Menerima Permintaan

1004 Words
"Gimana sayang? Apa reaksi papa kamu? Kamu udah bilang kan kalau kamu menolak permintaan dia?" berbagai pertanyaan didapatkan Viola dari Syila, mamanya ketika ia baru saja menginjakkan kakinya di rumah. Viola menatap Syila dalam. Ia yakin mamanya ini akan sangat kecewa dengannya jika ia mengatakan keputusan yang ia buat. Tapi mau tidak mau viola tetap harus mengatakan keputusannya. Ia berusaha untuk tersenyum pada Syila. "Ma.. Aku udah ngambil keputusan untuk semua ini. Dan aku harap, mama akan ngerti dengan keputusan yang akan aku ambil ini. Aku yakin mama sama ayah akan selalu dukung aku. Aku juga ber--" belum selesai Viola berbicara, Syila mundur beberapa langkah. Ia menatap putri semata wayangnya ini. "Maksud kamu apa? Mama gak ngerti sekarang. Lebih baik kamu langsung ke intinya saja," ucap Syila. Viola menganggukkan kepalanya. Dia menghela napas panjang sebelum mengutarakan pilihannya. "Aku akan menikah dengan pria itu. Aku udah mutusin untuk bantu papa. Aku yakin ini adalah keputusan yang terbaik untuk semuanya," jawab Viola penuh keyakinan. Mendengar jawaban Viola, Syila tertawa. Ia tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar dari Viola. Hingga beberapa detik kemudian, Ia menghentikan tawanya dan menatap Viola serius. Syila kembali berjalan mendekati Viola dan memegang kedua tangan Viola. "Sayang.. Kamu masih 25 tahun. Masih banyak hal lain yang harus kamu lakukan selain menikah. Terlebih lagi, kamu gak mengenal siapa pria yang akan kamu nikahi. Pernikahan ini cuman pernikahan bisnis, Viola. Papa kamu itu pasti tidak meneliti latar belakang keluarga pria yang akan ia nikahkan sama kamu. Dia cuman butuh perusahaan biar gak bangkrut." Viola sudah tahu mengenai semua ini. Dia sangat sangat setuju dengan perkataan Syila. "Tapi setidaknya aku bisa membantu papa, ma. Kalau aku gak setuju dengan pernikahan ini, papa bagaimana?" tanya Viola. "Untuk apa kamu memikirkan semua itu? Keadaan papa kamu bukan urusan kamu lagi, Viola. Kamu udah gak ada hubungannya sama pria itu!" Syila menaikan suaranya. Dia sangat kesal sekaligus kecewa dengan keputusan yang Viola ambil. "Pria itu papa aku, ma. Dia kelurga aku juga. Biarpun papa punya salah dulu, kita tidak seharusnya menghukumnya seperti ini kan? Dari dulu papa mau menebus kesalahannya, tapi mama tidak pernah mau menerima papa." "Kamu enggak ngerti tentang semua ini, Viola. Kamu enggak akan pernah mengerti!" Kali ini Viola tidak menjawab perkataan Syila. Ia tahu mamanya ini sedang menahan amarahnya agar tidak menyakiti perasaannya. Karena itu, Viola berjalan pergi meninggalkan Syila dan pergi menuju kamarnya. Sesampainya di kamar, Viola merenungi keputusan yang sudah ia ambil. Mendengar perkataan mamanya barusan membuatnya merasa bersalah. Tapi ia tidak mungkin merubah keputusan yang telah ia buat. Hingga ketukan pintu kamar mengalihkan pikirannya. Tak lama setelah ketukan itu, ia dapat melihat Firman, ayahnya yang tersenyum melihat Viola. "Boleh ayah masuk dan bicara dengan Viola?" tanya Firman dengan lembut. Memang dari dulu Firman selalu baik padanya, itu merupakan salah satu alasan Viola sangat menyayangi ayahnya ini. Anggukkan dari Viola membuat Firman berjalan mendekatinya. Firman mengambil kursi rias Viola dan duduk tepat di depan Viola. Ia menatap Viola untuk beberapa saat sebelum mengutarakan niatnya. "Ayah sangat menghargai apapun keputusan yang Viola ambil. Baik menerima