Kelewat Batas

1060 Words
Suasana di meja makan terasa begitu canggung. Baru kali ini Garen merasa tidak memiliki topik penting untuk dibahas bersama Hera. Lain halnya dengan Hera dia masih bersikeras meminta Garen untuk menerima keinginannya. "Besok malam perempuan yang kita bahas kemarin akan datang ke sini untuk makan malam. Aku harap kamu mau menerima dia dengan baik." "Oke," jawab Garen santai. Hera merasa aneh melihat sikap Garen lebih lunak daripada kemarin. Tidak ada lagi penolakan apalagi perlawanan, membuatnya seketika menjadi hampa. "Kamu gak keberatan?" Hera menatap lekat Garen dengan rasa penasaran yang tinggi. Garen berhenti mengunyah, pandangannya yang tadinya hanya fokus ke makanan beralih ke Hera dengan gaya menantang. "Sudah dari kemarin, tapi kamu tetap saja ngeyel." Senyum Garen mengembang sinis. Dugaan Hera melaju bak roket yang siap meluncur ke Bulan. Dia berpikir sejak semalaman Garen tidak pulang sikapnya jadi berubah. Sempat terpikir bahwa Garen mungkin bersama wanita lain semalam suntuk. Entah itu firasat seorang istri atau memang Hera sudah terbiasa berprasangka nyatanya dugaan dia 100% benar. Garen berdiri menjauhi meja makan tanpa memperdulikan Hera yang tengah menatap sendu punggungnya. Seolah pria itu sudah lelah dengan permintaan sang Istri yang menurutnya tak masuk akal. "Kamu mau berangkat ke Kantor?" Garen hanya mengangguk, membuat Hera semakin hampa. Senyum terpaksa itu semakin menegaskan keadaan hatinya yang kelam. Dia menginginkan Garen memberikan kenangan terindah disisa umurnya, bukan sikap yang mendadak berubah dingin. "Sampai jumpa nanti malam," ucap Garen berlalu begitu saja tanpa ritual rutin yaitu cium kening dan bibir ketika akan pergi. Hera semakin sedih, hatinya meringis melepas Garen yang telah pergi bahkan tanpa menyalakan Klakson. *** Kaliya duduk di ruang tunggu lantai dua di depan ruangan VIP. Dia sengaja membuang tisu disaat Viona gadis berusia 23 tahun itu tengah menyapu. "Ups Sorry, gue sengaja!" tekan Kaliya tersenyum mengejek. Viona hanya diam seraya mengambil tisu tersebut dan membuangnya ke tong sampah. Kaliya mendekatinya tanpa melepas senyum ejekan itu. "Memang ya kalau orang bego itu selalu mempersulit hidupnya. Bukannya disapu aja gitu, pake dipungut segala. Pantes aja lo selamanya bakal jadi OG— Orang g****k, ups! Office Girl maksud gue." Ingin rasanya Viona mendorong Kaliya hingga jatuh dari tangga, namun ia memilih melengos. Malangnya sapu yang dibawa Viona menebas kaki Kaliya hingga tersungkur ke tangga. Beruntung tubuhnya ditangkap seorang pria berbaju rapi— Garen. "Dasar cewek t***l!" pekik Kaliya emosi. Viona cuma diam saja dimaki sekencang itu oleh Kaliya. Dia kembali melanjutkan aktifitasnya. "Kenapa kamu meneriaki dia?" Saking kesalnya Kaliya tidak menyadari bahwa yang menangkapnya adalah Garen. Dengan cepat dia memisahkan diri dari dekapannya. "Kami belum buka! Kalau mau karaoke nanti balik lagi aja ke sini!" "Saya datang kemari sengaja mencari kamu," jawab Garen santai. Belum sempat Kaliya menjawab, seorang pemuda bernama Yuda menaiki anak tangga dengan gaya acuh tak acuh. Tiba-tiba Kaliya berseru, "Aduh!" Yudha berhenti tepat di samping Garen. Sorot matanya tenang melihat Kaliya. "Gue jatuh tadi kena sapu Viona, kaki gue terkilir. Tolong papah gue dong, Yud!" Tanpa menjawab Yudha menuruti kemauan Kaliya. Tak ayal Garen melotot melihat tingkahnya itu. Garen mengikuti begitu Kaliya di papah sampai ke sofa. "Sakit banget," ringisnya seperti mau menangis. Yudha berjalan ke arah toilet setelah beberapa menit kembali membawa krim pereda nyeri. Tanpa bersuara pemuda berusia 28 tahun itu mengoleskan krim itu ke pergelangan kakinya, setelah selesai dia pun pergi. Garen berdiri terpaku menatap Kaliya yang bersungut melayangkan pandangan ke arah Yudha. Tanpa basa-basi ia duduk di samping Kaliya. "Perasaan tadi kamu baik-baik aja, sempat memaki pula." "Terus? Masalah buat lo?" "Ya nggak sih?! Bukan urusan saya juga. Urusan saya cuma sama anak kita." Spontan Kaliya langsung membekap mulut Garen. "Jangan ngomong sembarangan, ya?!" Garen melepas paksa bekapan tangan Kaliya. "Saya subur dan pastinya setelah apa yang kita lakukan tadi malam bakal menghasilkan keturunan." "Jangan mimpi!" Kaliya berdiri segera menghindarinya menuruni tangga menuju lantai dasar. Tentu saja Garen tidak akan melepaskannya setelah kejadian tadi malam. Dia mengikuti Kaliya sampai di depan meja kasir. "Saya mau dia menemani lagi seperti tadi malam." Garen berkata kepada Tina. "Baik, Pak!" Kaliya langsung memprotes, "Kenapa harus saya, Bu?" "Karena Pak Garen meminta kamu," ucapnya santai. Kaliya sampai meringis terpaku memandang Tina. Hanya karena dia terpilih sebagai karyawan terbaik bulan ini membuat Kaliya akhirnya bersedia menemani Garen demi prestasinya itu. Ulfa mencegatnya ketika mereka hendak menuju lantai dua. "Bukannya dia?" tanya Ulfa setengah berbisik. Kaliya menggeleng sebagai kode agar Ulfa diam setelah itu dia kembali bergerak mengikuti Garen. Dalam hatinya memprotes Tina, "Padahal jelas-jelas di rules perusahaan kalau karyawan dilarang menemani tamu. Kenapa gue malah dikasih tugas beginian? Lagian siapa sih dia? Songong, ngeselin, gayanya itu sudah kayak Bos aja! Huh!" Yudha sedang duduk di sofa depan kamar VIP, praktis Kaliya langsung memperlambat langkahnya. Sembari memikirkan cara untuk membuat Yudha tidak melihat kalau dia berada di ruangan itu bersama Garen. "Yudha lo disuruh jaga di lantai tiga," ucap Kaliya berbohong. Tanpa berkata apapun Yudha langsung pergi menuju lantai yang dimaksud Kaliya. "Kadang ada untungnya juga gak ditanggepin sama dia. Minimal gue gak perlu repot berbohong lagi," gumamnya buru-buru masuk ke ruangan yang dipilih Garen. "Pilihkan saya playlist yang banyak," perintah Garen. Kaliya bersungut duduk di sampingnya. "Lo pengangguran ya?" "Bukan!" jawab Garen ketus. "Kok jam segini keluyuran? Memangnya gak dimarahi sama atasan?" "Siapa yang berani marahin Bos?" Garen balik bertanya dengan nada sombong. Kaliya mengumpat tanpa bersuara, hanya bibirnya terlihat komat-kamit. Dia malas meladeni ucapannya Garen yang mengandung unsur pamer tersebut. Kalau bicara tentang Bos mungkin baginya Garen tidak memenuhi kriteria itu menilik usianya yang masih muda. Anak konglomerat begitulah yang bisa Kaliya simpulkan mengingat jumlah Rupiah yang diberinya tadi malam. "Masih pake uang orang tua aja bangga!" omel Kaliya seraya membuat daftar list lagu yang akan dinyanyikan Garen. "Siapa? Saya?!" "Apa ada orang lain di sini?" "Ada!" Kaliya spontan menoleh ke arah pintu, takut kalau-kalau orang yang dimaksud adalah Yudha. Garen langsung tertawa dan berkata, "Anak kita." Kaliya langsung menempeleng kepala Garen. "Heh, kalau ngomong tuh gak usah asal ya. Mana mungkin gue hamil anak lo!" Seketika Garen langsung menarik tangan Kaliya kemudian berdiri, otomatis Kaliya terikut berdiri. Garen menatapnya dengan beringas. "Berani-beraninya kamu berbuat kurang ajar kepada saya!!!" Mendadak nyali Kaliya ciut, saking meremehkan dia sampai kelewat batas. Menyangka Garen adalah pemuda bodoh yang bisa dibuat seenaknya. Dia bahkan tak menggubris kalau tadi malam Garen sudah memiliki istri. Garen langsung menyeret Kaliya keluar dari room itu dan membawanya ke hadapan Tina. "Pecat dia sekarang!" raung Garen membuat semua karyawan terpaku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD