Setelah di tikungan lorong, Carlos melihat wanita yang memakai pakaian rapi dan rambut di cepol tinggi terlihat meringis dan menggaruk kepalanya. Wanita itu seperti terlihat gusar daripada biasanya.
Ia menelisik tubuh wanita itu yang tertutup meja besar di sebelah pintu sang pimpinan.
“Sedang apa kau?” Ucapan Carlos seperti menyentak wanita itu. Wanita yang bernama Medina, sekretaris sang pemilik gedung.
“Astaga! Kau mengagetkanku.” Medina menghela napas panjang sambil memegang dadaanya “Tidak apa, aku baru saja melihat monster.”
Carlos mengernyitkan mata, ia mendekati meja besar berwarna hitam itu dan menumpukan kedua tangannya. “Siapa yang kau maksud?”
Medina memainkan mouse komputernya dan menutup laman yang terpampang di sana. Membiarkan fotonya yang sedang berlibur di negara yang mempunyai menara paling tinggi di dunia dan menghiasi layar utama. “Kau tahu apa yang aku maksud, Carlos.”
Carlos memperhatikan jari-jemari lentik Medina yang berada di atas mouse. “Apa kau baru saja menyindir tuan Alli, Med?”
Medina membuka berkas kerjanya sambil menatap Carlos dengan mata yang memutar. “Sudah kubilang jangan memanggilku dengan sebutan Med. Nama panggilan itu seperti pria, kau tahu?” Ia kesal perihal namanya, padahal orang lain selalu memanggilnya dengan sebutan Medina atau Dina jika dipersingkat. Tapi pria di hadapannya ini malah memanggilnya dengan nama awalan saja.
Carlos tertawa hingga memegang perutnya. “Apa kau tahu ada arti kata Med dalam dunia farmasi? Med berarti ditengah-tengah. Tapi anggap saja kita sedang tidak bahas tentang hal itu apalagi di bidang kedokteran. Med, kau adalah seseorang yang berada di tengah-tengah.”
Medina mendengus. “Aku tidak paham apa maksudmu. Tapi yang aku tahu namaku Medina, bukan Med seperti yang kau katakan tadi.” Medina membuka aplikasi perusahaan dengan sangat kesal. Dari dulu, Carlos selalu membuat darahnya mendidih.
“Tapi aku lebih suka memanggilmu Med, Med. Dan itu terdengar seksi.” Carlos berdiri dan hendak melangkah untuk memasuki ruangan atasannya.
“Oh iya aku hampir lupa, tuan Alli baru saja berpesan padaku bahwa beliau sedang melakukan peninjauan ke pantai,” kata Medina.
“Apa!? Seorang diri?” tanya Carlos terkaget.
“Iya beliau pergi sendiri setelah tak berapa lama tuan Gastovo kemari.” Medina memainkan jari-jemarinya.
Hal yang lebih membuat Carlos terkejut. Ayah dari seorang Alli datang ke kantor tanpa ada temu janji sebelumnya apalagi ini hal yang tidak ia ketahui sama sekali. Meskipun ayah dan anak, Alli adalah orang yang tidak mau bertemu dengan seseorang tanpa membuat janji. Sudah lama perseteruan di antara keduanya dan mengakibatkan mereka jarang sekali berkomunikasi apalagi bertemu. Alli yang lebih baik menghindar dari ayahnya membuat pria itu sulit sekali dijangkau.
Dan sekarang, ia sudah kebobolan dua kali. Pertama dengan Julie Collen dan yang kedua adalah Orlando Gastovo.
“Kenapa kau tak langsung menghubungiku!?” Carlos geram dengan pekerjaan Medina yang tidak profesional. Semua yang ingin bertemu dengan atasannya harus terlebih dulu diketahui olehnya.
“Sejak kapan kau tidak profesional seperti ini, Medina! Kemarin kau memperbolehkan nona Collen untuk menemui tuan. Tapi kau melanggarnya, padahal aku sudah memberikan warning terhadapmu! Dan aku juga tak percaya pada penjaga di kantor ini, mereka melakukan pekerjaan dengan sangat tidak becus. Ada yang salah dengan mereka!” Carlos berang, ia sudah mengepalkan tangannya.
“Bu—bukan seperti itu, aku tidak—“ Jika Carlos sudah memanggil namanya dengan lengkap berarti pria itu memang sudah diambang kemarahan.
“Jika kau tidak bisa lagi bekerja dengan baik, keluarlah dari pintu utama. Masih banyak orang berpotensi yang siap untuk menggantikan kedudukanmu!” Carlos memotong pembicaraan Medina, wanita itu sudah berdiri dengan tangannya menopang meja besar seolah tubuhnya tidak kuat menahan.
Carlos memang pria yang mudah bercanda bersama Medina, tapi jika Carlos sudah marah ia bisa saja menusukkan kata-kata tajam bahkan tak meloloskan sang korban. Dan sekarang Medina sudah dalam masalah.
“Kau tidak bisa melakukan itu,” kata Medina pelan. Malah yang terdengar hanya seperti suara embusan angin.
Tapi tidak bagi Carlos, ia dengan sangat jelas mendengarnya. Ia memukul meja itu dan membuat Medina seketika mundur terlonjak. “Aku dengan mudah menyingkirkanmu, Medina! Kau tahu, tuan Alli selalu percaya kata-kataku.”
Medina menggeleng, matanya bahkan sudah memerah menahan tangis. Melihat amarah yang dikeluarkan oleh Carlos membuatnya takut setengah mati. Apalagi sang pimpinannya. Medina tak mau keluar dari perusahaan benefit dengan cara seperti ini. Siapa yang tak kenal Alli-giant Tower Estate? Perusahaan Real Estate ternama di negara Amerika Serikat. Penjualan serta pembangunan gedung atau bangunan mewah yang menghiasi jantung ibukota. Apalagi dengan gaji hampir seratus ribu dolar per tahunnya, dan itu belum tunjangan lain-lain.
“Kumohon jangan lakukan itu. Aku berjanji akan bersikap lebih hati-hati lagi.” Medina menangkupkan kedua tangannya di depan dadaa, memohon pertimbangan Carlos.
“Aku beri kau kesempatan terakhir, jika kau masih melanggar segera siapkan surat pengunduran dirimu.” Carlos berjalan menjauhi Medina. Ia harus cepat bisa menemukan atasannya yang sedang dilanda kemarahan. Takut-takut para pekerja yang akan terkena imbasnya.
***
Bagaimana bisa pria tua itu menghampiri dirinya dengan sangat mudah. Pria yang bernotabene sebagai ayah kandungnya sekaligus lawan pengusaha yang mencoba menjatuhkan harga dirinya.
Orlando Gastovo, ia muak dengan nama itu. Nama yang jika ia dengar sekali saja bisa membuatnya memuntahkan isi perut. Tapi ada sebagian nama itu yang juga tersemat di belakang namanya, nama yang selalu ia bawa-bawa hingga mati.
Pikirannya melayang ke beberapa puluh tahun lalu. Saat di mana ia masih menjadi bocah yang belum mengerti segalanya.
“Ayah!” Alli membawa selebaran kertas besar di tangannya. Bahkan pakaian saat ia bersekolah tadi masih menyelimuti tubuhnya yang mungil.
Saat itu, tuan Gastovo yang sedang mengangkat teleponnya sedikit tersentak karena anaknya yang tiba-tiba masuk ke dalam ruang kerja. Tapi ia hanya tersenyum tipis dan kembali melanjutkan pembicaraannya terhadap seseorang di seberang sana.
Alli hanya bocah polos yang menginginkan suaranya didengar oleh orang tua. Ia mendekati ayahnya dan menggoyang-goyangkan tangan ayahnya. “Ayah, dengarkan aku dulu. Aku mendapatkan nilai A pada mata pelajaran kesenianku. Ayah harus melihat, bagaimana aku membuat gambar ini untuk Ayah.”
Tanpa diduga, setelah Tuan Alli mematikan ponselnya ia dengan kencang menghempaskan tubuh Alli hingga terjengkang ke belakang. Kertas gambar itu langsung jatuh di dekat kaki ayahnya.
“Tak bisakah kau diam sejenak saat Ayah sedang mengangkat telepon?! Akibat ulahmu, Ayah hampir saja gagal meyakinkan partner sepuluh juta dolarku. Siapa yang bertanggung jawab jika hal tersebut gagal, ha?! Kita akan menjadi gelandangan Alli. Kau menjadi anak orang miskin!” Orlando berdiri dari duduknya, ia berang bukan main pada Alli.
“Maaf, Ayah. Aku—“
“Kau selalu meminta maaf dan setelah itu melakukannya kembali. Apa kau hanya memiliki otak yang bebal?!” Orlando melangkah ingin mendekati Alli, namun kakinya seperti menginjak sesuatu.
Orlando mengambil kertas itu. “Apalagi ini? Berhentilah melakukan hal konyol, kau tak akan pernah bisa hidup layak jika menjadi seorang pelukis karena pasar kesenian itu sangat rendah, Alli. Kau harus mengerti sebelum kau memulainya!” Ia merobek kertas itu menjadi beberapa bagian dan membuangnya ke kotak sampah. Tanpa memikirkan perasaan anak yang berusia sepuluh tahun.
“Persiapkan mentalmu mulai saat ini, dan jangan rusak rencana Ayah untuk membuat kau dikenal dunia. Kau harus bisa menggoreskan tinta di dokumen, bukan menggoreskan cat warna di kertas manila! Belajar dari sekarang, karena kau yang akan menjadi penerusku. Dan mulai sekarang Ayah tak pernah mau mendengar apalagi melihat kau bersentuhan dengan alat-alat konyol itu!” Orlando meninggalkan Alli yang sedang mematung, ia belum beranjak dari duduknya. Kata-kata ayahnya seolah menghancurkan keinginan terpendam. Padahal sedari awal, ia ingin sekali menjadi pelukis terkenal macam Pablo Picasso, seniman asal Spanyol dan itu negara yang sama seperti dirinya.
Namun akhirnya, setelah kejadian itu ayahnya menyingkirkan barang-barang kesukaan dan menggantikannya dengan buku tebal yang ia sendiri tak tahu harus memulainya dari mana. Buku yang membuat matanya sakit karena hanya terdiri dari tulisan yang dibubuhkan dengan tinta hitam, bukan kertas yang berisikan gambar dengan berbagai macam warna.
Karena ketakutan yang dialami Alli semenjak kecil kepada sang ayah, ia bertekad akan menuruti apa yang pria itu mau walaupun harus mengubur cita-citanya sedalam mungkin.
Ban mobilnya berdecit, menimbulkan gaya gesek yang membuat siapa saja meringis mendengarnya. Untung saja ia bisa menginjakkan rem secara cepat, kalau tidak bisa saja terjadi sesuatu hal buruk yang tidak diinginkan.
Alli membuka pintu mobil sportnya dengan mengentak keras, membuat semua orang yang melihat kejadian hampir mengenaskan itu terdiam sejenak.
Melihat siapa yang keluar dari mobil mewah keluaran terbaru membuat mereka semua lebih baik meninggalkan lokasi, pria yang memakai jas mahal tentu bukan rakyat yang sembarangan.
“s**t!” Ia menendang ban mobil dan memandang sesuatu itu masih tergeletak di aspal. “Siapa yang menaruh anak anjing di jalanan seperti ini,” dengusnya.
Ia masih memerhatikan bulu putih, anak anjing itu kecil dan bersih seperti gumpalan salju. Mungkin jika dibandingkan besarnya sedikit besar sedikit dari genggaman telapak tangan. Anjing kecil itu tak bergerak, tapi ia yakin bahwa hewan itu masih hidup. Terbukti dari perutnya yang masih bernapas.
Dengan sepatu pantofel licinnya, ia menyingkirkan hewan lucu itu di pinggir jalan hingga tubuhnya terantuk trotoar. Tanpa menggunakan tangan dan hanya kaki. Catat, kaki!
“Apa yang kau lakukan?!” teriakan seseorang dari seberang jalan membuat Alli seketika menoleh ke belakang.
Perempuan berperawakan kurus dan memiliki kulit eksotis. Alli melihat perempuan itu berjongkok dan mencoba mengambil anjing putih yang diam saja sedari tadi. Sepatu hitamnya bahkan masih mengenai punggung hewan itu.
“Oh ternyata kau terluka.” Perempuan itu melihat luka seperti cakaran di perut anjing mungil itu.
Lucy. Nama yang tertulis di bandul leher hewan lucu itu.
“Tak bisakah kau bersikap manusiawi terhadap Lucy?” Perempuan itu melebarkan matanya, tangannya masih mengelus Lucy dengan sangat lembut seolah ia adalah barang yang sangat rapuh.
“Lucy?” tanya Alli bingung.
“Ya, anjing mungil ini bernama Lucy. Kau bisa melihatnya.” Perempuan berambut cokelat memperlihatkan kalung kecil yang tersemat.
Alli mendengarnya hanya mendengus. “Jadi kau pemilik anjing ini?” Ia membuka kacamata hitamnya dan melihat perempuan itu dari atas ke bawah sambil menyeringai. “Jika kau tak bisa mengurusnya silakan berikan pada orang yang sanggup. Jangan kau telantarkan seperti kau menelantarkan anak.” Ia memakai kacamatanya lagi dan berniat meninggalkan lokasi.
“Apa?”
Alli membuka pintu mobilnya, namun sebelum masuk ia melihat perempuan itu masih memandangnya sambil memberikan mimik menyebalkan. Sedetik kemudian seorang pria menghampiri.
“Azzura.”
***
“Jika kau tak bisa mengurusnya silakan berikan pada orang yang sanggup. Jangan kau telantarkan seperti kau menelantarkan anak.” Perkataan pria itu membuat Azzura menganga. Apa maksudnya? Mengapa membawa-bawa soal anak.
“Apa?” Ia mengernyit matanya masih memandang pria yang ingin memasuki mobil mewahnya.
“Dasar pria aneh,” umpat Azzura. Ia kembali memerhatikan anjing lucu di dekapannya.
“Siapa pemilikmu dan mengapa kau bisa berada di tengah jalan.” Azzura kembali memerhatikan bandul itu, dan membalikkan ke sisi lainnya. J.C.
Ia mengingat-ingat siapa yang memiliki anjing di wilayah ini, haruskah ia melapor pada polisi? Namun sesaat merasakan gerakan lembut bulu putih itu pada lengannya membuat ia tersenyum. “Tenang saja, aku akan mengantarkanmu kepada pemilikmu. Tapi sebelum itu akan mengobatimu terlebih dahulu.”
“Azzura!” panggil pria di belakangnya. “Milik siapa itu?” Garrel melihat mata anak anjing itu yang terpejam.
“Entah, aku juga menemukannya di sini. Dia hampir tertabrak oleh orang aneh itu.” Azzura menunjuk mobil abu-abu yang tak jauh dari hadapannya dengan mulut.
“Orang aneh?” tanya Garrel heran.
“Ya, dia orang aneh yang baru kutemui seharian ini.” Tangannya mengelus Lucy.
Belum sempat Garrel menjawab, klakson nyaring sudah mereka dapatkan dari sang pemilik mobil apalagi ditambah pria itu melajukan kecepatannya.
“Apa aku bilang, dia pria aneh.”
Garrel tak menjawab, ia memerhatikan kemana mobil itu melaju. Bukankah itu ke kawasan arah pantai?
“Mobil itu mengarah ke pantai.” Garrel menepuk pundak Azzura.
Azzura melihat Garrel dan berkata, “Lantas?”
“Ia mempunyai mobil sangat mewah, apakah ia salah satu investor di sana?” tebak pria dengan memakai topi itu.
Azzura terdiam sesaat dan kembali mengelus Lucy. “Siapa tahu dia hanya salah satu peselancar.”
“Aku tidak yakin, kau bisa lihat mobil yang dia kendarai. Itu bernilai puluhan juta dolar. Dan untuk apa para peselancar memakai mobil mewahnya saat ke pantai? Oh atau mungkin dia salah satu pengunjung dan penyewa resort di sana. ” Garrel mengelus dagunya.
“Ah sudahlah, aku tak mau membahas hal itu.”