terbukanya kebahagiaan

1748 Words
Digta yang ambil cuti 3 hari, benar-benar menghabiskan waktu bersama dengan Tia. Juni dan Rexi sebagai asisten Digta hanya memberi informasi tentang pekerjaan, dan di pantau Digta lewat rumah. "Kamu jadi calon istri aku aja ya, gak usah kerja lagi sama aku" pinta Digta Tia yang sedang melihat pekerjaan yang di berikan Juni menoleh "aku masih mau di gaji kan Dig" kekeh Tia. "Aku gaji kok tetep 3 kali atau 10x lipat yang kamu mau, atau terserah kamu mau berapa aku kasih" ucap Digta serius. Tia hanya tersenyum dan kembali fokus dengan pekerjaannya. Digta sempat kesal dan menuju ruang kerjanya, membuka laci dan mengambil kotak cincin yang sempat di tolak Tia kemarin. Tia hanya menoleh sekilas, ketika melihat Digta membuang kotak cincin yang Tia ingat kemarin Digta akan berikan ke tempat sampah. Tia menghampiri dan mengambil di tempat sampah, dibukanya kotak cincin itu. "Kok di buang, kan bagus ini" ucap Tia manyun " Kamu tolak kan kemarin, nanti kalo ngelamar kamu dan pasti di terima, aku beli lagi " jawab Digta santai " Bener nih kamu buang ya" tanya Tia selidik " Iya " jawab Digta berlalu. 'dasar orang kaya, barang sebagus ini sayang kan di buang, biar aja gue pake' batin Tia. Tia kembali ke mejanya dan kembali fokus akan pekerjaannya. Digta menoleh dan tersenyum saat Tia memakai cincin yang pura-pura dirinya buang. "Lah kok di pake" Digta pura-pura terkejut "Kan udah di buang " ucap Tia santai Digta mendekati Tia, dan mencium pipi Tia. Tia yang mulai terbiasa, menoleh dan membalas ciuman kepada Digta " Sayang boleh nanya " tanya Digta "Hem iya tanya apa ?" Jawab Tia sambil bekerja "Tapi jangan marah ya " selidik Digta "Heeemmmm" singkat Tia " Ehm... Kamu gak hamil ya ?" Tanya Digta selidik Tia menoleh kaget dengan pertanyaan Digta, lalu dirinya membuka kalender di handphone nya. " Wah harusnya bulan depan ya" jawab Tia. "Maksudnya ?" Tanya Digta selidik " Aku kan pake KB spiral, yang setahun sekali harus ganti" jawab Tia santai. " Maksudnya" tanya Digta yang tidak mengerti "Intinya kalo aku masih pake itu aku gak hamil Dig" jawab Tia santai. "Aku pengen kamu hamil" rengek Digta Tia memukul lengan Digta ringan " sembarangan kalo ngomong, malu kalo sampe hamil di luar nikah, apalagi perusahaan lagi mau naik" ucap Tia setengah kesal "Biar cepet halalin kamu " ucap Digta gemas " Aku buru-buru nikah sama Julian takut aku hamil di luar nikah, masa sama kamu aku hamil di luar nikah" canda Tia "Makanya ayo buru-buru nikah" kekeh Digta. " Massa Iddah aku aja belum selesai, percuma buru-buru juga, gak di terima sama KUA " jawab Tia santai. Digta manyun dengan jawaban Tia, dan kembali menonton televisi dan membiarkan Tia bekerja. " Oia KA pak digna tadi telepon, minta kamu ke rumahnya, dan suruh bawa aku kesana, aku tanya kenapa dia cuma bilang begitu sampein ke kamu " ucap Tia. " Kakak-kakak aku tuh pada kepo, kenapa aku pilih janda anak 1, apalagi yang lajang aja banyak yang mau sama aku, apalagi Dirga, dia kan tahu kamu mantannya Julian " Balas Digta santai. Digta menarik Tia untuk menemani dirinya di depan televisi, "kerjanya lanjut nanti aja, kalo perlu gak usah di kerjain" ucap Digta malas. " Nanggung dikit lagi" usap tangan Tia menggoda Digta. Digta kembali menonton televisi menunggu Tia. Dirinya tahu, makin berdebat dengan Tia yang ada malah makin terjadi pertengkaran. Tia akhirnya menghampiri Digta dan mereka bercanda tawa. ***** Julian menatap layar laptop nya yang masih terpampang foto keluarga bahagianya sebelum dirinya berstatus duda, ada rasa penyesalan dalam dirinya, tapi dirinya sudah mengambil langkah terlalu jauh. Di pikiran liciknnya terselip hal egois agar Tia merasakan penyesalan seperti dirinya. Mengambil hak asuh Jeje adalan jalan licik yang Julian ambil. 3 bulan berlalu, tiba- tiba Tia mendapat surat penyerahan hak asuh Jeje yang sudah di berikan kepada Julian, Tia sangat terkejut, lalu menelepon Julian, tapi tak mendapatkan respon. Tia berlari ke arah rumah Digta, dan menangis sambil membawa surat yang dirinya dapatkan, Juni dan seluruh isi Rumah Digta kebingungan. Digta mencoba menenangkan dan membaca surat yang Tia bawa. Digta menghela nafas dan memeluk Tia. Sambil mengelus punggung Tia, berusaha menunggu Tia tenang. Tia mulai tenang, dan diam saja. Juni dan Rexi meninggalkan Digta dan Tia berdua di ruang kerja. " Kita menikah aja" ucap Digta melihat Tia. " Kamu apa sih, aku aja bingung harus gimana" jawab Tia "Iya kita nikah aja, aku akan rebut hak asuh Jeje" ucap Digta tegas. " Emang bisa ?" Tanya Tia menyelidik. "Kamu tahu aku ?" Tanya Digta kembali Tiba-tiba ada dering telepon dari handphone Tia, tertera papa Julian menelepon, sambil sedikit terisak Tia mengangkat, Tia mengaangguk-angguk pembicaraan antara keduanya. Digta hanya memperhatikan sesekali Tia meneteskan air matanya. Setelah di tutup Tia mendesah berat. "Kenapa ?" Tanya Digta "Lusa Julian dan Melda menikah" jawab Tia " Kamu cemburu ?" Tanya Digta dengan mimik kesal " Bukan cemburu, papa Julian bilang, biarkan Julian berbuat sesuka hati Tentang Jeje, nanti papa Julian bantu untuk menguruskan hak asuh bersama" jawab Tia. Digta menghela nafas panjang, dirinya merasa takut kehilangan Tia kembali, Digta memeluk Tia kembali, dan berusaha menenangkan dirinya juga. Satu tahun berlalu, semua berjalan apa adanya, Tia yang masih bekerja sebagai asisten Digta, Digta yang masih mengurus beberapa perusahaan baru yang baru bergabung, Julian menikmati rumah tangganya. Hubungan Tia dan Digta pun semakin membaik, ke dua keluarga juga saling menyetujui hubungan mereka. Tetapi Tia masih merasa hampa karena hak asuh Jeje masih menggantung, karena papa Julian dan Julian jadi berseteru. **** Malam semakin larut, seperti sebelumnya, Digta dan Tia kembali bersama berdua di rumah Digta, hubungan mereka makin membaik, di tambah ternyata Digta adalah tipe laki-laki yang sangat posesif. Pergulatan mereka di ranjang juga semakin memanas karena Digta sangat ingin Tia hamil, tapi harapan hanya harapan. Digta melihat Tia makin menggemuk. Dirinya menghampiri Tia sambil memeluk Tia. " Sayang.." manja Digta "Heeemmm" jawab Tia sambil menonton tv Digta kembali merogoh kantongnya, di keluarkan kotak cincin ke dua kalinya. Tia yang terlalu fokus dengan acara di televisi tidak menyadari perlakuan Digta. Sambil berjongkok di depan Tia. "Tia aku halalin kamu ya" ucap Digta serius. Tia yang masih serius dengan televisi tidak menyadari juga, Digta yang kesal merubah posisi dan sedikit membanting kotak cincin di meja depan Tia. Tia yang kaget menoleh "Kenapa ?" Tanya Tia masih belum menyadari Digta merajuk, dan Tia menelusuri apa yang di banting Digta, dirinya tersenyum ada kotak cincin di meja, Tia akhirnya menyadari maksud Digta, tanpa Digta lihat, Tia memakai cincin yang ada di atas meja " eeehhhmmm bagus ya cincinnya, kalo ada yang lamar aku pake cincin ini pasti aku langsung terima" goda Tia melirik Digta. Digta menoleh dengan ucapan Tia "kamu terima kan ?" Tanya Digta bersemangat. Tia mengangguk kembali lalu memeluk Digta. ' Alhamdulillah akhirnya penantian hampir 5 tahun terjawab' batin Digta. Digta menelepon mamanya, memberitahu kan bahwa dirinya telah di terima oleh Tia, tak lupa dirinya menelepon ibu Tia, bahwa Tia akhirnya menerima dirinya. Sebelumnya Digta sempat diam-diam ke rumah Tia untuk meminta Tia kepada ibu dan adiknya. Mereka menyerahkan keputusan kepada Tia, dan berpesan untuk jangan menyakiti Tia, kalo memang sudah tidak menyukai Tia meminta di kembalikan saja dengan baik, ibu Tia membuka tangannya walau nantinya pasangan Tia akan menyakiti Tia. Digta tersadar dengan ucapan ibu Tia, tidak mudah membahagiakan Tia, Digta hanya berpesan dirinya tidak akan berjanji membahagiakan Tia, tetapi dirinya hanya akan berusaha untuk tidak menyakiti Tia. Tia yang masih di lema masalah Jeje pun akhirnya menelepon papa Julian, mengabari kabar baik hubungan Tia dengan Digta, papa Julian juga suka diam-diam mengantar Jeje bertemu dengan Tia ketika sedang bersama Jeje. Papa Julian begitu baik sama Tia, hingga Tia menganggap papa Julian papa ke dua Tia. Lamaran Digta dan Tia terdengar hingga kuping Julian, rumah tangga Julian yang hambar membuat perasaan Julian memanas, di tambah Melda sering uring-uringan karena Julian sering menolak ajakan hubungan suami istri. Julian yang memang sudah tidak memiliki rasa dengan Melda, berusaha memaksakan diri menerima Melda, hingga ketika dirinya ingin memenuhi kebutuhan batin Melda, Julian harus mabuk, agar bisa memuaskan Melda. Julian juga menolak untuk memiliki anak dari Melda, sampai dirinya rela menjalani operasi pengikatan s****a. Julian masih begitu dalam mencintai Tia, laptop kantornya pun masih terpampang foto kebahagiaan dirinya dengan Tia dan Jeje. Jeje hanya jadi pelampiasan Amarah dirinya ketika Julian kesal dengan Tia, yang tidak menghubungi dirinya apalagi berhubungan dengan Jeje. Julian dan Jeje pun memiliki hubungan ayah dan anak yang kurang baik. Julian tidak tahu, Jeje masih bisa bertemu Tia berkat bantuan papa Julian yang tidak di ketahui Julian. **** Setahun sudah Kedekatan Tia dan Digta, makin hari banyak hal yang makin di ketahui Tia dan Digta, dan akhirnya hak asuh Jeje pun bisa di miliki bersama, dengan bantuan papa Julian juga. " Sayang Jeje nginep aja di rumah kamu, besok kita ajak beli baju buat persiapan lamaran kita" ucap Digta sambil membantu membereskan dokumen yang di kerjakan Tia " Ehm belum ada jawaban dari Julian, aku udah bilang sama Julian, " jawab Tia menoleh sesaat " Biar aku makin Deket sama Jeje kan, tapi Jeje pernah ceritain aku gak sih ?" Tanya Digta menyelidik " Ehm gak " singkat Tia. Terlihat raut wajah sedih pada muka Digta, Tia terkekeh " sering nanyain kamu dia" ucap Tia. " serius ?" Mimik wajah Digta berubah lalu memeluk Tia dari belakang. "Iya dia kangen maen sama kamu, maen di taman biasa kita ketemu " ucap Tia masih membereskan pekerjaannya. Digta membalikkan tubuh Tia, dan mengecup kening Tia. "Aku akan berusaha jadi papa yang baik buat Jeje" Tia dan Digta saling merangkul, ya acara lamaran yang sudah di rencanakan akan berlangsung dalam 1 bulan lagi, Tia dan Digta sama-sama bahagia, terutama Digta yang masih terus tidak menyangka bahwa penantian 5 tahunnya membuahkan hasil. Di kejauhan sana, nampak amarah di mata Julian, setahun lebih perpisahan, Tia malah bahagia, di tambah dirinya begitu kecewa dengan keputusan pengadilan tentang hak asuh bersama. Julian tidak menyangka sejauh ini Tia melangkah, dan malah mendapatkan pasangan seperti Digta yang bisa di bilang salah satu bos Tersegani di perusahaannya. Keluarga Digta dan keluarga Tia sama-sama saling bahagia, pertemuan terakhir silahturahmi dan rencana lemaran yang cukup mewah ingin di sediakan oleh keluarga Digta, hubungan Digta dan kakak-kakaknya pun juga membaik sejak kehadiran Tia. Tia yang merasa sangat bersyukur di pertemukan oleh keluarga Digta, terutama mama Digta yang begitu perhatian, apalagi sangat terharu dengan kejadian antara Tia dengan mama Julian. Mama Digta malah merasa bersyukur di pertemukan dengan Tia. Merasa juga Tia membuat aura keluarga besarnya membaik berkat dirinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD