akhirnya

1789 Words
Sebulan berlalu. Akhirnya Jeje dan semuanya kembali ke kota J. Jeje akhirnya di urus sama Tia di rumahnya. Peralatan medis masih terpasang di tubuh Jeje. Tia ingin agar bagaimanapun hasilnya Jeje, dirinya ingin Jeje berada di sampingnya. Digta sudah 2 Minggu tidak bertemu Tia. Karna kesibukan pekerjaannya. Digta mengutus Juni untuk tetap tinggal di kota J untuk tetap bisa membantu memantau Tia dan Jeje. Malam Digta sampai di rumahnya dalam keadaan lelah terburu-buru membersihkan diri dan ingin segera bertemu pujaan hati dan anaknya. "Assalamualaikum" salam Digta di luar rumah. "Wa alaikum salam" jawab Tia sambil membuka pintu. " Gimana anak aku " senyum Digta " Kamu lihat sendiri aja ya, aku lagi masak mie , laper" Tia berlalu meninggalkan Digta. Dan Digta menghampiri Jeje yang masih berbaring " assalamualaikum anak papa, sayang papa udh pulang nih, papa bawa hadiah lho buat kamu" ucap Digta sambil mengecup kening Jeje. Tia yang melihat Digta begitu tulus dengan Jeje menjadi terharu " kamu udh makan ?" Tanya Tia sambil melahap mie yang baru matang. " Pelan-pelan makannya" Digta mengusap bibir Tia yang belepotan. " Ibu sama Angga aku suruh pulang, jadi aku sendirian disini, Julian juga masih sibuk, udh 3 hari gak nengokin Jeje" ucap Tia masih melahap mie sampai habis. " Ehm ya udah aku nginep aja gimana ? Tanya Digta " Jangan, apa kata tetangga nanti " jawab Tia sambil berlalu meninggalkan Digta ke dapur menaruh piring kotor. Digta menutup dan mengunci pintu depan rumah Tia, tanpa sepengetahuan Tia. " Ya udah aku temenin aja deh, kalo aku ngantuk baru aku pulang ya." Ucap Digta sambil rebahan di ruang tamu. Tia menjawab dengan anggukan sambil duduk di samping Digta yang sedang menonton televisi. Malam kian larut tiba-tiba terdengar rintik hujan yang terdengar makin deras. Tia bangkit melihat jendela. " Hujan Dig, tunggu hujan reda ya, baru kamu pulang" ucap Tia kembali di samping Digta " Kamu ngusir aku nih " ucap Digta pura-pura ngambek " Ih bukan ngusir, gak enak sama tetangga" ucap Tia memeluk Digta. Digta membalas pelukan Tia sambil mengecup kening, mata, pipi, lalu ke arah bibir. Tangannya mulai bergerilya ke arah d**a Tia, Tia merespon perlakuan Digta dengan membalas ciuman bibir Digta. Saling berciuman lama sampai Tia kehabisan nafas. Digta membaringkan Tia dan melepas kaos yang di pakai dirinya dan Tia, terlihat 2 gundukan yang tertutup bra berwarna hitam. Digta mencium leher lalu mengarah ke p*******a dan meninggalkan beberapa tanda cinta di sana. Digta membuka pengait bra Tia dan melemparnya ke sembarang tempat, Digta sudah di penuhi gairah yang sudah lama tertahan. Digta meremas dan memainkan p*******a Tia. Tia mendesah ketika Digta sudah n*****n, tangan digta meraba seluruh tubuh Tia hingga Tia bergelimjang " Aaahhh Digta" desah Tia Digta makin b*******h ketika Tia menyebut namanya. Digta akhirnya melepaskan seluruh pakaian Tia dan dirinya. Terlihat kejantanan Digta mengeras terpampang menggoda. Tia bangkit dan mengulum kejantanan Digta. " Aaaahh sayang" desah Digta Tia tersenyum sambil terus memainkan kejantanan Digta. "Ayo sayang aku gak kuat" pinta Digta. " Sabar sayang " jawab Tia yang beralih ke p********a Digta, Tia berbalik n****n dan tangannya sambil memainkan kejantanan Digta. "Oh sayang, ayolah.." pinta Digta memohon. Karena tidak di gubris Tia, Digta bangkit dan membaringkan Tia, di masukkan kejantanannya ke v******a Tia yang sudah Basah. Digta memaju mundurkan pelan, membuat Tia berbalik menggila karna perlakuan Digta. "Digta ayolah, jangan bermain-main" kesal Tia Digta tersenyum" sabar sayang" Tia yang kesal dengan gerakan Digta bangkit dan merubah posisi di atas Digta. Dengan b*******h Tia menggerakkan b*****gnya ke atas ke bawah. Tia benar-benar b*******h, Digta yang melihat gerakan Tia tersenyum menikmati gerakan Tia. Melihat dua gundukan yang menari ke atas ke bawah, membuat Digta makin b*******h. "Ah sayang" racau Digta Digta merubah posisi Tia berada di bawahnya. Digta n*****n p********a Tia sambil tangannya memainkan k******s Tia. Tia yang gemas melumat bibir Digta. Digta mengacungkan kejantanannya ke v*****a Tia, Tia mendesah b*******h. Di ruangan yang tertutup suara hujan yang mengguyur semakin deras, membuat percintaan Tia dan Digta makin panas, keringat bercucuran, betapa Digta dan Tia menikmati pergulatan percintaan mereka. "Aaahh sayang aku mau keluar " ucap Digta. "Faster beib" jawab Tia sambil mendesah. Digta terus memompa kejantananny sampai Tia dan Digta saling mendesah menikmati puncak pergulatan mereka. " Ah sayang lama sekali " ucap Digta yang masih berusaha mengatur nafasnya, dan perlahan bangkit ke sisi Tia di susul kecupan singkat di kening. Tia menoleh ke arah Digta " lama banget Dig " jawab Tia yang sama mengatur nafasnya. Tia bangkit menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, Digta masih betah rebahan di kasur bekas pergulatan mereka, senyum merekah di wajah Digta di barengi suara hujan yang belum mereda. ' perasaannya masih sama, belum berubah' batin Digta. Ya, 1 tahun lebih kebersamaan mereka yang berfokus pada kesibukan masing-masing, mereka berdua juga hampir lupa acara lamaran mereka karena aktifitas yang tidak bisa mereka tinggali. Tia yang sudah rapi memakai baju dengan rambut basah menghampiri Digta, " Mandi kamu" pinta Tia sambil meninggalkan Digta melihat Jeje di kamar. Digta bangkit dari tempat tidur menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai Digta menuju kamar Jeje untuk melihat Jeje dan Tia. " Dig apakah aku egois tetap ingin anakku hidup" ucap Tia menatap tubuh Jeje " Kamu kenapa ? " Tanya Digta bingung. " Apa aku lepas semua alat ini supaya Jeje tidak sakit lagi" ucap Tia kembali menggenggam tangan Jeje. " Sayang sebulan ini Jeje mulai kasih perkembangan, kita sabar dulu ya" pinta Digta menenangkan. Tia memeluk Digta menangis melihat Jeje. Rasa perih setahun ini dirinya tahan melihat anak yang dari rahimnya masih bersama alat-alat medis. Saat berpelukan tiba-tiba mata Jeje terbuka lemah, Digta yang melihat reflek mendorong Tia dan mendekati Jeje. "Sayang ini papa Digta sayang" ucap Digta menggenggam tangan Jeje Tia yang tak kalah kaget ikut-ikutan mendorong Digta bergantian menggenggam tangan Jeje. Jeje perlahan menggerakkan jari tangannya membalas genggaman tangan Tia. "B b b u u u u n n d a " ucap Jeje terbata " Iya nak bunda disini " jawab Tia semangat. Tak berapa lama Jeje kembali memejamkan mata dan kembali terlelap. Tia yang semangat kembali meredup melihat Jeje kembali koma. Digta sigap menelepon dokter yang menangani Jeje. Berselang 1 jam dokter akhirnya datang bersama 1 perawat, dengan sigap menangani Jeje. Setelah dapat penjelasan keadaan jeje Tia yang berada di samping Digta menggenggam erat tangan digta. "Gimana dokter anak saya" tanya Digta penuh harap. " Saya rasa malam ini Jefri harus di bawa ke rumah sakit saja untuk penanganan lebih lanjut. Sebulan ini Alhamdulillah sudah ada tanda-tanda baik. Semoga ini salah satu tanda baik juga untuk kesembuhan Jefri." Ucap dokter " Saya mau yang terbaik untuk anak saya" pinta Digta. Akhirnya malam itu Jeje di bawa ke rumah sakit. Tia mengabari seluruh keluarga tentang perkembangan Jeje. Julian yang sedang di luar kota pun ikut bahagia dengan kabar Jeje. Pagi menjelang Tia yang terlelap di samping Jeje terbangun karena genggaman tangan, saat tersadar terlihat Jeje tersenyum ke arah Tia. " Sayang anakku " teriak Tia " B b u u u n n d d a" jawab Jeje tersenyum Digta yang ikut terbangun kaget mendengar teriakan Tia " Sayang papa " Digta menghampiri Jeje dan keluar memanggil dokter dan perawat. Digta dan petugas medis tergesa-gesa menghampiri Jeje, dengan sigap menangani Jeje. Tia dan Digta melihat dari kejauhan penanganan medis yang begitu cekatan. Digta menangis terharu melihat Jeje membuka mata. Dan terlihat beberapa alat medis sudah di lepas. " Alhamdulillah pak, keadaan jefri semakin membaik. Beberapa alat medis sudah bisa kami lepaskan, semoga dalam waktu dekat juga smua alat medis bisa di lepas ya pak" ucap dokter sambil meninggalkan beberapa perawat yang masih menangani Jeje. " Alhamdulillah sayang Jeje makin membaik" ucap Digta memeluk Tia. Tia menelepon kembali semua keluarga terutama Julian. Julian sampai meninggalkan pekerjaannya untuk melihat Jeje. Setiba Julian di rumah sakit, dirinya tidak percaya melihat Jeje sedang bersandar lemah menggenggam tangan digta. "A a a a y y y a h" panggi Jeje Julian menghampiri dan memeluk Jeje, betapa bahagia Julian benar-benar melihat anak semata wayangnya sadar. " Pelan-pelan Jul.. Jeje baru banget sadar " ucap ibu Tia tanpa di sadari keberadaannya oleh Julian. "Astaghfirullah maaf Bu, Julian gak lihat ibu" ucap Julian sambil menghampiri dan mencium tangan ibu Tia. " Tia dan Digta pulang dulu gantian ibu dan Angga yang menjaga Jeje, Oia mumpung kamu disini, temenin Jeje dulu ya, ibu sama Angga mau sholat dulu" ucap ibu Tia " Baik Bu" jawab Julian singkat. Jeje perlahan tertidur kembali setelah di berikan suntikan oleh suster, dan Julian duduk memperhatikan Jeje dari kejauhan, dan mulai mengenang kejadian setahun lalu. ' andai ayah tidak egois nak, sekarang kita sudah bahagia bersama' batin Julian. 6 bulan berlalu keadaan Jeje semakin membaik, hanya saja Jeje masih duduk di kursi roda. Digta dan Tia pun akhirnya mempersiapkan pernikahan mereka, setelah acara lamaran yang sempat di tunda, mereka dan keluarga besar mereka untuk langsung mengadakan pernikahan. Digta dan Tia menyiapkan segalanya. Dan Jeje akhirnya di rawat oleh ibunya Tia kembali. 4 bulan lalu sempat bersiteru dengan Julian karena Tia tidak ingin Jeje terganggu kesehatan fisik dan jiwanya, apalagi Julian bersikeras mempertahankan rumah tangganya dimana Melda sedang bolak balik berobat ke psikiater sesuai kesepakatan satu setengah tahun lalu. " Huft lelah banget" keluh Tia di ruang tamu rumahnya Tia kembali berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah merasa segar Tia bersiap- siap untuk menjenguk jeje. Saat akan membuka pintu Julian berdiri di depan pintu rumahnya. "Hei ? Ngapain kamu ? Bikin kaget saja " tanya Tia heran. Julian menatap Tia dengan mata merah, dan nafas ngos-ngosan lalu memaksa mendorong Tia ke dalam rumah. "Hei..hei . Apa-apaan kamu ?" Tanya Tia kesal. Julian hanya diam dan mengunci pintu rumah Tia. Julian mendekat dan memaksa memeluk Tia. Tia yang kaget berusaha bersikap tenang walau di dalam dirinya begitu panik dengan perlakuan Julian. Dan tercium bau alkohol di tubuh Julian. ' hah apaan ini ? Bau alkohol ?' batin tia "Kamu jahat Tia, kenapa kamu sejahat ini ?" Ucap Julian masih memeluk Tia Tia heran dengan ucapan Julian. Tidak berselang ada ketukan pintu dari depan rumah, dan tak lama berselang ada telepon masuk dari Digta. Tia merogoh sakunya dengan sedikit susah karena pelukan Julian. Tertera nama Digta di layar handphone nya. Saat sudah menggeser tombol terima di telepon, tiba-tiba tangan Julian menepis handphone di tangan Tia. "Hei Jul, apa-apaan kamu" ucap Tia kesal, Tia berusaha memberontak karena perlakuan Julian. Di seberang telepon dan di luar rumah ada suara Digta yang menggedor-gedor pintu rumah Tia. Tia sambil berteriak. " Sayang coba lewat jendela paling pojok, aku rasa jendelanya masih rusak. Pintu di kunci sama Julian" Layar handphone mati dan gedoran pintu tak terdengar lagi. Terlihat Digta bersusah payah masuk melewati jendela. Saat melihat Tia di pelukan Julian, Digta langsung bersigap menghampiri Tia dan Julian.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD