Jam menunjukkan pukul 8 pagi, Tia terbangun dahulu, melihat Digta di sampingnya memeluk dalam tidurnya. Perlahan Tia memindahkan tangan digta, dan Berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Mencari handphone nya dan ada notifikasi chat dari Julian, dirinya baca baik-baik isi chatnya dan menangis kembali setelah membacanya.
Digta terbangun karena suara tangis tia, di dekatinya Tia, saat di tanya, Tia menyerahkan handphone nya, tak kuasa memberitahukan apa yang dirinya baca. Digta menghela nafas panjang setelah membaca chat dari Julian.
"Lalu kamu mau bagaimana ?" Tanya Digta.
Tia hanya menggeleng dan terus menangis. Digta kembali memeluk.
' berat sekali dirimu untuk bahagia' batin Digta.
Papa Julian kembali menelepon dan memberi tahu keadaan Jeje, dan Tia menjelaskan sudah tahu dari Julian keadaan Jeje.
Tia dan Digta sampai di rumah sakit kembali, Julian yang terlihat lesu dan matanya terlihat sembab melihat genggaman tangan digta dan Tia, ada sedikit perasaan sakit saat melihatnya. Digta menghampiri Julian, karena Tia sedang tidak ingin berbicara dengan Julian, jadi Digta berinisiatif untuk berbicara.
" Jul udah mau siang, lebih baik lu pulang, biar gue sama Tia yang jaga disini, lu udah makan ?" Tanya Digta sambil menyerahkan plastik berisi makanan.
" Ini gue nungguin lu sama Tia, gue ada urusan juga di rumah Melda, jadi agak lama gue di luar, tapi gue usahakan secepat mungkin, papa mama juga sore kesini, jadi minta tolong ya jagain Jeje dulu " ucap Julian.
" Udah tugas gue sama Tia buat jagain Jeje, iya lu selesaikan urusan lu di luar, jangan lupa di makan makanannya." Balas Digta sambil mengusap bahu Julian.
Julian menggangguk dan melihat Tia sekilas yang duduk di belakang Digta tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Julian akhirnya meninggalkan Tia dan Digta untuk menjaga Jeje.
Tia terus melihat dari luar kamar Jeje di rawat, karena pemberitahuan Julian, bahwa keadaan Jeje cukup mengkhawatirkan. Air mata perlahan mengalir kembali, Digta hanya memainkan handphone nya sambil menemani Tia. Di usap-usap punggung Tia. Tak banyak kata yang terucap.
Tak berselang Juni dan Rexi datang ke rumah sakit menghampiri Digta dan Tia. Digta meninggalkan Tia sedikit menjauh membahas hal-hal tentang pekerjaan, tak lama Digta berbicara dengan Juni membahas sesuatu yang Rexi dan Tia tidak tahu.
Dengan wajah serius Digta dan Juni berbicara, Tia ingin menghampiri tapi dia lebih ingin fokus kepada Jeje. Tak berselang lama, Juni dan Rexi menghampiri Tia, sambil memberikan goodie bag berisi makanan untuk digta dan Tia.
"Serius banget, bahas apa ?" Tanya Tia sambil duduk di samping Digta.
"Aku tanya gimana soal penyelesaian perlakuan Melda sama Jeje" jawab Digta sambil mengeluarkan makanan dalam goodie bag
" Maksudnya ?" Tanya Tia heran
" Prosesnya sampe mana hukumkah atau kekeluargaan aja ?" Ucap Digta santai
" Maksud kamu ? Eh kok gak bahas sama aku dulu " tanya Tia sedikit marah.
Digta melihat mimik wajah Tia sedikit berubah " kamu gak akan bahas apapun ketika kondisi begini, jadi aku inisiatif aja" jawab Digta santai
" Digta kamu terlalu jauh" ucap Tia kesal
"Aku udah bahas sama Julian semalam, dan Julian masih memikirkan sampai mana masalah ini dengan Melda" ucap Digta sambil menyuapi Tia.
Tia menahan suapan Digta " kalian berdua ini, kok gak ada yang bahas sama aku, aku kan ibunya Jeje" makin kesal Tia
" Rendahkan nada suara kamu, makan ini, kita masih di rumah sakit " jawab Digta sedikit kesal juga
" Aku gak mau, aku butuh penjelasan" tolak Tia
Digta menghela nafasnya " makan dulu ya sayang, kamu belum makan sedari tadi, kalo kamu sakit kasian Jeje gak di jagain bundanya" rayu Digta masih dengan suapan yang berada di tangan.
Tia akhirnya makan dari suapan Digta, Digta menjelaskan perlahan rencananya dengan Julian. Tia yang se awal marah, perlahan mendengar baik-baik penjelasan Digta.
"Nantinya aku akan menjadi papanya Jeje, akupun ingin yang baik buat Jeje, aku gak ingin anakku di berikan perlakuan semena-mena sama orang lain" ucap Digta menatap Tia.
Tia yang menyadari tulusnya perasaan Digta mengelus pipi digta. Tia juga sedikit senang dengan pernyataan Digta dengan kata 'anakku' menandakan penerimaan tulus dari Digta.
Mereka pun membahas segalanya dengan Digta, dan keputusan apa yang sudah Digta dan Julian sepakati
Matahari sudah mulai terbenam tak terasa waktu mudah mulai gelap, Julian datang kembali ke rumah sakit, setelah sebelumnya menelepon Digta tentang urusan di rumah Melda.
Tia terkejut bahwa Melda di diagnosa terkena depresi karena berani melakukan kekerasan terhadap Jeje, Julian juga menyalahkan dirinya karena mungkin kurang perhatian dari dirinya membuat Melda berbuat jauh terhadap Jeje.
" Lalu keputusan lu dan pihak keluarga Melda gimana dengan kejadian ini " tanya Digta tegas
" Terpaksa Dig kita selesaikan secara kekeluargaan, lapor polisi pun sepertinya akan sia-sia " jawab Julian lemah.
" Jadi hanya sejauh ini perjuangan lu sebagai ayah ?" Tanya Digta kembali
" Melda masih istri gue Dig " jawab Julian lemah lagi.
" Oke gue mewakilkan Tia buat gugat Melda karena kelalaiannya" ucap Digta sedikit kesal
Julian dan Tia sama-sama terkejut dengan ucapan Digta
" Digta aku belum ambil keputusan apa-apa" ucap Tia menenangkan Digta
" Kamu sama Julian itu lelet banget dan terlalu welas asih, kamu lupa dengan cerita papa Julian yang beberapa kali Melda berusaha menyakiti Jeje, kamu mau nantinya Melda mengulangi kesalahan yang sama ? Bahkan melebihi dari ini ? " Tanya Digta dengan raut amarah
Julian dan Digta sempat berdebat cukup panjang, membuat Tia yang di antara mereka merasa pusing mendengar perdebatan mereka, tak berselang papa Julian datang.
" Hei..hei.. kenapa ini ?" Tanya papa Julian bingung
Tia menghampiri papa Julian, Digta dan Julian diam setelah kehadiran papa Julian. Papa Julian menghela nafas panjang " kalian ini, ini di rumah sakit, keadaan Jeje aja belum ada perkembangan, sempat-sempatnya kalian seperti ini " sindir papa Julian
" Tia pusing pa, dan gak tahu gimana menengahi Mereka " ucap Tia menunduk
" Kalian berdua gak salah ingin yang terbaik buat Jeje dan rumah tangga kalian. Tapi papa yang akan ambil keputusan disini" tegas papa Julian.
Tia, Digta, Julian menoleh bersama
" Melda dan Julian akan bercerai, dan Jeje akan papa kirim ke Singapura kalau dalam seminggu ini tidak ada perkembangan tentang Jeje." Ucap papa Julian kembali
" Apa pa kan aku gak berniat menceraikan Melda, dia masih istriku pa" ucap Julian memelas.
" Kamu masih mau mempertahankan seseorang yang membuat kehidupan kamu hancur dan menyakiti anakmu ?, Tidak apa-apa kalau kamu mau ambil keputusan sendiri, tetapi ini terakhir kali papa akan menerima dirimu sebagai anak papa" ucap papa Julian semakin tegas
Tia dan Julian kaget dengan keputusan papa Julian
" Pa sabar dulu, nanti papa sakit " pinta Tia sambil mengelus-elus punggung papa Julian
" Kamu lihat Tia , laki-laki macam apa yang menghancurkan hidupnya sendiri demi wanita ?" Tegas papa Julian
Tia Menarik papa Julian untuk duduk di sampingnya.
" Papa, Tia sebagai ibu Jeje juga masih menimang-nimang harus bagaimana, Tia juga kecewa dengan Melda walau Tia belum pernah sama sekali bertemu dengannya. Tia rasa Julian juga melakukan hal yang sama dengan apa yang Tia pikirkan, sedangkan Digta, adalah laki-laki baik yang ingin segalanya baik, tapi kita tidak semudah itu mengambil keputusan " ucap Tia tenang, Tia menatap Julian dan digta " Jul, kejadian ini baru, aku rasa kamipun ragu mengambil keputusan, untuk kamu Digta, makasih perhatian kamu buat Jeje "
Digta menghampiri Tia dan memeluknya " maafin aku ya, aku akan tunggu keputusan kamu"
Julian hanya terpaku melihat semuanya.
" Besok kita sama-sama ke rumah Melda, besok aku minta tolong suster untuk menjaga Jeje sementara kita ke rumah Melda " ucap Tia menatap semua yang ada disana.
Julian terkejut " buat apa ? Aku bisa handle kok "
" Aku hanya ingin memastikan keputusan apa yang bisa aku ambil, lagi walau dia istri kamu, dia secara sadar menyakiti Jeje" tegas Tia.
" Baiklah aku ikutin mau kamu" balas Julian lemah
Tia dan Digta berpamitan pulang ke hotel kembali, Julian kembali menggantikan menemani Jeje, yang belum ada kemajuan pada kesehatannya.
Sesampai di hotel, Digta memeluk tubuh Tia dari belakang.
"Maaf " ucap Digta di bahu Tia
" Buat ?" Tanya Tia
" Keputusan kami tanpa komunikasi dengan kamu" jawab Digta.
Tia tersenyum " gak apa-apa, pelan-pelan kita hadapi ini semua "
Tak berapa lama Digta mendapat telepon, Julian terpampang di layar handphone Digta, saat menjawab raut wajah Digta langsung berubah lalu langsung menutup handphone nya.
" Jeje kritis, kita kembali ke rumah sakit " ucap Digta sambil menarik tangan Tia.
Mereka lari tergesa-gesa menyusuri hotel dan jalanan yang tak jauh dari rumah sakit. Sesampai di rumah sakit, Julian terlihat panik .
"Gimana Jeje " tanya Tia cemas
" Jeje kejang tadi, tapi sudah di urus dokter " ucap Julian tak kalah cemas.
Dokter keluar dari ruangan Jeje. " Ibu bapak, saya rasa kita tidak dapat berbuat banyak, cedera kepala yang di alami Jefri tidak memberi respon baik setelah 3 hari observasi, kita harus banyak berdoa semoga keadaan jefri ada keajaiban.
Tia dan Julian lemas mendengar ucapan dokter, tangisan dan isakan terdengar bersautan. Digta menghela nafas berat dan berusaha menenangkan Tia dalam pelukannya.
Sebulan berlalu, Jeje belum ada perkembangan baik, AKhirnya papa Julian memutuskan pengobatan Jeje di Singapura. Dan berharap ada perkembangan baik setelah disana.
Tia dan Julian bergantian ke Singapura untuk pengobatan Jeje, dan segala pengobatan Jeje di tanggung penuh oleh papa Julian.
Dengan Tia yang mondar mandir ke Singapura dan kota J sesekali Digta Menemani.
1 tahun sudah Jeje masih dalam keadaan Koma. Tangisan yang selalu membasahi pipi, mulai menjadi tangisan kering yang tak berkesudahan. Digta dan keluarga memberikan segala hal yang baik untuk perkembangan Jeje. Bergantian Julian dan Tia menjaga Jeje,
Digta dan keluarga Tia juga ikut turut menjaga Jeje.
Dokter memanggil Digta dan Tia untuk menghadap dokter di ruangannya. Dokter menjelaskan harapan Jefri benar-benar tipis untuk kembali sadar. Tia yang sudah mempersiapkan diri dengan segalanya hanya diam mendengarkan, hanya Digta dan dokter yang saling membicarakan keadaan jefri.
Tia berada di sisi Jeje sekarang sambil tersenyum " nak kita pulang aja yuk, bunda gak tega terus-terusan liat Jeje pake segala alat ini" tangis Tia akhirnya pecah.
Digta terkejut mendengar tangisan Tia. Dan Tia memeluk Digta "aku ikhlas Dig..aku ikhlas.." tangis Tia dengan eratan pelukan pada Digta.
Digta berusaha menenangkan Tia. Dan memberikan kode kepada Angga adik Tia untuk mengambil posisi Digta.
Digta menelepon Julian dan papa Julian tentang keputusan Tia. Julian dan papanya sempat marah, tapi Digta memberikan pengertian bahwa akan ada baiknya bila Jefri di bawa kembali ke Indonesia.
Malam Julian dan papanya sudah sampai di Singapura. Tia, Digta, Julian dan papa Julian akhirnya berbicara mengenai Jeje. Mereka berbicara begitu serius, sampai Tia tak hentinya menangis. Akhirnya papa Julian dan Julian mengikuti kemauan Tia. Karna Tia merasa pengobatan di Singapura tidak ada perkembangan.