jefri

1605 Words
Jam menunjukkan pukul 2 siang, persiapan lamaran di sebuah hotel yang Digta rencanakan, terbilang mewah, Tia yang sempat ngambek karena ingin lamaran yang sederhana, tapi Digta berusaha meyakinkan bahwa Digta ingin memberikan sekali seumur hidup yang gak akan pernah mereka berdua lupakan, apalagi ini adalah pertama buat Digta, dan akhirnya Tia mengalah. Tia tampak cantik dengan kebaya muslim brukat berwana coklat ke emasan pilihan Digta, polesan make up tipis tetap menampilkan wajah yang cantik natural. Tia memandang dirinya di cermin, betapa bahagia dan bersyukur kepada Sang Pencipta di berikan pengganti Julian yang sangat baik dan berusaha memberikan yang baik buat dirinya. Tia masih di dalam ruang riang menunggu acara lamaran di mulai, semua keluarga sudah berkumpul, ibu Tia dan Rangga juga menemani Tia di dalam ruang rias. 30 menit menjelang acara, Tia mendapat telepon dari papa Julian, Yang awal mimik wajah bahagia, tiba-tiba berubah raut wajahnya menjadi sedih, Tia tiba-tiba bangkit lari meninggalkan ruang rias tanpa mempedulikan orang-orang yang bersamanya, semua terkejut dengan sikap Tia, sampai Tia yang tidak sadar di panggil ibu dan adiknya. Julian yang berada di depan ruangan tak jauh dari ruang rias, menoleh ketika mendengar pintu ruang rias, Digta pikir keluarga Tia keluar, saat liHat Tia terburu-buru berlari sambil menangis, Digta ikut mengejar, ibu Tia dan Rangga berada depan pintu menoleh Digta. "Kenapa bu ?" Tanya Digta "Gak tau nak, ada telepon tiba-tiba, Tia langsung lari, ibu manggil-manggil gak denger" jawab ibu Tia. "Tunggu ya Bu, Digta tanya Tia" ucap Digta sambil ikut berlari Tia sampai di lobby hotel, saat ingin memberhentikan taksi, Digta berhasil menarik tangan Tia, menahan Tia ke hadapannya. " Kamu kenapa ?" Tanya Digta tersengal-sengal. Tia yang masih menangis menyadari kehadiran Digta, lalu memeluk Dikta, make upnya sudah mulai berantakan. " Jeje Dig, Jeje " tangis Tia " Jeje kenapa ?" Tanya Digta mencoba menenangkan diri dan Tia. " Jeje masuk rumah sakit " tangis Tia sambil melihat-lihat taksi yang lewat. Digta terkejut, dirinya langsung sigap menelepon Juni, meminta membatalkan acara lamaran dan menyusul menyiapkan mobil untuk dirinya dan Tia. Keluarga yang mendapat kabar sempat marah mendapat lamaran di batalkan, tapi saat Digta menelepon menjelaskan, mereka berusaha mengerti. Digta dan Tia mengendarai mobil ke arah kota B cukup jauh dari kota J, akhirnya Digta meminjam pesawat pribadi milik temannya agar cepat sampai. Sesampai di rumah sakit, hanya ada papa dan mama Julian terlihat cemas, Tia yang sudah berantakan dan memperdulikan keadaan dirinya, dirinya menghampiri papa Julian dan menanyakan keadaan Jeje, Jeje yang masih dalam keadaan kritis yang belum bisa ditemui keluarga, membuat Tia lemas mendengarnya, ada tatapan sendu di mata mama Julian, dan reflek memeluk Tia. "Maafin mama ya Tia, mama terlalu jauh menilai kamu" ucap mama Tia ikut menangis. Digta yang berada di situasi itu hanya terdiam melihat kedekatan mantan mertua Tia, Digta memperkenalkan diri kepada papa Julian dan mamanya. Ada sedikit senyum dalam situasi sedih. Melihat begitu sigap perlakuan Digta sebagai pengganti Julian. " Tia minta maaf juga ya ma kalau Tia banyak salah sama mama, dan belum bisa jadi yang baik buat mama" Tia membalas pelukan mama. Papa Julian menjelaskan, bagaimana kronologi Jeje sampai rumah sakit, akibat pertengkaran Julian dan Melda berimbas kepada Jeje. Papa Julian yang baru pulang bekerja panik dengan keadaan Jeje, tanpa menoleh kepada Julian dan Melda, papa sigap membawa Jeje ke rumah sakit. " Papa tidak menyangka, Melda bisa sejauh itu terhadap Jeje, dan Julian hanya memikirkannya ke egoisannya." Ucap papa Julian menerawang kejadian Papa Julian flashback on " Papa buruan pulang, Julian sama Melda bertengkar, mama bingung misahinnya" ucap panik dari seberang telepon. Papa Julian yang sedang istirahat dari pekerjaannya langsung menuju rumahnya. Sesampai di rumah terdengar teriakan dari Melda. " Aku mau anak dari kamu, kenapa kamu egois Julian" teriak Melda " Aku gak bisa Melda, sudah aku katakan berkali-kali" jawab Julian tak kalah tinggi. " Kamu bisa punya anak dari perempuan itu, dan itu terpampang jelas depan mata aku, membuat aku tersiksa, kenapa dari aku kamu tidak menginginkan " teriak Melda sambil menunjuk ke kamar Jeje Julian duduk di sofa memijat pelipisnya. Mendengar ocehan Melda, tak berapa lama Melda berjalan menghampiri kamar Jeje, Julian yang memiliki perasaan tidak enak, mengikuti melda, dan benar Melda menarik tangan Jeje yang berada di pangkuan mamanya. Julian berlari untuk menahan jeje, Julian takut hal yang tidak di inginkan terjadi, Julian tahu Melda beberapa bulan ini sering melampiaskan kemarahannya kepada Jeje, maka dari itu Julian menitipkan Jeje ke rumah orang tuanya, karna sering melihat perlakuan kasar Melda. Papa Julian yang melihat Julian berlari ikut berlari mengikuti. BRUK Jeje sudah ambruk di lantai dengan kepala berdarah. Julian dan mamanya menahan Melda Yang penuh amarah dan papanya reflek menggendong Jeje membawanya ke rumah sakit. Papa Julian flashback off "Baru mama yang kesini, Julian masih mengurusi Melda dengan keluarganya" ucap papa Julian menunduk Tak berselang lama Julian datang, Tia yang duduk bersebelahan dengan papa Julian menghampiri Julian dan tanpa di duga. PLAK sebuah tamparan dari Tia. Semua yang berada di situ terkejut, Julian menerima tamparan itu. "Kalo kamu gak sanggup merawat darah dagingmu sendiri, seharusnya engkau kembalikan kepada yang memberikan kehidupan kepada dirinya " ucap Tia tegas dan perlahan meneteskan air mata. Tia lemas hampir terjatuh, Digta cepat meraih tubuh Tia yang memang tak jauh dari dirinya, Julian terpaku melihat pandangan yang tak pernah Julian pikirkan. Julian baru menyadari dengan acara lamaran Tia dan Digta, dimana mereka sudah mulai terlihat brantakan dengan keadaan mereka. 'lho mereka masih pake baju acara ?' batin Julian. Digta berusaha menenangkan Tia. Memeluknya dan terus mengusap punggungnya. Sudah 8 jam menunggu tapi belum mendapatkan hasil apa-apa tentang kondisi Jeje, Julian menarik Digta untuk di ajak berbicara. Tia hanya melihat dari kejauhan. "Dig, lebih baik lu ajak Tia istirahat, biar gue yang jagain Jeje, kalo belum ada penginapan lebih baik nginep di rumah orang tua gue " ajak Julian. " Gue sebenernya mau ngomong banyak hal sama lu, tapi liat kondisi Tia, seperti gue tunda dulu, gue coba ajak Tia ya, soalnya kita berdua juga belum makan dan cuma bawa baju yang kita pake, " jawab Julian. " Kalo emang mau nginap di rumah orang tua gue, nanti pakai baju di rumah orang tua gue, sepertinya kalo buat baju-baju ganti aja ada" ucap Julian kembali " Gue coba tanya Tia dulu, keputusan ada di tangan Tia" jawab Digta. Digta menghampiri Tia, dari kejauhan tampak penolakan dari Tia, entah apa yang Digta dan Tia bicarakan, hingga Digta akhirnya mengangkat telepon entah dengan siapa. " Jul, gue sama Tia