BAB 07

1590 Words
Suara raungan beserta keadaan di kamar 5x4 meter itu membuat siapa saja yang mendengar pasti meringis. Bagaimana tidak, dari kecil Azzura jika sedang sedih ia akan mengacak-acak ruangan terlebih kamar tidurnya.  Entah dari siapa tingkah laku itu turun temurun dan berakhir padanya.  Terlihat sekarang, bed cover yang tadinya tersusun rapi di kasur sekarang bisa berada di meja rias. Dan bukan hanya itu, kedua bantalnya sudah mendarat di atas lemari dengan santainya seakan menikmati kelakuan Azzura yang tidak henti-hentinya. “Aku tidak mau pergi dari sini, Ibu.” Azzura menelungkupkan badannya di kasur. Suara yang dikeluarkan pun tak jelas mendengar. Tapi itu bisa dimengerti oleh Amallia. Ibu satu anak itu malah ikut berbaring di samping Azzura dan  memeluknya.  “Tidak ada pilihan lain. Kita harus cepat-cepat mengosongkan tempat ini, Zurra.” Sekarang ia mencoba mengikhlaskan, walaupun masih belum siap rasanya.  “Ayah dan Ibu sudah mencoba melakukan hal yang terbaik. Kau tahu ‘kan Ibu juga ikut membantu ayah mencarikan rumah untuk kita tinggal nantinya.” Amallia berusaha membujuk.  Azzura menggeleng kuat. “Tapi aku tidak mau meninggalkan rumah ini, Ibu. Kau tahu, aku sudah mempunyai kenangan yang banyak di sini.” Ia sesenggukan.  “Jika kita tak mencari tempat baru, apakah kau tega melihat ayah berurusan dengan jalur hukum? Dan kau tahu sendiri ‘kan siapa yang akan menang.”  Azzura seketika bangun, ia terduduk dan mukanya pucat. Rambutnya yang terkena lelehan air mata langsung di tepisnya.  “Aku tidak mau melihat hal buruk yang akan menimpa pada ayah.” Ia tahu jawabannya karena kecil kemungkinan ia akan menang, berbanding terbalik dengan seseorang yang mempunyai pundi uang dan juga kolega. Orang kaya bisa membeli hukum, dan orang miskin hanya mampu melihat bagaimana mereka beraksi. Hukum dibungkam dan rakyat kecil hanya mendekam.  “Aku benci, Ibu.” Azzura memeluk ibunya. “Aku benci menjadi miskin.”  * “Bagaimana dengan Azzura? Apakah ia bisa lebih tenang sekarang?” tanya Javas pada Amallia. Pria itu memijat keningnya yang terasa berdenyut.  “Dia lebih tenang sekarang. Tapi ada hal yang aku tak terima dari perkataannya tadi. “ Amallia memijat kepala suaminya dari belakang. Ia tahu rasa sakit yang ditimbulkan bukan karena alasan lain, dan itu adalah pencarian rumah yang belum ia dapatkan hingga detik ini.  “Apa yang ia katakan?” tanya Javas.  “Ia benci jadi orang miskin. Kau juga terkejut, bukan?” Istrinya menghela napas. “Aku tak pernah mendengar dia berbicara kasar seperti itu.”  “Itu karena ada yang menyentil harga dirinya. Dia memang sudah berumur 23 tahun tapi kau juga harus lihat ada sisi anak-anak yang masih bersarang di dalam tubuhnya. Ia masih memiliki sifat egois apalagi pendendam, Lia.” Javas menarik laci kecil yang terdapat di  bawah meja tepat di hadapannya.  “Aku kemarin membuatkan pernak-pernik dari kerang yang kalian dapatkan.” Javas menunjukkan berbagai bentuk perhiasan kepada istrinya. “Tapi aku belum tahu apakah Azzura akan menyukainya.”  Amallia mengambil satu perhiasan yang sangat cantik, ia mengamatinya dalam saksama. Sebuah kalung cantik dengan bandul kerang abalone yang menjadi daya tarik sendiri, tak lupa ada mutiara kecil yang terpasang di tengah kerang itu. Sedangkan untuk rantainya, ia melihat perak pipih berbentuk lingkaran berwarna putih.  Ini indah sekali. Lagi. Tangannya mengambil perhiasan yang sekarang berbentuk anting-anting. Warna hijau kebiruan yang diciptakan dari kerang abalone membuat pernak-pernik buatan suaminya tak perlu lagi menggunakan polesan cat. Warna itu sudah alami.  Anting yang terdapat dua motif dalam masing-masing unitnya. Yang pertama berbentuk segitiga sama kaki kecil dan di bawahnya berbentuk segitiga yang terbalik namun lebih besar.  “Wow, kau bisa melakukannya dengan sangat sempurna. Aku yakin Azzura akan menyukainya.” Amallia menaruh kembali perhiasan itu di kotak yang sudah disediakan.  “Tapi aku juga mempunyai hadiah untukmu.” Di laci yang lain, Javas membuka kotak beludru dan memberikannya pada sang istri.  Amallia sungguh terkejut, ia tak menyangka bahwa suaminya juga membuatkan perhiasan untuknya. Cincin yang memiliki bentuk tidak melingkar sempurna, melainkan ada sudut yang diisi oleh sesuatu yang indah. Sudut lain diisi oleh mutiara putih yang tampak berkilau, dan di sisi lain tempelan dari kerang abalone yang menyerupai daun-daun kecil.  “Aku tidak bisa berkata-kata lebih dari ini. Bahkan untuk memujimu sangat belum mewakili rasa bahagiaku, Javas.” Ia meneteskan air matanya dan memeluk sang suami.  “Selamat hari jadi yang ke dua puluh, Sayang.”  Amallia kembali terbelalak, bagaimana bisa suaminya ingat hari pernikahan  sedangkan dirinya saja lupa karena terlalu banyak polemik yang melanda saat-saat ini. Biasanya, secara umum sang suami melupakan hari-hari penting dalam hidup contohnya ulang tahun dan hari kelahiran anak. Tapi tidak bagi Javas.  Javas menarik cincin itu dari kotaknya dan memasangkan di jari lentik milik sang kekasih. “Aku belum bisa membahagiakanmu apalagi untuk hari-hari ke depan. Tapi aku mohon tetaplah berada di sisiku.”  Amallia mengangguk, air mata harunya sudah menetes. “Aku berjanji akan selalu berada di sisimu.”  *** Ketukan pintu membuat Alli menghentikan kegiatannya, tak biasanya sekretarisnya mengetuk. Wanita itu selalu menggunakan interkom untuk menghubungi jika ada apa-apa atau dalam waktu mendesak.  Atau jangan-jangan ada seseorang yang datang tanpa mau diberitahukan terlebih dahulu.  Alli meletakkan kacamatanya dan membenarkan kembali jasnya yang mulai kusut.  Sedetik kemudian terpampanglah wajah Medina—sekretaris— beserta seseorang yang berada di belakangnya. “Tuan, saya mengantarkan Tuan Orlando untuk menemui Anda.”  Tanpa banyak bicara, Medina menyisakan kedua pria itu untuk bercengkrama dan membuat ruangan kerja menjadi panas dalam perlahan. “Silakan duduk,” sapa Alli kepada pria itu, dan membuka lemari es yang berada di pojok ruangan. “Aku tak tahu kau akan berkunjung ke sini.”  Ia mendekati pria berjas yang sudah terduduk di sofa. Tangannya memegang dua buah gelas dan satu botol anggur. “Aku harap kau tak mabuk saat meminum ini.”  “Bajingann!” Pria itu tertawa dan membuka satu kancing jasnya yang paling bawah. Perut besarnya seolah meronta untuk segera dibebaskan.  “Apa aku berbicara keliru, Tuan?” Alli menuangkan minuman untuk pria itu.  “Berhenti bermain-main denganku, Alli!”  Pria itu meminum anggur yang disodorkan. Menikmati dinginnya batu es yang bercampur dengan alkohol. Perpaduan yang sangat pas, apalagi cahaya terik yang menusuknya saat ia berkendara mengunjungi kantor ini.  “Aku tidak bercanda dengan ucapanku.” Alli menatap tajam pria yang berada di hadapannya.  “Aku tak ingin berbasa-basi. Aku kesini ingin menanyakan hal yang mungkin kau sudah tahu hingga kau mengetatkan rahangmu.” Pria itu menegakkan tubuhnya, ia berbicara serius. “Bagaimana proyek yang sedang kau kerjakan?”  Mendengar pertanyaan itu, Alli tertawa sumbang. “Kau bisa melihat sendiri. Matamu tak buta untuk melihat pembangunan di pantai itu.”  Pria itu menggeram, namun ia mencoba untuk tidak murka di hadapan pria yang memiliki tabiat jelek. “Berapa persen?”  “Kenapa kau ingin tahu sekali?” tanya balik Alli secara spontan.  “Jawab saja.”  “Kurang lebih tujuh puluh persen,” Alli menjawab.  “Apa aku tidak salah dengar? Apa yang kau kerjakan selama setahun belakangan ini? Apakah para pekerjamu tidak kompeten?” tanya pria yang bernama Orlando itu meremehkan. “Kau kira aku membangun semua hanya menggunakan imajinasi, yang hanya bisa kau lakukan dengan cara menutup mata?” sindir Alli.  Namun pria itu tetap kukuh dengan perdebatannya. “Jika kau tak bisa mengatasi proyekmu, berilah kesempatan pada Dallas untuk memulainya.”  “Benar apa yang aku katakan, kau mulai mabuk,” geram Alli. Ia mencengkeram tangannya kuat.  “Aku tidak mabuk.” Pembelaan bagi pria baya. “Kau bisa bekerja sama dengannya. Aku lihat dia memiliki potensi yang sama besar, sama sepertimu.” “Jaga perkataanmu, Orlando Gastovo!” Alli menunjuk pria baya itu. “Aku tak akan pernah sudi memberikan apa pun untuk pria itu apalagi harus bekerja sama dengannya!” Alli berang, ia sudah tak tahan. Ia berdiri dan menghindari pria paruh baya itu.  “Kau harus berdamai dengannya Alli, setidaknya dia adalah adikmu juga.”  “Persetan dengan status itu! Aku muak, kau bisa pergi sekarang!” usir Alli.  Pria paruh baya yang memiliki nama Orlando Gastovo adalah tak lain dan tak bukan ayah kandung dari Alli. Pria yang memiliki perawakan tambun dan berkacamata memang tidak pernah akur dengan anaknya, Alli. Jika mereka berada dalam satu ruangan, pasti ada salah satu yang terbakar. Bagaikan arang dan api, mereka sama-sama terbakar dan menghanguskan.  “Jangan lupakan, kau mewarisi sebagian hartaku.” Orlando ikut berdiri serta menepuk lututnya.  “Aku tak pernah mengambil hak bagianku. Kau tahu itu.” Alli menyunggingkan bibirnya keji.  “Tapi kau mengambil hampir semua rekan kerja bahkan pemegang saham yang kumiliki.” Orlando membenarkan letak kacamatanya.  “Itu salahmu. Kau tak pandai menjaga apa yang kau punya, kau membiarkan mereka dan percaya pada orang baru yang mungkin bisa saja mengkhianatimu hingga kau jatuh sejatuh-jatuhnya. Termasuk keluargamu sendiri!” Perkataan Alli memelan di akhir kalimat.  Orlando terdiam dan berkata, “Aku hanya ingin mengatakan itu. Tapi ternyata aku salah untuk datang kemari.”  Pintu itu tertutup dari luar.  “Kau sudah bangkrut maka dari itu kau mendekatiku!” desisnya sambil menyeringai.  Ia menekan remote untuk menampilkan CCTV yang berada di lobi kantornya. Setelah menunggu, pria paling mengesalkan itu akhirnya pergi juga.  Alli bergegas mengambil ponsel dan kunci mobilnya. Di depan ruangan ia melihat Medina yang sedang ingin menutup kembali bungkusan.  “Jika Carlos mencariku katakan padanya aku akan ke pantai melakukan peninjauan. Dan kau Medina, bekerjalah secara profesional. Setelah aku pulang, kau bisa ke ruanganku.”  Terburu-buru, itu yang dilihat Medina pada atasannya.  Profesional dalam hal apa? Penerimaan tamu atau makan saat jam kantor.’Berhadapan dengan pria bernama Alliadrew Gastovo membuatnya harus memutar kepala, karena perkataan pria itu selalu mengandung makna ganda. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD