CEKCOK !

1625 Words
Canda tawa terdengar dari kamar Digta, sampai tak terasa jam menunjukkan pukul 3 pagi, Tia sudah mulai menguap. Digta menghampiri Tia sambil mengusap-usap kepala Tia. "Udah, sisanya biar gue yang lanjutin" ucap Digta "Ya udah gue tdur ya Dig, bsok pagi bangunin gue aja ya kalo gue belum bangun" ucap Tia sambil menguap "Iya udah sana tidur, apa mau tidur Ama gue" canda Digta "Ah nanti lu tidur Ama gue, kagak mau bangun dah dari kasur hahai.." canda Tia kembali. "Mau tau deh" lirik Digta genit. "Kebanyakan becanda nih, udah ah balik ke kamar ya gue" ucap Tia sambil berjalan meninggalkan Digta. Digta tersenyum melihat dan membayangkan beberapa jam yang di lalui bersama Tialina, walau dengan nakalnya ada pikiran kotor saat sedang becanda dengan Tia. 'aaahhh semoga ini awal yang baik' batin Digta Dan berlalu Digta pun terlelap. Jam 10 siang Tia Digta dan Juni sampai Jakarta. Walau terbangun dengan kesiangan, tapi mereka sadari bahwa hari itu hari weekend, bercanda-canda saat semua sedang tergesa-gesa. Digta terus saja melihat Tialina dengan penuh bahagia, dan Tia hanya membalas dengan candaan. Tia sadari apa yang di rasa Digta, tapi yang Tia percaya hanyalah rasa sesaat karna Tia pun menyadari statusnya. **** 2 tahun tak terasa Tia bekerja dengan Digta, suka duka di rasa saat bekerja, apalagi saat Digta sedang banyak proyek yang di kerjakan, Tia dan Juni sering kali jadi sasaran kelelahan Digta, Julian pun sama akhirnya di angkat jadi Kepala Pengawas di perusahaan Julian, karna kinerjanya sangat baik. Banyak hal pula yang terjadi dalam rumah tangga Julian dan Tialina. Digta masih memiliki rasa yang sama sampai 2 tahun lebih kepada Tia, hanya saja Tia menganggap perasaan biasa, Tia berusaha bersikap biasa dengan sikap Digta terhadap dirinya. Digta juga terus memantau kinerja Julian dari jauh, untuk tetap menghargai seseorang yang memiliki orang yang dirinya sukai, sampai Digta meminta kepada kakaknya untuk memberikan jabatan lebih baik, karna Digta merasa kinerja Julian sangat baik sebagai pengawas lapangan. Di rumah Tia dan Julian mulai terlibat beberapa pertengkaran, Julian yang mulai banyak berubah karena jabatannya naik, mulai sombong dan egois, Tia sampai rela menitipkan Jeje ke rumah orang tuanya, karna merasa pertengkaran Julian dan dirinya tidak baik dengan perkembangan Jeje yang masih berumur 4 tahun. Apa yang terjadi dalam rumah tangganya sangat baik Tia menutupnya. Sampai pada puncaknya adalah malam ketika Tia baru selesai membereskan rumah kontrakan sederhananya. Flashback on " Tumben kamu udah di rumah, bukannya kamu mendewakan pekerjaan kamu " ucap Julian meninggi. Tia hanya diam mendengar ucapan Julian. Tia menyadari Julian ingin memulai pertengkaran. " Tadi kerjaan dari Digta gak banyak kok yah, kamu mau makan ? Aku udah siapin makan buat kamu" ucap Tia melembut " Aku udah makan di luar " jawab Julian santai. "Oh ya udah gak apa-apa, udah sholat belum ? Mandi dulu sana" tanya Tia tetap melembut. " Gak usah atur-atur aku, Aku tau kewajiban aku" Jawab Julian ketus. Julian berlalu meninggalkan Tia yang masih membereskan rumah. Tia tidak mengerti dengan perubahan Julian, suka marah-marah di rumah, selalu merendahkan Tia sebagai istri, dan banyak hal lagi perubahan Julian. Awalnya Tia mengira Julian punya wanita lain, tapi setelah di telusuri ternyata tidak ada orang ke tiga di antara mereka. Sudah 3 bulan pertengkaran terjadi, tiap malam dan dalam sujud dan doanya hanya meminta kebaikan dalam rumah tangganya. Malam pukul 2 dini hari Tia bangun untuk melaksanakan sholat tahajud, setelah sholat tahajud Tia tidak sengaja mendengar notifikasi dari handphone Julian yang berkali-kali berbunyi, tak sengaja Tia melihat dan ada notifikasi chat dari ibu mertua nya. Dari chatnya akhirnya Tia mengetahui mengapa dirinya dan Julian sering bertengkar. Ibu mertuanya menginginkan Julian dan Tia bercerai, karna memang dari sejak pacaran ibu mertuanya tidak menyukainya. Pelan-pelan Tia baca chat antara suami dan ibu mertuanya, berlinang air matanya sampai menutup mulutnya agar tangisnya dan tindakan melihat handphone Julian tidak di ketahui. Mertuanya menginginkan Julian menikah lagi dengan pilihan ibunya, dan pilihannya adalah mantan Julian yang Julian tinggalkan demi menikahi Tialina saat dahulu, Julian sampai rela meninggalkan kemewahannya demi Tia, dan yang tidak Tia habis pikir, Julian masih menyimpan rasa kepada mantannya itu. Julian banyak mengatakan kejelekan Tia yang tidak Tia lakukan. Sampai Julian mengatakan akan meninggalkan Tia di saat yang tepat dan membawa Jeje anak semata wayang mereka. Tia tidak tahan melihat chat antara ibu mertua dan suaminya, belum semua dia baca, dia taruh lagi handphone suaminya ke tempat semula. Berpindah ruangan Tia menutup mukanya sambil duduk dan menangis. Dan tak terasa diapun terlelap. Flashback off Jam menunjukkan 2 siang, Tia sudah berada d rumah Digta, rasanya dirinya tidak bersemangat dari pagi, dan kepalanya cukup pusing karna terlalu lama menangis semalam, mata yang agak sembab jadi pertanyaan Digta, Juni dan asisten rumah tangga yang sudah mengenal Tia, Tia hanya bilang bahwa sakit mata dari bangun tidur. Suasana rumah Digta sepi, hanya ada dirinya dan Digta yang sedang meeting di ruang kerjanya, Juni sedang menyerahkan laporan pekerjaan ke perusahaan pusat, dan asisten rumah tangga entah pergi kemana, karna Tia benar-benar tidak fokus seharian ini. Di ruang tamu Tia terus melihat handphone nya, menunggu balasan dari Julian, yang dari sebangun tidur dirinya tidak mendapati keberadaan Julian. Sampai menelepon ke dua orang tuanya menanyakan keberadaan Jeje, ada rasa khawatir dan takut bila Jeje di bawa oleh Julian. Tanpa tersadar Tia menangis kembali mengingat chat Julian dengan ibu mertuanya. Digta yang baru selesai meeting, sambil memegang handphone, ingin berjalan menuju dapur mengambil air minum, karna memanggil siapa aja tidak ada yang menjawab panggilannya. Dan Digta melihat Tia sedang menangis sesenggukan. Digta mematikan handphone nya dan menghampiri Tia. "Hei lu kenapa" tanya Digta khawatir Tia hanya menangis, dan lalu memeluk Digta yang terus menangis. Sambil mengusap-usap punggung Tia, perlahan Digta melepaskan pelukan, dan kembali bertanya perlahan. "Hei kenapa lu, ada masalah ?" Tanya Digta kembali. Tia sambil menangis menceritakan segalanya, sambil Mendengar cerita sesegukan Tia, Digta memberikan tisu kepada Tia. Dan terus mendengarkan permasalahan Tia. " Lho udah selama itu kalian mulai cekcok, padahal kalian keliatan baik-baik aja" tanya Digta Tia terus menjawab sambil menangis. Tanpa di sadari jarak berbicara Digta dan Tia sangat dekat. Digta mulai terlena dengan suasana pembicaraan mereka, mulai mengelus pipi Tia, Tia yang terlalu fokus dengan ceritanya tidak menyadari tindakan Digta, Digta mengelus pipi, merapikan rambut Tia, sampai tangannya turun ke leher Tia, dengan cepat Digta mencium bibir Tia. Mata Tia melotot dengan ciuman Digta. Digta melepas sesaat. " Luapin aja sedih dan kekesalan lu sama gua" ucap Digta dengan melanjutkan ciumannya lagi. Tia yang masih membeku, hanya diam menerima ciuman Digta. Perlahan Tia merespon ciuman Digta, saling menukar lidah, saling merangkul, yang ada di pikiran Tia hanyalah amarah kekecewaan terhadap Julian, Tia makin meluapkan segalanya, dengan ciuman panas antara dirinya dengan digta Suasana makin memanas, Digta menggendong Tia menuju kamarnya tanpa melepaskan ciumannya. Tia di baringkan di kasur, Digta yang berada di atas Tia mulai meraba dan meremas p******a Tia dari luar baju yang di pakai Tia. Tia mendesah dengan perlakuan Digta. Saat Digta ingin melepas kaos yang di pakainya, Tia mulai tersadar dengan tindakannya. Tia menahan Digta. "Ta maaf, gue gak siap" tatap Tia sedih "Hah " tanya Digta bingung "Maaf gue melampaui batas gue" lirih Tia makin sedih Mereka berdua duduk berhadapan, Digta membetulkan kaosnya, dengan respon Tia dirinya pun tersadar dengan tindakan mereka. "Hehmm" desah perlahan Digta, di barengi dengan pelukan terhadap Tia, "maafin gue juga ya, gue terbawa suasana" ucap Digta Mereka mulai berbicara dengan tenang tentang permasalahan Tia. "Terus lu maunya gimana ?" Tanya Digta "Gue tetep pengen bertahan Dig, karna gue sayang sama Julian dan Jeje" jawab Tia lemas Ada rasa sakit dalam d**a Digta saat Tia mengatakan itu, apalagi mengingat pergulatan sesaat mereka. "Ya udah di coba lagi buat perbaiki semua, apapun yang terjadi gue ada di samping lu" ucap Digta sambil mengusap kepala Tia. **** Tia kembali ke rumahnya, saat sampai rumah dirinya terkejut saat masuk ke kamar lemari pakaian Julian telah kosong, di lihat handphone nya ada chat dari Julian berisikan keinginan perceraian dengan Tia, dan menyerahkan Jeje hanya kepada dirinya. Tia menelepon Julian, tapi tidak ada respon, berkali-kali Tia chat Julian pun tidak di respon, Tia mencoba menelepon ibu mertuanya bertanya keberadaan Julian, tapi hanya caci maki yang dirinya terima. Tia menangis sejadi-jadinya meluapkan segalanya, marah, benci, kecewa. Tia menghapus air matanya. 'gue gak boleh nangis buat laki-laki pengecut dan b******k seperti Julian' batin Tia. Tia pun keluar rumahnya. Berjalan tanpa arah, dan tanpa di sadari kakinya sudah berada di depan pagar rumah Digta. Di otaknya hanya ada kerumitan, Tia masuk ke dalam rumah Digta, dirinya mengetahui bahwa Digta hanya sendirian di rumah, dirinya ingin meluapkan segalanya, karna hanya Digta yang mengetahui permasalahan rumah tangganya. Di gedor rumah Digta. Digta yang baru selesai mandi mendengar ketukan dari depan rumahnya, dia berjalan menghampiri pintu rumahnya, saat di buka terkejut dengan keberadaan Tia, Digta merasa tidak ada kerjaan yang di berikan tengah malam kepada Tia hingga Tia berdiri diam di depan pintu. Digta menghadapkan wajahnya sejajar di wajah Tia, melihat mata Tia merah. Entah kegilaan apa yang ada di otak Tia, tiba-tiba Tia menarik wajah Digta dan mencium bibir Digta penuh gairah, di dorong tubuh Digta agar masuk ke dalam rumah, Lalu menutup pintu rumah dan menguncinya. Digta menahan bahu Tia "hei ada apa ? " Tanya Digta Tia hanya menjawab dengan tangisan. " Kamu udah siap memang ?" Tanya Digta kembali sambil mengusap pipi Tia Tia mengangguk sambil menangis. Digta mencium Tia dengan sangat lembut, sambil memegang tengkuk Tia, Digta mencium bibir Tia perlahan, sambil meneteskan air mata Tia membalas ciuman Digta. Digta terus mencium dan menggendong Tia selayaknya anak kecil yang sedang menangis menuju kamarnya, di letakkan Tia dengan lembut di kasur miliknya. Dirinya mengusap wajah Tia yang di penuhi air mata. "Luapin segalanya, aku terima apapun rasa yang kamu rasakan saat ini" ucap Digta mencium bibir Tia kembali.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD