Syarat

1121 Words
Tina seketika terkejut, pasalnya Kaliya adalah karyawan terbaik. "Tapi Pak! Dia merupakan karyawan terbaik." "Saya tidak peduli! Masih banyak karyawan lain yang lebih sopan daripada dia!" Kaliya langsung menghempaskan tangannya. "Andalah yang bersikap kurang ajar terhadap saya, Pak! Seharusnya saya tidak diperbolehkan duduk bersama tamu di room yang mereka sewa, jadi wajar kalau saya merasa tersudut atas perbuatan tidak senonoh anda!" "Hei! Kamulah yang menempeleng kepala saya!" "Itu karena anda yang ingin berbuat kurang ajar kepada saya!" "Kalau saya ingin berbuat kurang ajar, saya gak mungkin melakukannya di ruangan itu!" "Ruangan itu tertutup dan tidak ada kamera pemantau jadi wajar saja kalau Bapak mau melakukan tindakan asusila. Apalagi saya cuma karyawan lemah yang hanya bisa menerima tuduhan Bapak padahal Bapaklah yang bersikap kurang ajar kepada saya!" Garen benar-benar terpukau dengan fakta yang dibalikan oleh Kaliya, bagaimana bisa dia dengan entengnya berbohong. Dia benar-benar pembohong handal— begitulah yang terpikir dalam benak Garen saat ini. Dengan seringai tajam Garen berkata, "Baiklah! Saya Terima tuduhan ini, tapi ingat kau akan menyesal sudah melakukan ini terhadap saya!" Garen pergi meninggalkan karaoke tanpa menoleh. Padahal Tina belum berkata apapun perihal keributan ini. Untung saja tempat itu belum buka jadi hanya ada karyawan yang mendapat giliran jam siang saja yang sudah berada di sana. Ulfa mendekatinya. "Gilak lo berani banget, Kay!" "Heuh! Anak Mami kayak dia beraninya cuma koar-koar aja! Paling dia malu terus gak berani lagi ke sini." Tina hanya diam saja mendengar celotehan Kaliya. Pastinya dia sedang gemetaran karena yang dilawan Kaliya bukan orang sembarangan. Tak lama Tina mendapat pesan dari Owner : Siapkan ruangan kosong dalam beberapa hari di lantai 4. Saya akan memindahkan kantor saya ke sana. Semakin berdegup kencang irama jantung Tina. Dengan tangan gemetar dia menjawab: Baik Pak. Kaliya tidak akan mengira bahwa kebebasannya akan segera musnah beberapa hari lagi. Si pembual handal itu akan segera menerima hukuman atas keculasannya hari ini. Besoknya gosip mulai berhembus di kalangan karyawan. "Iya, katanya Big Bos mau pindah ke sini." "Pantes Bu Tina manggil agen properti. Waduh kalau Big Bos pindah ke sini kita gak bisa bebas dong!" "Kok tiba-tiba pindah ya?! Bukannya Bos kita juga punya bisnis lain ya?! Masa iya bangkrut cuy?!" Kaliya dan Ulfa hanya diam saja mendengar celotehan tiga perempuan yang merupakan rekan mereka itu. Tak lama Viona lewat membawa alat pel dari kamar mandi. Timbul niat jahil Kaliya, ia sengaja berjalan dari arah berlawanan menabrak Viona. "Aw!!!" jeritnya terjatuh memegang kepala. Sontak beberapa teman mendekatinya. "Lo gapapa Kay?" tanya salah satu dari mereka. Ulfa hanya bisa menggeleng melihat tingkahnya itu. "Lo kenapa sih Vi? Sensi banget ya sama gue … kemarin lo dorong gue pake sapu sampai jatuh ke tangga sekarang lo sengaja nabrak gue!" "Tapi kamu yang nabrak aku," sanggah Viona mencoba membela diri. Kaliya berdiri seraya meringis memegang kepala. "Seharusnya lo juga ikut jatuh, 'kan? Ini lo malah santai gitu berarti lo memang sengaja dorong gue! Gak usah ngeles deh!" "Sumpah, aku gak dorong kamu!" "Jadi lo mau bilang kalau gue gak hati-hati gitu?!" "Karena memang kamu yang nabrak aku!" Kaliya tidak menjawab, dia malah terkulai tak sadarkan diri. Ternyata Yudha baru saja keluar dari sebuah ruangan sambil membawa nampan. Otomatis para rekan memanggil Yudha untuk menyuruhnya mengangkat Kaliya ke ruang karyawan. Kaliya meringis kesakitan ketika dibaringkan oleh Yudha ke sofa. "Aku bener-bener gak nabrak dia, Yud!" adu Viona dengan suara bergetar. Yudha menjawab, "Ya udah ambilkan air hangat sama handuk kecil kalau ada." Jelas Kaliya merasa kesal karena Yudha mau berbicara lembut ketika dengan Viona tapi tidak pernah menanggapinya dengan baik ketika dia mengajak ngomong bahkan ketika bertanya. "Dasar b*****h!" umpat Kaliya dalam hati. Viona kembali dengan wadah stainless dan sebuah handuk kecil. Yudha mengompreskan handuk itu ke bagian dahinya. Kaliya meringis, perlahan dia membuka mata seolah baru siuman. Aktingnya itu benar-benar luar biasa, mungkin kalau dia punya kenalan produser pasti sudah ditawari jadi artis. "Makasih ya, Yud?!" ucap Kaliya dengan nada suara lemah. Yudha tak menjawab, tangannya terus menekan-nekan dahi Kaliya. Entah apa yang ada dalam benaknya saat ini. Pemuda itu mungkin sudah tahu watak Kaliya, cuma karena ingin melindungi Viona— mau tak mau ia menuruti permainan Kaliya. *** Hera terlihat menata meja makan. Garen hanya bisa menatap datar istrinya tersebut. Malam ini, mereka akan kedatangan seorang yang akan dinikahkan dengan suaminya itu dan menjadi madunya sampai maut memutuskan ikatan pernikahan mereka. Sedih? Sudah pasti, namun Hera harus menerima takdir yang sudah tergaris untuknya. "Sebentar lagi dia sampai kamu harus bersikap ramah sama dia," ucap Hera seraya menaruh sendok di sisi piring berwarna putih polos. Sederet makanan khas keluarga kaya sudah siap memenuhi meja makan. Wanita yang sedang mengandung delapan bulan itu mengelus perutnya sambil tersenyum puas setelah berhasil membuat persiapan yang bagus untuk acara makan malam tersebut. Tak lama suara bel nyaring memenuhi rumah besar itu. Hera menyuruh pembantunya membukakan pintu dan langsung menyuruh si tamu ke ruang makan. Pandangan Garen langsung tercekat melihat gadis itu. Ya, dialah Viona— Rival terberat Kaliya dalam ajang memperebutkan perhatian Yudha. "Sayang, dia Viona salah satu Office Girl di karaoke kita." Hera memperkenalkan Viona kepada Garen. Garen hanya mengangguk dengan tubuh sedikit berayun. Tanpa senyum memikirkan sesuatu yang berkaitan dengan Kaliya. "Hah! Gadis yang sepertinya dibenci dia malah jadi pilihan Hera untuk menjadi istriku. Menarik sekali," gumamnya dalam hati. Hera langsung mempersilahkan Viona duduk. "Dia gadis yang baik, Ren! Anak kita kelak akan mendapat ibu asuh yang bisa membuat dia merasakan kasih sayang seorang ibu." Garen menyeringai masam. "Bukannya kamu bilang dia oportunis?" Hera terbatuk mendengar sindiran frontal itu, tak menyangka Garen akan mencetuskannya di depan Viona. "Sayang … jangan gitu, ah! Dia cuma membutuhkan biaya untuk keluarganya." "Seharusnya kamu yang datang ke rumah dia bukan malah menyuruhnya ke sini." "Karena rumahnya sempit dan adik-adiknya juga masih kecil-kecil jadi kurang nyaman kalau untuk membicarakan hal seperti ini." Garen mendesah kasar. "Oke! Kamu sudah membawanya ke sini dan aku akan menerima permintaan kamu. Tapi seperti yang aku omongin kemarin, aku memiliki syarat untuk ini." "Apa itu?" tanya Hera agak takut. "Aku juga memiliki seseorang untuk dipilih sebagai istriku dan aku akan menikahinya setelah dia." Garen berkata sambil mengarah ke Viona. "Kalau kamu setuju maka aku akan mengabulkan permintaanmu tapi kalau kamu gak setuju aku gak akan melanjutkan." "Tapi gak mungkin kamu bisa menjalani hidup dengan tiga istri!" "Kenapa tidak? Aku lebih dari sekedar mampu bahkan untuk menghidupi sepuluh istri dan seratus anak." "Tapi kamu gak akan meniduri mereka bukan? Kita memilih ibu untuk anak kita, Ren. Ingat itu!" "Kamu bukan kita! Dari awal aku menentang ide gila ini tapi kamu bersikeras pada pendirianmu sebab itu aku ingin menyempurnakannya. Bukankah dua ibu akan membuat anak kita lebih terjamin?" Hera hanya bisa menunduk, hatinya yang masih perih bertambah miris. Namun dia tidak memiliki pilihan selain menyetujui syarat itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD