makin dekat

1857 Words
Subuh menjelang, Tia bangun, melihat di sisinya ada Jeje dan Julian masih tertidur pulas, Tia langsung ke kamar mandi dan menunaikan sholat subuh. Dalam doanya terus di panjatkan segala hal baik dalam hidupnya. Saat selesai sholat subuh, Tia melihat handphone nya, ada beberapa notifikasi chat dari beberapa orang yang di kenalnya, dan ada 1 nomor baru. [Xxxx] : jangan seneng dulu ya bisa bersama Julian, ingat dia sudah melepaskan dirimu, dirinya hanya rindu sesaat jangan berbangga diri ya. 'ini siapa sih ? Males ah balesnya' batin Tia. Tia lanjut melihat chat dari Digta dan Juni. Juni seperti biasa memberi jadwal apa saja pekerjaan yang akan di kerjakan hari ini. Berhubung kemarin Tia libur, sepertinya dirinya akan lembur. Sayup-sayup terdengar pergerakan dari tempat tidur, saat Tia ingin membuka chat dari Digta, Tia menoleh Julian sudah bangun dan berjalan gontai menuju kamar mandi. Di lihatnya chat Digta terus memberikan kata semangat dan tak lupa ucapan sayang, Tia tersenyum melihat chat Digta, Julian yang selesai dari kamar mandi melihat Tia senyum-senyum. "Bahagia banget sih " sindir Julian sambil berjalan memulai sholat subuh Tia tidak menjawab, hanya berpindah ke kasur sebelah Jeje, Julian melihat tingkah Tia hanya melanjutkan sholat. Tia sudah selesai mandi, dan terlihat Julian masih asik di ruang tamu sambil menonton televisi. "Udah mau berangkat ?" Tanya Julian "Iya nanti nunggu Jeje bangun dulu " jawab Tia singkat "Tinggal aja, Jeje nanti sama aku kok, aku ambil cuti seminggu, jadi bisa disini seminggu" ucap Julian santai Tia yang mendengar sedikit terkejut " lho kata kamu cuma sehari disini ?"tanya Tia menyelidik "apa kata orang liat kamu disini" tanya Tia lagi "Kan kita masih proses belum cerai " ucap Julian santai. "Tapi Jeje.." saat ingin menjawab ucapan Julian, ada ketukan dari luar rumah. Tok..tok..tok.. "assalamualaikum, mba Tia " panggil seseorang di luar rumah "Ah iya waalaikum salam" jawab Tia keluar menghampiri, Julian ikut menoleh " Mba Tia ini uang kontrakan saya bulan ini ya, maaf terlambat seminggu "Ah iya Bu gak apa-apa" jawab Tia Tersenyum "Kalau begitu saya pamit Bu, makasih ya Bu" ucap ibu Tersebut sambil meninggalkan Tia. Julian menyelidik "kok kontrakan bayar ke kamu ?" "Iya bantu Digta" jawab bohong " Digta ? Maksudnya ? " tanya heran "Kontrakan 6 pintu ini di beli sama Digta, dia bilang bantu aku, jadi selama ak ngontrak disini gak perlu bayar, tapi bantu urus kontrakan aja" ucap Tia tambah bohong. "Jangan-jangan Digta suka sama kamu" ucap Julian begitu saja " Huft mana gue tau, lu Julian kenapa sih jadi ribet banget, mau tau aja urusan hidup orang lain, harusnya lu bersyukur ada yang peduli sama gue setelah lu ninggalin gue, terlebih lagi uang kontrakan bisa gue kasih Jeje buat tabungan sekolah" ucap Tia panjang lebar Julian terdiam mendengar ucapan Tia, dan berlalu menuju ke kamar untuk menunggu Jeje, berhubung dirinya mengambil cuti seminggu. Saat Tia sedang merapikan kebutuhan untuk kerjanya tiba-tiba ada chat dari nomor tidak di kenalnya. [Xxxx] : nikmati ya bahagia bareng Julian yang hanya sesaat itu, jangan bangga kalo Julian ada di samping kamu. 'duh siapa sih ini, ganggu banget ' batin Tia. Tia menghampiri Julian yang sedang di samping Jeje yang masih tertidur. "Jul ini nomor siapa sih ganggu banget " tanya Tia sambil menunjukkan handphonenya. Julian megang handphone Tia, tapi di tahan Tia, takut Julian melihat chat dirinya dengan Digta. " Liat aja gak usah pegang " ucap Tia ketus "Gak keliatan " ucap ketus Julian kembali Tia menyodorkan handphone nya dekat, Julian hanya mengingat, dan mencoba mengetik di handphone nya, hanya tertera di panggilan tidak terjawab, Julian tahu nomor yang di maksud Tia. "Gak kenal" ucap Julian santai. " Huft, terus siapa ?" Tanya Tia kesal Julian hanya mengedikkan bahunya. Tia berlalu meninggalkan Julian sambil bersiap dan jalan kerja. **** Julian mengambil handphone ke duanya di dalam tasnya yang di nonaktifkan, mencoba mengetik nama seseorang dan mencoba menelepon nya. "Hallo" ucap di seberang sana " Kamu ngapain gangguin Tia, lancang ya berani ambil nomor Tia tanpa Sepengetahuan aku "kesal Julian. "Ehm aku gak gangguin Tia kok" ucap seseorang di seberang sana "Jangan sampai aku berubah pikiran ya, karna kelakuan kamu, apa yang udah kita sepakati jangan kamu ganggu, kalo kamu masih mau aku bertanggungjawab atas diri kamu" Julian langsung mematikan teleponnya, dan menghela nafas beratnya, dan Jeje pun terbangun menghampiri dan memeluk dirinya, terasa merindukan segalanya bagi Julian, menyayangkan langkahnya tak bisa mundur kembali **** Sesampai di rumah Digta, suasana rumahnya begitu sepi, Tia mencoba menelepon Juni. " Halo assalamualaikum, lu belum Dateng Jun ?" Tanya Tia sambil menaruh tasnya di meja ruang tamu. " Gue sama Bos udah jalan, ini mau balik, bos sakit" jawab Juni "Astaghfirullah.. ya udah, gue kerja apa nih sekarang ?" Tanya Tia sambil menuju ruang kerja Digta " Jagain bos aja, Bu ummi pulkam seminggu, mamang sama mba juga di liburin sama bos, dia cuma minta lu aja yang ngurus dia " ucap Juni dari seberang " Oia ada yang mau gw kasih tau sama lu Tia, tapi nanti aja ya di rumah, kita udah mau sampe juga " tutup telepon dari seberang. Tak berselang tiba-tiba pintu rumah terbuka, Digta berjalan lemah di bopong Juni, " Tia..Tia.. tolong.." panggil Juni Tia yang menoleh langsung menghampiri, tapi ada orang lain juga bersama Juni dan Digta, Tia membantu membopong Digta ke kamarnya. Dengan nafas tersengal-sengal Juni dan Tia membaringkan Digta di kasurnya. " Tia ikut gue ke ruang kerja " ajak Juni. Mereka berjalan menuju ruang kerja, dan Juni mengkode seseorang bersamanya untuk ikut menuju ruang kerja. " Ehm Tia kenalin ini Rexi, dia asisten kedua Digta, berhubung Digta sekarang pindah ke kantor pusat, jadi bagian di pusat Digta di berikan 1 asisten lagi dari pusat, Rexi ini sama kaya gue, masih satu kampus dulu, tapi dia 2tahun di bawah gue" ucap Juni panjang lebar Tia bersalaman dengan Rexi, " hai Rexi gue Tia, asisten luar kantor" "Ah iya mba " ucap Rexi " Panggil nama aja Rexi, Tia sama lu masih tua lu" kekeh Juni " Kan mba Tia ini duluan bang" ucap Rexi " Ya udah terserah lu Rexi " jawab Juni " oia dia juga calon janda " kekeh Juni " Sialan lu Jun" balas Tia. Mereka pun berlanjut membahas pekerjaan, Juni menjelaskan, bahwa Tia sudah tidak perlu membantu pekerjaan kantor, lebih berfokus pada pekerjaan di rumah saja. Tia sedikit sedih mendengarnya, sampai bilang ke Juni, bahwa dirinya lebih nyaman seperti kemarin, dan Juni menjelaskan kembali, bahwa semua itu adalah perintah Digta yang gak bisa di ganggu gugat. Juni dan Rexi pun pergi meninggalkan Tia setelah pembahasan tentang pekerjaan, Tia pun menuju kamar Digta, dan tak di sangka Digta sudah bangun dari tidurnya. "Lho udah bangun ?" Tanya Tia menghampiri. "Dari pas aku senggol p********a kamu" kekeh Digta. "Ih apa sih ?" Kesal Tia "Aku liat di CCTV Juni dan Rexi udah balik ke kantor, udah di jelasin juga kan sama Juni tadi " tanya Digta Tia menunduk "iya udah, aku mau di pecat ya " lemah Tia. Digta tersenyum sambil mengangkat wajah Tia "siapa yang mecat kamu ? Kamu kan calon istri aku, harus lebih fokus ngurusin aku, di banding pekerjaan" " Jangan berharap lebih Digta, aku cuma orang biasa, sedangkan kamu, salah satu anak pengusaha yang sedang naik daun" ucap Tia melemah. Digta gemas dengan ucapan Tia, dirinya dengan cepat melumat bibir Tia. "Kamu calon istri aku, dan ibu dari anak-anak aku nanti" ucap Digta sambil mengusap pipi Tia. Tia tersipu malu mendengar ucapan Digta, tak berselang handphone Tia berdering, terlihat di layar handphone nya tertera nama Julian, Tia memandang Digta, entah mengapa dirinya lebih merasa