perjodohan ini ataupun tidak. Ayah udah bilang kan, kalau Viola tidak mempunyai kewajiban untuk menerima ini semua hanya karena papa Viola. Tapi.. jika Viola menerima perjodohan ini, ayah akan selalu dukung Viola. Ayah tahu Viola sudah memikirkan ini dengan matang. Putri ayah tidak mungkin mengambil tindakan secara tiba-tiba kan?" Air mata Viola seketika menetes saat mendengar perkataan Firman. Pertanyaan terakhir yang di lontarkan Firman berhasil membuat Viola merasa tertampar. "Maaf ayah.. Viola rasa ini jalan terbaik untuk semuanya," ucap Viola dengan suara serak. "Viola gak perlu minta maaf, ayah mengerti mengapa Viola mengambil keputusan ini. Mengenai mama, nanti biar ayah yang bicara. Tapi sebelum itu, Viola juga harus tahu tentang pria yang akan menjadi suami Viola." Firman memberikan semua map yang berisikan beberapa kertas dan juga foto pada Viola. "Namanya Ezra Laskara. Ia pria yang hebat. Dia tidak meneruskan perusahaan papanya, tetapi ia memilih untuk membangun sendiri perusahaanya. Ezra juga sudah pernah menikah dengan wanita yang ia cintai. Berdasarkan informasi yang ayah dapat, wanita ini merupakan salah satu staff di perusahaannya. Dari pernikahan mereka, lahir seorang putri yang dinamai Thalia Putri Laskara. Satu hari setelah putri mereka lahir, istrinya meninggal. Sekarang, dia singel parent. Jika Viola menerima perjodohan ini, Viola tidak hanya harus menjadi seorang istri. Viola juga harus menjadi ibu untuk anak ini nanti. Apa Viola sanggup dengan semua ini?" Viola mendengar perkataan Firman sembari melihat beberapa foto yang menunjukkan putri Ezra. Seorang gadis cantik dengan rambut terurai. Ia juga melihat foto Ezra Laskara yang sedang berdiri dengan setelan jas lengkapnya. Viola sangat yakin foto ini diambil secara diam-diam. Pria itu cukup tampan. Kulit putih, mata tajam dan juga rambut rapihnya mampu membuat Viola terpesona untuk sesaat. Dari foto ini saja, Viola bisa menebak jika Ezra Laskara memiliki tinggi yang cukup tinggi. "Ayah akan kasih Viola waktu beberapa saat untuk memikirkan semua ini. Semua keputusan ada di tangan Viola. Kalau Viola sudah membuat keputusan, Viola bisa temui ayah di ruang kerja." Firman bangkit dari duduknya. Ia memegang bahu Viola lembut. Setelah itu, ia pun berjalan meninggalkan Viola. Tangannya hendak meraih kenop pintu. Tapi belum sempat ia keluar dari kamar, suara Viola menghentikan niatnya. "Viola udah buat keputusan, ayah." Mendengar itu, Firman menoleh kembali ke arah Viola. Ia dapat melihat Viola sudah berdiri dari duduknya. Viola menatap Firman dengan pandangan pasti. "Viola akan menikahi pria ini. Ezra Laskara, Viola akan menikah dengan dia. Pernikahannya juga harus dilaksanakan sesegera mungkin," ucap Viola menyatakan keputusannya. "Kamu harus ketemu terlebih dahulu dengan dia, sayang. Kamu tidak mungkin bisa menikah sebelum bertemu dulu. Kalian harus saling mengenal dan bertukar pikiran, misalnya." Viola menggelengkan kepalanya. Bertemu dengan pria itu akan membuat Viola berubah pikiran. Kemungkinan pria itu juga tidak menerima perjodohan ini. Tidak mungkin dia mempertahankan status singelnya selama ini jika ia masih belum bisa berpaling dari mantan istrinya. Pasti ada satu hal yang membuat pria itu menerima perjodohan ini. "Viola rasa tidak perlu ada yang harus dibicarakan. Viola akan bertemu dengan Ezra di hari pernikahan kami," ucapnya penuh keyakinan. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD