Malam menghilang terganti dengan pagi yang mulai menjelang. Sinar matahari yang menyusup di sela-sela gorden apartment Ghidan menambah penerangan kamar yang sebelumnya gelap menjadi sedikit lebih terang. Aroma masakan yang khas menjadi penggugah selera pagi ini, namun rasa kantuk yang begitu hebat mendominasi tubuh Ghidan untuk tetap terpejam. Hingga suara bunyi pintu dibuka dengan begitu kasar, dan suara-suara galak dari Mamanya mendominasi kamar, Ghidan langsung memaksa matanya untuk terbuka walaupun terlihat jelas warna merah di kedua matanya.
“Kamu itu lho, udah tua juga hobbynya masih mabok”
Suara Mamanya yang galak justru seperti sedang menina bobokan Ghidan yang masih mengantuk. Mamanya adalah orang yang paling berharga dalam hidupnya, semenjak di tinggalkan oleh Papanya yang meninggal satu tahun yang lalu akibat serangan jantung. Dalam hidup Ghidan, seseorang yang sangat ingin ia bahagiakan dan ingin dia lindungi hanyalah Mamanya. Tetapi semenjak peninggalan Papanya, Ghidan agak sedikit menjauh dari Mamanya karena tuntutan Mamanya yang semakin menjadi-jadi untuk meminta Ghidan menikah dan memberikan cucu.
“Ghidaan, banguuun!” Sebuah tamparan tidak cukup keras Ghidan dapatkan di punggungnya yang terbuka.
“Ma, Ghidan masih ngantuk”
“Mama sudah buatkan kamu sup sama jus jeruk, ini sudah siang jam dua, Papamu dulu ga suka mabuk begini lho Ghi”
“Jaman Papa sama jaman Ghidan jauh berbeda, jangan disamakan” Jawab Ghidan dengan memaksakan tubuhnya untuk duduk. Ghidan melihat jam tangan yang masih bertengger manis di tangan kirinya, jam sudah menunjukkan pukul dua lebih lima belas menit, pantas saja Mamanya mengomel.
“Untung saja Mama ga mergokin kamu bangun sama perempuan lagi, coba kalau ada perempuan lagi, besuk juga Mama nikahin kamu sama Andin! Orang kok sukanya menebar benih kemana-mana, ga takut itu kalau kamu punya anak dari wanita bayaran begitu?”
Mamanya memang memiliki daya ingat luar biasa, ahli sejarah, sukanya mengungkit-ngungkit masa lalu seperti wanita pada umumnya. Yapz, Ghidan pernah kepergok Mamanya bangun saat baru saja melakukan kegiatan terkutuk dengan wanita bayaran. Dan ya itulah yang menyebabkan Mamanya semakin memaksa Ghidan untuk menikah
“Kemarin anter Andin ke apartmentnya?”
“Heemm”
“Kenapa ga bawa Andin ke sini?”
Ghidan memutar kedua matanya, “Maa...”
Mama Anggun terlihat mengedikan bahunya, kemudian hendak berlalu pergi namun tiba-tiba berhenti, “Kalau kamu punya anak dari Andin Mama setuju”
“Maa.. Andin ga masuk kriteria Ghidan”
Mama Anggun melempar bantal sofa yang berada di kamar Ghidan, tepat mengenai tubuh Ghidan yang masih terduduk.
“Mama udah carikan yang berbagai tipe mulai model, artis, penyanyi, pengusaha, dosen, semuanya kamu ga mau? Terus maunya kamu yang fisiknya kaya gimana? Kambing di bedakin kamu mau?”
“Ck, jangan gitu ih Ma”
“Pokoknya Mama ga mau tahu, kamu harus coba dulu sama Andin, titik!” Ucap Mama Anggun sambil mengibaskan kedua tangannya ke udara, “Oh ya, mobil Andin tadi pagi sudah di ambil, dia ke rumah Mama naik gojek”
“Hah? Padahal kemarin Ghidan udah bilang biar Ghidan yang antar” Ucap Ghidan sebal, Andin benar-benar tidak ingin menunjukkan kedekatannya dengan Ghidan.
Eh, emang mereka dekat?
Sepeninggalan Mamanya dari kamar Ghidan, laki-laki itu kembali mengubur tubuhnya di dalam buaian kasur yang empuk. Dia masih sangat mengantuk, dia ingin lari dari kenyataan yang seringnya tidak sesuai dengan harapan.
***
Banyak orang tidak menyukai hari Senin, tetapi tentu tidak bagi seorang Andin yang menyukai pekerjannya. Dia senang membaca dan berhalu, jadi aktivitas membaca bait demi bait, baris demi baris paragraf tulisan membuat Andin seperti mendapatkan amunisi setiap harinya. Bekerja dengan hobby merupakan anugrah, itu menurut Andin.
Dia berjalan dengan senyum yang selalu setia bertengger di bibirnya yang manis, matanya cerah karena dia baru saja menghabiskan malamnya untuk tidur dengan begitu lelap. Bahkan bangun tidur Andin semakin terasa ringan karena dia baru saja bermimpi memiliki dua anak kembar. Sayangnya, wajah ayah dari kedua anaknya tidak terlihat jelas di dalam mimpi, tetapi setidaknya jika ia memiliki anak pasti itu dari benih laki-laki bukan? Artinya pasti dia sudah menikah dan menemukan jodohnya.
Pagi harinya Andin sudah sarapan menggunakan roti bakar selai coklat kacang kesukaannya dan s**u low fat agar dia tetap sehat, seperti anjuran selebgram yang selalu dia ikuti. Jujur saja, Andin kepikiran dengan kata-kata Ghidan yang bilang kalau kurus belum tentu sehat, karena bisa saja akibat penyakit. Andin jadi bergidik ngeri dan mulai waspada dengan tubuhnya.
“Pagi, Ndin”
Emm.. hidup Andin memang selalu sempurna dengan hal-hal kecil seperti ini. Pagi hari saja dia sudah mendapatkan sambutan selamat pagi dari bos sekaligus sahabatnya yang terkenal memukau di seantero Pena-ku, Dirga.
“Pagi, Pak Dirga, sehat kan?”
Dirga yang mendapati pertanyaan aneh dari Andin menilisik tubuhnya sendiri, memang apa ada yang salah dengan dirinya hingga Andin harus bertanya tentang kesehatannya?
“Emang kenapa?” Tanya Dirga, beruntungnya hanya ada mereka berdua di dalam lift.
“Ga papa, nanya aja”
“Ck. Aneh banget lo”
“Emang gw ga pernah ga aneh gitu?”
“Lagi happy ya?”
Andin tersenyum simpul, matanya ia kedip-kedipkan seperti cacing kepanasan yang membuat Dirga semakin menjauh dari Andin. Yang Dirga takutkan, Andin mungkin baru saja terkena penyakit antraks varian baru.
“Alhamdulillah, Andin selalu bersyukur dan selalu happy, makanya lo jangan terlalu tegang gitu hidup lo, cukup yang tegang ituuuu??” Ucap Andin dengan nada yang panjaang, “Ga jadi, pagi-pagi ga boleh ngomong jorok”
Sebelum pintu lift terbuka, Dirga mendekatkan tubuhnya ke arah Andin dan menyentil dahinya dengan cukup keras.
“Otak lo itu yang selalu jorok”
Ting.
Sial Andin tidak bisa membalas. Kenapa Dirga suka sekali menyentil jidatnya? Bisa benjol lama-lama.
Lift sudah terbuka dan Dirga sudah keluar terlebih dahulu melewatinya. Andin bisa melihat beberapa karyawan yang menyapa Dirga tetapi mengabaikannya. Sialan memang, dia seperti rempahan rengginang yang disandingkan dengan roti almond di saat lebaran, tersisih!
“Wajah udah butek amat Ndin!”
Tari tiba-tiba berada di belakangnya, berjalan di sisi Andin yang kosong. Ingin mengabaikan tetapi Andin merasa tidak baik berbuat jahat dengan sesama manusia. Dengan senyum terpaksa, Andin menjawab sapaan Tari dengan sabar tenang dan tawakal.
“Iyaa, tadi kebelet boker tetapi ga jadi, rasanya jadi nyesek-nyesek gimana gitu”
“Sialan lo”
“Jangan lupa nanti kita ketemu dengan tander untuk tempat acara lounching buku terbaru”
“Itu kan bukan urusan editor ya?”
“Kan editor juga bisa ngasih pertimbangan”
“Ya,, ya lihat nanti! Gw masuk ruangan gw dulu ya”
Tanpa menunggu jawaban Tari, Andin langsung berjalan mendahului dan berbelok ke arah pintu sebelah kiri. Ruangannya tidak terlalu luas, tentu tidak seluas ruangan Dirga yang bahkan ada televisinya. Ruangan Andin hanya berukuran 3x4 dengan satu meja dan kursi kerja dan dua kursi tamu di hadapannya. Bedanya dengan ruangan Dirga, ruangan Andin penuh dengan rak-rak yang berisi buku-buku yang disusun dengan rapi.
Andin segera menyiapkan peralatan tempur dan memulai aktivitasnya untuk bekerja.
Lebih dari berjam-jam duduk di balik meja kerjanya sama sekali tidak terasa bagi Andin. Hingga sebuah ketukan di pintu ruangannya menarik perhatian Andin dari laptopnya yang sedang ditekuninya.
“Masuk”
Muncul si cupu Fadlan dari balik pintu ruangannya, laki-laki itu hanya menampilkan kepalanya sambil melihat ke arah Andin yang menatapnya dengan alis yang terangkat.
“Ditunggu di ruang meeting ka, katanya pak Dirga minta ka Andin yang datang untuk pertimbangan”
Dirga memang sialan! Dia seharusnya tahu bahwa urusan tempat dan lokasi pameran itu bukan pekerjaan editor. Tetapi laki-laki itu suka sekali mengusiknya ketika dia sedang asik bekerja. Mau tidak mau, karena Dirga adalah atasannya dan dia masih mencintai pekerjaan dan gajinya setiap bulan, Andin menutup laptopnya dengan malas dan berjalan bersama Fadlan memasuki ruang meeting.
Andin mengetuk pintu ruang meeting yang tertutup walaupun sebenarnya orang-orang yang berada di dalam ruangan itu sudah mengetahui kedatanganya karena dinding ruang meeting yang terbuat dari kaca.
“Bu Sasa, ini tim senior editor kami, kenalkan namanya Andin” Ucap Dirga memperkenalkan Andin sedangkan Andin hanya menampilkan senyum terbaiknya untuk beberapa orang yang konon katanya adalah perwakilan lokasi project Pena-ku.
“Mbak Andin, kan?”
Sebentar-sebentar, Andin menajamkan pandangannya menelisik ke orang seorang perempuan berambut panjang yang dia biarkan tergerai cantik, mengenakan zip blazer berwarna putih yang membentuk tubuhnya yang langsing. Tetapi semakin Andin menelisik semakin Andin merasa tidak mengenali wanita di hadapannya itu. Wajahnya terasa sangat asing!
“Ma.. Maaf, siapa ya? Maklum udah tua jadi pelupa” Ucapnya yang di hadiahi cekikian para rekan kerjanya yang lain.
“Aku Sasa, sepupu Mas Ghidan yang malam minggu kemarin datang di acara Bule Anggun” Ucapnya dengan tersenyum, tetapi jika tidak salah melihat ada kesinisan di bibirnya yang tipis, “Ini Mba Andin calon istrinya Mas Ghidan, kan?”
Matilah aku! Batin Andin.
Lutut Andin tiba-tiba lemas, bahkan ia harus sedikit bersender di bahu Fadlan yang untungnya masih berdiri di belakangnya. Andin ingat, dia adalah wanita yang mengenakan dress hitam saat acara makan malam hari Sabtu kemarin, karena acara malam hari Andin tidak bisa menghafal betul wajah lawan bicaranya. Tetapi Andin hafal betul dengan cara wanita ini melihatnya, menelisik dan sinis.
Suara cekikian teman kerjanya berganti dengan wajah penuh keterkejutan, wajah yang sama yang mungkin tercetak jelas di wajah Andin yang membulat sempurna. Bahkan Dirga, terlihat sangat terkejut hingga lupa menutup bibirnya.
“Pantesan kemarin pas Mbak Andin bilang kerja di Pena-ku, Sasa berasa ga asing sama nama perusahannya, eee ternyata benar”
“I.. Iya” Andin hanya tersenyum, dia tentu tidak akan serta merta bilang kalau dia bukanlah calon istri Ghidan padahal dengan jelas Mama Anggun waktu itu memperkenalkannya demikian. Andin tetap harus menjaga nama baik Mama Anggun walaupun itu sama saja dengan bunuh diri.
“Bisa kita mulai saja rapatnya, Pak?” Tanya Andin ke arah Dirga yang terlihat shock, dan di jawab Dirga dengan anggukan ringan.