Andin menepati janjinya, malam itu juga wanita itu mengepaki semua barang-barangnya wang memang tidak terlalu banyak. Andin hanya membawa barang-barang yang memang sedari awal miliknya, beberapa barang pemberian Ghidan ia tingkalkan begitu saja di kamarnya. Andin sudah memutuskan, memang lebih baik bagi mereka berdua untuk terpisah agar tidak saling menyakiti. Demi Tuhan, Andin sama sekali tidak berniat untuk menyulitkan Ghidan dengan kekasihnya. “Bik, saya mau pergi dari rumah ini.” “Helah, kenapaa?” tanya Bik Inah dengan raut wajah terkejut. Wanita paruh baya itu mencuci tangannya lalu mendekat ke arah Andin yang sudah membawa koper cukup besar di samping tempatnya berdiri. “Non Andin .. kenapa pergi? Nanti ba .. bapak gimana?” Bik Inah bertanya dengan isakan, wajahnya terlihat sedih

