Pekerjaan

1458 Words
"Jul sorry nih gue gak bermaksud ikut campur urusan lu, tapi kalo boleh gue Saran dan nawarin kerjaan gimana ? Tapi buat istri lu, kerja sama gue jadi asisten gue bareng Juni, kerjaannya cuma bantu gw buat kebutuhan gw kaya persiapan gue keluar kota atau keperluan perintilan, biar Juni lebih fokus di kerjaan aja, kmrn gue udah rekomendasiin lu di kantor cabang tapi belum di ACC sama kakak ke dua gue , kakak ke dua gue minta ketemu dulu sebelum acc lu, sedangkan kerjaan gue di cabang gue masih numpuk, gimana ? Kalo istri lu lebih kerja d luar perusahaan atau seperti asisten pribadi gue di luar perusahaan dan lebih bisa lu pantau kalo sama gw, biar lu gak stress aja sama permintaan istri lu. Kalo masalah anak lu. Anak lu bisa istri lu ajak kalo emang kerjaan gw lebih banyak d rumah." Tanya Digta sambil berharap. " Kok lu tiba-tiba nawarin kerjaan ke istri gue juga ? Tanya Julian " Beberapa kali kan lu suka cerita ke gue gimana stress lu dengan permintaan istri lu, kenapa gak lu coba aja kasih dia kesempatan, dan lagi kan kerjanya sama gue, dan Deket sama rumah " ungkap Digta meyakinkan Sambil memegang dagu " nanti gue coba ngobrol sama istri gue deh Dig, nanti gue kabarin gimana keputusan kita berdua " jawab Julian sedikit menghela nafas rendah "Siap.. kabarin gue aja ya, kalo emang kalian setuju " ungkap Digta dengan sedikit rasa senang yang tidak di perlihatkan Setelah Digta pulang, yang secara gak sengaja Tialina mendengar percakapan Digta dengan suaminya Julian, pura-pura tidak mendengar percakapan mereka di luar, diam sambil menonton televisi di kamar, menunggu buka pembicaraan dari suaminya. Julian dari dapur setelah menaruh nampan bekas minum dirinya dengan Digta, lalu di lihat istrinya bermain handphone sambil tiduran Julian menghampiri dan memeluk istrinya, dalam hati Tialina ingin segera mendengar tentang tawaran Digta pada suaminya. Tapi ternyata suaminya malah tertidur, sedikit rasa kecewa dalam hatinya karena suaminya tidak buka pembicaraan yang di nantinya. Sore menunjukkan pukul 5 sore, Julian terbangun dan di lihatnya sang istri ikut terTidur di sampingnya, buru - buru ke kamar mandi untuk berwudhu dan menjalankan sholat ashar setelah membangunkan istrinya yang dengan setengah sadar bilang sudah sholat ashar duluan. Sedang melipat sejadah, Tialina terbangun sambil memainkan hp untuk mengumpulkan jiwanya lalu Julian buka suara. " Bun.. tadi Digta ngomong sama aku mau nawarin kerja ke kamu. Ungkap Julian yang membuat Tialina sedikit senyum karna lama menunggu Julian buka pembicaraan. Sambil pura-pura tidak peduli " kerja apa ?" Tanya Tialina " Katanya jadi asisten pribadinya bareng sama Juni. Tp kamu lebih banyak di rumah gitu buat nyiapin keperluan dia" jawab Julian " Emang km udah yakin bolehin aku kerja ?" Tanya Tialina sambil melihat ekspresi Julian Sambil menghela nafas " aku agak ragu sebenernya, tapi Digta bilang kan lebih banyak di rumahnya dan kalo emang LG Digta di rumah kamu bisa bawa Jeje juga" ungkap Julian sambil menaruh sajadah dalam lemari. "Terus menurut kamu aku harus gimana ? " Tanya Tialina yang terus ingin tau ekspresi suaminya "Ya udah coba aja, daripada aku bertengkar terus sama kamu dengan keinginan kamu kerja, dan lagi aku lihat Digta baik, tinggal nunggu juga aku kerja yang di tawarkan Digta " jawab Julian menatap istrinya. " Terus kalo kamu udah kerja, bukan berarti aku berhenti kerja lagi kan, aku gak mau tau ya saat aku lagi enak-enak kerja kamu suruh aku berhenti kerja lagi kaya dulu ? " ungkap Tialina sedikit ketus. Julian Berjalan memeluk istrinya " kalo aku kerja dan gajiku menutup kebutuhan kita, buat apa kamu kerja, cukup fokus dengan rumah tangga kita aja, dan aku janji bakal nyenengin kami sama Jeje " jawab Julian sambil mencium kepala istrinya. " Gini aja deh, kamu kerja aku kerja, mau sebesar apapun gaji salah satu dari kita tetep kita sama-sama kerja, kalo kamu setuju aku terima tawaran kerja Digta, tapi kalo kamu gak setuju, udah aku di rumah aja, sambil terus minta kerja sama kamu " ungkap Tialina tidak mau mengalah. Menghela nafas rendah "oke..oke.. aku setuju dengan permintaan kamu " desah Julian menyetujui permintaan istrinya. Seminggu berlalu, Julian mencoba menghubungi Digta dalam seminggu belum ada balasan. Pikir Julian mungkin sibuk karna beragam kerjaan, karna Julian tahu Digta salah satu orang penting di perusahaannya. Hampir jalan 2 Minggu barulah Digta membalas pesan Julian. [ Sorry Jul, kerjaan gw padet banget seminggu ini, ini aja gue belum pulang-pulang ke rumah, makanya gue berharap lu dan istri lu mau Nerima tawaran gue ] [Bisa kita ketemu aja gak Dig? Nunggu lu selesai sama pekerjaan lu aja gak apa-apa ] balas Julian [Oke.. weekend gw di rumah, lu bisa Dateng ajak istri anak lu Jul, ] balas Digta di seberang sana dengan senyum merekah sambil membayangkan bisa bertemu dengan seseorang yang sudah memiliki suami yang dia rindukan ketika penat melanda saat bekerja. [Siap dig, call gue aja ya kalo lu udah bener-bener berada di rumah] balas Julian. " Ternyata Digta lagi sibuk Bun, tapi weekend kita di suruh ke rumahnya." Ungkap Julian dengan istrinya yang sedang menonton tv bersama. Dan hanya anggukan yang di respon dari istrinya. **** "Jun, nanti kalo jadi lu bakal ada yang bantu kamu untuk pekerjaan perintilan kebutuhan saya, biar pekerjaan kamu lebih fokus di kantor, saya masih nunggu orangnya Nerima tawaran saya atau gak " bicara Digta sambil bersenda di sofa dekat meja kerjanya " Wah enak dong saya pak, kalo bisa perempuan pak yang jomblo, kali kecantol sama saya" jawab Juni sambil tertawa cekikikan " Istrinya Julian Jun. Kamu kenal kan." Sanggah Digta " Iya tahu pak, kenapa istri orang pak, kan yang lajang banyak" tanya Jun heran " Karna tetangga Jun, dan sepertinya istrinya Julian kerjanya apik kalo saya liat dari rumahnya" jawab Digta sedikit khawatir dengan pertanyaan asistennya. " Oh oke pak, atur saja, saya ikut aturan bapak aja." Ungkap Juni sambil memberikan jempol " Besok siang atur pertemuan dengan Dirga, saya juga merekomendasikan Julian untuk bekerja di pabrik cabang sebagai pengawas lapangan, saya butuh acc Dirga. Perintah Digta pada Juni. " Baik pak, nanti malam saya telfon sekertaris nya apk Dirga." Jawab Juni sambil pamitan permisi. Digta menatap langit-langit ruang kantornya lalu memejamkan sesaat sambil memijit pelipisnya. Dia sadar apa yang dia rasakan dan lakukan mungkin salah, tapi dia juga tidak ingin terus-terusan merasa penasaran akan rasa kepada istri orang. Entah Digta merasa melihat Tialina begitu membuat dadanya sesak ketika sedang bermesraan dengan pasangan halalnya. Maka dari itu egoisnya menginginkan dekat dengan Tialina walau hanya sebatas dekat. Akhirnya dekat " Sini..sini duduk.. lho Jeje gak di ajak Jul " tanya Digta Sambil mempersilahkan Julian Dan Tialina duduk "Lagi ikut mama gue Dig " jawab Tia penuh senyum Tatapan penuh bahagia setelah sekian lama tidak melihat Tia. "gimana..gimana.." tanya Digta lagi dengan sedikit penuh harap " Ehm gini Digta, gue udah bahas sama Tia. Dan Tia setuju, cuma kemaren banyak bahas Tia ini udah lama gak kerja, kalo dia banyak kagoknya di awal tolong di maklumin" mohon Julian kepada Digta Dengan perasaan berdebar dan senyum merekah terlihat di wajah Digta " wah bagus kalau begitu kalo Tialina mau Nerima kerjaan dari gue, gak apa- apa Tia pelan-pelan aja, untuk sekarang-sekarang ini mungkin kerjaannya gak banyak, Tapi kalo gue keluar kota lu pastinya bakal nginep disini, karna barang banyak yang harus lu persiapin, fokus lu Tia kaya keperluan pakaian gue, kalau pekerjaan pelan-pelan nanti gue suruh Juni buat ajarin. Jelas Digta pada Julian dan Tialina " Tialina harus nginep gitu Dig ?" Tanya Julian Dengan sedikit khawatir " iya paling sebulan 3-4 kali kok Jul itu juga gak berdua pasti ada beberapa orang di rumah ini, kalo memang berdua gue pasti bakal minta lu buat nemenin kita" jawab Digta dengan tenang Julian mengalihkan tatapan ke Tialina " gimana Bun ? " Tanya Julian " Aku mau aja yah, tapi kan keputusan di kamu oke dan enggaknya" jawab Tia dengan ragu ragu Tialina dan Digta sama-sama menatap Julian untuk keputusannya, dan dengan cepat juga Julian mengatakan oke. Helaan nafas rendah dari Digta dan Tialina secara bersamaan. "Oke lusa Tia bisa mulai kerja sama gue, gue gak bisa kasih gaji gede-gede ya Tia soalnya lu itungan di luar perusahaan jadi lebih pakai uang pribadi gue, tapi untuk makan itu full dari gue, dan kalau lu mau bawa pulang makanan pun gue ijinin, dan Julian gue udah ketemu Kakan gue, dan dia ACC lu untuk kerja di lapangan, dan untuk gaji dan fasilitas nya nanti di jelasin saat lu udah mulai training disana karna ada 4 pengawas baru juga bareng sama lu. Dan jangan kecewain gue ya Jul, karna lu kerja di bawah langsung sama kakak gue " jelas Digta panjang lebar. Dan mereka akhirnya berbincang, dan tak lepas pandangan Digta dari Tialina, dengan senyumnya yang makin membuat Digta makin berbunga-bunga.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD