Yudha bergegas menggendong Kaliya sementara Komar dipapah oleh salah satu pegawai wanita. Garen sempat menghentikan langkah Yudha, untuk merebut tubuh Kaliya namun Yudha mengabaikannya.
"Mereka harus dibawa ke rumah sakit, Pak!" seru Yudha terus melangkah menuruni anak tangga.
"Naik mobil saya aja," sahut Garen mengikuti langkah Yudha.
Kali ini Kaliya sedang tidak berakting, dia merasa perih yang sangat menyiksa. "Sakit banget," rengeknya.
"Sabar ya?!" ujar Yudha berharap bisa menenangkan Kaliya.
Garen langsung menggiring mereka menuju mobilnya. Sementara Ulfa berteriak histeris melihat keadaan sahabatnya itu.
"Kay, kok bisa kayak gini sih?!" Saking paniknya Ulfa sampai ikut masuk ke dalam mobil.
Jok mobil Garen terpercik darah Kaliya dan Komar. Keduanya tengah meringis kesakitan. Entah bawaan panik atau memang Yudha sangat mengkhawatirkan Kaliya, tanpa sadar tangannya terus memegang luka itu agar darahnya sedikit terhambat. Sambil menyetir Garen memperhatikan keduanya dengan raut masam.
Sesampainya di rumah sakit keduanya langsung mendapat pertolongan oleh tim medis.
"Apa dijahit? Gak, gak, gak! Gue gak mau!" seru Kaliya.
"Jangan membantah!" bentak Garen kesal.
"Saya berhak menolak tindakan medis karena saya pasien!"
"Dan saya wali kamu! Apa kamu mau luka itu membusuk, hah?!"
Kaliya tidak bisa membayangkan tangan mulusnya ternoda oleh bekas jahitan yang tidak akan pernah hilang dan pastinya akan menimbulkan keloid. Mana dia ada janji bertemu calon mangsa besok malam, terpaksa jadwalnya di-cancel sementara perban masih menempel di tangannya.
Yudha hanya bisa melihat Kaliya menjerit-jerit sewaktu di jahit. Padahal Kaliya bukan tipe orang yang takut jarum suntik berhubung Yudha terlihat begitu mengkhawatirkannya, peluang itu tak mau disia-siakan begitu saja. Namun apalah daya, sedari tadi Garen lah yang menempel padanya. Membuat Kaliya semakin menjerit frustasi, ingin rasanya menggigit tangan Garen kuat-kuat agar pria itu menjauh darinya.
Kaliya manatap dokter itu penuh dendam, karena terlalu lama menjahit lukanya. Sementara Komar sudah selesai dari tadi.
"Tolong kamu urus dia, biar saya yang urus Kaliya." Garen memberi titah kepada Yudha yang sedari tadi menatap datar ke arah Kaliya.
Dia hanya berjalan acuh tak acuh menjauhi ranjang Kaliya. Entah apa yang terbesit dalam hatinya. Seperti ingin memaki entah menuju pada siapa, Kaliya dan Garen mungkin saja keduanya tidak ia sukai.
"Kenapa gak anda saja yang mengurus Komar?"
"Biar kalian gak nempel-nempel kayak tikus terperangkap lem!"
"Maksud anda saya tikus gitu?"
"Bukan, justru kamu lemnya!" jawab Garen sambil melotot.
Kaliya tahu persis Garen sedang menyindir kelicikannya. Tentu saja Garen tahu jerit kesakitan Kaliya hanya berpura-pura untuk menarik perhatian Yudha. Tapi ia tidak akan membiarkan gadis culas itu mendapatkan keinginannya. Setelah Yudha beralih ke Komar, Kaliya hanya bersungut memaki Garen dalam hati.
"Kenapa kamu bisa kena sabetan botol?"
"Kecelakaan!"
Garen berdecak geram. "Iya saya tahu ini kecelakaan tapi kok bisa kamu yang kena?"
"Jadi Bapak berharap Yudha yang kena?"
Kepala Yudha terangkat mendengar ucapan Kaliya. Dia termangu di balik tirai penyekat tempat tidur Kaliya dan Komar. Dia tak percaya baru saja dilindungi oleh gadis yang amat tidak ia sukai di Vein Karaoke.
Garen menjawab dengan wajah mengejek. "Jadi kau melindungi lelakimu?"
"Tentu saja, kalau dia yang terluka saya gak bisa gendong dia. Lihat aja tubuhnya yang kekar itu," ujar Kaliya tanpa memikirkan perasaan dua lelaki yang berdiri terpaku saling membelakangi.
Komar sempat nyeletuk, "Lo bisa gendong gue Kay, badan gue 'kan kecil."
Kaliya menjawab, "Najong tralala!"
"Dih!" sungut Komar meringis. "Bahasa mana tuh Najong?"
"Najis tau gak?!" bentak Kaliya kesal.
Yudha berdeham. Seketika Kaliya tak menyahuti lagi omelan Komar. Entah kenapa Garen merasa tidak nyaman dengan reaksi Kaliya, hanya dengan dehaman saja Yudha berhasil membuat gadis itu diam. Seberapa hebat pemuda itu di mata Kaliya sampai-sampai begitu tunduk padanya, sementara Garen yang jelas-jelas bosnya saja tidak membuat nyalinya gentar sedikitpun.
Garen mengurus administrasi rumah sakit setelah Kaliya selesai dijahit. Sementara Yudha diperintahkan untuk mengantar Komar pulang.
"Licik banget si dia! Seharusnya Yudha nganterin gue!"
"Udah sih Kay, yang penting lo gapapa. Gue sampe panik gemeteran tau gak, sih?!" ujar Ulfa menahan ocehannya.
"Kenapa jadi lo yang gemetaran?"
"Karena lo terusan teriak-teriak gak jelas!"
"Gue cuma nyari perhatian Yudha aja."
Ulfa menganga seperti baru menyadari sesuatu. "Eh iya, kok tumben Yudha gercep nolongin lo? Biasanya kalau lo bertingkah dia pura-pura gak liat sampe diteriaki baru mau bantuin."
"Iya kali gue sudah berdarah-darah gini dia cuek aja."
"Lagian kok bisa sih kamu kena sasaran tamu itu?"
"Gue meleng mangkanya gak ngeliat pas dia ngayunin botol pecah itu."
Garen telah selesai mengurus administrasi. "Nanti kasih keterangan ke polisi, saya sudah mengurus visum kalian."
"Kenapa mesti berurusan sama Polisi, sih?! Kenapa gak pake cara kekeluargaan aja? Lagian kita gak tau loh apa penyebab tamu itu sampai mengamuk. Karena memang Komar lumayan tengil, bisa aja 'kan dia yang mancing emosi tamu itu?!"
Garen menggeleng seraya menuntunnya agar turun dari ranjang. "Ya-ya, si paling suka bernegosiasi secara kekeluargaan," sindirnya.
"Heum," cengis Kaliya masam. Dia tahu maksud dari ucapan bosnya itu.
"Kamu tinggal di mana? Biar saya antar pulang."
"Gak usah! Saya pulang sama Ulfa aja," tolaknya melepas tautan tangan Garen.
"Gak usah membantah!"
"Kenapa Bapak gak anterin si Komar aja, sih?!"
"Dia laki-laki," cetus Garen cuek.
"Dan saya banci!"
Spontan Ulfa terkekeh mendengar selorohan Kaliya. Bisa-bisanya sahabatnya itu nyeletuk tanpa beban.
"Kamu kembali saja ke Karaoke biar saya yang antar Kaliya pulang."
Ulfa menjawab, "Baik, Pak!"
Kaliya langsung menyerobot, "Tunggu dulu, saya mau pulang sama Ulfa aja."
"Gak usah nawar! Masih untung saya mau nganterin kamu!"
"Gue bisa pulang sendiri!" Tiba-tiba gaya bicaranya berubah karena terlampau kesal.
"Tolong jaga cara bicara kamu itu! Saya ini atasanmu!"
"Di Vein Lo Bos gue! Di sini lo bukan siapa-siapa!"
"Terserah kamu sajalah. Ayo kita pulang!"
Kaliya cemberut mengikuti langkah Garen menuju parkiran mobil. Sudah bagus-bagus mendapatkan perhatian dari Yudha malah datang pengacau. Rasanya dia masih tidak ikhlas diantar oleh Garen. Sepanjang jalan mereka hanya membisu, baik Kaliya maupun Garen seakan enggan memulai obrolan lebih dulu sampai mobil berhenti di depan sebuah gedung seperti rumah susun.
"Kok malah ke sini?"
"Jadi mau ke mana?"
"Gue gak tinggal di Mess ya, tolong!"
"Jadi kamu tinggal di mana?"
"Ngekos! Ya kali kudu tinggal bareng-bareng sama kaum gratisan."
"Ah, ternyata kamu kaum berkelas pantas sombong."
"Gue gak sombong cuma meringankan beban perusahaan aja."
"Mau kamu tinggal di sini atau ngekos gak ada pengaruhnya untuk pengeluaran perusahaan."
"Terserah!" cetus Kaliya dengan gaya mengejek.