nginep di hotel Deket sini aja, masalah pakaian, gue suruh orang cabang sini buat bantu Keperluan gue, paling Juni besok pagi sampai" ucap Digta. " Di rumah orang tua gue aja Dig" ajak Julian " Tia menolak Jul, dia pengen Deket sama Jeje, jadi ada apa-apa dia bisa kemari " jawab Digta Julian menghela nafas berat " baiklah terserah kalian. Julian juga menyuruh untuk kedua orang tuanya untuk pulang, dan membiarkan Julian menjaga Jeje. Pertama kedua orang tua Julian yang meninggalkan rumah sakit, tak berselang lama Tia dan Digta menyusul pergi meninggalkan rumah sakit, Tia yang enggan berbicara pada Julian, melewati Digta Julian berbicara apapun. Julian hanya sendiri si lorong rumah sakit hanya beberapa suster dan orang yang masih sering lalu lalang melewatinya. Menghela nafas berat, air mata yang sejak tadi dirinya tahan akhirnya tertumpahkan semua. Makin dalam helaan nafasnya makin terisak Julian merasakan perasaannya. Ketakutan- ketakutan yang di dalam pikirannya membuatnya makin terisak. Digta dan Tia memasuki hotel cukup besar di dekat rumah sakit, Digta sudah mempersiapkan segalanya ketika sang kekasih sedang terpaku dengan perasaan dan pikirannya. Melalui Juni semua persiapan dirinya dan Tia telah di siapkan, hotel, pakaian, makanan sudah ada di dalam kamar hotel. Tia berjalan gontai dengan tatapan sedih. Di dalam kamar dengan kasur besar dirinya duduk di pinggir kasur, Digta yang merasa sedih melihat kondisi Tia berusaha memeluk Tia, di usap pipinya karena air mata yang mengering bercampur make up yang makin pudar warnanya. " Sayang bersihin diri kamu dulu ya, aku persiapkan nanti baju dan makan, kamu harus kuat sampai Jeje sehat" ucap Digta mengusap-usap pipi. " Digta, apakah aku ibu yang jahat ? Apakah aku tak bisa menjadi ibu yang baik ? Hingga anakku yang aku kandung dan aku kasih asi saat ini di rumah sakit" tanya Tia menutup wajahnya dan menangis kembali. " Sayang aku temani kamu mandi ya, kita mandi bersama, aku gak yakin kamu bisa mandi sendiri dengan keadaan kamu begini" jawab Digta tanpa malu. Digta menarik tangan Tia menuju kamar mandi, ada bathtub cukup besar, Digta mengisi bathtub dengan air. Tanpa malu-malu, Digta membersihkan wajah Tia dengan washlap, setelah membersihkan wajah Tia, Digta melepaskan pakaian Tia. Digta terbiasa dengan tubuh Tia tanpa sehelai benang pun, hanya saja saat ini dirinya hanya fokus pada kebersihan Tia dan dirinya. Di berikan sabun dalam bathtub dan mengarahkan Tia masuk kedalamnya, Tia menatap Digta, Digta pun ikut masuk ke bathtub bersama Tia dalam kondisi tanpa sehelai benang pun. Saling berhadapan Digta mencium bibir Tia. " Kamu perempuan baik, kekasih yang baik, dan ibu yang baik, kamu harus kuat sayang" ucap Digta menyatukan keningnya. Tidak ada nafsu antara mereka berdua, hanya ketenangan yang di inginkan dari Tia dan Digta, setelah membersihkan diri, Tia di suapi Digta untuk makan, karena Tia menolak makan, bagai pengasuh anak, Digta telaten menyemangati Tia. Di rasa semua sudah selesai, Digta menyuruh Tia beristirahat, tanpa lama tia pun terlelap. Digta menghela nafas berat, begitu cintanya dirinya kepada Tia, rasanya benar-benar tidak rela dengan keadaan yang Digta lihat. Di belai rambut Tia yang makin panjang. Lalu dia cium kepala Tia yang makin terlelap. Digta memencet nomor dan menelepon seseorang. dirinya hanya berkata beberapa patah kata lalu menutup teleponnya. Setelahnya Digta ikut terlelap di samping Tia.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD