Tangkapan Besar

1041 Words
"Gue gak sudi nikah sama lelaki b***t kayak lo! Padahal sudah punya istri tapi masih ganjen sama perempuan lain," tolak Kaliya dengan tegas. Garen meringis. "Jadi mau kamu apa? Kalau kamu hamil bagaimana?" "Gue bakal besarin sendiri anak ini, lo gak usah ikut campur." "Saya gak bisa menelantarkan kamu begitu saja. Tolong biarkan saya menikahi kamu!" "Gue gak akan pernah mau menikah dengan pria beristri!" "Saya akan memperlakukanmu dengan baik." "Lo pikir gue bakal tersanjung dengan perlakuan baik lo nantinya? Cih!" Kaliya menyeringai sinis. Garen beranjak mencari bajunya. Terus berdebat dengan perempuan keras kepala itu tidak akan ada habisnya. Sementara ia harus segera pulang, pasti Hera sedang mengkhawatirkannya. "Gue tau lo pasti mau kabur." "Jadi mau kamu apa?" "Kembalikan keperawanan gue!!!" raung Kaliya. "Gimana caranya saya mengembalikan keperawananmu? Menjahitnya lagi gitu?" Kaliya berdiri menghadap kesal padanya, spontan Garen langsung berbalik karena Kaliya hanya mengenakan dalaman saja. "Lo harus ngembaliin jadi utuh lagi," sahutnya mendelik tajam. "Caranya gimana?" "Operasi perawan." "Hah!" Garen mendengus, "jadi setelah itu urusan kita selesai?" Kaliya menjawab dengan tegas. "Tentu saja!" "Semudah itu kamu kehilangan perawan lalu mengembalikannya lagi?" "Cuma itu satu-satunya cara untuk mengembalikannya seperti semula." "Berapa yang kau butuhkan?" "50 juta!" Garen mengerjap, terbesit kecurigaan dalam benaknya. Sepertinya Kaliya sengaja memerasnya, namun Garen tidak memiliki pilihan lain kecuali memberikan jumlah yang dituntut olehnya. "Baiklah! Saya akan mengirim langsung ke rekening kamu." Kaliya mendelik kosong, dalam hatinya baru kali ini bertemu korban yang menyetujui pergantian keperawanan itu tanpa tawar-menawar. Dengan cepat ia mengambil tas dan menyerahkan buku tabungannya. Garen merasa heran, baru kali ini ia bertemu orang yang membawa buku tabungannya ke mana-mana. "Kebiasaan kamu unik!" komentarnya dengan tujuan menyindir. Dengan acuh tak acuh Kaliya menjawab, "Gue habis dari Bank tadi siang." "Oh!" jawab Garen ketus. Tak sampai lima menit, notifikasi Mobile Banking sudah masuk ke ponsel Kaliya. Uang senilai lima puluh juta rupiah sudah mendarat ke rekeningnya. "Done!" Garen melayangkan pandangan sengit lalu pergi. Setelah Garen pergi dia berjingkrak kegirangan, baru kali ini Kaliya mendapatkan tangkapan sebesar itu. Biasanya paling mentok dua puluh juta, itu pun dia tak sembarangan mencari mangsa. Kaliya seperti bisa membaca calon korban yang bisa masuk dalam perangkapnya. "Panen!!!" teriaknya melompat-lompat di atas kasur. Dia segera mengenakan pakaian dan cek out dari Hotel tersebut. Sepanjang jalan Garen melamun memikirkan dosanya hari ini. Bukan perkara telah membobol gawang perawan melainkan perasaan bersalah kepada Hera. Baru kali ini selama menikah dia tidak pulang semalaman. Benar saja Hera mondar mandir di halaman rumah menanti kepulangan Garen. Pria itu sengaja tidak membalas pesan atau mengangkat teleponnya agar tidak bertengkar di jalan. "Kamu dari mana aja sih, Ren?" tanya Hera berhamburan menghampirinya. "Aku ketiduran di kantor." Hera percaya saja dengan kebohongannya itu karena selama ini dia merasa suaminya tidak pernah berbohong. "Kamu pasti capek, aku buatkan teh hangat biar bisa tidur nyenyak." Garen hanya menjawab, "Iya, Makasih!" Tanpa berkata yang lainnya Garen masuk ke dalam rumah. Garen merasa tak sanggup menatap wajah khawatir Hera. Pasti dia tidak tidur semalaman karena memikirkan suaminya. 271 panggilan tak terjawab mengambang di layar utama ponselnya, membuat Garen semakin merasa bersalah. Matanya terpejam dalam rengkuhan hangatnya air dalam bathub. Entah kenapa disaat seperti ini wajah Kaliya menari dalam kepalanya. Tawa Kaliya saat menemaninya bernyanyi begitu lepas seperti tanpa beban bahkan gadis itu meliuk-liuk bergoyang mengikuti irama begitu menyanyikan lagu dangdut. "Cih! Bisa-bisanya wajah dia lewat dalam pikiranku." Tanpa ia sadari senyumnya mengembang sempurna. Sementara yang sedang mengganggu pikiran Bos Karaoke yang belum pernah menampakkan batang hidung kepada karyawan biasa sedang berpesta bersama sahabatnya. "Pesta seblak ekstra jumbo!!!" pekik Kaliya sambil tertawa. "Yeay!!!" seru Ulfa tak kalah heboh dari Kaliya. "Ayo kita mulai!" Bak lomba tujuh belasan, Kaliya dan Ulfa makan dengan rakusnya. Berlomba siapa yang duluan habis akan memenangkan taruhan dan mendapatkan traktiran seblak. "Siapa korban lo kali ini?" tanya Ulfa dengan mulut penuh. Kaliya menjawab, "Orang kaya berat!" Ulfa menggeleng ngeri melihat sepak terjang sahabatnya itu, demi uang dia harus menipu sana-sini. "Lo gak takut kena batunya apa? Kalau misal korban lo sadar gimana?" "Tenang aja gue tau kok siapa yang bisa gue tipu dengan mudah." "Gue gak yakin lo bisa bertahan dengan ini semua. Mending lo berenti sampe di sini Kay. Takutnya lo bener-bener kehilangan keperawanan bahkan nyawa. Ngeri tau!" "Alah, udah sih! Ngapain sibuk mikirin yang belum tentu terjadi. Tenang aja gue jago silat kok!" "Gue tahu beban idup lo gede tapi tolong jangan korbankan kehidupan lo hanya demi menghidupi orang lain." Kaliya mendesah. "Saat orang beramai-ramai mengecam gue kenapa lo masih mau berteman sama gue." "Mereka bilang lo itu ambisius, penjilat, dan murahan. Tapi bagi gue lo tetep Kaliya, masa bodo dengan keburukan lo karena watak lo itu gak mengganggu persahabatan kita." "Akhirnya lo juga di jauhin sama mereka. Kenapa lo bertahan sama gue kalau pada akhirnya gak memiliki siapa-siapa." "Asal lo masih jadi sahabat gue entah itu jurig ataupun setan alas bagi mereka, gue tetap menganggap lo malaikat. Fix no debat!" Kaliya tertawa mendengar ocehan Ulfa, ketulusan cewek berusia 26 tahun itu membuatnya merasa tidak sendiri di tengah para pembenci yang merasa muak padanya. "Gue Ratu Playing Victim, lo gak takut jadi korban?" "Gue udah hapal sama gaya lo. Its ok! Yang penting lo harus tahu batas." "Gue cuma mengejar apa yang gue dambakan. Apa itu salah?" "Salah Kay! Lo mengejar sesuatu yang mustahil didapetin. Yudha itu dinginnya melampaui akal sehat manusia normal bahkan di luar nalar manusia licik macam lo. Cuma Viona yang bisa ngebuat dia buka suara. Wajar sih dia baik hati meskipun tipe penjilat juga. Nah elo?! Semua watak jahat ada sama lo!" Kaliya menempeleng Ulfa dengan sepenuh hati. Dia tidak lagi bernafsu untuk memenangkan pesta seblak itu. Suasana gembira tadi sudah berganti suntuk. "Gue cuma ngomong apa adanya Kay, kalau lo berpikir hati semua orang bisa dibeli dengan kepura-puraan, coba lo belajar bagaimana menghargai orang lain dengan tulus bukan dengan pujian palsu lo itu. Cari aman juga kudu liat tempat, kalau lo pura-pura mati di sarang harimau sama aja lo menyerahkan diri." "Iya gue tahu! Yang perlu lo tau; gak semua teori yang lo sampein itu sesuai fakta. Okelah Viona memang baik, kalem, lemah lembut dan anggun. Itu poin plus buat dia di mata Yudha tapi gue gak akan nyerah gitu aja walaupun harus berpura-pura selamanya." "Hadeh …." Ulfa mendesah frustasi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD