjok si Angel?"
"Plis deh, Za. Gue nggak mungkin selabil itu ngebonyokin anak orang. Bukan gaya gue." Pesanan pun datang. Kaliya menyeruput dengan cepat jus melonnya.
"Besok gue coba ngomong deh sama Angel."
"Jangan!"
"Kenapa?"
"Nggak mau."
"Oke... lima belas menit lagi nih, Kal."
"Ya udah, jus lo gue abisin." Kaliya menyambar jus stroberi milik Teraza. Teraza hanya menggeleng-gelengkan kepala sembari tersenyum dan langsung mengajak rambut lembut Kaliya.
Ruangan Bioskop terasa semakin gelap begitu dimulainya adegan Azis Gagap tersesat di kuburan saat pulang sehabis berjualan sate. Keringat dingin mengucur di seluruh badan Teraza. Dia memang tidak sedikitpun menyukai film horor lain halnya dengan Kaliya yang sangat cuek dan sangat menikmati. Teraza mengabaikan pop cron-nya dan memejamkan mata di samping Kaliya. Backsound yang mendebarkan mulai terdengar. Mengerikan.
"Za,lo kenapa sih?" Kaliya terheran-heran melihat Teraza yang terdiam dan memejamkan mata.
"Ngeri gue."
"Ah! Lo kayak balita aja."
Tiba-tiba muncul pocong di belakang Azis dan mengagetkan seluruh penonton.
"Aaaaa!!!" Kaliya berteriak di telinga Teraza dengan sangat kencang. Teraza semakin gemetaran.
"Aaaaa!!!" Kaliya berteriak lagi. Dan hanya dia sendiri yang berteriak. Sedikit merasakan keanehan. Teraza membuka matanya. Dan mencoba Mengikuti alur filmnya.
Azis Gagap masih terlihat ngos-ngosan karena bertemu dengan pocong. Dia berlari sedikit lambat dan melupakan gerobak satenya. Tiba-tiba di hadapannya, muncul pocong kembali.
"Aaaaa!!!" Padahal menurut Teraza, itu tidak mengagetkan sama sekali. Tapi kenapa Kaliya berteriak. Aneh dan memalukan.
"Kal, lo jangan teriak-teriak nggak jelas dong."
"Jelas tahu. Kan gue takut."
"Malu. Dilihatin semua penonton.
"Mending lo ikut teriak. Rasanya plong!" Kaliya tak perdulikan perkataan Teraza. Teraza menggeleng gelengkan kepala. Dasar aneh.
(*)
TIRTA MENDAPATKAN berita yang sangat menarik dari Pak Ahmad pembina Club sejarah yang ada di sekolah. Seluruh anggota club sejarah akan diberangkatkan ke Cirebon setelah beberapa bulan yang lalu ke Yogjakarta.
"Lo ikut kan, Za?" tanya Tirta. Teraza mengangguk. Kelas menjadi gaduh. Dan raut wajah kecewa terlihat dari beberapa siswa yang tidak bergabung dalam club itu. Teraza teringat seseorang. Kaliya. Ya. Kaliya harus ikut menemaninya ke Cerebon. Itu pasti akan tambah menyenangkan. Apalagi si pengacau yang aneh itu memiliki banyak hal lucu dalam dirinya. Teraza mengeluarkan handphone untuk mengirim SMS kepada Kaliya.