Langkah Viola memasuki rumah yang cukup mewah ini. Bukan cukup lagi, malah menurut Viola rumah ini sangat mewah. Lebih besar dari rumahnya. Rumah yang mulai sekarang akan menjadi rumahnya juga. Rumah ini tampak begitu sepi, tetapi sangat rapih. Pemikiran Viola seketika teringat dengan anak Ezra, anaknya juga mulai sekarang. Dia tidak sabar bertemu dengan anak dari suaminya ini. Mungkin dia sudah tertidur sekarang, wajar saja saat ini sudah menunjukkan pukul satu malam.
Viola mengikuti langkah Ezra. Mereka menaiki tangga menuju kamar. Ezra membuka pintu kamar dan hendak masuk, tapi langkahnya berhenti dan menatap Viola datar. Cukup lama ia menatap Ezra hingga detik berikutnya ia mengatakan perkataan yang membuat Viola terdiam.
"Kamar kamu di sebelah sana. Kamu tidak perlu tidur satu kamar dengan saya. Saya harap kamu bisa mengerti," ucapnya. Setelah mengatakan itu, Ezra berjalan memasuki kamarnya. Meninggalkan Viola tanpa menunggu respondnya. Viola berusaha untuk mencerna perkataan Ezra. Banyak sekali pertanyaan yang ingin ia tanyakan pada Ezra. Salah satunya ialah mengapa ia harus tidur terpisah dengannya?
Viola tahu jika pernikahan ini terpaksa mereka lakukan. Tapi bukan seperti ini bayangan Viola. Ia merasa Ezra menolak dirinya di malam pertama mereka. Ia sangat tidak percaya akan hal ini. Cukup lama Viola berdiri di depan pintu kamar Ezra, hingga akhirnya ia pun berjalan menuju kamar yang dimaksud oleh Ezra. Viola masuk ke dalam kamar itu dan mulai merebahkan tubuhnya. Ia tidak ingin memikirkan apapun lagi, saat ini matanya mulai terpejam dan tanpa ia sadari Viola mulai tertidur lelap.
***
Mata Viola terbuka perlahan. Tidurnya tertanggu ketika ia mendengar suara tawa yang cukup kuat dan sering. Satu lagi, tempat tidurnya terasa bergoyang. Mau tidak mau Viola membuka kedua matanya. Pandangan pertama yang ia lihat ialah seorang gadis kecil yang sedang berlompat di tempat tidurnya sembari tertawa lepas.
Ketika menyadari Viola sudah membuka kedua matanya, gadis itu berhenti berlompat. Ia duduk di samping tubuh Viola dan memegang pipi Viola. "Hai mama.. aku Thalia," ucapnya dengan gembira. Mendengar nama itu, seketika Viola bangkit dari tidurnya. Ia duduk berhadapan dengan Thalia di tempat tidur. Senyum Viola seketika tercipta ketika melihat gadis kecil di depannya.
"Hai Thalia.. kamu cantik sekali," balas Viola sembari menelus lembut rambut panjang Thalia. Ia tidak menyangka anaknya akan secantik ini.
"Terimakasih mama. Pagi ini Thalia mau makan pancake pakai selai kacang sama jus jeruk." Viola mengernyitkan dahinya mendengar apa yang ingin Thalia makan pagi ini. Ia masih tidak mengerti mengapa gadis kecil ini mengatakan apa yang ingin ia makan.
"Mbak Dila kalau minggu enggak masuk kerja. Tadi Thalia udah ke kamar papa, tapi papanya masih tidur. Thalia udah lapar mama," sambungnya lagi. Viola baru mengerti sekarang. Gadis ini ingin ia yang memasak untuk sarapan paginya.
"Oke sayang.. Biar mama yang masak pancakenya. Thalia temanin mama di dapur yuk!" ajak Viola pada Thalia. Mendengar itu, dengan semanagt Thalia ikut bangkit dari kasur.
Tangan Thalia menggenggam erat tangan Viola, rasanya cukup aneh mendapatkan genggaman hangat dari putri kecil ini. Tapi dari lubuk hati Viola, ia merasa bahagia mendapatkan genggaman dari Thalia.
Mereka berdua pun berjalan menuju Dapur. Rumah ini benar-benar sangat sepi. Setelah sampai di dapur, Viola mulai mencari bahan-bahan yang akan ia gunakan untuk membuat pancake. Sedangkan Thalia, ia menunggu Viola di kursi meja makan sembari menatap kearah Viola. Cukup lama Viola mencari bahan-bahan yang akan ia gunakan. Pasalnya ini kali pertama untuknya memasak di tempat ini.
Sekitar Tiga puluh menit kemudian, sarapan yang diminta Thalia akhirnya selesai. Viola meletakkan makanan yang ia buat ke meja makan.
"Makanannya Siap," ucap Viola sembari memberikan Pancake dan jus jeruk untuk Thalia. Senyuman lebar Thalia tercipta ketika melihat sarapannya.
"Wah.. aromanya wangi sekali, terimakasih mama," ucap Thalia dengan penuh semangat.
"Sama-sama sayang."
Thalia mulai memakan panceknya. Sedangkan ia kembali ke dapur untuk mengambil sarapan untuknya dan Ezra. Ia tidak tahu apa yang akan Ezra minum di pagi hari. Karena itu ia membuatkan kopi, teh dan juga jus jeruk untuk sarapan pagi ini. Mungkin saja salah satu diantara ketiga ia Ezra akan menyukainya.
Viola kembali meletakkan minuman dan makanan diatas meja untuknya dan Ezra. Setelah selesai, ia duduk di samping Thalia. Viola tidak berani untuk membangunkan Ezra. Kejadian tadi malam masih membuatnya syok. Lebih baik ia menunggu saja Ezra bangun dan sarapan dengan sendirinya.
"Mama setelah ini kita kemana?" tanya Thalia sembari memakan pancakenya.
"Emangnya Thalia mau kemana?" tanya balik Viola.
"Thalia mau jalan-jalan sama mama dan papa. Kita bisa ke mall kalau enggak. Nanti kita nonton bioskop dan makan malam di luar. Mama mau kan?" Viola terdiam mendengar permintaan Thalia. Untuk ke mall dan pergi ke sana ia cukup malas. Pasalnya ia masih lelah karena acara yang diadakan semalam. Mendengar kata mall seketika membuat Viola merasa lelah.
"Gimana kalau nanti Thalia tanya sendiri sama papa. Kalau papa setuju, mama juga setuju."
Hanya itu yang bisa Viola tawarkan pada Thalia. Ia tidak tega menolak ajakan dari gadis kecil ini. Viola sangat yakin Ezra akan menolak ajakan Thalia. Untuk tidur bersama dirinya di satu kamar saja Ezra tidak mau. Apalagi jika jalan di mall bersamanya. Akan lebih baik Ezra sendiri yang menolak permintaan putrinya ini.
Tak lama setelah Viola berkata seperti itu, Ezra ternyata sudah keluar dari kamarnya dan sedang menuruni tangga. Viola hanya melirik Ezra sekilas, setelahnya ia kembali fokus dengan makanannya.
Ezra duduk di kursi tepat di depan Thalia. Ia menatap sarapan yang ada di depannya. Tanpa menunggu lama, Ezra mulai menyantap pancake yang Viola buat tanpa bersuara. Viola bersyukur pria ini memakan sarapan yang ia buat.
Ditengah-tengah makannya, Thalia mulai menanyakan pertanyaan yang sama yang tadi ia tanyakan pada Viola. "Papa.. gimana kalau nanti kita ke mall. Thalia mau kita pergi nonton bioskop dan makan malam di luar sama mama dan papa. Boleh kan pah?" tanya Thalia pada Ezra.
Ezra diam untuk sesaat, memikirkan jawaban yang tepat untuk pertanyaan Thalia. Sedamgkan Viola ia hanya santai menunggu jawaban penolakan dari Ezra. Tapi detik berikutnya Viola syok mendengar jawaban yang diberikan Ezra.
"Boleh sayang. Nanti siang kita perginya ya, Biar tiket nontonnya papa pesan nanti," jawabannya dengan senyuman singkat. Viola tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Ia sangat menuruti apa yang Thalia inginkan.