1 bulan berlalu, Tia bekerja dengan baik, semua perintah Digta di kerjakan dengan baik, Digta pun dengan semangat selalu dekat dengan Tia walau dia tahu bahwa rasa dia salah, tapi dia gak bisa menolak dengan kuasa rasa dirinya sendiri, dan Julian pun mulai kerja di perusahaan pusat yang di Pimpin kakak Digta.
" Tia kira-kira keluar kota bisa nemenin gak ? 1 hari 1 malem aja kok, nanti gue ijin sama Julian juga, fokus ke keperluan pribadi gue aja, karna gue lebih banyak di luar, dan oh iya gaji lu udah gue transfer ya, lu bisa cek aja. "
"Oh iya Pak, nanti saya pamit Julian dulu, kalo memang bapak mau ijin juga tidak apa-apa " jawab Tialina, sambil membereskan beberapa dokumen di meja kerja Digta, Tia mengecek mbankingnya Tia menganga terkejut dengan jumlahnya, setengah berlari Tia menghampiri Digta ke meja makan, karna Digta sedang makan.
" Pak ini gak salah ? 10 juta ? Kan bapak bilang hanya 3 juta "
"Kenapa kurang" senyum Digta
"Bapak salah transfer ya ? Saya kirim balik ya lebihnya " panik Tia
Dengan santai Digta menarik tangan Tia dan memposisikan Tia duduk di sampingnya.
" Anggap aja bonus karna kamu bekerja baik " masih dengan memegang tangan Tia.
Tia terkejut dan buru-buru menarik tangannya dari Digta,
" Pak maaf, " panik Tia dengan wajah memerah
Digta mendekatkan wajahnya ke wajah Tia, tiba-tiba Tia memejamkan mata, lalu 'tuk' sentuh jemari Digta melihat wajah Tia memerah dan terllihat sangat gemas.
"Ada bulu mata " ucap Digta santai sambil tersenyum
Tia membuka mata langsung menghindar dan menjauh "makasih pak".
Digta terkekeh dengan tingkah Tia, dengan berdebar perasaannya merasa bisa sedekat itu dengan Tia, dan merasa makin bahagia dekat dengan Tia.
Di sisi lain Tia memegang dadanya gugup dan dengan keringat panas di dahinya.
'apa-apaan si Digta, kalo Julian tau kelakuan gue begini, bisa-bisa di talak gue' batin Tia melemas
****
Digta merebahkan tubuhnya di kamar tidurnya, membayangkan kejadian yang barusan terjadi antara dia dan Tialina. Setelahnya dia ke kamar mandi, berwudhu dan menjalankan sholat isya.
Dalam doanya dia terus memohon ampun kepada Yang Maha Kuasa karna bertindak dan memiliki perasaan yang salah kepada seorang wanita yang sudah menjadi istri seseorang. Sambil berlinang air mata, entah apa yang di rasakan, Digta begitu merasa sesak membayangkan Tia bersama pasangan halalnya.
Dan setelahnya dia tertidur dengan mata sembabnya.
Pagi hari Tialina sudah sampai di rumah Digta, mulai membantu bibi Ummi memasak sarapan, dan mulai membereskan berkas- berkas yang sudah mulai di luar kepala Tialina bereskan. Dan sayup-sayup terdengar seseorang masuk ke ruang kerja Digta, Tialina hanya fokus pada pekerjaannya dan uluran tangan cukup kekar dari arah belakang tubuhnya mengambil map berwarna coklat. Tialina terkejut bukan main, Detak jantung yang tidak beraturan dan wangi tubuh sehabis mandi masih mengelilingi tubuh Tialina, saat tubuh itu meninggalkan Tialina, Tialina menoleh hingga merasakan kaki yang melemas.
Di sisi lain seseorang pun merasakan detak jantung sama tak beraturan sambil bersender di balik tembok ruang kerjanya. Dan ya, Digta mulai nakal dengan tindakannya.
Dengan santai Digta memanggil Tialina yang masih berkutat di ruang meja kerjanya " Tia, sini temenin saya makan, bibi lagi keluar"
Dari dalam ruang kerja "ya ampun Digta kenapa sih (ekspresi sedih) dari kemaren bikin gue deg-degan, jantung gue bisa copot nih, lama-lama bisa terjadi pertumpahan dosa kalo gue berduaan Mulu" oceh Tia sambil membereskankan pekerjaan nya.
Dan tanpa di ketahui Tialina, Dikta sudah berdiri di pintu ruang kerjanya " ayok sarapan dulu temenin saya " perintah Digta.
Dengan kaget dan menoleh Tialina mengiyakan perintah Digta.
Berjalan lemas Tialina mengikuti Digta. Sesampainya di meja makan, mulailah mereka makan. Hening suasana.
Hanya dentingan sendok dan garpu yang di rasakan di meja makan.
"Tia, nanti malam kita jalan ya, saya udah ijin sama Julian semalam, dan Julian ijinkan kamu ikut ke luar kota, hanya semalam kok lusa kita sudah sampai Jakarta " terang Digta pada Tialina yang di jawab dengan anggukan.
Digta terus memperhatikan Tialina, senyum tergambar di wajah tampannya. Dan terus berdoa untuk bisa memiliki seseorang di ujung penglihatannya. Walau dirinya juga tahu doanya adalah salah, hanya saja makin dekat Tialina di sisinya, makin besar keinginan ingin memilikinya.
****
Malam Tialina membawa 2 tas kecil dan 1 tas selempang, karena Tialina tidak memiliki koper, Digta memperhatikan sambil tertawa dalam hati melihat tingkah Tialina.
Tialina memang bekerja, tapi Tia berusaha sekali untuk tidak terlalu dekat dengan Digta, karna Tia tidak ingin ada kesalahpahaman nantinya, apalagi setelah 2 kejadian yang makin bikin Tialina canggung.
"Buset bawa apaan lu Tia ? Semalem doang kita di luar kota" canda Juni
"Gue bingung Jun, takut salah kostum gue disana, gue bawa aja yang menurut gue baju sopan, gue cuma punya baju kerja buat disini hehe" balas canda Tialina.
" Kan lu gajian, masa gak beli baju ? " Goda Juni sambil gelendotan dengan Tia.
"Gue belum sempet beli Jun" jawab Tialina sambil mendorong Juni untuk menjauhinya
Juni dan Tialina sangat akrab sejak Tialina bekerja bersama, bagi Juni, Tialina teman kerja yang cukup baik, cara kerjanya pun rapi, tapi Juni hanya menganggap Tialina tidak lebih dari teman kerja, karna Juni juga tidak ingin terlibat hal-hal yang memperumit masalah hidupnya, dan setelah di dekati Juni tahu bahwa aslinya Tialina sangat asyik dan humoris, tapi entah mengapa tiap bersama Julian, Tialina lebih terlihat kaku bersama Julian.
Dari kejauhan terlihat sepasang mata amarah melihat kedekatan Juni dengan Tialina.
" Juni, sepertinya ada dokumen yang ketinggalan di kantor, tolong kamu ambil dulu" perintah Digta
"Lho kita setengah jam lagi jalan Bos, " jawab Juni.
"Itu berkas penting, saya sudah telpon pak Didin untuk supirin saya ke Cirebon nanti, kamu menyusul aja pake Supir kantor" perintah Digta
"Oke Bos" jawab Juni tanpa pertanyaan kembali
Juni kembali menggoda Tialina sambil gelendotan lagi dan berkata sok imut ke Tialina,
" Tia..Tia..kita ketemu di sana Iyah.. jangan bandel jauh-jauh dari akyu " canda Juni.
"Ih lu alay banget, jijik gw denger lu bencong" jawab Tialina sambil tertawa
Tatapan kesalpun terlihat sambil berlalu pergi. Keadaan rumah mulai sepi, hanya ada Digta dan Tialina, mereka berdua sedang menanti kedatangan pak Didin salah satu supir kantor.
"Pak, lama banget ya, udah jam 10 malem pak, sampe Cirebon jam berapa kita ini " tanya Tia khawatir
"Sudah kamu ikut saja, yang penting kita sampai" ketus Digta sambil mengingat kejadian Tia dan Juni gelendotan
"Ah iya pak, maaf" jawab Tia seperlunya..
"Ehm bapak mau kopi atau teh atau s**u ? Biar saya buatkan pak sambil nunggu supir kantor" tanya Tia lagi untuk menghapus kecanggungan.
"Kalo berdua gini gak perlu panggil bapak, panggil nama aja gak apa-apa, lagian ini udah lewat jam kerja lu Tia" jawab Digta santai
"Baik pak. Eh Digta " jawab Tia lagi merasa canggung.
Dalam hati ' ini si Digta kenapa sih tumbenan amat jutek Ama gue, biasanya bahasanya Bae-Bae aja'
Tak lama terdengar bunyi ponsel Digta berdering
"Oh oke pak saya keluar, tunggu ya, buka bagasinya aja"
Tanpa perintah tiba-tiba Digta membawa 2 tas Tia dan 1 kopernya, Tia kembali di kejutkan dengan tingkah Digta, mau bertanya dia takut di jawab ketus dengan Digta, sampai di mobil, tangan Tia di tarik Digta, agar duduk di sebelah Digta, tanpa satu patah katapun Digta bersikap.
Tia ingin menarik tangannya, malah di tahan oleh Digta.
Sambil memegang tangan Tia, Digta mengalihkan pandangan berlawanan dengan Tia, Tia makin di buat salah tingkah dengan tindakan Digta.
Tia hanya diam saja dengan tingkah Digta, beberapa saat kemudian terdengar dengkuran halus dari Dikta, perlahan pegangan tangan mulai melonggar, Tia berpikir bisa pelan-pelan melepas genggaman Digta, tapi dia salah, saat akan di tarik, Digta terbangun sesaat dan malah merangkul Tia dalam pelukannya dan terdengar dengan suara seraknya.
"Fokus aja pak ke jalan, kalo bapak liatin belakang saya pastikan besok pagi bapak sudah tidak berkerja di perusahaan saya"
Tia menoleh dan benar beberapa saat Tia melihat pak Didin menengok ke belakang. Tia berusaha melepaskan pelukan Digta, malah makin erat pelukan yang Digta berikan. Dan pasrah saja Tia, tanpa berkomentar apa-apa.
Perlahan Tia ikut tertidur dalam pelukan Digta.