segan, Digta tersenyum membalas pandangan Digta mengisyaratkan dirinya baik-baik saja. Entah mengapa Tia menspeaker teleponnya "Ya.. hallo " ucap Tia "Aku ijin ajak jalan-jalan Jeje ya berdua, kamu pulang jam berapa ? " Tanya Julian. Tia memandang Digta kembali, karena Tia lupa belum menceritakan tentang Julian kepada Digta, dan Digta berubah ekspresi wajahnya. "Ehm, masih banyak kerjaan, nanti aku chat aja ya kapan aku pulangnya" jawab Tia "Ehm iya..iya.. ya udah aku jalan ya, Jeje udah rewel "ucap Julian sambil mematikan handphone nya Tia langsung melihat Digta yang menjadi pendiam, Tia menyenderkan kepalanya di bahu Digta, Tia mulai tidak malu melakukan apapun saat berdua Digta. "Maaf ya lupa aku " ucap Tia berusaha meraih tangan digta, tapi di hindari Digta. Tia menjelaskan segalanya tentang Julian tanpa di pinta Digta, Tia tahu harus ada penjelasan mengenai dirinya dengan Julian. Digta pun mendengar penjelasan Tia walau sambil menahan amarah, apalagi pikiran dia mulai traveling kemana-kemana. " maafin aku ya, aku bener-bener lupa, gak bermaksud nyembunyiin apapun dari kamu" jelas Tia. Digta masih diam menahan marah, tapi dalam hatinya merasa lega karna Tia terbuka dengannya. Tia bangkit dari bahu Digta, "aku ke dapur dulu deh, bikin teh panas dulu buat kamu, biar mendingan kepalanya" Saat ingin berjalan, Digta menahan tangan Tia, menarik tangannya dan mencium dengan lahap bibir Tia, Tia yang terkejut sampai kehabisan nafas dengan perlakuan Digta. Digta tersenyum " makasih " "Ya Allah Digta, mati gue lama-lama lu antup bibir gue begitu" canda Tia sambil mencubit perut Digta. " Sakit..sakit.. aku marah lagi nih" ucap Digta " Ih mulai ya ngancem-ngancem " balas Tia tertawa Digta kembali mencium bibir Tia hingga mereka berdua berbaring di kasur menikmati ciuman mereka. Jam menunjukkan pukul 12 malam, Tia terbangun karena ada notifikasi chat yang terdengar, dirinya kaget saat melihat jam, sudah jam 12 malam, Tia membangunkan Digta, tapi Digta makin memeluk erat sambil tidur. Tia mencium pipi Digta mengusap-usap tetap tidak bangun Digta. "Besok aja pulangnya, besok kan weekend" parau Digta " Jeje di rumah Digta" ucap Tia sambil mengelus pipi Digta. Menghela nafas sambil bangkit dari tidurnya "heemmm, aku masih kangen kamu " ucap Digta dengan mata tertutup. "Besok kan aku masuk kerja lagi." Ucap Tia sambil beranjak dari tempat tidur. Digta menarik tangannya dan memeluk erat Tia " kapan sih ketok palunya ? Biar bisa tidur bareng terus " rengek Digta Tia tertawa melihat tingkah Digta, Tia dan Digta mulai terbiasa dengan hubungan dan perilaku mereka, walau Tia menegaskan untuk menyembunyikan hubungan mereka, sedangkan Digta sebenarnya tidak peduli andai ada orang lain yang mengetahui, karna dirinya memang sangat menginginkan memiliki Tia seutuhnya, keretakan hubungan dengan Julian membuat Digta berani terus disisi Tia, di tambah hubungan terlarang mereka sudah terlampau jauh, membuatnya lebih berani lagi menghadapi segalanya. " Besok aku kesini lagi, Julian juga kan hanya ingin bareng-bareng Jeje, 9 bulan ini Julian hanya melihat Jeje lewat video call, jadi biarkan saja ya sayang Julian seminggu di rumah aku, aku bakal lebih fokus disini aja" terang Tia panjang lebar " Ya udah, besok mama kesini juga, dia udah tau hubungan kita, dan aku jelaskan kamu sedang proses cerai, kalo mama bilang macem-macem cukup dengerin aja dan lapor ke aku kalo ada perkataannya menyakiti kamu" timpal Digta " Nyonya Bos ? Duh gimana besok aku " panik Tia " Gak apa-apa mama cuma mau mastiin hubungan kita aja kok" Digta mencoba menenangkan Tia " Ya udah aku pulang ya, udah jam 1 nih, kasian Jeje, kan lagi di rumah" pamit Tia sambil mencium pipi Digta. Digta tersenyum membalas pamitan Tia, dan mengantar Tia sampai gerbang rumahnya, yang hanya 15 menit menuju arah rumah Tia.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD