Pernikahan

1023 Words
Viola menatap Syila, mamanya yang sedang menatap kosong kearahnya. Make up yang penuh di wajah Syila tidak bisa menutupi rasa kesedihannya. Melihat itu, Viola meraih tangan Syila dan tersenyum menatap sang mama. Sama seperti tatapan sebelumnya, Syila sama sekali tidak memberikan senyuman pada Viola. Rasa kecewanya pada Viola masih terasa dan tentunya rasa kesal yang ia rasakan. "Ma.. Aku akan baik-baik aja. Mama gak perlu khawatir seperti inji. Aku janji akan sering berkunjung ke rumah," tutur Viola. Ia mencoba untuk menghilangkan rasa khawatir Syila. Walaupun Viola yakin kata-katanya ini tidak akan berhasil. "Bukan hanya itu yang mama khawatirkan, Viola. Kamu gak akan pernah ngerti. Lagian mau mama ngomong apa aja, kamu pasti akan tetap dengan keputusan kamu kan? Mama benar-benar kecewa sama kamu." Syila melepaskan tangan Viola dari tangannya. Ia menatap kearah yang berlawanan dengan Viola. Hanya tinggal menunggu jam, Viola akan resmi menikah dengan pria yang bahkan tidak mau ia temui. Kepala Syila sangat pusing sekarang. Dia sudah membujuk putri semata wayangnya ini setiap hari agar merubah keputusannya. Tapi bukannya berubah, Viola malah semakin kuat dengan keputusannya untuk menikah. "Pokoknya nanti kalau foto, mama harus senyum lebar. Aku gak mau kalau nanti foto pernikahan aku akan jadi jelek nantinya. Ini kan sekali seumur hidup." Viola mencoba untuk sedikit membuat candaan pada sang mama. Tapi tentu saja hal ini sekali lagi tidak berhasil. "Kamu benar-benar gak mau memikirkan perasaan mama." Viola menghela napas panjang mendengar perkataan Syila. Untuk kali ini ia memang tidak memikiran perasaan Syila. Karena sekarang, sudah waktunya Syila memikirkan perasaan papanya. "Kalau tahu gini, kamu gak akan mama pulangin ke Indonesia. Biar aja kamu terus selamanya di London, biar mama aja yang nyamperin kamu." "Ma... udah dong. Aku ngelakuin ini buan hanya untuk papa. Aku rasa memang udah saatnya aja aku nikah." "Enggak! kamu masih terlalu muda untuk nikah. Apalagi setelah ini kamu akan ngurus seorang anak, Viola. Pokoknya mama ga--" ucapan Syila terpotong oleh karena seseorang. "Acaranya udah mau dimulai. Sebentar lagi kamu akan memasuki altar." Syila dan Viola menoleh kearah sumber suara. Mereka dapat melihat Bening yang sudah berdiri di depan pintu ruangan ini. Melihat kehadiran bening, suasana hati Syila seketika semakin memburuk. "Kenapa kamu selalu saja datang tanpa pemberitahuan? Gak lihat saya lagi ngobrol sama anak saya?" tanya Syila dengan ketus. "Ma! Jangan gitu." Viola menegur Syila. "Oke tante, bentar lagi aku keluar," ucap Viola pada Bening. Setelah mendengar itu, Bening kembali keluar meninggalkan Viola dan Syila. "Kenapa dia harus ikut kesini sih? Lagian dia gak ada hubungannya sama kamu," tutur Syila kesal. Viola menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaan Syila. "Dia istri papa, ma. Ya udah pasti lah dia ikut." Viola bangkit dari duduknya. Ia kembali menatap dirinya di sebuah cermin yang ada di depannya. Ia menghela napas dalam mencoba untuk memberikan senyuman terbaikya. Setelahnya, Viola menoleh ke Syila dan mengatakan, "Aku siap, ma." Mendengar perkataan Viola, Syila mau tidak mau bangkit dari duduknya dan memegang lengan putrinya. Ia menatap lekat wajah Viola dan menganggukkan kepalanya. Detik berikutnya, mereka keluar dari ruangan ini. Pandangan Viola tertuju pada Firman, ayah tirinya yang saat ini sudah meneteskan air matanya ketika melihat Viola untuk pertama kali. Melihat air mata Firman yang membasahi pipi pria payuh baya itu membuat Viola seketika ingin ikut menangis. Tapi ia mencoba untu tidak melakukan itu agar make upnya tidak rusak. "Putri ayah cantik sekali," ucap Firman ketika Viola sudah berada tepat di depannya. Senyum Viola seketika tercipta mendengar perkataan Firman. "Viola udah siap?" tanya Firman. Dengan penuh keyakinan, Viola menganggukkan kepalanya. Firman pun memposisikan dirinya di sebelah kiri Viola. Dengan penuh keyakinan, Viola meletakkan tangannya di lengan Firman. "Papa Viola nanti akan ikut membawa Viola di sebelah kanan," ucap Firman. "Untuk apa dia ikut membawa Viola ke altar? Dia gak berhak untuk itu," jawab Syila. "Gimanapun Viola putri kandungnya, Sayang. Ini hari bahagia untuk Viola, jangan membawa kebencian kamu di sini." Viola menganggukkan kepalanya, dia setuju dengan perkataan ayahnya. Tak lama dari perkataan Firman, Viola dapat melihat papanya berjalan mendekat dengan senyuman lebarnya. Ia memposisikan dirinya di sebelah kanan Viola. Detik berikutnya, mereka berjalan memasuki altar. Senyum Viola terus ia berikan untuk semua orang yang menghadiri pernikahannya. Tapi pandangan Viola tertuju pada seorang pria yang berdiri menunggu dirinya. Pria itu sama sekali tidak tersenyum. Viola dapat melihat tatapan tajam yang di pancarkan olehnya. Seketika pemikiran jika calon suaminya ini juga tidak ingin menikah dengannya terlintas. Mungkin saja pria ini juga terpaksa menikah dengan dirinya. Apa yang akan terjadi pada kehidupan rumah tangganya jika mereka sama-sama terpaksa seperti ini. Viola menggelengkan kepalanya. Dia tidak ingin memikirkan hal-hal yang belum tentu terjadi. Saat ini ia harus fokus denga acara yang dibuat untuknya. Masalah kehidupannya kedepan, ia yakin ia akan bertahan dengan baik. Pria itu mengulurkan tangannya pada Viola, masih dengan tatapan yang sama. Firman melepaskan rangkulan tangan Viola dan memberikan tangan Viola padanya. Detik berikutnya pria ini membawa Viola kedepan pendeta. Detak jantung Viola berdetak tak karuan ketika mengucapkan janji suci pernikahannya. Ia tidak tahu kenapa jantungnya bisa berdetak seperti ini, satu yang pasti ia tidak bahagia dengan pernikahan ini. Tanpa terasa, Viola sudah mendapatkan kecupan singkat dari pria yang sekarang berstatus suaminya ini. Suara tepuk tangan bergema di ruangan ini. Senyuman Viola kembali tercipta untuk para tamu yang hadir di pernikahannya. **** "Ganteng kok suami lo," tutur Fanny pada Viola. Viola menganggukkan kepalanya. Ia tidak memungkiri jika tampang suaminya memang lumayan. "Tapi sepertinya dia juga gak tertarik dengan pernikahan ini deh. Dia juga kayaknya gak ngundang temannya, Vio. Tamu-tamunya cuman rekan bisnis keluarga lo sama dia. Cuman gue yang masih muda di sini," sambung Viola lagi. Viola baru menyadarinya. Apa yang Fanny katakan sekali lagi benar. Sahabatnya ini memang sangat mudah menebak sesuatu. "Bagus dong, berarti gue gak perlu bersikap seolah gue tertarik dengan pernikahan ini." Setidaknya Ezra juga tidak tertarik dengan pernikahan ini. Kehidupan Viola tidak akan berubah sepenuhnya. Mungkin ia hanya akan berperan sebagai ibu dari anak Ezra saja, selebihnya tidak ada yang berubah. "Iya sih. Tapi.. Lo udah kasih tahu dia kalau lo udah nikah?" Kedua mata Viola melebar ketika mendengar pertanyaan Fanny. Benar, dia lupa memberitahu pria itu jika ia akan menikah. Apa yang akan terjadi nanti jika ia kembali ke sini. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD