Ungkapan Rasa

1680 Words
Saat membuka mata Tia terkejut untuk kesekian kalinya, dirinya sudah berada di dalam kamar dengan ruangan mewah minimalis, 'astaga apalagi ini' batin Tialina. Harum wangi kamarnya membuat terlena untuk tidur kembali, tapi Tialina urungkan, Tia melihat jam tangannya sudah pukul 5 pagi, bergegas Tialina untuk sholat subuh. Setelah selesai sholat subuh Terdengar suara ketukan dari luar 'tok..tok..tok..' "Siapa ?" Tanya Tia masih memakai mukena. Perlahan Tia menghampiri pintu, dan lagi terkejut dengan senyum Digta, dengan canggung "ehm..kenapa Dig ? Masih pagi ada perlu ? " Tanya Tia Wajah penuh senyuman "cantik.." jawab Digta lalu pergi meninggalkan Tialina yang masih menganga dengan kelakuan Bosnya. "Apaan sih gak jelas banget, Untung Bos "ketus Tia sambil menutup pintu, Tia berlalu membereskan mukena dan sejadahnya lalu mencari handphone nya. Ada tampilan notifikasi chat dari Julian. Julian : [ Bun sudah sampe ?, Jeje semalem nginep d rumah mama kamu, aku sendirian rindu kamu ] Tialina : [ lebay banget, aku baru semalem pergi, iya..ya.. aku juga rindu kamu ] balas Tia penuh senyum Julian : [ kamu udah bangun ?, Udah subuhan ? ] Tialina : [ Alhamdulillah sudah yah, kamu sendiri sudah subuhan ?] Julian : [ Alhamdulillah udah juga, baru banget kelar, ini aku mau panasin lauk yang kamu masak semalem ] Tialina : [ Alhamdulillah, ya udah sarapan ya, aku udah siapin pakaian kamu kerja juga di lemari, maaf ya aku gak ada di samping kamu buat siapin semua ] Julian : [ gak apa-apa, jangan nakal ya Bun disana, Digta orang baik, aku harap kita saling menjaga ] Seperti tertampar dengan chat terakhir, dan kembali bayangan tindakan-tindakan Digta yang makin konyol beberapa hari ini Tialina : [ iyalah sayang, aku selalu jaga amanah kamu, ya udah aku lanjut mandi ya, nanti selesai aku lanjut kerja, hati-hati kamu ya kerjanya ] Dan balasan emoticon love dari Julian. Tia duduk sambil bersandar di kasur, dan kembali bayangan tindakan Digta yang makin di luar nalar Tia, ' apa gue tanya aja ya, maksud kelakuan dia, tapi ah nanti gue di sangka kepedean sama dia, tapi gue takut kelakuan dia jadi salah paham sama Julian' batin Tia. Sambil mengusap-usap wajah karna bingung dengan dirinya sendiri, akhirnya Tia memutuskan untuk mandi untuk menyegarkan otaknya. Di kamar mewah minimalis lainnya Digta bersender di kasur sambil senyum-senyum, ada rasa bahagia bisa benar-benar dekat dengan Tia, wangi rambutnya pun masih terasa dalam pejam matanya. Rasa ingin memeluk lagi ingin dirinya rasakan. **** Juni menelepon Tia, dirinya tergesa-gesa karna tugas dari Digta sang bos membuatnya kewalahan, hingga satu jam sebelum meeting dengan klien membuat Juni terburu-buru mempersiapkan segalanya. ' b******k nih si Digta, gue di kerjain nyari dokumen, taunya udah dia bawa, tanpa dosa lagi bilang ternyata kebawa' batin Juni kesal ' ini Tia kemana sih, gue udah d rumah singgah kantor bukannya angkat telepon gue si tia' batin Juni tambah kesal "Lah lu kemana aja Jun ? Udah jam berapa ini, semua yang di butuhkan bosnudah gue siapin tuh di atas" tanya Tia panjang lebar " Bos lu noh ngerjain gue, gue di suruh nyari dokumen yang ternyata dia bawa, b******k banget, Ampe belom tidur ini gue Tia " jawab Juni sambil menyenderkan kepalanya di bahu Tia. Tia mengusap-usap kepala Jun " uduh..uduh.. lelah ya anak mamak, susu..susu.. " canda Tia "Lu kata gue bayi, tapi emang ada s**u ?" Tanya Juni heran. "Ada tuh di pantry, kayanya emang udah di siapin buat yang Dateng kemari, gue juga sedikit masak buat makan, mandi dulu gih, siap-siap trus sarapan, bukannya lu ada kerjaan sejam lagi" perintah Tia "Astagah" tepuk jidat Juni "lupa gue, oke siap2 gue" sambil berlalu meninggalkan Tia yang belum selesai menjawab omongan Juni. Dari kejauhan terlihat Digta keluar dari kamarnya, Tia terpesona dengan Digta yang begitu tampan dengan setelan Jas yang terbalut di tubuhnya, tak berapa lama Tia memalingkan wajahnya sambil berpura-pura tidak melihat Digta sang Bos. "Juni udah datang Tia ? " Tanya Digta sambil menoleh ke seluruh ruangan. "Udah pak, baru aja dia mau mandi dan siap-siap"jawab Tia tanpa menoleh, sambil membereskan dokumen-dokumen yang di bawa Juni. Digta memegang kedua bahu Tia dan membalikkan tubuhnya. " Kalo orang tanya Lihat mukanya " ucap Digta sambil mengecup kening Tia " Astaga bapak.. bapak ngapain " dengan nada tinggi bertanya kepada Digta lalu berlari meninggalkan Digta. Digta yang cukup terkejut dengan respon Tialina, diam membeku sambil melihat Tialina yang berlari meninggalkan dirinya. Digta duduk lemas di sofa sambil memijit kepalanya yang tidak pusing, 'apa berlebihan yang gue lakukan, gue cuma ingin ungkapkan rasa suka gue ' batin Digta sedih. Di dalam kamar Tia berlinang air mata, ada rasa takut luar biasa di dadanya, memikirkan haruskah dirinya melepas pekerjaannya, tapi dirinya memikirkan, apa yang akan di katakan dirinya kepada Julian kalau tiba-tiba dirinya berhenti dan bagaimana respon Julian jika tahu semuanya, dirinya juga tidak menginginkan pertemanan Julian dan Digta berakhir salah paham. Banyak hal yang ada di pikiran Tialina, sampai tak terasa dirinya tertidur dengan segala pikirannya sendiri. Jam menunjukkan pukul 11 malam, suasana sangat sepi di rumah singgah perusahaan. Juni yang lelah mencari keberadaan Tialina, karna seharian chat dan teleponnya tidak ada respon, dan rumah singgah terlihat sangat rapi dan wangi. Juni menggedor kamar Tialina, dan dari kejauhan juga Digta memperhatikan. Perlahan pintu kamar terbuka terlihat mata sayu dan masih dengan mukenanya Tia membuka pintu. "Udah pulang ?"tanya Tia sambil menguap "Lu kemana aja ?"respon Jun sambil memegang muka Tia. Ada rasa iri terlihat dari mimik wajah Digta. Dan terlihat muka lemas dari Digta yang akhirnya masuk ke dalam kamarnya. "Astagah Juni.. sakit " teriak Tia sambil melepas tangan Juni di wajahnya. "Udah makan belum ? Kok lu gak respon chat sama telepon gue" tanya Juni sambil manyun "Gue gak nafsu makan, pengennya tidur aja dari tadi sore" jawab Tia seperlunya "Temenin gue sama Bos makan yok, tadi kita di kasih makan yang tidak mengenyangkan, dan tadi udah beli buat bertiga" ajak juni sambil menggoyang-goyangkan tangan bak anak kecil. "Huft.. ya udah deh, gue ganti lepas mukena dulu ya, kita makan bareng-bareng" jawab Tia malas. Tia melepaskan mukena dan membereskan sajadahnya karena dia juga tidak sadar bisa tertidur di atas sajadah. Tia keluar kamar, bersamaan dengan Digta yang keluar kamar yang tak jauh kamarnya dari kamar Tia. Saat Digta ingin menghampiri Tia, Tia dengan cepat meninggalkan tatapan Digta. Juni yang sudah menunggu di bar pantry dengan semangat dan sudah merapikan tata makanan di bar. Tia duduk di samping Juni, sedangkan Digta di sisi sebelahnya. "Nih Dig, enak banget, " puji Juni sambil menata makanan "Hem.." jawab Digta seperlunya. "Ayo makan.. nunggu apalagi ?? " Ajak Juni. Tia turun dari tempat duduknya dan mengambil peralatan makan untuk makan bertiga, Juni terus berbicara, Tia hanya memperhatikan, sedangkan Digta hanya fokus pada makanannya. " Gue duluan ya, kenyang banget, makasih buat makanannya" ucap Digta meninggalkan Tia dan Juni. "Digta kenapa ya ? Dari siang dia banyak diemnya gak kaya biasa " heran Juni melihat tingkah laku Digta Tia hanya menjawab dengan gerakan bahu saja, dan melanjutkan makan dan mendengarkan Juni berbicara. Setelah selesai, masing-masing dari mereka kembali ke kamarnya. Saat ke kamar Tia, terlihat notifikasi chat dari Digta. Digta : [ kalau belum tidur, bantu rapikan barang-barang di kamar gue ] Tia cukup lama memperhatikan chat dari Digta, dan agak ragu membalas, sempat berpikir negatif kalau Digta melakukan hal yang konyol lagi. Tapi Tia berusaha berpikir positif, karna dia menyadari, dirinya hanyalah pekerja di sana. Tialina: [ baik Dig, sebentar lagi gue kesana ] balas Tialina. Digta cukup senang dengan balasan chat dari Tia, tak berapa lama ada ketukan pintu dari luar 'tok..tok..' "Digta ini gue Tia" panggil Tia. Pintu di buka perlahan, dan terlihat wajah Digta dengan senyuman. " Ehm bantu beresin ya, biar besok pagi kita bisa langsung pulang" perintah Digta "Iya" balas singkat Tia. Hening terasa di ruangan Digta, Digta berkali-kali melirik Tia sambil membaca ulang dokumen hasil meeting dengan kliennya siang tadi. "Maafin gue Tia " ucap Digta datar. Tia menoleh, "maaf buat apa ?" Tanya Tia "Maaf karna terlalu bodoh tindakan gue tadi siang" ucap Digta sedikit lirih "Ehm .. ya udah jangan di ulangin lagi Dig, lu tau kan gue ini istri orang, apalagi pertemanan lu sama Julian baik, gue gak mau kejadian-kejadian sebelumnya merusak hubungan lu sama Julian" ucap Tia panjang lebar "Tapi jangan larang gue buat punya rasa sayang yang bikin gue tersiksa beberapa bulan ini" Mata Tia melebar "maksud lu apa ?" Tanya Tia " Maafin gue Tia, gue punya rasa sayang sama lu sebagai wanita, bahkan gue gak perduli bagaimana status lu" jawab Digta hingga meneteskan air mata " jangan jauhin gue Tia, rasa ini sungguh menyiksa gue" tambah Digta sambil menutup wajahnya. Tia yang kebingungan dengan sikap Digta, merasa serba salah, Tia menghampiri Digta dan dengan ragu mencoba memegang bahu Digta. " Digta maaf kalo gue salah kata atau sikap, gue gak ngerti dengan semua ini, dan gue gak tau harus jawab seperti apa agar perasaan lu membaik" ucap Tia sambil mengusap bahu Digta. Reflek Digta mengambil tangan Tia dan menciumnya sambil terus menggenggamnya " gue cuma minta jangan jauhin gue, itu aja cukup " ucap Digta meminta Tia terpaksa duduk di samping Digta karena tangannya terus di genggam Digta. " Digta, apa yang kita lakukan ini salah, dan gue rasa gue gak bisa nyalahin lu dengan perasaan lu, tapi lu harus berpikir rasional, gue istri orang sekarang" jawab Tia dengan penekanan. "Gue gak masalah dengan status lu, yang gue mau lu jangan jauhin gue, itu aja, biarin gue cari tau sendiri apa jawaban dari rasa ini, cukup lu di sisi gue aja Tia" tatap Digta penuh harap ke arah Tia. "gue gak bisa menjanjikan apapun ke lu Dig, kalo lu bilang gue gak boleh jauh, kan gue kerja sama lu, gimana sih lu " canda Tia sambil menarik tangannya Digta terdiam mencerna ucapan Tia. Tia berjalan kembali membereskan barang-barangnya sambil sedikit tertawa. " Jangan jauhin gue..jangan jauhin gue" ledek Tia " lah gue hampir tiap hari kerja Ama dia, gaji gue juga gede, gimana bisa gue jauhin lu" tawa Tia " cuma lu doang bos gue yang gila ngasih gaji gede " ucap Tia dengan nada bercanda.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD