Andin menatap ke arah roti bakar dingin yang dia siapkan untuk Ghidan pagi ini, berharap laki-laki itu kembali pagi hari lalu menghabiskan sarapan bersama seperti biasanya. Namun sudah lebih dari lima belas menit Andin menunggu, Ghidan tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Setelah semalam tiba-tiba laki-laki itu pergi meninggalkan Andin seorang diri, sampai saat ini tak satu pun pesan yang dia terima. Andin sempat menghubungi Ghidan tadi pagi, namun tak bisa tersambung mungkin karena ponselnya mati. Andin menghembuskan nafasnya berat, lalu memilih membawa roti bakar dan memasukkannya ke dalam toples tupp**are untuk di bawa bekal ke kantor. Lumayan, dia bisa menghabiskan sarapannya nanti bersama Dirga. Pasti laki-laki itu senang jika Andin membawakan sarapan untuk seorang bujang kese

