Kaliya merasa kesal karena Garen terus mengikutinya. Berulang kali dia mengusir Garen namun pria itu tidak mau pergi. Sampai Yudha datang melewati mereka menuju loker, Kaliya mendekatinya.
"Yud, aku beliin roti ini buat kamu sebagai ucapan Terima kasih karena kemarin kamu udah bantuin aku."
Yudha mengambil roti bertoping coklat di atasnya dari tangan Kaliya sambil berkata, "Thanks!"
Dalam hati Garen, "Tumben, biasa gue-gue ini berubah aku. Hahaha lucu banget!"
Hanya dengan satu kata singkat itu Kaliya menjerit kecil mengikuti langkah Yudha. Garen hanya menggeleng miris melihat tingkah si pembual itu. Dia yakin pasti Kaliya benar-benar tergila-gila pada pemuda itu sampai tak menghiraukan harga dirinya.
"Aku belinya pas baru diangkat dari oven, loh! Sengaja nungguin yang baru biar lebih enak, kebetulan pegawainya temenku."
Segitu banyaknya Kaliya mengoceh, Yudha tak menghiraukannya malah memanggil Viona dan memberikan roti itu padanya. Garen sontak terkekeh melihat pemandangan itu.
"Apa ini, Yud?"
"Roti Vi, kamu 'kan suka makan roti."
"Oh iya, makasih ya?!" ucap Viona kemudian berlalu menuju kamar mandi. Dia baru saja selesai mengepel toilet tamu.
Merasa malu Kaliya memprotes Yudha, "Kok lo kasih ke dia, sih?"
Mendadak Garen terpingkal mendengar nada serta gaya bicaranya kembali seperti semula.
"Gue gak suka roti!"
"Ya, minimal jangan ngasih depan gue, kek!"
"Supaya gak menimbulkan kesalahpahaman."
"Maksud lo?"
"Takutnya lo nuduh Viona nyuri roti itu," jawab Yudha melenggang santai menuju lantai tiga.
Garen terkekeh melihat keributan itu, ternyata cinta Kaliya benar-benar bertepuk sebelah tangan. Ada perasaan puas karena ia tak perlu repot membalas dendam padanya, gadis culas itu sudah dipermalukan oleh orang lain.
"Kenapa lo ketawa?"
"Karena lucu!" jawab Garen cuek.
"Ngapain sih lo ke sini mulu! Jangan ditunjukin banget kalau pengangguran."
Garen kembali terpingkal, tubuhnya menunduk menghadapkan wajahnya ke depan Kaliya. "Pengangguran ini yang baru saja memberi ganti rugi lima puluh juta. Apa kau lupa?"
Kaliya meremas wajah Garen dengan geram. "Tutup mulut lo. Cowok kok lemes amat! Pergi sana, gue gak ada waktu ngeladenin lo!"
"Aku mau nikahi kamu secepatnya!" ucap Garen tiba-tiba.
Tak ayal Kaliya terpingkal setengah mati, mana mungkin dia mau diajak menikah apalagi dengan pria yang sudah beristri dan tidak dia cintai. Dia pernah bersumbar tidak akan menikah jika tidak mendapatkan cinta Yudha.
"Lo mabok ya?! Ngaca! Punya kaca 'kan di rumah lo?"
"Aku tampan, kaya, dan mapan. Apa lagi yang mau dilihat?"
"Tampan? Cih! Bahkan jika dibandingkan dengan Anton lo tuh gak ada apa-apanya!"
"Siapa Anton?"
Kaliya mengangkat wajahnya, bibirnya mengerucut menunjuk seorang pemuda yang sedang mengatur AC di ruang tunggu tersebut.
Garen meringis dengan raut mengejek melihat pemuda itu. "Yang kayak gitu ganteng? Hahaha! Seleramu benar-benar payah!"
"Ya sudah! Kenapa lo jadi sewot? Kalau gue gak suka sama lo terus kenapa? Masalah buat lo?!"
"Gak usah terlalu over PD, aku mau nikahi kamu karena kita sudah tidur bareng dan aku yang merusak keperawananmu jadi wajar kalau aku harus bertanggung jawab."
Kaliya menyilangkan tangannya di d**a. Bibirnya terangkat sebelah mengekspresikan rasa jijik kepada Garen. "Heh! Walaupun gue hamil anak lo, gue gak bakal mau nikah sama lo! Ya kali gue harus ketemu sama cowok dungu setiap hari. Gue lebih suka kerja sampai pagi di sini daripada nemenin lo tidur!"
"Kita liat aja nanti, seberapa kuat kamu bisa melawanku. Di dunia ini kekuasaan bisa membeli segalanya termasuk harga dirimu!"
"Oh ya?! Hahaha! Lucu banget sih lawakan lo! Cocok deh lo jadi pemain opera," ejek Kaliya seraya melengos menuju lantai tiga.
***
Malam itu prosesi pernikahan Garen dan Viona berlangsung sederhana, tidak ada resepsi maupun acara lamaran. Orang tua Viona tinggal datang memberikan wali dan duduk manis layaknya tamu. Undangan pun hanya tetangga satu blok dan keluarga besar mereka. Hera merupakan janda kaya dan terhormat, tentu dia tidak ingin pernikahan suaminya tersebar luas.
"Kamu sudah resmi menjadi maduku, tolong penuhi segala tugasmu dengan baik."
"Baik, Bu!" ucap Viona pasrah. Dia menerima permintaan Hera lantaran terpaksa. Keluarga Viona sangat miskin bahkan dia hanya lulusan SMP, dia bisa bekerja di karaoke Garen berkat Hera.
Ibu Viona adalah pembantu di rumah orang tua Hera sebab itu dia mengenal keluarga itu dengan baik. Sementara ayahnya hanya pengangguran karena sudah tak mampu bekerja.
"Nanti saya kirim uang untuk berobat ayah kamu ke rekening. Setelah acara selesai saya akan menyuruh sopir mengantar mereka pulang."
"Terima kasih, Bu."
Selesai ijab kabul Garen malah pergi meninggalkan keramaian. Kemana lagi kalau bukan mengganggu Kaliya. Minggu ini Kaliya mendapat jatah ship malam. Seperti biasa Kaliya terus memepet Yudha, sepertinya dia tidak akan pernah kapok sebelum Yudha menerimanya atau meninggalkannya menikah.
"Kita makan sate Bebek yuk pulang nanti," ajak Kaliya tak mempedulikan wajah kesal Yudha.
"Gue sibuk!"
"Sibuk apa jam 3 malam?"
"Tidur! Gue capek," jawabnya ketus.
"Ada baiknya makan dulu, tenang aja gue yang traktir kok!"
Tiba-tiba Garen menyambar, "Aku juga mau dong di traktir!"
"Gelap dah suasana," dengus Kaliya merasa kesal karena kedatangan Garen.
"Permisi saya sibuk," ucap Yudha sedikit membungkuk kepada Garen kemudian pergi.
Kaliya menghempas kesal melihat Garen senyum-senyum mengejeknya. "Lo bener-bener gak punya kerjaan ya?! Mau ngapain sih lagi ke sini? Kalau mau karaoke sana daftar dulu! Memangnya ini karaoke punya Bapak moyang lo apa?"
"Memang bukan ... karena Karaoke ini punyaku, murni hasil kerja kerasku!"
Kaliya tertawa terbahak-bahak mendengarnya. "Tolong ya … kalau mau menghalu tuh mending jadi boyband gitu, tampang lo tuh gak cocok jadi Bos!"
"Aku gak menghalu, kalau gak percaya liat aja nanti. Aku bakal balas dendam sama kamu!" Garen menekan dahi Kaliya dengan telunjuknya.
Tiga hari kemudian Kaliya terpaku menatap Big Bos. Jantungnya berdegup kencang, kakinya mendadak gemetar dan nyalinya menciut. Tina mengumpulkan para karyawan untuk menyambut kepindahan Big Bos ke cabang itu.
"Ke-kenapa jadi dia?" tanya Kaliya terbata-bata.
Ulfa menjawab, "Jadi lo berharap siapa? Mati lo 'kan? Mangkanya jangan pedas banget tuh mulut."
Kaliya tertegun ketika Garen mendekatinya. Dengan lantang pria itu berkata, "Saya sengaja menguji etika pegawai di cabang ini, ternyata salah satu primadona bulan ini minim etika! Dia sengaja menjahili temannya hanya karena kepentingan pribadi. Sibuk mengejar cinta rekan kerjanya sampai mengabaikan tugas. Mulai hari ini saya akan membuat peraturan; sesama karyawan dilarang pacaran dan akan menindaklanjuti bentuk diskriminasi terhadap rekan kerja."
Mendengar itu Kaliya malu bukan kepalang, bentuk balas dendam Garen benar-benar membuatnya K.O seketika. Dia tak mampu lagi menentang ucapan Garen apalagi mengejeknya. Pria yang dia sangka anak Mami ternyata Bos di tempat itu. Sudah jadi rahasia umum bahwa Bos mereka adalah sosok pria mandiri yang mengembangkan bisnis itu sendirian karena memang dia sebatang kara.
"Kau mengerti?" sentak Garen kepada Kaliya.
Gadis itu hanya bisa tertunduk dengan mimik wajah kesal yang berusaha ia tutupi.