Juwita telah berpakaian rapi meskipun hari ini adalah akhir pekan. Dia membawa beberapa barang di tas jinjing yang lumayan besar. Dia menaiki tangga, hendak menghampiri sang suami. Pintu itu diketuk dan dibuka setelah beberapa saat. "Aku pamit, Mas." Juwita menyodorkan tangannya. "Kamu yakin, Juwita?" tanya Jamal sambil menatap Juwita perhatian. Dia menjabat tangan istrinya dan mendapatkan saliman dari wanita itu. Juwita mengangguk. "Hanya ini yang bisa aku lakukan. Aku enggak tahu lagi harus bagaimana, Mas." Mata Juwita sudah berkaca-kaca. Untung saja dia hanya berias tipis, tidak full make up seperti saat akan pergi ke acara formal. "Enggak coba bicara sama dia dulu?" Jamal hanya ingin meyakinkan keputusan yang Juwita buat. Juwita menggeleng. "Sebenernya enggak. Aku gak tega. Tapi

