Logika

1089 Words
Garen menyuruh Kaliya menghadap ke ruangannya. Dengan berat hati gadis itu melangkah mengiring di belakang Garen. "Masuk!" ucapnya menelengkan kepada ke arah ruangan. Kaliya mengikuti perintah itu acuh tak acuh, meskipun tahu bahwa Garen adalah bosnya, nyatanya sikap cueknya tidak juga berubah. Di ruangan bernuansa shabby, mata Kaliya tertuju pada foto ukuran fantastis hampir memenuhi dinding di belakang kursi Garen. Foto yang dianggapnya narsis itu membuatnya kesal, dalam foto itu Garen mengenakan setelan formal duduk di atas sofa tunggal dengan tangan saling beradu menatap tajam ke depan. "Cih! Serasa artis, kali!" dengus Kaliya bergumam pelan. "Duduk!" perintahnya dengan nada tegas. Kaliya duduk di kursi empuk yang pastinya mahal. Mungkin seharga gajinya sebulan bahkan lebih. Belum lagi meja kerja Garen yang terkesan mewah dengan warna hitam mengkilat. Menambah perpaduan elegan ruangan itu kian terasa. Di sudut belakang Garen terdapat pajangan berbentuk mic besar dengan lampu led kedap-kedip di dalamnya. Di sisi kanan ruangan— satu set sofa berwarna cream dengan kulkas dua pintu di sudutnya. Ruangan yang terkesan biasa saja namun cukup bagus untuk memekik seenaknya karena pastinya tidak akan terdengar sampai keluar. "Kamu tau kenapa saya menyuruhmu ke sini?" "Buat pamer lah!" jawab Kaliya cuek. "Saya Bos kamu, harap sopan sedikit!" Kaliya menyeringai. "Hei Bos!" Garen menggeram melihat sikap enteng Kaliya yang sama sekali tidak takut padanya. "Saya bisa mengambil tindakan tegas kalau sampai kamu bersikap kurang ajar!" "Lalu anda mau saya bersikap seperti apa? Menunduk ketakutan sambil meminta maaf berulang kali? Atau memasang wajah memelas agar saya tidak dihukum? Cih, menguji ya?! Sampai ke hotel?" "Kamu—" "Sttt! Saya gak akan membocorkan pengalaman kita kemarin, jadi Bapak bisa tenang. Anggap saja kita impas!" Sungguh luar biasa nyali gadis ini melawan Bos dengan santainya. Bukan hanya menekan Garen untuk membatalkan hukuman tapi dia bisa membalikkan keadaan seolah dialah korban pencabulan Garen hari itu. "Apa kamu tidak merasa malu kalau sampai bocor?" "Hua!" Kaliya menguap. "Saya? Malu? Hahaha! Bagi saya menjadi kere adalah aib yang sangat memalukan selain itu saya gak pernah menganggapnya." "Cih, kamu benar-benar gak berperasaan!" Kecaman itu dianggapnya sebagai pujian. Dia lebih suka orang memandangnya negatif, kesan hebat sepertinya sangat membanggakan baginya. Karena dia tidak mau dipandang remeh apalagi lemah, dia tidak butuh simpatisan apalagi manusia yang hanya bertopeng dengan kepolosan palsu. "Saya lebih suka menggunakan logika daripada perasaan. Sebab itu saya lebih tertarik mengejar Yudha daripada menjadi istri simpanan anda, Pak!" "Hahaha! Apa yang kau lihat dari pemuda menyedihkan itu? Kamu bisa lihat sendiri bagaimana sikapnya terhadap kamu." "Justru karena dia menyedihkan mangkanya saya mau mengejarnya. Anggap saja itu cinta," ujar Kaliya santai. "Cinta? Kamu benar-benar pelawak handal! Bagaimana bisa kamu mencintai dengan logika bodohmu itu?" "Mencintai dengan logika akan lebih mudah melupakan daripada mencintai dengan perasaan. Ada sebab akibat dari suatu pilihan, yang jelas saya tidak mau terpuruk disebabkan oleh perasaan konyol yang bakal mengakibatkan luka dalam hati saya." "Kalau memang logika kamu berguna sesuai porsinya seharusnya kamu memilih saya. Bukankah kamu bilang kere adalah aib yang sangat memalukan? Kalau kamu menikah dengan saya tentu hidupmu akan bergelimang kemewahan dan barang bermerk" "Bukan kebahagiaan semacam itu yang saya cari, anda tidak akan mengerti bagaimana cara saya mengukur suatu kebahagiaan itu. Saya menggunakan logika untuk mengejar cinta namun saya tetap mengikuti kata hati; kapan saya harus mundur dan kapan saya harus maju." "Bagaimana bisa kamu mengarahkan logikamu agar bisa sejalan dengan kata hati. Di mana-mana yang namanya logika gak akan pernah mendengarkan kata hati. Paham kamu?!" "Oh ya?! Kalau begitu pantas kata hati saya tidak mau sejalan dengan logika. Sebab itu saya menolak Bapak! Sampai sini Bapak paham, 'kan?" Garen hanya terpaku menatap mimik ejekan Kaliya terhadapnya. Sepertinya Kaliya bukan lawan yang bisa diremehkan saat berdebat. Di depan karyawan yang lain dia tampak mengalah pada Garen namun setelah mereka berhadapan langsung Kaliya baru menampakkan taringnya. Tujuannya agar dia terlihat lemah untuk mendapat posisi aman sebagai karyawan yang terkesan patuh. Tentu saja Kaliya sudah memperhitungkan segalanya. Apa yang terjadi antara mereka berdua menjadikan alasan bagi Kaliya untuk menekan Garen. *** Kaliya melamun bersandar di sofa ruang tunggu lantai dua. Sedang berpikir? Tentu tidak. Dia tengah mencari perhatian Yudha agar bertanya padanya; apa yang terjadi di ruangan Garen? Meski ia tahu itu tidak akan berhasil namun setidaknya menjadi nilai tambah untuk posisinya yang sedang teraniaya. Ulfa mendekatinya. "Lo diapain sama Pak Ren?" "Hah! Ya begitulah … kayaknya jabatan gue sebagai karyawan terbaik bulan ini bakal dicabut dan bonus bakal ditarik lagi. Padahal gue lagi banyak pengeluaran." Dalam hati Ulfa, "Siasat apalagi yang dimainkan sama si Iblis Betina ini?" Ulfa sangat memahami saat Kaliya berkeluh kesah sejatinya dia bukan curhat melainkan sengaja menarik simpatik Yudha. Hanya di depan Yudha— Kaliya terkesan lemah dan sangat bekerja keras demi keluarga di kampung. Padahal keluarga mana yang mau dibiayai, bahkan ayah dan ibunya saja tidak jelas juntrungannya. "Gue harus gimana ya? Masa gue yang di jahatin sama Viona malah gue yang kena hukum?" "Saran gue mending lo jauhi Viona, deh!" "Emangnya gue pernah deket sama dia?" Ulfa berbisik, "Jangan cari gara-gara." Kaliya tersenyum sarkastik membalas bisikan Ulfa. "Lo tau gue gak akan pernah diam." Ulfa berdiri kemudian menghela nafas sebelum meninggalkannya menuju lantai dasar. Saat sedang menikmati suasana hening di tengah berisiknya suara para tamu yang sedang bernyanyi ria. Seorang karyawan bernama Komar turun dari lantai tiga dengan kepala berdarah. Sontak Kaliya dan Yudha berdiri terperanjat melihatnya meringis memegang kepala. "Lo kenapa, Mar?" tanya Yudha berteriak seraya menyambar tubuhnya. Belum lagi Komar menjawab seorang tamu turun seraya berkoar-koar memegang pecahan botol bir. Kaliya menggeram kesal melihatnya, dia memasang badan di depan Yudha dan Komar. "Minggir kamu!!!" Sontak ruang tunggu yang tadinya lengang mendadak dikerumuni para Karyawan. "Lo mabok?" tanya Kaliya dengan nada menantang. Yudha bergegas menarik tangan Kaliya. "Jangan macam-macam!" sergahnya menghimbau Kaliya agar tidak meladeni pemuda mabuk itu. Untuk pertama kalinya Kaliya merasa Yudha memperhatikannya. Mendadak semburan rasa haru menyergap ambang rasanya hingga ia terlena dengan pergerakan tamu itu. Botol yang sudah tinggal separuh dengan ujung yang runcing diayunkan ke tangan Kaliya. Spontan semua karyawan menjerit. Kaliya meringis terduduk di tangga memegangi tangannya. "k*****t!!!" Yudha berteriak sampai suaranya serak tertelan bunyi musik yang saling bersahutan melayangkan tinjauan ke wajah tamu itu sampai tersungkur. Barulah para karyawan itu berani menyergapnya dan membawanya ke bawah. Tak urung keributan pun tidak bisa dihindari. "Ada apa ini?" teriak Garen baru saja dari luar melihat para pegawainya membekuk si tamu mabuk. "Dia memecahkan kepala Komar dan mengoyak lengan Kaliya dengan pecahan botol bir di lantai dua, Pak!" Mendengar itu Garen langsung berlari ke lantai dua. Alangkah terkejutnya dia melihat dua pegawainya sudah berlumuran darah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD