Ghidan menepati janjinya, membawa Andin pergi dari rumah yang sedang terasa kurang nyaman untuk dirinya. Setelah Ghidan selesai mandi, Ghidan membawa Andin untuk turun kebawah bersamanya. Di taman, masih banyak keluarga yang bertahan berada di sana walaupun beberapa anak kecil sudah terlihat tertidur di pangkuan Mamanya.
“Ma, Ghidan antar Andin pulang ya”
“Andin ga tidur sini aja? Kan malam minggu” Tanya Mama Anggun.
“Andin lagi banyak kerjaan Ma”
“Ooh, terus mobil Andin?”
“Gampang nanti”
“Ya sudah, hati-hati yaa”
Ghidan dengan begitu mudah menjawab Mamanya, memudahkan Andin untuk segera pergi dari rumah Mama Anggun. Dengan sopan Andin berpamitan dengan Mama Anggun kemudian anggota keluarga yang lain. Setelah merasa cukup, Andin mengajak Ghidan untuk segera pergi, bahkan Andin sengaja menarik tangan Ghidan untuk segera pergi menghilang dari rumah ini.
Entah apakah ia harus mengucapkan terima kasih kepada Ghidan yang sedang berbaik hati kepadanya, atau mungkin Andin bisa mengajaknya mampir beli es krim sebagai ucapan terima kasih?
Ini mah modus lo aja Ndin.
Ghidan sedang baik kepada Andin, bahkan laki-laki itu sekarang sedang berbaik hati mengantarkannya pulang.
Di dalam perjalanan mereka hanya di temani dingin suhu mobil dan musik yang berganti-ganti. Tidak ada yang ingin membuka kalimat untuk memecah sepi, kedua-keduanya sama-sama kompak mempertahankan sunyi. Andin sedang sibuk mempertahankan hatinya, Ghidan sibuk dengan pemikirannya sendiri.
“Terima kasih” Ucap Andin setelah mereka tiba di lobby apartment Andin.
“Sorry kalau Mama bikin kamu ga nyaman”
“Ga papa, gw masuk dulu”
Andin merasa tangannya tertahan ketika hendak beranjak pergi, menatap Ghidan yang begitu sialan memegang lengannya yang terbuka. Tangan Ghidan dingin namun lembut, membuat hati Andin berdesir pelan.
“Ada apa lagi?” Tanya Andin lemas, dengan berusaha melepaskan cekalan tangan Ghidan di lengannya, dia merasa kurang nyaman, dia takut semakin terjatuh kepada pesona Ghidan yang meroket tajam.
Ghidan mengabulkan permintaan Andin, melepaskan cekalan tangannya pada lengan Andin dan menatap ke arah luar mobil.
“Sorry”
“Lo dari tadi moap maap terus”
Ghidan kali ini menatap Andin dengan tatapan menusuk, yang semakin membuat Andin salah tingkah, “Jangan pakai lo gue”
“Terus maunya di panggil apa? Sayang?”
Ghidan memutar kedua bola matanya, “Ya apapun itu jangan lo gue, aku ga suka”
“Mas Ghidan”
“Nah itu aku suka”
Andin menghela nafasnya pelan, “Sumpah omongan kita saat ini ga mutu banget”
Andin menangkap senyum Ghidan yang terselip samar-samar, dan seperti melihat salah satu dari tujuh keajaiban dunia, senyum Ghidan begitu indah yang jarang di dapatkan manusia biasa seperti dirinya. Mata Ghidan menyipit ketika dia tersenyum, dan yang jelas Ghidan semakin ganteng to the max. Mau tidak mau senyum Ghidan menjalar ke bibir Andin yang ikut tertarik di kedua sisi.
“Andin masuk dulu ya, Mas Ghidan” Pamit Andin sekali lagi, dengan menekankan kata ‘Mas Ghidan’ di akhir kalimatnya.
“Heem, besuk Senin aku antar ke kantornya”
Tubuh Andin yang hendak membuka pintu langsung berputar seratus delapan puluh derajat dengan cepat mendekat dan berpindah menatap Ghidan, membuat Ghidan terkejut hingga memundurkan tubuhnya menjauh dari Andin yang terlihat bar-bar.
“Apa Mas coba ulangi lagi?”
“Besuk Senin aku antar ke kantornya”
Andin menggeleng, itu tentu bukan ide yang baik, dia sedang menjadi target pembully dan bahan gosip di kantornya. Jika dia terlihat di antar oleh seorang laki-laki, pasti mulut teman-teman kerjanya seperti mendapatkan sebuah amunisi senjata ampuh untuk bergunjing. Dia tidak apa-apa jika kegap punya pacar, dia senang, itu pasti bisa membungkam mulut teman-temannya selama ini, tetapi jika dia tidak jadi menikah dengan Ghidan? Atau jika dia hanya di antar satu kali ke kantor kemudian mereka berpisah selamanya tanpa ada kesempatan untuk bersama? Pasti Andin akan merasa dirugikan, dan teman-temannya akan selalu menyudutkan karena dia akan menjadi si jomblo yang gagal nikah.
Big NO!
“Enggak usah Mas, Senin Andin naik ojek aja! Mas Ghidan minta sopir nganter mobil Andin”
“Kok kamu kaya ga mau ya kalau misalnya aku nganter ke kantor? Ga mau kalau bos rasa temanmu itu ngelihat kamu sama laki-laki lain?”
“Bu.. Bukan gitu Mas, udah deh, Mas jangan maksa! Pokoknya aku ga mau”
Ghidan terlihat marah, atau ngambek? Tidak tahu, Andin hanya bisa melihat samar karena sekarang ini sudah sangat larut, pencahayaan minim dan matanya yang minus sudah semakin memiliki daya tangkap objek yang minim karena mengantuk. Bisa saja senyum Ghidan tadi, dan beberapa perubahan ekspresi Ghidan saat ini hanya kehaluan Andin karena sudah terlalu mengantuk. Ya Tuhan Andin ingin segera merebahkan tubuhnya di kasur tanpa bee-haa, tetapi sepertinya laki-laki di hadapannya tidak ingin segera berniat pergi.
“Udah ah, Andin ngantuk mau masuk, bye!”
Andin kali ini memantapkan hatinya untuk keluar dari dalam mobil tanpa menunggu persetujuan Ghidan, dia tidak berbohong, dia benar-benar sudah sangat mengantuk.
Di sisi lain, Ghidan yang merasa sama sekali tidak mengantuk memilih untuk menghubungi Gading, sahabatnya. Ghidan meminta Gading untuk datang di salah satu klub tempat biasa mereka nongkrong bersama sahabat-sahabat lainnya. Hari ini adalah hari Sabtu, bagi seorang pekerja keras seperti dirinya yang sudah bekerja lima hari plus setengah hari di hari Sabtu karena tadi dia masih ada meeting dadakan, sangat sayang jika malam minggunya hanya di habiskan untuk tidur.
Ghidan langsung menginjak gasnya dan mobilnya meluncur ke arah yang sudah sangat ia hafal.
Bunyi suara musik yang memekakan telinga hingga membuat jantung berdebar-debar tak karuan menjadi penyambut Ghidan ketika menginjakkan kakinya di sini. Beberapa perempuan cantik yang mencoba menawarkan minum silih berganti menyapa Ghidan, ada yang memang bertujuan menawarkan minum tetapi ada juga yang sengaja menggoda Ghidan dan menawarkan tubuhnya. Tentu Ghidan menolak, ia tidak sembarangan melakukan itu dengan wanita.
Ghidan tentu bukanlah seorang laki-laki bersih, dia laki-laki lajang dan punya uang. Ghidan pernah beberapa kali (Ingat beberapa kali, tidak sering!) menyewa wanita yang sudah di nyatakan bersih. Terlebih jika sedang melakukan perjalanan kantor yang cukup jauh, seringnya kolega bisnis menawari wanita-wanita cantik untuk menemaninya.
“Sudah lama lo” Tanya Ghidan pada Gading yang terlihat sudah berada di sofa dengan dua wanita di sisi kanan dan kiri.
Gading sahabatnya sejak masih SMA hingga sekarang, mereka sama-sama mengambil post graduate di Cambridge, sama-sama memiliki karier cemerlang sebagai seorang pengusaha, membuat keduanya begitu dekat. Mereka gila bareng, tetapi jika sudah berhubungan dengan pekerjaan mereka adalah partner yang sempurna.
“Mau pakai cewe ga lo?”
Ghidan menggeleng, tangannya ia angkat ke atas untuk memanggil pelayan dan memesan minuman. Malam ini Ghidan ingin mabuk, dia sudah menghubungi supir untuk nanti mengantarkannya pulang ke apartment. Ghidan sedang kalut, pusing dengan tuntutan Mamanya yang memintanya untuk segera menikah.
“Wajah lo udah kaya nahan berak, kenapa sih?”
“Biasalah, nyokap”
Gading tertawa, “Dikenalin lagi sama cewe?”
Ghidan mengangguk, “Percuma gw menolak, akan selalu ada wanita lain yang di sodorin nyokap gw”
“Terus? Mau lo terima?”
“Ga tau”
“Sekarang kita udah sama-sama tua, wajar kalau nyokap mulai rese”
Gading berucap dengan enteng, berbeda dengan Ghidan yang selalu menolak, Gading memilih untuk menerima calon pilihan Mamanya yang sesuai dengan kriterianya secara fisik, karena diluar fisik Mamanya lah yang menyeleksi. Tetapi dia tetap samber sana samber sini kepada setiap wanita yang datang, dan tentunya dia selalu bermain aman, pergerakannya sama sekali tidak terdeteksi calon istri.
“Lo liat gw kan? Kita masih bisa have fun walaupun sudah punya pasangan, kalaupun sudah menikah kita tetap bisa nyenengin diri sendiri, ya kan?” Pertanyaan terakhir ia tunjukan kepada kedua wanita yang di sampingnya, sambil mencium dan melumat membuat Ghidan bergidik ngeri.
Dia merasa tidak bisa, jika sudah memutuskan untuk memiliki pasangan dan tetap bermain perempuan, Ghidan tidak ingin menyakiti perempuan. Dia memiliki seorang ibu, dan nanti ingin sekali memiliki seorang anak perempuan. Tetapi jika harus menerima perjodohan, Ghidan masih terasa berat. Andin hanyalah orang asing baginya, lagipula secara fisik Andin sama sekali tidak masuk ke dalam kriterianya. Tetapi bagaimana? Dia tetaplah laki-laki yang butuh menyalurkan gairraahhnya.
“Lo masih belum bisa move on dari masa lalu?”
Ghidan tidak menjawab yang secara tidak langsung membenarkan ucapan Gading. Yang sebenarnya, ini adalah alasan terbesarnya untuk tidak mau menerima setiap tawaran perjodohan dari Mamanya.
“Ghidan.. Ghidan, perempuan banyak di luar sana, dan lo masih menunggu seorang perempuan yang jelas-jelas ga memilih lo”
“Kata-kata lo ga ngasih pencerahan sama sekali”
Gading menegakkan tubuhnya, melepaskan tangan-tangan yang menggerayangii tubuhnya, “Ada fase perceraian setelah pernikahan Ghidan, lo bisa menikah dan bisa bercerai setelah itu, ga usah hidup menggunakan kacamata kuda, lo harus melihat dunia secara luas”
Ghidan masih terdiam, mencoba meresapi setiap kalimat Gading. Memang benar, dia bisa menikah dan bisa menceraikan Andin setelahnya, karena bagaimanapun namanya rumah tangga pasti ada saja yang tidak berjalan mulus. Setidaknya, Mamanya tidak lagi menuntutnya untuk menikah ketika Ghidan gagal dengan pernikahan pertamanya. Dan lagipula, dia tidak perlu memiliki anak dan tidak mungkin memiliki anak dari Andin, karena Ghidan sama sekali tidak tertarik dengan wanita itu.
“Nikah, setahun kemudian cerai, gampang!” Tambah Gading yang semakin meyakinkan Ghidan bahwa kesempatan itu layak di coba.
Ghidan mengambil minuman yang sudah berada di mejanya. Dengan sekali tenggak ia menghabiskan minuman itu dan melancarkan niatnya untuk mabuk.
****
Supir mengantarkan Ghidan tepat di jam satu pagi. Membopong laki-laki yang bertubuh tinggi dan besar serta rajin berolah raga bukanlah sesuatu hal yang mudah di lakukan oleh sopirnya seorang diri. Walaupun supir Ghidan juga memiliki badan yang besar, tetapi Ghidan terlalu berat untuk di bopongnya. Hingga membutuhkan waktu yang cukup lama bagi keduanya untuk sampai di apartment. Sopir Ghidan meletakkan Ghidan di kasurnya seperti arahan Ghidan sebelumnya, kemudian dia keluar dari apartment.
Ghidan tidak tidur, ia masih meracau. Berdiri dengan langkah gontai ke arah meja kerja almari. Dengan kasar ia membuka almari dan mengacak-acak isinya untuk mencari sesuatu. Sebuah potret seorang perempuan cantik yang sedang tersenyum manis terlihat mendapatkan perhatian penuh dari seorang Ghidan.
Seorang wanita cantik yang tidak pernah bisa tergeser di dalam hatinya.
“Nin, aku kangen” Ucap Ghidan samar.