Jamal baru saja mendapatkan telepon dari Pak Hartanto untuk segera pergi ke ruangan kerja mertuanya itu. Dia telah menyelesaikan makan siang singkatnya di kantin dengan tidak nyaman, karena banyak mata yang menuju kepadanya. Bagaimana tidak, Arjuna membuat keributan dengan bernyanyi sangat asoy hingga tidak memedulikan sekitar. Sebenarnya, suara pria itu bagus, hanya saja waktunya yang tidak tepat. Astaga, Jamal sabar. Pintu ruangan Tuan Anggari diketuk dengan sopan. Jamal masuk setelah dipersilkan oleh pemilik ruangan. Dia melirik ke arah sofa yang ada di ruangan tersebut. Arjuna lagi, kenapa hidupnya dipenuhi dengan pria ini? Lalu apa itu? Dengan enaknya Arjuna melambaikan tangan setelah membuatnya malu di kantin? "Ada apa, Tuan?" tanya Jamal yang berdiri tegap menghadap mertuanya. Tu

