Kaliya hanya bisa pasrah saat Garen mengantarnya pulang, mau tak mau ia memberitahu alamatnya toh mengulur waktu pun tidak akan merubah keadaan. Nyatanya Garen tetap bersikeras ingin mengantarnya pulang. Selama perjalanan Kaliya hanya diam membisu.
Garen melayangkan pandangan ke segala arah, kamar itu terlalu mewah untuk seorang pegawai karaoke. Meskipun ia mendapat penghargaan karyawan terbaik setiap bulannya tetap tidak bisa membayar bulanan kamar itu.
"Kamar kamu terlalu mewah untuk seorang pelayan di tempat karaoke keluarga," komentar Garen seraya duduk di sofa. Pandangannya masih tertuju pada segala benda yang ada di kamar itu.
Ruangan full AC dengan fasilitas kamar mandi di dalam, tempat tidur dengan matras tebal meski bukan ukuran jumbo, serta meja rias dan televisi layar datar berukuran 42 inchi. Pastinya kamar itu memiliki biaya sewa yang mahal bahkan sekalipun tiap malam ia mendapatkan uang tips dari tamu belum tentu bisa membayar kamar itu.
"Apa kamu dari keluarga kaya?"
Dengan nada menyentak Kaliya menjawab, "Bahkan gue gak sempat melihat wajah orang tua gue!"
"Kamu yatim piatu?"
"Terus kalau gue yatim piatu apa lo mau ngadopsi gue?"
"Aku sudah bilang mau menikahi kamu."
"Heuh!" desis Kaliya sinis. "Gue gak bakal nikah kalau bukan sama Yudha."
"Apa sih hebatnya dia?"
"Dia ganteng, maskulin, dan misterius."
"Dia gak akan mau sama cewek yang sudah gak perawan lagi."
"Gue gak peduli!"
"Oh iya ya, kamu 'kan sudah mengantongi lima puluh juta. Pastinya bisa mengembalikan keperawananmu!"
"Pinter!" cetus Kaliya mengejek sindiran Garen. "Pulang sana, gue mau tidur!"
"Aku nginep di sini!"
"Wah, Komar yang pecah kepala kenapa lo yang gegar otak? Lo mau kita di gerebek yang punya kosan?!"
"Gapapa supaya dinikahkan."
"Dasar gila! Pulang sana, Mama lo pasti nangis-nangis nyariin lo!"
"Bahkan aku gak tau gimana rupa ibuku."
"Tega-teganya ya kamu menistakan ibu sendiri."
"Aku anak terlantar, ibuku meninggal saat aku masih dalam kandungan sebab itu aku kurus karena dipaksa lahir."
"I don't care!"
"Gapapa, aku sudah biasa diabaikan." Garen tersenyum miris.
Melihat reaksinya itu timbul rasa kasihan dalam hatinya. "Ya-ya sudahlah! Bersihkan badan sana di kamar mandi."
Garen tersenyum. "Makasih … ternyata kamu baik juga."
"Satu malam sejuta, tunai!"
"Bebas pake?"
"Tidur di sofa!" jawab Kaliya cepat. "Kalau mau tidur di kasur biaya tambah lima ratus!"
"Hah! Yang benar saja, kalah sama biaya hotel."
"Mau gak?"
"Iya!" Garen mengeluarkan ponselnya lalu mengirim uang satu juta lima ratus ribu padanya.
"Oke!"
Garen menuju kamar mandi untuk membersihkan badan. Meski biaya menginap sebesar itu namun ia tak peduli, entah apa yang ada dalam kepalanya saat ini. Tak lama Kaliya mengetuk pintu dan memberikan handuk padanya. Garen menyambut handuk itu dengan tersenyum lebar. Aroma wangi khas parfum laundry. Ternyata Kaliya memang perfeksionis bahkan untuk handuk saja warnanya sampai putih bersih serta serat kainnya lembut. Tampak sekali bahwa gadis itu pembersih dan rapi. Garen keluar dengan handuk terbebat di pinggangnya.
"Memang kurus banget," gumam Kaliya melirik sekilas ke dadanya kemudian menyambar baju untuk Garen.
"Makasih!" jawabnya sambil membuka lipatan baju itu.
Kaliya memang menyukai pakaian oversize dari ukuran tubuhnya sehingga pas untuk tubuh Garen yang tidak terlalu kekar.
"Tidurlah di ranjang biar gue tidur di sofa."
Garen langsung memprotes, "Loh bukannya tidur bareng?"
"Lo gak liat tempat tidur gue sempit begitu?!"
"Jadi uang tadi cuma untuk sewa tempat tidur?"
"Memangnya lo berharap bisa menyewa apa? Tubuh gue? Sorry, gue bukan cewek penjaja kenikmatan."
"Oke," sahut Garen menuju sofa.
"Lo udah bayar buat tempat tidur!" Kaliya mengingatkan.
"Aku tidur di sofa aja," sahut Garen cuek.
"Ya sudah!" Kaliya melengos naik ke tempat tidur.
"Cih! Benar-benar gak punya perasaan!" dengus Garen kesal.
Kaliya tiba-tiba bertanya, "Apa lo gak dicariin?"
"Sama siapa?"
"Istri lo lah!"
"Yang mana?" Garen balik bertanya dengan santai.
Kaliya beranjak duduk memperhatikan badan sofa seolah bisa tembus pandang ke tubuh Garen yang sudah telungkup di sana. "Memangnya lo punya berapa istri?"
"Dua," jawabnya santai, "kamu yang ketiga."
"Hahaha! Yang benar saja, sok kecakepan banget lo. Siapa yang mau jadi istri ketiga?!"
"Mau sampai kapan kamu menolak? Sekali aku sudah menetapkan pilihan— kamu gak akan bisa lari."
"Sampai kapanpun gue gak mau jadi istri lo! Lagian kenapa sih lo ngebet banget pengen nikahin gue?"
"Karena aku suka sama kamu, itu aja."
"Bilang aja lo gak mau rugi perkara uang lima puluh juta itu."
"Aku tahu kamu nipu aku," sahut Garen santai. "Sebab itu aku bakal bikin perhitungan dengan menjadikanmu istriku."
Kaliya mendadak diam dan langsung merebahkan tubuhnya. Dalam hati ia bertanya, "Kok dia bisa tau?"
Garen seolah memahami apa yang ada dalam hati Kaliya. Dia berkata, "Aku bukan tipe orang yang bisa mabuk hanya dengan obat semacam itu. Bahkan kita tidak melakukan apapun malam itu, kau sengaja mencampur obat perangsang sekaligus obat tidur, bukan?"
Glek! Kaliya tak bisa lagi berkata-kata bahkan untuk mengumpat dalam hati.
"Ambillah uang itu, sebagai gantinya kamu harus bersedia menjadi istri ketiga."
"Oke, gue ngaku memang malam itu gak terjadi apa-apa. Gue bisa balikin duit lo!"
"Aku gak mau," jawabnya mantap.
"Kalau begitu gue bakal balikin ke istri lo."
"Silahkan. Aku bakal kasih alamatnya."
"Gak perlu, biar gue balikin ke elo aja."
"Ya sudah kembalikan saja sekarang."
Spontan Kaliya meringis mengingat uang itu sudah lenyap dari rekeningnya. Andai pun ada simpanan, jumlahnya tidak cukup untuk mengembalikan uang tersebut. Kaliya memberi alasan, "Rekening gue lagi diblokir setelah gue urus bakal langsung gue balikin."
"Aku bisa buka blokir rekening itu dalam waktu sekejap. Besok aku temani kamu ke Bank."
Kaliya tertawa kecut. "Ah, hahaha! Gak usah, gue bisa sendiri."
"Oh, oke!"
Kaliya terus meringis memutar otak, kalau saja dia jadi bertemu calon korbannya mungkin dia bisa mendapatkan kekurangannya. Karena tangannya terluka mau tak mau dia harus menunggu sampai tangannya sembuh. Hanya saja dia harus mencari akal untuk memberi alasan kepada pria pemaksa itu agar terdengar natural.
"Pikir Kaliya Pikir!" jerinya dalam hati, "kalau sampai uang itu gak bisa dikembalikan bisa habis gue! Lagian kok dia bisa tau, sih?! Dari awal seharusnya gue curiga kenapa dia dengan mudah ngasih uang itu tanpa banyak cingcong!"
"Kamu sudah tidur?" tanya Garen pelan.
"Heum," jawab Kaliya enggan tak enggan.
"Aku kasih kamu waktu berpikir dalam tiga hari. Dengar ya, aku bakal ngasih kamu apapun asal mau menerima tawaran itu."
"Mending gue balikin deh tuh duit."
Garen tertawa renyah. "Gak usah buru-buru berpikir aja dulu yang tenang."
Kaliya tidak lagi menjawab, dalam hatinya bersorak— setidaknya dia memiliki waktu tiga hari untuk mencari kekurangan uang tersebut.